NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:138.4k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Perkara koper

Genrenya memang horor komedi, tapi siapa menyangka adegan thriller terselip di dalamnya, membuat Lova berulang kali menyembunyikan wajahnya atau terpejam kaget penuh kengerian.

Hal itu pula yang membuatnya refleks melingkarkan tangannya di lengan Afif bahkan sejak pertengahan film.

Lain Lova lain Afif yang anteng saja nonton sambil nyemil, "asli ya, mas...ini ngeri banget. Kaget kek, ngumpet kek, atau gimana kek. khusyuk banget kayanya makan sama nontonnya..." Lirik Lova pada wajah tenang Afif.

Alis Afif naik, "harus?"

Lova tertawa kecil, "ngga kaget emangnya, itu banyak jump scare-nya loh..."

Afif menggidikan acuh, "biasa aja, lebih takut kalau besok saya dipanggil tapi belum punya bekal."

Gemas sekali dengan datar dan seriusnya, Lova mencubit pipi Afif yang bereaksi mengecup kepala Lova singkat membuat gadis itu mendongak cukup kaget dengan sikap impulsif sang suami.

Saling menatap lama tanpa kata-kata di bawah gelapnya ruangan hanya bersiramkan cahaya dari layar di depan.

Dan aaaaa! bahkan jeritan serta musik horor tak membuat keduanya memutus eye contact.

Tidak makan malam di rumah, Afif melajukan mobil berbelok ke arah warung makan khas Sunda favoritnya.

"Mau nasi apa?"

"Merah."

Berjalan bersisian, mendorong nampan diantara deretan menu prasmanan, dan berinteraksi santai namun terasa manis seolah dunia diciptakan hanya untuk membuat keduanya bertemu saja, "bener. Udah berumur harus dijaga makannya. Nasi merah biar gacor kaya burung..." Lova tertawa kecil tapi tak membuat Afif sakit hati ia bahkan hanya tersenyum dan tertawa tanpa suara. Bersiap membayar di depan kasir pesanan mereka.

Lova menaruh sekotak martabak manis di meja, lalu ngibrit ke arah kamar untuk bersih-bersih.

Dan malam ini, tumben-tumbenan sekali Afnan ada di ruang tengah bersama umi dan abi. Ada obrolan santai yang tertangkap dari mereka tentang si bungsu yang akan memilih kampus.

"Apel kemana, mas?" tembak umi yang mengurai senyum, wajah Afif kikuk dan Afnan bisa melihat itu, masnya lebih banyak tersenyum kikuk, senyum-senyum sendiri. Ia memilih membuka kresek dan kotak martabak.

Lova membaca dengan seksama kertas di atas kasur, lalu menceklis yang sudah masuk ke koper, "perlu bawa obat-obatan ngga sih mas...besok beli dulu ke apotik ya?"

Hanya lirikan saja yang Afif berikan saat ia khusyuk mengerjakan tugasnya, dengan jemari yang mengetik cepat di atas laptop, lalu menggeser kursor dengan sorot mata serius bersama pantulan layar dari matanya.

"Mas, Jogja itu lebih panas dari Bandung, tapi tetep bawa jaket kan? Mau satu apa dua?" tawarnya lagi berbicara, begitu heboh dan antusias. Sementara Afif, ia masih anteng dan terkesan lebih memilih bekerja, "iya." Lirihnya.

"Satu cukup, Va...dipakai dari sini dan diperjalanan. Jadi ngga usah masuk koper, menghemat space." Jelasnya menambahkan.

Ah ya benar! Solutif sekali. Lova mengangguk-angguk seperti kakak tua. Dan Lova, sedikit ragu saat ia membuka lemari untuk mengambil dalamannn Afif. Ada rasa geli yang sulit untuk dideskripsikan, "aku bawa dalamannn 5 ya, buat cadangan, siapa tau cebok kesiram atau mas pipis di celana. Hahahahah!" ia tertawa sendiri, memancing alis Afif naik lagi-lagi hanya meliriknya.

Namun---- hufft, akhirnya ia ambil juga meskipun ada rasa serr-serr-an dalam hati, hitam, coklat, abu...warna-warna gelap. Dan baru kali ini Lova melakukan itu...iya...menggenggam ca weet lelaki.

"Besok aku pulang sekolah ke rumah bunda ya mas, udah lama ngga kesana. Kemaren telfon katanya nyuruh ke rumah juga, kangen."

Afif menjeda sebentar tugas yang tengah dikerjakannya, lalu memutar badan ke arah ranjang dimana Lova berdiri di dekatnya merapikan koper mereka dengan susah payah, sampai ia tekan-tekan meskipun itu sia-sia saja. Cukup menggunung, memancing alis Afif untuk mengernyit, "itu bawaan kita?"

Lova mengangguk, "ah iya." Ia terlihat kepayahan menarik resleting koper, dan fyuhhhh! masih ada sih...satu ransel, tuh..." Tanpa rasa bersalah, Lova menunjuk ransel yang telah menggembung di bawah kaki ranjang. Dimana pandangan Afif turut mengedar ke arahnya.

Ada helaan nafas panjang, "bawa apa aja sebanyak itu, Va?"

"Baju. Siapa tau nanti disana mau ganti-ganti gitu buat foto-foto." Jawabnya, "aku juga bawa sepatu, sendal...siapa tau kan. Ngga betah pake sepatu terus butuh sendal .."'

Astaga....

