NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Akhir dari Sebuah Penyesalan

Sang waktu terus melaju, membawa ketetapan yang kian nyata bagi mereka yang setia di jalan-Nya, sekaligus menakar keadilan bagi setiap benih kezaliman yang pernah tertanam.

Tujuh bulan berselang, suasana di salah satu rumah sakit bersalin VVIP di Jakarta tampak diselimuti ketegangan yang berbaur dengan rasa bahagia. Di koridor depan ruang persalinan, Farhan tampak tak tenang. Ia berjalan mondar-mandir sembari meremas jemarinya yang mendingin, sementara bibirnya tiada henti membisikkan selawat dan doa demi keselamatan sang istri tercinta.

Di sudut kursi tunggu, Ibu Maryam dan Citra duduk dengan kecemasan yang sama. "Farhan, duduklah dulu, Nak. Tenangkan hatimu. Insya Allah, Andini dan cucu Ibu akan baik-baik saja. Kamu tahu sendiri Andini itu wanita yang kuat," tutur Ibu Maryam lembut, berusaha menenangkan putra tunggalnya.

Baru saja Farhan hendak menyahut, tangisan bayi yang melengking nyaring tiba-tiba pecah dari balik pintu. Suara itu begitu jernih, membelah keheningan rumah sakit dan seketika meruntuhkan segala beban yang menghimpit dada.

Oeeekk... Oeeekk...

Pintu ruang bersalin perlahan terbuka, menampakkan wajah dokter kandungan yang berseri-seri. "Selamat, Pak Farhan. Alhamdulillah, bayi laki-laki Anda telah lahir dengan sehat melalui proses persalinan normal. Kondisi Ibu Andini pun sangat baik."

Mendengar kabar itu, Farhan langsung bersujud syukur di atas lantai rumah sakit. Air mata bahagianya tumpah tak terbendung lagi.

Tak lama kemudian, Farhan diizinkan masuk. Di atas ranjang, Andini terbaring lemas, namun wajahnya memancarkan aura kecantikan yang menenangkan. Hijab instan putih membingkai wajahnya yang kini tampak bersih tanpa beban. Di dekapannya, seorang bayi merah yang mungil tengah tertidur pulas setelah menjalani proses inisiasi menyusu dini.

Farhan mendekat, lalu mengecup kening Andini cukup lama dengan rasa takzim dan cinta yang mendalam. "Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah berjuang sekuat ini," bisik Farhan dengan suara parau menahan haru.

Andini tersenyum, matanya berkaca-kaca saat menatap suaminya. "Tolong azani anak kita, Mas."

Perlahan, Farhan mendekatkan wajahnya ke telinga kanan sang bayi. Dengan suara bergetar namun terdengar begitu syahdu, pria itu melantunkan kalimat penyerahan diri kepada Sang Khalik. Gema azan itu memenuhi ruangan, menyambut kehadiran jiwa baru yang suci ke dunia.

Bayi itu diberi nama Nadir Al-Fatih, sebuah doa tentang pemuda pembuka kejayaan yang lahir dari titik balik perjuangan hidup ibunya.

Satu bulan setelah kelahiran Nadir kecil, sebuah pemandangan kontras tersaji di sudut kota yang kumuh, tepat di samping perlintasan kereta api.

Reno berjalan gontai sembari menyeret gerobak tuanya yang penuh dengan tumpukan kardus dan botol plastik bekas. Tubuhnya kini kurus kering dengan kulit yang hangus terbakar matahari. Pakaiannya dekil dan mengeluarkan aroma tak sedap. Tak ada lagi sisa-sisa pria metropolis berjas mewah dalam dirinya.

Ia menghentikan langkah di depan sebuah toko elektronik kecil. Di balik etalase kaca, sebuah televisi sedang menayangkan berita hiburan. Layar itu menampilkan liputan eksklusif acara akikah mewah nan khidmat dari putra pertama CEO Nadir Label, Andini, bersama suaminya, Farhan. Di sana, Andini tampak begitu bahagia menggendong bayinya dalam balutan busana muslimah serba putih yang elegan. Di sampingnya, Farhan menatap istri dan anaknya dengan pandangan penuh perlindungan.

Ibu Ratna, yang kini terduduk di samping gerobak dengan kondisi lumpuh separuh dan mulut miring, ikut melirik ke arah televisi. Air liurnya menetes di daster kusam yang kotor. Begitu melihat wajah Andini yang tersenyum menggendong bayi, mata Ratna mendadak melotot. Napas wanita tua itu memburu. Ingatannya melesat pada makian kejamnya setahun lalu saat mengusir Andini: “Menantu yang tidak bisa memberikan penerus keluarga tidak ada gunanya di rumah ini!”

Kini, ucapan itu berbalik menjadi sembilu yang menikam jantungnya sendiri. Air mata penyesalan mengalir deras dari sudut matanya yang keriput. Ratna berusaha bersuara, menggerakkan tangannya yang kaku ke arah televisi, namun yang keluar hanyalah erangan pilu yang tak jelas maknanya.

"Uuu... Ahhh... Ndin... N-ndiiin..." ratap Ratna dalam kelumpuhannya.

Reno memalingkan wajah. Ia tak sanggup lagi menyaksikan kebahagiaan mantan istrinya yang begitu sempurna. Rasa sesak di dadanya terasa menyiksa, seolah oksigen di sekitarnya telah habis terhisap.

Reno berlutut di sisi ibunya, menyembunyikan wajah di pangkuan sang ibu yang dingin, lalu menangis sejadi-jadinya di tengah bising klakson kendaraan dan deru mesin kereta api yang melintas.

"Ibu... kita sudah kalah," bisik Reno di sela tangisnya. "Andini sudah bahagia, Bu. Dan kita... kita akan membusuk bersama penyesalan ini selamanya."

Di bawah langit Jakarta yang kian meredup, Reno menyadari satu hal mutlak: kebahagiaan yang dibangun di atas air mata orang yang terzalimi tak akan pernah bertahan lama. Tuhan telah menuntaskan keadilan-Nya dengan cara yang paling rapi.

Sementara itu, di sebuah rumah megah yang penuh kehangatan, Andini menutup jendela kamarnya setelah menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia berbalik, memandang suaminya yang sedang mengaji di samping ranjang bayi mereka.

Andini tersenyum, lalu berbisik dalam hati dengan penuh syukur: Terima kasih ya Allah... karena Engkau telah membawaku melampaui titik nadir, menuju takdir indah yang penuh dengan keberkahan-Mu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!