Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Nama,Cinta Yang Disembunyikan
POV Fatan
Fatan tahu,Sejak awal
ia sudah tahu.
Bahwa Amira dan Kanaya bukan sekadar teman.
Mereka adalah dua orang yang saling mengenal sampai ke hal-hal kecil yang tidak pernah dibagikan pada siapa pun.
Saling menjaga.
Saling menjadi tempat pulang.
Sahabat sedekat nadi.
Dan justru karena itu…
apa yang Fatan lakukan sekarang menjadi sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.
Bahkan oleh dirinya sendiri.
Ia tidak merencanakannya.
Setidaknya…
itulah yang selalu ia katakan pada dirinya.
Pertemuan itu terjadi tiga bulan lalu.
Satu bulan setelah pernikahannya dengan Kanaya.
Saat semuanya masih terasa asing.
Saat rumah yang seharusnya menjadi awal… justru terasa seperti kewajiban yang harus ia jalani.
Hari itu hujan turun deras.
Fatan berada di bandara, menunggu penerbangan bisnis yang tertunda.
Suasana riuh.
Orang-orang berlalu-lalang.
Semua tampak sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dan di tengah keramaian itu
ia melihatnya.
Amira.
Dengan seragam pramugari yang rapi.
Langkahnya cepat, namun tetap anggun.
Senyumnya… ringan.
Tulus.
Bukan senyum yang dibuat-buat.
Dan entah kenapa
Fatan memperhatikannya lebih lama dari seharusnya.
Ia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.
Dari sekadar memperhatikan…
menjadi ingin mengenal.
Dari ingin mengenal…
menjadi tidak bisa berhenti memikirkan.
Mereka bertemu lagi.
Tidak sengaja.
Atau mungkin…
Fatan mulai menciptakan kesempatan.
Percakapan pertama mereka sederhana.
Tentang keterlambatan penerbangan.
Tentang pekerjaan.
Tentang hal-hal kecil yang tidak berarti.
Namun bagi Fatan
itu terasa berbeda.
Amira tidak mengenalnya sebagai siapa-siapa.
Tidak sebagai suami Kanaya.
Tidak sebagai anak dari keluarga yang penuh tuntutan.
Di hadapan Amira
ia hanya seorang pria biasa.
Dan itu…
terasa melegakan.
“Adrian.”
Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Singkat.
Tanpa pikir panjang.
Seolah-olah ia memang sudah menyiapkannya sejak lama.
Amira tersenyum.
“Amira.”
Tidak ada kecurigaan.
Tidak ada pertanyaan.
Hanya perkenalan sederhana
yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Fatan tahu ia salah.
Sangat tahu.
Namun setiap kali ia mencoba menjauh—
ia justru kembali.
Amira bukan hanya nyaman.
Ia… hidup.
Berbeda dengan kehidupan yang ia jalani bersama Kanaya.
Bukan karena Kanaya kurang.
Bukan.
Justru karena Kanaya terlalu tulus.
Terlalu menerima.
Terlalu diam.
Dan dalam diam itu,Fatan merasa seperti tenggelam.
Amira tertawa dengan mudah.
Bercerita tanpa beban.
Bermimpi tanpa ragu.
Ia berbicara tentang masa kecilnya,
tentang keinginannya menjadi pramugari,
tentang bagaimana ia ingin melihat dunia.
Dan Fatan… mendengarkan.
Sesuatu yang bahkan jarang ia lakukan di rumahnya sendiri.
“Aku tidak suka hubungan yang rumit,” kata Amira suatu malam.
Mereka duduk di sebuah kafe kecil, jauh dari keramaian.
“Aku cuma ingin seseorang yang jujur… dan memilih aku.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Fatan—
itu seperti sindiran yang tidak disadari.
Ia menatap Amira lama.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Namun ia tetap tersenyum.
“Aku di sini.”
Kebohongan itu keluar lagi.
Dan semakin mudah setiap kali diucapkan.
Yang tidak Amira tahu,Pria yang duduk di hadapannya,
yang ia mulai percaya,
yang perlahan membuatnya nyaman
adalah Fatan,
Fatan
orang yang sama yaitu
Suami dari sahabatnya sendiri.
Dan yang lebih kejam,Fatan membiarkan itu
Amira tidak pernah benar-benar tahu wajah suami dari sahabatnya karena di hari pernikahan sahabatanya Amira tidak hadir karena kesibukannya.
Fatan tahu semuanya,fatan
Tetap mendekat.
Tetap melanjutkan sesuatu
yang seharusnya sudah ia hentikan sejak awal.
Di rumah
Kanaya menunggunya.
Dengan kesabaran yang tidak pernah ia minta.
Dengan cinta yang tidak pernah ia tuntut.
Dan di tempat lain
Amira mempercayainya.
Dengan ketulusan yang tidak pernah ia sadari akan berakhir menjadi luka.
Dua dunia.
Dua perempuan.
Dua kebenaran.
Dan Fatan berdiri di tengahnya
memilih untuk tetap diam.
Ia pernah mencoba berhenti.
Beberapa kali.
Menjauh dari Amira.
Mengabaikan pesan.
Menghilang untuk beberapa hari.
Namun setiap kali Amira muncul lagi
dengan satu pesan sederhana,dengan satu sapaan ringan
ia kembali.
Seolah-olah ia tidak pernah benar-benar pergi.
“Kamu aneh,” kata Amira suatu hari.
“Kadang kamu ada… kadang hilang.”
Fatan tersenyum tipis.
pekerjaan ku memang seperti itu.”
Alasan lain.
Kebohongan lain.
Yang kini terasa terlalu mudah.
Fatan tahu risiko dari semua ini.
Ia tahu apa yang akan terjadi jika kebenaran terbuka.
Ia tahu,ia bisa kehilangan segalanya.
Kanaya.
Amira.
Dan dirinya sendiri.
Namun yang lebih ia takuti,adalah menghadapi kenyataan bahwa ia harus memilih.
Dan untuk sementara
ia memilih satu hal
Tidak memilih.
Ia tetap menjadi suami bagi Kanaya.
Tetap pulang ke rumah.
Tetap menjalankan perannya dengan rapi.
Dan di waktu yang sama
ia tetap menjadi “Adrian” bagi Amira.
Pria yang ia percaya.
Pria yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Kebohongan itu tumbuh.
Perlahan.
Rapi.
Seperti bangunan yang dibangun dengan hati-hati,namun berdiri di atas dasar yang rapuh.
Dan Fatan tahu,cepat atau lambat…
semuanya akan runtuh.
Namun saat itu tiba,yang akan hancur bukan hanya satu hati.
Melainkan tiga.
Kanaya.
Amira.
Dan dirinya sendiri.
Karena ada satu hal yang tidak bisa ia hindari
Kebenaran
tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya…
menunggu waktu
untuk ditemukan.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?