NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Petir di Gubuk Reyot

Malam yang semakin larut di Benua Awan Surgawi memancarkan hawa dingin yang menusuk perlahan hingga ke dasar tulang sumsum. Kabut putih pekat merayap diam-diam menyelimuti jalan setapak berlapis batu giok yang mulai retak di beberapa bagian lereng gunung.

Li Zhen melangkah dengan santai menyusuri jalan menurun tersebut sambil menenteng dua ekor ayam spiritual raksasa yang sudah terkulai lemas. Otot-otot lengannya yang baru saja diperkuat oleh pil esensi darah sama sekali tidak merasakan beban yang berarti dari unggas gemuk tersebut.

Di belakangnya, seekor Anjing Petir Ekor Tiga berjalan mengendap-endap dengan kepala yang tertunduk lesu menyentuh tanah merah. Ketiga ekor berdurinya yang biasanya berdiri gagah menantang langit kini disembunyikan rapat-rapat di antara kedua kaki belakangnya karena rasa malu yang amat sangat.

Langkah hewan buas tingkat lima itu sangat berhati-hati, seolah takut suara telapak kakinya akan mengganggu ketenangan pemuda kurus di depannya. Matanya yang berwarna kuning menyala sesekali melirik ke arah sepatu Li Zhen, memancarkan rasa tunduk dan ketakutan emosional yang luar biasa.

Li Zhen sendiri sedang sibuk menatap langit malam yang dihiasi oleh dua bulan kembar berwarna merah darah yang tampak sangat aneh. Bintang-bintang ungu yang berkedip sporadis di atas sana baginya terlihat seperti sekumpulan lalat bercahaya yang sangat mengganggu keindahan pemandangan.

"Hutan mistis ini sangat berisik oleh suara serangga, apakah sekte raksasa ini tidak punya anggaran untuk menyewa pembasmi hama?" gerutu Li Zhen memecah keheningan malam. Dia menendang sebuah kerikil putih dengan ujung sepatunya hingga terlempar jauh ke dalam semak-semak yang daunnya bisa menyala dalam gelap.

Suara kerikil yang membentur semak-semak itu membuat sekelompok burung hantu bermata tiga langsung terbang berhamburan dengan gerakan panik. Mereka mengepakkan sayap lebar menembus kabut, meninggalkan jatuhan bulu-bulu abu-abu yang melayang sangat lambat di udara malam yang dingin.

Mendengar omelan majikan barunya, Anjing Petir Ekor Tiga langsung menghentikan langkah kakinya dan menahan napas seketika. Hewan raksasa itu menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan kuat-kuat suara dengkuran yang biasanya keluar dari tenggorokannya secara alami.

Perjalanan kembali ke area gubuk murid luar itu terasa sangat panjang dan berputar-putar tanpa arah tujuan yang jelas. Hal ini dikarenakan Li Zhen terus menerus salah mengambil belokan pada persimpangan jalan yang sengaja ditutupi oleh ilusi kabut tipis membingungkan.

Dia berhenti sejenak di depan sebuah patung batu berbentuk naga air yang kolam air mancurnya sudah lama mengering. Li Zhen menyipitkan matanya tajam, menatap ukiran sisik naga tersebut dengan raut wajah penuh penilaian yang sangat kritis dan merendahkan.

"Pemahat patung ini pasti sedang mabuk berat saat membuat ukiran sisik yang sama sekali tidak simetris pada bagian ekornya ini," cibirnya tajam tanpa ampun. Dia mengusapkan telapak tangannya yang kotor ke wajah patung naga itu, meninggalkan noda lumpur tebal yang merusak nilai seni kuno tersebut.

Setelah merasa puas menghina sebuah benda mati sakral, pemuda itu kembali melanjutkan langkahnya yang sengaja diseret dengan perlahan. Jubah kasarnya yang penuh debu dan robekan berkibar pelan setiap kali angin gunung yang membekukan berhembus kencang melewatinya.

Hampir satu jam berlalu, bayangan sebuah bangunan reyot akhirnya terlihat samar-samar di ujung jalan setapak tanah merah yang becek. Gubuk kayu itu tampak sangat menyedihkan di bawah paparan sinar bulan, atap rumbianya miring seperti bangunan usang yang siap roboh kapan saja.

