Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Xin Yi ditarik masuk oleh Xin Yuning, tubuh kecilnya yang dibalut jaket tebal terlihat sedikit kaku. Di tangan kirinya, tanghulu yang belum habis itu masih ia genggam erat.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, matanya berkedip bingung melihat wajah-wajah asing, dan tanpa sadar alis indahnya sedikit berkerut karena merasa canggung.
Melihat gadis itu tampak bingung dan hanya mengenali dirinya saja, Quan Yubin dengan sigap mengambil alih situasi.
"Perkenalkan, aku Quan Yubin. Kita pernah bertemu di pesta, aku teman Xin Yuning," ucapnya menunjuk diri sendiri dengan sopan. Lalu ia menunjuk satu per satu orang lain di meja.
"Dan ini teman-teman kami yang lain."
Pemuda dengan rambut berwarna merah menyala yang duduk di sebelah sana tersenyum lebar dan ramah, melambaikan tangannya.
"Hai! Aku Zhao Yun! Panggil saja Kak Yun!"
"Dan aku Rong Yuan," sahut pria berkacamata di sebelahnya dengan senyum tenang.
Xin Yi mengangguk pelan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
"Halo, saya Xin Yi..." sapanya pelan dan sopan.
Setelah saling kenal, Xin Yuning langsung mengantar adiknya duduk di kursi sebelahnya. Namun saat melihat tangan mungil itu masih memegang tanghulu yang lengket dan berantakan, Xin Yuning langsung berdecak pelan.
"Berikan sini! Nanti kotor tanganmu! Mana bisa makan kalau bawa itu!" serunya sambil mengulurkan tangannya meminta benda itu.
Tanpa berpikir panjang dan dengan gerakan refleks, Xin Yi langsung mengarahkan tanghulu yang sudah digigit sebagian itu ke arah mulut kakaknya.
"......"
Seluruh ruangan hening seketika.
Zhao Yun dan Rong Yuan menahan napas, mata mereka membelalak melihat interaksi itu. Wah... akrab banget?!
Bahkan Quan Yubin yang biasanya datar pun menaikkan satu alisnya, menatap potongan buah yang ditawarkan secara tak sengaja itu.
Xin Yuning sendiri terpaku, menatap adiknya yang wajahnya masih polos tak bersalah.
"Makan... Apa Kakak tidak mau?" tanya Xin Yi polos, masih mengangkat tangannya.
"Adik kecil, kalau Kakakmu tidak mau, berikan saja padaku!" seru Zhao Yun dengan antusias sambil tertawa lebar. Ia sengaja ingin menggoda gadis imut itu.
Namun sebelum tangan Zhao Yun sempat menyentuh tusukan kayu itu, Xin Yuning dengan cepat menyambar tanghulu itu dari tangan adiknya. Ia melirik tajam ke arah temannya, lalu menatap Xin Yi dengan wajah pura-pura kesal.
"Kamu ini... nakal sekali. Sengaja kan ingin membuat Kakak terlihat konyol dan berantakan di depan orang banyak?" tegurnya sambil mendengkus pelan.
Meskipun begitu, pria itu tidak membuangnya. Dia memakan sisa buah yang ada lalu membuang tusukannya ke tempat sampah di ruangan. Tak lupa, ia justru dengan serius mengambil tisu, lalu membersihkan sisa gula yang lengket di jari-jari mungil Xin Yi satu per satu dengan sangat teliti.
Xin Yi hanya diam membiarkan dirinya dimanjakan. Setelah tangan bersih, ia mendongak dan berkata dengan patuh,
"Terima kasih, Kakak."
Melihat pemandangan itu dari seberang meja, Zhao Yun, Rong Yuan, dan bahkan Quan Yubin tiba-tiba merasa ada rasa iri yang menjalar di dada.
Gila... enak banget punya adik yang sepatuh dan seimut itu. Ditegur pun manis, disayang pun manis. Beda jauh sama adik sendiri atau sepupu yang pada menyebalkan! batin mereka serentak.
Karena ruangan VIP itu memiliki pemanas ruangan yang sangat kuat, Xin Yi mulai merasa gerah dan kaku karena jaket tebalnya. Ia mencoba melepaskan kancing dan ritsletingnya sendiri, tapi tangannya agak kesulitan.
Melihat itu, tanpa perlu diminta, Quan Yubin yang duduk tepat di sebelahnya segera bergerak sigap.
Pria itu dengan lembut membantu menahan bahu jaket itu, lalu dengan gerakan cepat dan cekatan melepaskan jaket itu dari tubuh Xin Yi.
