NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29: Kuah Kaldu dan Janji Masa Lalu

Mobil mewah berwarna hitam itu membelah keramaian Jakarta dengan tenang. Di dalam kabin yang kedap suara, aku bisa melihat Lukas berkali-kali melonggarkan dasinya, lalu membuang napas panjang. Dia tidak lagi terlihat seperti CEO Arkan Tech yang mengintimidasi. Dia terlihat seperti Luqman yang sedang gelisah, pria yang baru saja melakukan sesuatu yang "bodoh" menurut standar dunianya—meninggalkan investor demi mie ayam.

"Kamu yakin tidak akan dipecat oleh dirimu sendiri besok pagi?" tanyaku, memecah keheningan.

Lukas menoleh, lalu tersenyum tipis. "Pemegang saham terbesar Arkan Tech adalah aku. Jadi, selama aku tidak memecat diriku sendiri, aku aman."

Kami tiba di pinggiran Blok M. Suasana sangat kontras dengan hotel mewah tadi. Bau asap knalpot, aroma gorengan, dan suara teriakan penjual jalanan menyerbu masuk saat pintu mobil terbuka. Lukas keluar dengan setelan jas mahalnya yang kini tampak mencolok di antara kerumunan orang yang sedang berburu makan malam.

"Wah, Bapak dari mana? Kondangan?" celetuk seorang tukang parkir yang menyambut kami.

Lukas, yang biasanya akan memberikan tatapan dingin jika diganggu, justru tertawa.

"Bukan, Pak. Dari masa lalu," jawabnya santai.

Aku menahan tawa saat kami duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang.

Lukas duduk dengan hati-hati, berusaha agar jas mahalnya tidak terkena tumpahan kecap atau kuah panas. Dia tampak sangat tidak pada tempatnya, tapi anehnya, dia terlihat lebih "hidup" daripada saat di ballroom tadi.

"Dua mie ayam, satu pakai ceker, satunya biasa. Sambalnya pisah ya, Bu!" seruku pada penjualnya.

Lukas menatapku dengan tatapan jenaka. "Kamu masih ingat pesananku? Ceker?"

"Kamu pikir aku sudah lupa? Kamu dulu selalu berantem sama aku kalau cekernya cuma dikasih dua," jawabku sambil melipat tisu.

Sambil menunggu, suasana menjadi sedikit serius. Lukas menatap gelas es teh manis di depannya, lalu mengaduknya pelan. "Rea, soal Hazel..."

"Ya?"

"Bagaimana kabarnya?, Dulu... dia adalah satu-satunya orang yang paling sering menyeretku keluar dari bengkel hanya untuk menasihatiku agar tidak terlalu keras pada diri sendiri."

Aku terdiam. Menyebut nama Hazel di depan pria yang dulu begitu dekat dengannya—sebelum pria itu "menghilang"—terasa berat.

"Dia baik. Dia sudah menikah, seperti yang kubilang. Istrinya lembut, dan Bintang, keponakanku, sangat pintar."

Lukas terdiam cukup lama. Ada gurat penyesalan yang mendalam di matanya. "Dia pasti kecewa padaku, ya? Sebagai sahabat sekaligus kakak dari gadis yang aku bawa ke mana-mana, dia pasti merasa aku pengecut karena pergi tanpa kabar."

"Dia bukan kecewa, Kak," kataku pelan. "Dia khawatir. Hazel selalu bertanya tentangmu setiap kali dia melihat motor ninja di jalan yang mirip dengan Motor kak Luq. Dia tidak marah. Dia hanya... bingung."

"Aku ingin menemuinya," kata Lukas tiba-tiba. Dia menatapku tajam. "Tapi aku takut. Aku takut kalau aku berdiri di depannya sekarang, dia tidak akan melihat Luqman yang dia kenal. Dia hanya akan melihat pria asing yang sombong ini."

Aku meraih tangannya di atas meja plastik itu. Tangannya hangat, sedikit kasar karena bekas luka kerja keras masa lalu yang masih ada. "Dia akan melihat pria yang tetap sama, Luq. Pria yang dulu pernah dia bela habis-habisan saat anak-anak lain mengejek pekerjaanmu di bengkel. Dia tidak peduli soal jas atau gelar CEO-mu."

Lukas menarik napas panjang, lalu tiba-tiba dia melakukan hal yang membuatku kaget: dia mengambil sambal, menyendoknya cukup banyak ke mangkuk mienya, dan langsung mencampurnya.

