Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Bagas mempersilakan Kyra dan Aldian duduk di sofa besar ruang tamu. Jantung Kyra berdegup kencang, bagaimana tidak dia akan bertemu dengan mantan ibu mertuanya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Hanya sebatas tahu saja. Sedangkan Aldian duduk di samping Kyra, memandang sekeliling dengan mata berbinar.
Tak lama kemudian, Widya muncul dari arah tangga. Wanita paruh baya itu tetap tampak anggun meski umurnya sudah setengah abad. Ia berhenti begitu melihat pemandangan di depannya Bagas berdiri tegap, Kyra duduk kaku, dan seorang bocah lelaki kecil dengan senyum polos.
“Bagas?” suara Widya pelan tapi penuh tanda tanya. “ siapa yang kamu bawa kesini?”
"mama memang ingin kamu mengenalkan perempuan ke mama, tapi bukan janda juga"
Bagas kemudian duduk disamping Aldian , lalu menatap ibunya dengan tenang.
“Ma, kenalin. Ini kyra dan ini Aldian,” katanya sambil meraih bahu putranya. “Putraku.”
Widya terpaku.
Sejenak ruangan seakan hening total. Kyra bisa mendengar detak jam dinding dengan jelas. Mata Widya membesar, terkejut sekaligus bingung. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
"Bagas, mama rasa ini ngga lucu deh, mama ngga suka di prank"
Bagas menghelai napas"Mah, aku ngga ngelucu dan ngga lagi ngeprank mama, dia memang anakku mah. Mama bisa lihat aku mirip dengan Aldian waktu masih kecil"
Widya berdiri mematung beberapa detik, wajahnya sulit dibaca antara kaget, tidak percaya.
Tatapannya bergeser dari Bagas, lalu ke Kyra, kemudian kembali ke bocah kecil yang menundukkan kepalanya karena takut.
Kyra menegang. Jari-jarinya saling menggenggam begitu erat hingga buku-bukunya memutih.
“Apa… benar itu?” Widya akhirnya bersuara, suaranya rendah tapi tajam. “Kamu—” ia menatap Kyra langsung, “—benar punya anak dengan Bagas?”
Hening panjang mengisi udara.
Kyra menunduk sejenak, mengumpulkan keberanian. Suaranya bergetar lirih namun jujur.
“Benar, Tante… Aldian adalah putra saya… dan Bagas.”
Widya terdiam sejenak " Apa kamu menggoda bagas dan memanfaatkan anak itu untuk masuk ke dalam keluarga ini"
"Mah"
Tiba-tiba, pintu depan terbuka, dan Revan masuk. Ia berhenti sejenak, melihat situasi tegang di ruang tamu. Revan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Eh ada Aldian, kita ketemu lagi boy" sapanya kepada Aldian.
Widya menatap kepada putranya itu yang baru datang " kamu juga tahu soal ini"
Revan hanya cengengesan mendengar itu.
"Jadi cuma mama yang ngga tahu soal ini. Kalian anggap mama apa hah."
" Van tolong bawa Aldian bawa aldian ke atas." ucap Bagas. Kyra hanya diam, sebetulnya dia sangat membenci situasi ini. Dimana dia yang hanya di salahkan dan dinggap sebelah mata saja.
Revan segera mengerti instruksi itu. Ia berjalan cepat ke arah Aldian.
“Halo, Aldian! Ingat Om Revan, kan?” sapa Revan, berusaha tersenyum ramah.
Aldian yang terkejut karena teriakan Widya, menoleh ke Revan. “Ya, Om!”
“Mau ikut Om Revan? Om mau tunjukkan kolam ikan di luar yang sangat besar. Ada banyak ikan warna-warni di sana!” bujuk Revan.
Mata Aldian langsung berbinar. Ia menoleh ke Kyra untuk meminta izin. Kyra, yang gemetar karena takut, mengangguk perlahan.
“Baiklah, Om Revan!” Aldian segera melompat turun dari sofa dan meraih tangan Revan.
Revan melirik Kyra sekilas, memberi anggukan meyakinkan, lalu membawa Aldian keluar dari ruangan. Pintu ditutup.
Kini, yang tersisa di ruang tamu hanya Bagas, Kyra, dan Widya. Udara terasa dingin dan beracun.
Widya menatap Kyra dengan pandangan menghakimi, lalu kembali mengalihkan tatapannya yang penuh amarah kepada Bagas.
“Sekarang, jelaskan pada mama, Bagas!” tuntut Widya "Apa maksud dari semua ini? Kenapa kau membawa wanita ini dan anak itu ke rumah ini? Kau tidak tahu malu?!”