Li Zhen menghentikan langkahnya di halaman depan gubuk yang hanya berupa hamparan tanah kering dipenuhi gulma liar berduri. Dia menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, menunjukkan betapa tidak relanya dia harus kembali tidur di tempat kumuh ini.

"Bahkan kandang anjing buangan di duniaku jauh lebih layak huni daripada tumpukan kayu busuk yang tidak berguna ini," keluhnya dengan bibir cemberut kesal. Dia menoleh ke belakang, menatap anjing raksasa yang langsung duduk bersila dengan patuh saat menyadari tatapan menghakimi dari Li Zhen.

Li Zhen menendang sisa pintu gubuknya yang tinggal sebelah hingga terbuka lebar, menghasilkan suara derit engsel berkarat yang sangat menyayat telinga. Debu tebal langsung beterbangan keluar dari dalam ruangan sempit itu, memaksa Li Zhen untuk batuk-batuk keras sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.

Dia melemparkan kedua ayam spiritual gemuk itu ke sudut ruangan yang beralaskan lantai tanah padat namun tidak rata. Ayam-ayam malang yang sudah mati lemas karena serangan mental di peternakan tadi mendarat dengan suara debuk yang cukup keras menggema.

"Hei, anjing jelek, kau berjaga di luar dan jangan biarkan ada satu pun serangga atau manusia yang masuk menggangguku," perintah Li Zhen tegas. Dia menunjuk ke arah halaman gelap dengan dagunya, matanya memancarkan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah oleh monster mana pun.

Anjing Petir Ekor Tiga itu mengangguk cepat, kepala besarnya bergerak naik turun dengan sangat antusias dan penuh ketaatan. Monster itu langsung merebahkan tubuh besarnya di depan sisa pintu, menyembunyikan hidungnya di bawah kaki depan layaknya anjing penjaga rumahan yang baik.

Li Zhen melangkah masuk menembus debu ke dalam gubuknya, menyapukan pandangan merendahkan ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan dari lubang atap. Suasana di dalam gubuk itu terasa sangat pengap, berbau seperti campuran antara lumut basah dan kayu lapuk yang mulai membusuk.

Dia duduk bersila di atas ranjang kayunya yang langsung berderit nyaring menahan bebannya, lalu memanggil sistem dengan menggunakan konsentrasi pikirannya. Layar biru neon transparan langsung muncul berkedip di udara, menerangi wajah pucat dan tirusnya dengan cahaya biru yang sedikit menyilaukan.

[Ting! Saldo Poin Sampah Inang saat ini: 4.300 poin.]

Sebuah senyum miring yang penuh kepuasan licik perlahan mengembang di bibir pemuda transmigran yang sedang kelaparan tersebut. Matanya berbinar terang penuh semangat saat dia langsung membuka menu toko sistem tanpa mempedulikan rekomendasi barang-barang kultivasi tingkat tinggi.

Jari kurusnya dengan cepat menggeser layar virtual itu ke bawah, sengaja mengabaikan pedang terbang sakti dan pil dewa yang berharga jutaan poin di atas sana. Dia secara khusus mencari kategori barang kebutuhan kehidupan sehari-hari fana yang letaknya tersembunyi di bagian paling bawah dan sering diabaikan.

"Sistem, aku ingin membeli seperangkat bumbu dapur fana yang memiliki kualitas paling tinggi seperti di duniaku dulu," perintah Li Zhen di dalam hatinya yang tak sabar. Layar biru itu berkedip sesaat, memproses permintaan inangnya yang sangat tidak biasa untuk ukuran seorang kultivator yang mengejar keabadian.

[Menemukan Paket Bumbu Memasak Dewa Dapur (Level Fana). Harga: 300 Poin Sampah. Apakah Inang ingin membelinya sekarang?]

"Beli sekarang juga, perutku sudah menuntut hak asasinya untuk diisi dengan hidangan daging yang dibumbui dengan layak," jawab Li Zhen tanpa ragu sedikit pun. Saldo poinnya di pojok atas layar langsung berkurang, dan sebuah kotak kayu berukir indah tiba-tiba muncul di atas pangkuan kakinya.

Dia membuka kait pengunci kotak kayu tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar karena antusiasme kuliner yang meletup-letup. Aroma harum dari lada hitam tumbuk, garam laut murni, bubuk bawang putih, dan cabai kering langsung menyerbak kuat memenuhi seluruh gubuk sempit itu.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!