"Ruangan ini memang memiliki pendingin udara, tapi suhunya diatur hangat, jadi kalau memakai jaket tebal nanti kamu kepanasan dan sakit kepala," jelaskannya pelan dengan nada rendah dan tenang, sambil melipat jaket itu rapi dan meletakkannya di kursi kosong di sebelah mereka.
Xin Yi menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil.
"Terima kasih, Kak Quan," ucapnya sopan.
Suasana pun menjadi semakin hangat dan akrab di antara mereka.
Rong Yuan yang duduk di seberang meja tersenyum ramah lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, Xin Yi sekarang umur berapa? Masih terlihat sangat muda dan mungil."
Xin Yi menelan makanannya terlebih dahulu dengan rapi, lalu menjawab dengan tenang, "Dua hari lagi saya genap berusia 18 tahun."
Wajah Xin Yuning seketika berubah menjadi kaku dan tertegun.
18 tahun?! Dua hari lagi ulang tahunnya?!
Pria itu memutar otaknya dengan cepat. Kenapa Ayah tidak memberitahunya? Kenapa tidak ada pengumuman di rumah?
Jangan-jangan... dia sendiri yang lupa?!
Ya Tuhan! Selama ini sibuk memikirkan pekerjaan dan sekolah, sampai-sampai tanggal penting ini terlewat begitu saja di kepalanya! Xin Yuning langsung merasa bersalah setengah mati.
Sementara itu, Quan Yubin menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan lembut. "Kalau begitu, ini perayaan sekaligus pra-ulang tahun. Xin Yi ingin hadiah apa dariku? Bilang saja, apa saja bisa."
Mendengar itu, Zhao Yun dan Rong Yuan pun langsung ikut bersemangat. "Iya! Iya! Kami juga mau kasih hadiah! Mau apa? Tas baru? Ponsel baru? Atau liburan ke luar negeri?"
Xin Yi menatap mereka satu per satu.
Antusiasme mereka yang tulus dan tidak membenci dirinya membuat hati gadis itu terasa sangat nyaman dan hangat. Ia tidak lagi merasa canggung atau asing.
Dengan wajah polos dan sedikit berbinar, ia menjawab, "Aku tidak mau yang mahal-mahal atau rumit..."
Ia berhenti sebentar, seolah memikirkan sesuatu yang sangat penting.
"Aku ingin stroberi. Tapi bukan cuma satu atau dua. Aku mau segudang stroberi! Yang besar-besar!" ucapnya dengan wajah tenang tapi tak bisa menyembunyikan sorot matanya yang antusias.
"......"
Keempat pemuda di meja itu terdiam serentak, lalu mulut mereka sedikit terbuka menahan tawa.
Zhao Yun yang paling tidak tahan akhirnya bertanya sambil tertawa, "Nak... itu permintaan yang sangat unik. Tapi kamu yakin? Segudang stroberi itu jumlahnya sangat banyak. Apa kamu benar-benar bisa menghabiskan semuanya sendirian? Nanti perutmu bisa sakit!"
Xin Yuning menatap profil wajah adiknya dengan perasaan campur aduk.
Seringkali ia merasa Xin Yi itu seperti orang dewasa yang terperangkap di tubuh remaja. Gadis itu tenang, berpikir logis, tidak banyak menuntut, dan sangat mandiri.
Tapi semakin lama ia mendekat dan mengenalnya, Xin Yuning baru sadar... bahwa di balik semua kedewasaan itu, Xin Yi hanyalah seorang anak kecil yang dipaksa untuk tumbuh besar terlalu cepat karena keadaan dan kerasnya kehidupan.
Anak kecil mana yang tidak suka bermain, tidak suka manja, dan tidak suka hal-hal manis seperti stroberi?
Melihat mata bulat itu berbinar penuh harap, Xin Yuning tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan besarnya, lalu mengelus puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau cuma stroberi..." ucapnya pelan namun yakin. "Bahkan kalau kau minta sebuah kebun stroberi utuh supaya bisa panen sendiri setiap hari... Kakak rasa itu juga bisa dilakukan."
BLING!
Seketika itu juga, mata Xin Yi yang biasanya datar dan tenang seketika melebar besar.
Pupil mata gelap itu tampak berkilauan bersinar seperti ada bintang-bintang di dalamnya. Ekspresi wajahnya yang biasanya kaku dan serius langsung berubah menjadi antusias luar biasa.
Mulut kecilnya sedikit terbuka, napasnya seakan tertahan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Kebun stroberi...? Miliknya sendiri...?
Ini jauh melampaui ekspektasi gadis itu. Rasa bahagia yang sederhana namun meledak-ledak membuat pipinya yang putih kembali merona merah muda, terlihat sangat imut dan cantik.
Zhao Yun dan yang lainnya pun ikut tersenyum melihat reaksi itu.