"Aku dan kyra sudah menikah lima tahun yang lalu" ucap Bagas dengan tenang, dia menjeda kalimatnya. " Aku menikah dengan kyra dan tidak memberitahu mama terlebih dahulu bukan karena tidak ada alasannya. Kami menikah karena terdesak. Aku yang memaksanya menikah denganku, bukan karena kyra menggodaku"
" Awalnya aku ingin memberitahu mama saat kondisinya sudah membaik, tapi sebelum itu papa sudah tahu tentang pernikahan ini. Dan menjumpai kyra tanpa sepengetahuanku. Disana papa meminta agar kyra pergi dari kehidupanku."
Kyra merasakan tenggorokannya menegang. Kata-kata Bagas menghantamnya—menghidupkan kembali memori pahit yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Widya membeku. “Papamu… melakukan apa?”
Bagas menatap ibunya lekat-lekat. “Papa mengusir Kyra. Menyuruhnya meninggalkan aku. Tanpa bicara apa pun padaku. Tanpa mempertimbangkan perasaanku.”
Kyra menggigit bibir bawahnya. Tangannya bergetar memegang ujung rok sederhana yang ia pakai. Ia tidak berani menatap siapapun.
Widya mengerutkan kening, tampak bingung dan marah sekaligus. “Bagas… kamu bicara apa sih? Tidak mungkin papamu seperti itu—”
“Tidak mungkin?” Bagas tersenyum miring, pahit. “Ma, Papa bahkan bilang kalau aku bisa menemukan perempuan lain yang ‘lebih pantas’. Lebih… ‘setara’. Walaupun kyra bukan dari kalangan Yang sama dengan kita tapi aku mencintainya mah, ayah mana yang tega merusak kebahagiaan anaknya"
Widya terdiam, seolah ucapan itu menamparnya. Ia mengalihkan tatapan ke Kyra, seakan-akan mencari kebenaran di mata wanita itu.
Kyra akhirnya membuka suara, perlahan namun jelas.
“Saya… tidak berniat menceritakannya, Tante. Saya tidak ingin memperkeruh keadaan dengan menceritakan hal itu."
Napasnya tersendat. “Ayah Bagas menemui saya. Beliau bilang kalau… saya hanya akan menghancurkan masa depan Bagas. Bahwa saya cuma beban.”
Widya menutup mulutnya dengan tangan, shock.
Kyra menunduk semakin rendah. “Beliau meminta saya pergi dan membiarkan Bagas hidup lebih baik tanpa saya. Saya… saya pikir itu yang terbaik.” Suaranya pecah. “Dan saat itu saya baru tahu saya sedang hamil.”
Bagas memejamkan mata sejenak, menahan emosinya. Sejak dulu ayah Bagas dan dia tidak pernah akur.
Widya memandang keduanya seperti dunia di sekelilingnya runtuh. “Itu… tidak mungkin… Papa kalian tidak seperti itu…”
“Ma.” Bagas menatap ibunya lembut.
Kyra menegakkan wajah, air mata menahan diri agar tidak jatuh. “Saya tidak ingin menghancurkan hidup Bagas. Saya pikir… kalau saya pergi, semuanya akan selesai. Saya tidak mau Bagas kehilangan keluarganya.”
Widya memejamkan mata, seakan mencoba memahami. Lalu ia membuka matanya, menatap Kyra dengan campuran emosi yang sulit terbaca.
“Lalu kenapa… kenapa kamu kembali?” tanya Widya pelan, suaranya retak.
Kyra terdiam, bingung bagaimana menjawabnya.
Bagas mendahului, nada suaranya berubah dalam dan serius.
“Karena aku yang mencarinya.” Ia menatap Kyra sejenak. “Aku yang menariknya kembali ke hidupku.”
Widya mengerutkan kening. “Untuk apa?”
" karena aku tidak mau anakku tumbuh tanpa figur seorang ayah. Aku tidak mau menjadi pengecut dan dihantui oleh bayang-bayang itu"
" jadi hanya mama yang tidak tahu masalah ini, kalian hebat sekali menutupinya dari mama"
Ia mengalihkan tatapan ke Kyra, kali ini tanpa kemarahan melainkan kehati-hatian.
“Apa kamu… masih mencintai Bagas?”
Pertanyaan itu menghantam Kyra seperti pukulan telak.
“Saya… tidak tahu, Tante.”
Widya menghela napas panjang.
“Tapi satu hal yang pasti…” Kyra menatap Widya perlahan, meski matanya berkaca-kaca.
“Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari keluarga ini.”
"ya sudahlah, kalian sudah sama-sama dewasa. Mama ngga akan ikut campur urusan kalian. Kalian pasti tahu yang terbaik untuk kalian."
"Sudah kita makan malam sekarang. Mama tadi sudah menyuruh bibi untuk masak banyak sayang jika tidak dimakan" jelas Widya seraya bangkit dari tempat duduknya.
Mendengar itu Bagas tersenyum seketika, menghelai nafas lega, seolah merasa ada lampu hijau dari mamanya. Tanpa sadar dia menggenggam tangan kyra yang dingin.