"Eh, tunggu! Itu terlalu pedas!" seruku.

Dia tidak peduli. Dia menyuap mie itu dengan antusias, lalu—tentu saja—wajahnya langsung memerah padam. Dia terbatuk-batuk, matanya berair, dan dia segera menyambar es teh manisnya dengan panik.

"Bodoh!" aku tertawa terpingkal-pingkal sambil menyodorkan tisu. "Sudah kubilang, jangan sok jagoan kalau nggak kuat pedas!"

Lukas, dengan mata yang masih berair, tertawa juga. Dia tampak begitu konyol, begitu tidak berdaya, dan itu adalah pemandangan paling romantis yang pernah kulihat. "Sialan... lidahku... lidah CEO-ku ini sudah terlalu terbiasa makan makanan gourmet yang hambar!"

"Makanya, jangan gaya-gayaan!"

Setelah perdebatan tentang level pedas itu mereda, suasana menjadi lebih intim. Lukas menatapku dengan tatapan yang berbeda. Kali ini, tatapan itu bukan tentang masa lalu, tapi tentang masa kini—tentang aku.

"Rea," panggilnya lembut.

"Hmm?"

"Soal Elena tadi..."

Aku memutar bola mataku. "Apa? Mau membela diri?"

"Bukan membela diri. Cuma ingin bilang... kalau kamu cemburu, bilang saja. Jangan dipendam. Itu membuatmu terlihat lebih cantik kalau sedang marah, tapi aku lebih suka melihatmu tersenyum."

Aku menyipitkan mata. "PD sekali kamu."

"Itu bukan PD. Itu observasi," jawabnya, lalu dia mencondongkan tubuh ke depan, merendahkan suaranya agar tidak didengar pengunjung lain. "Elena itu hanya masa lalu yang tidak punya 'kode sumber' untuk mengerti siapa aku sebenarnya. Kamu adalah satu-satunya orang yang memegang source code-ku, Rea. Kamu tahu mana bug-ku, mana error-ku, dan bagaimana cara memperbaikinya."

Pipiku memanas. Sialan, dia sudah belajar merayu. "Berhenti bicara seperti itu. Kamu sedang makan mie ayam, bukan sedang presentasi AI."

Lukas tertawa, tawa yang lepas dan tulus. Dia meraih tanganku di bawah meja, tidak mempedulikan kalau ada orang yang melihat. "Aku serius. Terima kasih sudah membawaku kembali ke sini. Terima kasih sudah tidak membiarkan Lukas Arkan menelan habis Luqman."

Malam semakin larut. Jalanan Blok M mulai sedikit lebih lengang, tapi obrolan kami justru semakin dalam. Kami bicara tentang rencana masa depan, tentang ketakutan Lukas menghadapi keluarga besar, dan tentang bagaimana dia merasa "pulang" setiap kali dia bersamaku.

Saat kami beranjak dari warung itu, Lukas membiarkan sopirnya menunggu di ujung jalan, dan dia memilih untuk berjalan kaki sebentar denganku. Angin malam Jakarta yang hangat membelai rambut kami.

"Besok," kata Lukas, "aku akan menelepon Hazel. Aku akan mengundangnya makan malam. Mau ikut?"

"Tentu saja," jawabku tanpa ragu.

Lukas berhenti berjalan, lalu menoleh padaku. Dia merapikan anak rambut yang menutupi wajahku dengan jemarinya yang lembut. "Malam ini... adalah malam terbaikku dalam tiga tahun terakhir. Lebih baik daripada saat perusahaanku go public."

"Masa?"

"Ya. Karena malam ini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun."

Dia mendekat, dan untuk sesaat, dunia di sekeliling kami seolah menghilang. Suara klakson mobil, hiruk pikuk Jakarta, semuanya sunyi. Hanya ada kami berdua. Lukas menunduk sedikit, ragu-ragu sejenak, lalu mendaratkan ciuman singkat dan lembut di keningku.

"Terima kasih, Rea," bisiknya di dekat telingaku.

Aku tersenyum, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku. Episode 29 ini bukan tentang pencapaian besar atau konflik bisnis. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian untuk menjadi diri sendiri. Dan aku tahu, besok, saat Lukas bertemu Hazel, dia tidak akan lagi menjadi pria asing. Dia akan menjadi Luqman yang sebenarnya.

Dan aku akan ada di sana, memegang tangannya, memastikan dia tidak sendirian lagi.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!