Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 - Dunia yang Salah
Avara baru akan mengembalikan buku yang ternyata bisa dia baca, sebelum tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan kasar.
Sesosok makhluk bertanduk melongokkan kepala, mengejutkan Avara. Agaknya makhluk itu juga terkejut karena keberadaan si gadis di ruang filling bukanlah satu hal wajar yang bisa dia temui saat itu. Jadi dia masuk dan berteriak dalam bahasa asing, yang anehnya, juga dapat Avara pahami.
"Siapa kau? Kenapa manusia bisa ada di sini?!"
Makhluk itu mencengkeram tangan Avara dengan erat, hampir menyeretnya keluar ruangan. Mau tak mau, buku dalam genggaman gadis itu jatuh berdebum, meninggalkan debu dan ruangan yang mendadak gelap tanpa penerangan biru yang segera padam tanpa aba-aba.
Avara pasrah tapi tak rela dirinya diseret sedemikian rupa, jadi dia berusaha berdiri tegak dan mencoba menarik-narik tangannya kembali, enggan dipercaya sebagai apapun hal buruk yang dipikirkan makhluk itu. Meski begitu tak dapat ditampik bahwa dia merasa panik luar biasa.
Mereka melewati koridor panjang dengan jendela-jendela tinggi, terus berjalan hingga menuruni tangga, sementara pikiran Avara tak henti-hentinya bertanya-tanya dan jantungnya tak henti-hentinya bertalu-talu.
Makhluk itu jelas memiliki tanduk di bagian kiri-kanan kepalanya, meski dengan penampilan serupa manusia, yang Avara yakin dia bukan salah satunya. Mengingat buku yang sempat dia baca, disebutkan mengenai kerajaan iblis dan perhitungan waktu yang lagi-lagi asing baginya. Apakah mungkin makhluk yang bersamanya saat ini adalah iblis?
Bagaimana mungkin?
Bagaimana bisa dirinya berada di tempat antah-berantah ini?
Sebelum Avara sempat memikirkan banyak hal yang ingin dia pikirkan, makhluk itu kembali berteriak-teriak, mengumumkan penemuannya pada khalayak yang segera Avara temui di kiri-kanan, yang dilihatnya sama-sama memiliki tanduk di kepala mereka. Dengan pandangan kaget dan antipati yang diarahkan padanya, Avara tidak mungkin bisa mengira-ngira bahwa dia sedang berada di sebuah acara iseng yang lebih dari bertotalitas untuk membercandainya. Apalagi dengan cukup banyak makhluk yang tubuhnya melebihi ukuran manusia normal, dengan wajah dan penampilan yang jauh pula dari kewajaran. Avara memutuskan dalam kepanikannya yang belum reda; dia benar-benar tidak lagi berada di dunia manusia.
Perjalanan mereka terasa begitu panjang untuk tiba di tempat yang tidak dia ketahui. Semakin lama pula Avara harus dipandang sepanjang jalan oleh mata-mata liar yang seolah mengintainya, serasa menelanjangi dan mengelupasi kulit dan dagingnya. Rasa panik dalam dadanya membumbung cepat, menghadirkan kecemasan dan rasa takut yang mau tak mau segera pula mengembang memenuhi saluran pernapasannya, membuatnya bernapas pendek-pendek dan tak beraturan. Avara merasakan ujung-ujung jemari tangannya dingin dan gemetar.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka tiba di muka pintu kembar besar yang tertutup. Iblis itu tetap menyeret Avara masuk setelah mendorong pintu dengan hanya sebelah tangan. Di dalam, sudah ada lebih banyak makhluk serupa si iblis yang berdiri berjajar di sepanjang karpet merah, yang kini dipijaki si iblis dan Avara yang tidak lagi punya tenaga untuk terus maju ke satu titik di depan sana.
Avara belum sempat melihat kepada siapa dia dipersembahkan, karena pada satu waktu dirinya seolah dilempar hingga terjerembab. Kepalanya yang secara impulsif ingin terangkat, segera ditundukkan dalam-dalam oleh tangan kasar si iblis yang berlutut, jelas demi menunjukkan penghormatan yang demikian besar pada seseorang.
