NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KOTA PERAK DAN PASAR GELAP

Matahari bersinar terik saat dua sosok itu muncul di puncak bukit tinggi. Di bawah mereka, terbentang sebuah kota yang sangat besar dan megah.

Tembok kota setinggi puluhan meter terbuat dari batu granit hitam mengelilingi seluruh pemukiman. Di dalamnya, bangunan-bangunan berjejer rapi, atap-atapnya terbuat dari genting keramik berwarna-warni yang berkilauan di bawah sinar matahari. Asap knalpot dan asap dapur mengepul ke langit, menandakan kehidupan yang sangat aktif dan padat.

Itulah Kota Perak, pusat perdagangan dan pertemuan berbagai kekuatan di wilayah ini.

"Inilah kota pertama yang akan kita singgahi, Si," kata Wu Ye sambil menepuk bahu cucunya. "Di sini, uang adalah kekuatan, dan informasi adalah nyawa. Kita harus berhati-hati. Di kota sebesar ini, Sekte Ular Hitam pasti memiliki banyak mata dan telinga."

Chen Si mengangguk. Ia menatap kota itu dengan mata berbinar. Setelah bertahun-tahun hidup di desa kecil dan berhari-hari berjalan di hutan, melihat kemegahan seperti ini membuatnya merasa kecil sekaligus bersemangat.

"Ayo turun. Kita butuh tempat menginap, dan kita butuh uang," kata Wu Ye.

 

Membuka Toko Obat Sederhana

Masuk ke dalam Kota Perak terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Suara hiruk-pikuk memenuhi telinga. Derap kaki kuda, teriakan pedagang, bunyi lonceng gerobak, dan percakapan ratusan orang bercampur menjadi satu.

Jalanan di sini sangat lebar, dipenuhi orang-orang dari berbagai kalangan. Ada pedagang biasa, ada prajurit bersenjata, ada pendeta, hingga orang-orang berpakaian mewah yang jelas-jelas adalah ahli bela diri atau bangsawan.

Wu Ye membawa Chen Si ke sebuah gang kecil namun strategis di dekat pasar pusat. Mereka menyewa sebuah toko kecil yang sudah agak tua namun cukup layak huni.

"Untuk sementara, kita akan berlagak sebagai pedagang obat keliling yang baru datang," kata Wu Ye. "Kita tidak bisa langsung menunjukkan kemampuan hebat, tapi kita juga tidak boleh terlalu miskin agar tidak diremehkan."

Mereka membersihkan toko itu. Di bagian depan, mereka menaruh rak-rak kayu berisi toples-toples berisi ramuan obat, akar tanaman kering, dan minyak gosok.

Chen Si menggunakan keahliannya untuk membuat beberapa pil penyembuh luka dan obat penambah darah tingkat rendah. Warnanya indah dan aromanya harum.

"Hari ini kita mulai berjualan," kata Wu Ye. "Ingat, Si. Di kota ini, jangan mudah percaya senyuman orang. Dan jangan pernah bertengkar kecuali dipojokkan."

 

Kesombongan Anak Sekte

Hari pertama berjalan lancar. Banyak warga kota yang membeli obat karena harganya murah dan khasiatnya terbukti cepat. Chen Si dan Wu Ye mulai dikenal sebagai tabib yang handal namun rendah hati.

Namun, kedamaian tidak berlangsung lama.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, tiga orang pemuda berjalan mendekat ke arah toko mereka. Mereka berjalan dengan gaya yang sangat angkuh, kepala diangkat tinggi, dan tangan tersilang di dada.

Mereka mengenakan jubah berwarna hijau zamrud dengan sulaman benang emas. Di dada mereka tertera lambang sebuah daun besar.

"Heh, orang tua! Obat apa saja yang kau jual di sini? Jangan-jangan obat palsu yang bisa membunuh orang?" teriak salah satu pemuda itu dengan suara keras, sengaja membuat keributan.

Wu Ye yang sedang duduk minum teh hanya menoleh santai. "Kami menjual obat asli, Tuan Muda. Kalau tidak mau beli, silakan lewat. Jangan ganggu usaha orang lain."

"Wah? Berani melawan?" Pemuda itu tertawa sinis. "Kau tahu siapa kami? Kami adalah murid inti dari Sekte Daun Hijau! Di kota ini, siapa pun yang ingin berjualan obat harus bayar 'uang perlindungan' pada kami! Kalian baru datang, pasti belum tahu aturannya ya?"

Pemuda itu menginjak meja toko mereka dengan keras, membuat beberapa toples bergoyang.

"Bayarlah seratus keping perak setiap bulannya, dan kami akan pastikan toko kalian aman. Kalau tidak... hmph, toko ini bisa saja terbakar karena kesalahan sendiri malam ini."