Wah, ternyata beneran cuma anak kecil kalau lagi senang. Matanya sampai berbinar begitu.
Makan malam berlangsung sangat hangat dan menyenangkan. Zhao Yun, Rong Yuan, dan Quan Yubin benar-benar memperlakukan Xin Yi dengan sangat baik, melayani dan memanjakan gadis itu layaknya adik kecil mereka sendiri.
Sebelum berpisah, mereka bertukar kontak WeChat. Xin Yi kini memiliki teman-teman baru yang baik dan tidak jahat.
Sesampainya di rumah, rasa lelah langsung menyerang. Xin Yi tidak punya energi untuk melakukan hal lain. Ia langsung naik ke kamar, berganti pakaian, dan langsung terlelap tidur dengan nyenyak, memimpikan lautan stroberi yang manis.
Sementara itu, Xin Yuning tidak langsung tidur.
Ia duduk bersila di sofa ruang tamu yang gelap, hanya diterangi lampu tidur. Wajahnya tampak linglung dan kacau balau.
Dua hari lagi... dua hari lagi ulang tahun Xin Yi yang ke-18! batinnya berteriak panik.
Bagaimana bisa dia lupa tanggal sepenting ini?! Apa Ayah dan Ibu ingat? Atau jangan-jangan mereka juga lupa?!
Belum lama ia duduk merenung dengan wajah bingung itu, terdengar suara mobil memasuki halaman.
Pintu utama terbuka. Huo Feilin masuk lebih dulu dengan langkah anggun, disusul oleh Xin Fuyang.
Mereka berdua terkejut melihat putra tunggal mereka masih duduk di sana jam segini, dengan wajah pucat dan tatapan kosong yang sangat aneh.
"Yuning? Kenapa belum tidur? Kenapa duduk di gelap begini?" tanya Huo Feilin heran sambil menyalakan lampu utama.
Xin Yuning mendongak perlahan, menatap orang tuanya dengan mata yang berkedip-kedip tidak fokus.
"Ayah... Ibu..." panggilnya pelan.
"Ada yang ingin aku tanyakan... kalian... kalian ingat kan tanggal berapa hari ini? Dan hari apa dua hari lagi?" tanyanya dengan nada penuh harap, berdoa agar orang tuanya tidak seburuk dia yang lupa.
Xin Fuyang mengerutkan keningnya sambil berpikir sejenak, lalu menjawab dengan santai.
"Lusa itu hari Minggu kan? Memangnya kenapa? Kalau kamu ingin mengajak Xin Yi jalan-jalan atau berlibur, silakan saja. Lagipula anak itu sudah cuti sekolah cukup lama, sekalian rekreasi," ucap pria itu dengan nada yang sama sekali tidak menyadari masalah besar.
Mendengar jawaban itu, Xin Yuning langsung memutar bola matanya dengan kesal.
Dasar Ayah! Beneran tidak bisa diharapkan sama sekali! Otaknya cuma kerjaan dan angka doang!
Huo Feilin yang duduk di sofa tunggu hanya menyesap air putihnya dengan tenang, lalu menatap putranya.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa wajahmu panik begitu?" tanyanya lembut.
Xin Yuning menghela napas panjang, lalu berkata dengan tegas dan jelas,
"Lusa itu ULANG TAHUN XIN YI! Dia genap 18 tahun, Bu! Itu momen penting untuknya! Dan kita tak ada yang tahu!"
Suasana ruang tamu yang tadinya tenang seketika berubah menjadi hening total dan mencekam.
Wajah Huo Feilin berubah seketika. Ia menoleh cepat ke arah suaminya, Xin Fuyang, dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin yang bisa membekukan darah.
"Aku sebagai ibu tirinya mungkin wajar jika awalnya tidak tahu detail tanggalnya karena baru dekat belakangan ini..." suara Huo Feilin terdengar rendah namun penuh tekanan.
"Tapi kamu?! Kamu adalah ayah kandungnya sendiri! Bagaimana bisa kamu tidak tahu?! Anakmu sendiri mau jadi dewasa lusa, tapi kamu malah mengira itu cuma hari libur biasa?! Kamu ini otakmu disimpan di mana?!"
Huo Feilin benar-benar marah besar.
Bagaimana bisa seorang ayah melupakan hari ulang tahun putrinya sendiri? Apalagi ini ulang tahun ke-18, tonggak kedewasaan yang sangat penting!
Xin Fuyang yang ditatap tajam oleh istrinya langsung terdiam, mulutnya terbuka tertutup tapi tidak bisa membalas sepatah kata pun. Wajahnya berubah pucat menyadari kesalahannya yang sangat fatal itu.