Avara merasakan kembali kepanikan naik ke tenggorokannya saat dia mendengar orang itu turun dari suatu tempat yang kelihatannya adalah singgasana demi menuju dirinya, dengan getar bagai gempa yang terbentuk setiap langkah demi langkah yang diambilnya untuk mendekat. Terasa pula tekanan pada udara yang Avara hirup dengan susah-payah, membuatnya kesulitan bernapas dengan leluasa. Ini dominasi yang keterlaluan kuat, meski di balik rasa paniknya Avara merasa penasaran terhadap sosok yang menyebabkan semua gejala itu.
"Siapa kau?"
Suaranya dalam, berat, dan dingin. Avara merasa gemetar menjalar hingga tengkuknya.
"Bagaimana bisa kau masuk ke sini?"
Masih dalam posisi ditundukkan, Avara tidak tahu harus seperti apa dia menjawab pertanyaan yang bahkan tidak dia tahu jawabannya.
Namun tampaknya iblis yang menyeretnya berpikir lain karena kemudian rambut Avara ditarik sedemikian rupa hingga membuatnya hampir terjungkal, memaksanya menengadah memandang sosok pemilik pertanyaan-pertanyaan itu.
Dengan mata membelalak, Avara mendapati seorang iblis lelaki dengan sepasang tanduk di ubun-ubunnya, berbadan tinggi besar, dengan mata tajam yang hanya menyiratkan kekejian dan rasa curiga. Pakaiannya yang jauh lebih mewah dan tampak terhormat dari kebanyakan iblis di sana menunjukkan bahwa dia adalah iblis dengan pangkat tertinggi. Hal ini diperjelas oleh panggilan yang digunakan si iblis penyeret.
"Your Majesty," panggilnya.
Jadi, iblis lelaki itu adalah sang raja?
"Saya menemukannya di ruang arsip. Dia dengan lancang membuka-buka arsip kita."
Avara berusaha melepaskan tarikan kasar di rambutnya, dan mengumpulkan keberanian untuk bicara, "Ti-tidak, itu tidak benar."
Iblis penyeretnya menghardik, "Jangan coba-coba berbohong!"
Raja iblis bergeming menonton mereka berdua saling bersikap keras kepala, membiarkan pula teriakan-teriakan dari iblis-iblis lain yang menyerukan eksekusi terhadap satu-satunya manusia di sana, yang jelas tak diinginkan dan terjebak. Avara yang akhirnya berhasil lepas dari jerat menyakitkan pada rambutnya, terhenyak lama oleh kenyataan yang mengitarinya sekarang.
ーJadi dia akan dibunuh begitu saja?
Orang-orang pernah bilang bahwa sebelum mati, akan ada flashback yang mencatut perjalanan hidup seseorang untuk diputar dalam benak. Saat itu, kehidupan dua puluh lima tahun Avara dipertontonkan pada pemiliknya.
Sejak kecil, gadis itu bukan anak ambisius yang menginginkan banyak hal muluk-muluk. Dia hanya menyukai buku, sebagaimana lebih suka berada di dalam rumah daripada bermain-main di luar. Keinginan besar Avara hanya memiliki banyak buku, terutama yang baru, dan itu sudah sangat menyusahkan kedua orang tuanya yang tidak berkecukupan. Dia tumbuh sebagai anak yang peka dan menyadari keadaan pas-pasan keluarganya sebaik dia tahu peralatan sekolah dan pakaiannya tidak akan lengser selama belum sepenuhnya rusak. Avara tidak banyak protes, jadi saat dirinya ingin melanjutkan pendidikan sebagai guru, orang tuanya pun tidak keberatan meski harus banting tulang di samping adanya bantuan beasiswa yang diterimanya.
Namun tampaknya menjadi guru bukan solusi yang tepat bagi jiwa yang menginginkan kemapanan yang instan. Bagaimanapun Avara tidak punya cukup kesabaran untuk bisa membahagiakan orang tuanya dari pekerjaan bergaji minim yang tidak jelas sampai kapan akan terus demikian, jadi dia memutuskan untuk mengkhianati cita-citanya sendiri dengan sebuah pekerjaan lain yang dirasa lebih menjanjikan. Yang pada ujungnya, membuatnya berada di sana sekarang; terperangkap tanpa tahu apa-apa.
"Sebaiknya kau menjawab pertanyaanku sebelum kesabaranku habis, Manusia," sergah raja iblis, memutus flashback hidup Avara.
Avara menelan ludah dengan susah-payah. Apakah dia akan benar-benar mati begitu saja di sini?