Chen Si yang sedang meramu obat di dalam segera keluar. Wajahnya dingin.

"Kalian ini perampok atau apa? Memungut pajak seenaknya?"

"Oh? Ada bocah cacingan juga ya?" Pemuda bermata sipit itu menatap Chen Si dengan tatapan menjijikkan. "Cantik juga wajahnya. Bagaimana kalau bocah ini ikut kami ke sekte jadi pelayan? Pasti enak..."

DUG!

Jantung Chen Si berdegup kencang. Amarah mulai memuncak. Ia sudah siap melangkah maju dan memukul wajah sombong itu.

Namun, tiba-tiba tangan Wu Ye menahan bahunya. Wu Ye berdiri, senyumnya tetap ramah tapi matanya tajam.

"Tuan Muda, bicara itu jangan terlalu kotor. Kami orang baik, tapi kami tidak takut pada orang jahat. Dan soal uang perlindungan... sepertinya Kota Perak ini masih di bawah hukum pemerintah kota, bukan hukum sekte kalian?"

"Berani menentang kami?!" Murid Sekte Daun Hijau itu marah. Ia mengangkat tangannya, energi hijau mulai berkumpul di telapak tangannya. "Aku akan menghancurkan toko sampah ini!"

Tepat saat ia hendak menyerang...

"BERHENTI!!"

Sebuah suara berat dan berwibawa menggema dari ujung gang.

Seorang pria paruh baya mengenakan baju resmi pemerintah kota datang mendekat, diikuti oleh sepuluh prajurit bersenjata lengkap.

"Dasar anak-anak tidak tahu aturan! Berani membuat keributan di zona perdagangan? Apakah Sekte Daun Hijau ingin berperang dengan Kota Perak?!" hardat pria itu.

Wajah ketiga murid itu seketika pucat. Mereka menunduk gemetar. "Ma-af, Pak Lurah! Kami hanya... bercanda!"

"Pergi! Sebelum aku menangkap kalian dan melaporkan pada tetua sekte kalian!"

"Tunggu dulu, Tuan Pejabat," tiba-tiba Wu Ye bersuara. Ia berjalan mendekat, lalu melemparkan sebuah kantong kecil ke arah pemuda yang tadi paling kasar.

"Ini uang 'perlindungan' yang kalian minta. Tapi tolong, lain kali jangan datang lagi. Obat kami hanya untuk orang yang mau sembuh, bukan untuk orang yang mau mati muda."

Pemuda itu menangkap kantong itu, merasakan isinya berat. Ia menatap Wu Ye dengan tatapan benci, tapi tidak berani berbuat apa-apa. Mereka pun lari terbirit-birit pergi dari situ.

Pria pejabat itu tersenyum pada Wu Ye. "Maafkan kelakuan mereka, Tuan. Belakangan ini banyak murid sekte yang bersikap kurang ajar. Saya Li Yao, kepala pengawas pasar ini."

"Terima kasih atas pertolongannya, Tuan Li. Saya Wu, dan ini cucu saya," jawab Wu Ye sopan.

"Sama-sama. Kalian penjual obat yang bagus, saya bisa merasakan aura bersih dari toko kalian. Kalau ada masalah lagi, cari saja saya. Tapi hati-hati... Sekte Daun Hijau itu pendendam. Mereka tidak akan menyerah begitu saja."

Setelah pejabat itu pergi, Chen Si mengerutkan kening. "Kakek, kenapa Kakek beri mereka uang? Kita bisa mengalahkan mereka kan?"

Wu Ye tersenyum misterius. "Uang itu bukan uang biasa, Si. Itu adalah bubuk pelacak khusus yang aku buat. Sekarang, di mana pun mereka pergi, aku bisa melacak mereka. Dan juga... lebih baik menyelesaikan masalah dengan cara pintar daripada cara keras. Kita butuh tenaga untuk hal yang lebih penting."

 

Malam di Pasar Gelap

Malam harinya, saat toko ditutup, Wu Ye membawa Chen Si keluar lagi.

"Kemana kita pergi, Kek? Sudah malam."

"Kita pergi ke tempat di mana barang-barang langka diperjualbelikan. Tempat di mana pembunuh dan alkemis bertemu. Kita butuh bahan-bahan khusus untuk meningkatkan kekuatanmu dan juga untuk membuat alat pertahanan diri. Kita akan ke Pasar Gelap."

Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit, turun ke bawah tanah kota. Di sana, ternyata ada dunia lain yang sangat luas.