Afif melipat bibirnya, tak mau banyak berkomentar tapi, "bawa seperlunya saja, Va. Kita mau liburan bukan mau take scene sinetron atau pindahan."

"Ih, prepare mas...sedia payung sebelum hujan." Debatnya sedikit sewot, "aku ngga mau tiba-tiba di tengah liburan harus repot kekurangan barang atau mas nyuruh aku nyuci baju kotor."'

Ada gelengan yang Afif berikan, "tapi payung kamu kebanyakan. Jogja bukan antah berantah...coba dipilah lagi, yang tidak terlalu penting tidak usah dibawa. Satu koper sudah cukup, wong cuma 4 hari."

Afif hargai usaha istri kecilnya itu, tanpa mau mencibir atau menghujat, ia lebih memilih memberinya saran.

Wajah Lova yang awalnya mendebat dan keruh kini terima saja, kebingungan sendiri meski dengan terpaksa mengeluarkan kembali isian kopernya.

Alhasil, di atas kasur, kini berantakan dengan baju dan barang-barang yang Lova kembalikan lagi.

"Ini? Kamu bawa hair dryer?"

Lova mengangguk. Lalu Afif mengangkat satu lagi barang milik Lova, "ini?"

"Catokan." Jawabnya, Afif dibuat tak habis pikir, kenapa tak sekalian mengantongi salon ke dalam koper?

Lantas ia mengeluarkan beberapa barang dan turut andil memilah, tak bisa percaya begitu saja pada Lova.

Afif mencoret beberapa barang dalam list Lova, membuat si tersangka yang ikut mencondongkan wajahnya ke arah list menaikan alis, "loh kok dicoret, mas?"

"Ini ngga penting, buat apa bawa kamu bawa terlalu banyak baju, handuk kecil dan besar? Sandal dan sepatu, cukup sepatu yang dipakai aja." Ucap Afif mengeluarkan kembali dan menatanya ulang.

Alhasil, Lova hanya memperhatikan sambil duduk saja di tepian ranjang. Melihat Afif yang sat set menyiapkan barang bawaan mereka di satu koper.

Voalah....

Lova cengengesan karena pada ujungnya Afif juga yang turun tangan.

Lelaki itu kembali pada pekerjaannya yang belum rampung, sementara Lova sudah bersiap naik ke atas ranjang. Semakin hari Lova dibuat semakin mengagumi Afif, perasaannya untuk Afnan meski belum sepenuhnya memudar, tapi tidak lagi mengganggu, bahkan ia sudah bisa berdamai dengan keadaan.

"Bunda dan ayah sudah tau kalau kita mau ke Jogja?"

Lova mengangguk sembari merapikan tempatnya kini, "udah. Makanya nyuruh ke rumah dulu. Kayanya mau jastip..." ia sudah berbaring.

Dan entahlah, ketika Afif sudah selesai dengan pekerjaannya itu ia menemukan pemandangan yang membuatnya menelan saliva sedikit sulit.

Lova, malam ini...ia menurunkan batas selimut yang biasa membungkusnya hingga sebatas leher, membuat benjolan dada di balik kaos tipis seolah melambai-lambai dengan posisi gadis yang berbaring terlentang itu.

.

.

.

.

1
Salim S
emang kalau perempuan itu ribet banget kalau mau berlibur harus segala macam di bawa....awas di unboxing va...jangan mancing mancing...
Ney Maniez
uhukkkkk KLO GK kuattt gasss ajjj mas ustadz 😂😂😂
Ney Maniez
udah berani yaaa mas ustadz
Wandi Fajar Ekoprasetyo
kemaren gerbang terbuka ga mau masuk....klo skrg mohon maaf gerbang itu udh tertutup dan d kunci rapat oleh pemiliknya yg halal
Diaz Nayla Az Zahra
resiko nikahin bocil yg masih sekolah ya mas Afif, harus kuat iman gak bisa langsung unboxing 😁
Nurs_tars
iman oh iman ,apakah kau aman d sana😂
ieda1195
wahhh, lova mancing² kucing nihh, gpp lah mas klo mau intip mau pegang juga sah sah aja klo blum boleh sama lova, towel² dikit gpp🤣🤣🤣
ieda1195
enak nya menikahi lelaki matang bgitu va, kmu diemong bukan momong
ieda1195
🤣🤣🤣 lova mungkin mau ngajak pindahan mass
ieda1195
ini baru tempatnya va trus merembet ke isinya😆😆😆
ieda1195
harusnya siapa tau nanti mas minta terus gitu dongg🤣
ieda1195
saranku obat kuat sih va, buat jaga² 🤣🤣🤣🤣
ieda1195
aduuhh, perhatian nya si adek, sampe ekspresi mas nya aja diperhatiin terus dari tadi 😆
ieda1195
kloningan mas kala sama Sania bgt inii🤣
ieda1195
🤣🤣 yg masih dikecup Kepala loh va, gimana klo ntar kmu dibuat enggap🙄 apa gk ngiler² tuhh
ieda1195
laki mana ada yg takut sih va, tengah malem uji nyali ae dijabanin
ieda1195
kesempatan banget kmu va, bilang ae mau mepet² mas afif 🙄
isni afif
lanjut tehhhhhh...⚘️⚘️⚘️
isni afif
sabar mas afif.....😜🤭🤫😜🤣😂
PuputMega Shelviana SuJanii
ehhh menantang macan tidur kamu va🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!