Lampu-lampu kristal menerangi lorong-lorong panjang. Di sini, tidak ada yang bertanya nama atau asal usul. Banyak orang memakai topeng atau kerudung menutupi wajah.

Suasana di sini gelap, misterius, namun sangat mewah. Di meja-meja pajangan, ada binatang buas yang sudah mati, ada bijih logam langka, ada gulungan teknik bela diri, hingga bahkan ada yang menjual budak atau ramuan rahasia.

"Wah... Ini luar biasa," bisik Chen Si takjub. Matanya langsung tertuju pada sebuah meja yang menjual tanaman obat.

"Kakek! Lihat! Itu Akar Seribu Tahun! Dan itu Bunga Api Ungu! Bahan-bahan level menengah yang sulit dicari!"

"Tenang, jangan terlihat terlalu bersemangat," peringatan Wu Ye. "Di sini, barang bagus biasanya punya pemilik yang berbahaya. Kita lihat-lihat dulu."

Mereka berjalan terus. Tiba-tiba, Chen Si berhenti di sebuah stan kecil.

Di sana, tergeletak sebuah benda yang terbungkus kain lusuh. Namun, saat Chen Si melewatinya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Darah di tubuhnya merespons!

Ia bisa merasakan getaran samar yang sangat akrab. Getaran yang sama persis dengan apa yang ada di dalam kotak kayu cendana mereka!

"Kakek... benda itu..." Chen Si menunjuk ke arah kain lusuh itu.

Penjualnya, seorang pria bertopeng kerbau, mendongak. "Heh, bocah punya mata bagus ya? Mau beli ini? Ini adalah pecahan Pedang Naga Kuno yang ditemukan di reruntuhan kuno. Harganya lima ratus keping emas!"

Wu Ye mendekat, matanya menyipit memeriksa. Wajahnya berubah serius.

"Itu bukan pecahan pedang... Itu adalah Kunci," bisik Wu Ye pelan, hanya untuk didengar Chen Si. "Itu adalah salah satu dari sembilan kunci yang dibutuhkan untuk membuka rahasia terdalam dari warisan Raja Alkemis!"

Chen Si terbelalak. "Jadi... ini milik kita?"

"Harus jadi milik kita," kata Wu Ye tegas. "Tapi harganya mahal. Kita tidak punya uang sebanyak itu sekarang."

"Tapi Kakek, kalau kita lewatkan ini, mungkin kita tidak akan menemukannya lagi!" desak Chen Si.

Wu Ye tersenyum tipis. "Tenang. Kita tidak perlu beli dengan uang. Kita akan tawar-menawar dengan cara kita sendiri. Sebagai Alkemis."

Wu Ye maju ke depan meja. "Teman, benda ini menarik. Tapi kondisinya rusak dan kotor. Tidak ada yang mau beli kecuali tahu fungsinya. Kami tidak punya emas banyak, tapi aku bisa menukarnya dengan Satu Pil Pemurnian Tubuh tingkat menengah. Pil ini nilainya jauh lebih tinggi dari lima ratus emas bagi orang yang ingin naik level."

Penjual bertopeng itu terkejut mendengar kata "Pil Pemurnian Tubuh". Matanya berkilat serakah.

"Kau punya pil itu? Jangan bohong!"

"Coba saja lihat," kata Wu Ye. Ia mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna emas yang memancarkan cahaya lembut. Aromanya langsung menyebar, membuat beberapa orang di sekitar langsung menoleh dengan mata terbelalak.

"ITU PIL ASLI! AURA NYATA!" teriak seseorang.

Penjual bertopeng itu langsung menyambar pil itu, lalu dengan cepat menyembunyikan benda di atas meja dan melemparkannya ke tangan Wu Ye.

"Deal! Cepat bungkus! Jangan sampai orang lain tahu!"

Transaksi selesai dalam sekejap. Mereka mendapatkan kunci kuno itu dengan sangat mudah.

Mereka segera meninggalkan tempat itu dengan cepat sebelum orang lain menyadari apa yang baru saja terjadi.

Sesampainya di jalan sepi, Chen Si memegang benda batu berbentuk rune itu dengan gemetar.

"Ini... ini benar-benar kuncinya, Kek?"

"Benar," jawab Wu Ye dengan wajah berseri-seri. "Rezeki tak diduga. Dengan ini, kita selangkah lebih dekat untuk membuka semua rahasia kekuatan leluhurmu. Tapi..."

Wajah Wu Ye kembali serius.

"Kehadiran kunci ini di sini berarti satu hal. Bahwa tempat asalnya... reruntuhan kuno tempat Raja Alkemis dulu bermukim... sudah mulai ditemukan oleh orang lain. Pertarungan untuk memperebutkan warisan ini akan segera dimulai!"

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!