NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Pertemuan Setelah Delapan Tahun

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah yang berdiri tenang di tengah Hutan Bambu Ungu, namun langkah mereka terhenti begitu menyadari sesuatu yang tidak biasa.

Di halaman depan, Meng Wu sedang duduk bersama seseorang.

Sosok itu mengenakan jubah yang berbeda, auranya tenang namun dalam, seolah menyimpan kekuatan yang tidak sederhana. Mereka berdua berbicara dengan serius, nada percakapan mereka rendah namun penuh tekanan, menandakan bahwa topik yang dibahas bukanlah hal ringan.

Mei Ling menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok yang duduk bersama Meng Wu dari kejauhan. “Guru Meng Wu… sedang berbicara dengan siapa?” gumamnya pelan.

Tatapannya mengamati pakaian orang itu, lalu sedikit berubah. “Kalau dilihat dari jubahnya… itu milik Divisi Pedang Matahari,” lanjutnya dengan nada lebih serius.

Long Chen ikut menatap lebih fokus, alisnya sedikit berkerut. “…Jangan-jangan…” ucapnya pelan, seolah mulai menyadari sesuatu.

Tanpa menunggu lebih lama, ia perlahan mendorong kursi roda Mei Ling mendekat.

Semakin jelas wajah orang itu, dan dalam sekejap mata Long Chen membesar, seolah waktu berhenti sesaat saat ia akhirnya mengenali sosok di hadapannya. “Itu…!” ucapnya pelan, namun penuh keterkejutan.

Tanpa ragu, ia langsung melangkah cepat mendekat, bahkan nyaris berlari.

“Xiao Yan!” serunya.

Ia langsung memeluknya erat, tidak lagi menahan perasaan yang selama ini tersimpan.

Akhirnya, setelah delapan tahun berlalu, mereka bertemu kembali. Pelukan itu bukan sekadar sapaan biasa, melainkan pertemuan kembali dua jalan yang pernah berjalan bersama, kini kembali bersatu setelah terpisah oleh waktu.

“Lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?!” tanya Long Chen dengan semangat yang tak tertahan, pelukannya baru saja terlepas namun sorot matanya masih penuh kehangatan.

Xiao Yan tersenyum tipis, sikapnya tetap tenang seperti dulu, namun kini auranya jauh lebih dalam. “Aku baik-baik saja,” jawabnya santai.

Ia kemudian menatap Long Chen dari atas ke bawah, mengamati dengan seksama, seolah menilai perubahan yang terjadi selama bertahun-tahun.

“Sepertinya… kau sudah jauh berkembang,” ucapnya pelan.

Tatapannya sedikit menyipit, lalu senyum kecil kembali muncul.

“Dibandingkan terakhir kali kita bertemu.”

Tatapan Xiao Yan sedikit berubah, lebih tajam, seolah langsung memahami arah percakapan itu. “Kau pasti berlatih sangat keras selama delapan tahun ini,” ucapnya tenang.

Long Chen tersenyum, kali ini bukan senyum malu seperti dulu, melainkan penuh keyakinan. “Kau tahu… aku sudah menunggu momen ini,” katanya.

Ia menatap lurus ke mata Xiao Yan.

“Pertarungan kita yang ke-49.”

Angin berhembus pelan di antara mereka, membawa suasana yang perlahan menegang.

“Dan kali ini…” lanjut Long Chen dengan suara tegas, “aku yakin aku akan menang.”

Xiao Yan tersenyum tipis, sikapnya tetap tenang meski suasana di antara mereka mulai memanas. “Mungkin saja,” ujarnya santai, seolah tidak menolak tantangan itu. “Tapi bukan sekarang.”

Ia sedikit memalingkan wajahnya, lalu kembali menatap Long Chen dengan sorot mata yang lebih dalam. “Pertarungan itu… akan terjadi saat kita bertemu di Turnamen Tujuh Divisi nanti.”

Long Chen langsung terdiam sesaat, alisnya mengerut. “Hah? Turnamen Tujuh Divisi?” ulangnya, jelas terkejut.

Xiao Yan mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya singkat.

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih serius, tidak lagi sekadar berbicara sebagai teman lama. “Itulah sebabnya aku datang ke sini. Turnamen itu akan segera diselenggarakan kembali.”

Angin berhembus pelan, membawa suasana menjadi lebih tegang.

“Aku diutus untuk menyampaikan informasi ini kepada Tuan Meng Wu, sebagai pemimpin Divisi Pedang Petir,” lanjutnya dengan tenang.

Meng Wu berdiri dengan tenang sambil membuka gulungan yang dibawa oleh Xiao Yan, matanya menyapu setiap baris tulisan dengan serius, seolah tidak ingin melewatkan satu detail pun. Suasana di halaman menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan di antara bambu.

Setelah beberapa saat membaca, ia menggulung kembali perlahan, lalu mengangkat pandangannya.

“Begitu ya…” ucapnya pelan, namun jelas terdengar oleh semua yang ada di sana.

Tatapannya menjadi lebih tegas.

“Jadi Turnamen Tujuh Divisi akan diselenggarakan kembali dalam waktu dekat,” lanjutnya, nadanya kini penuh kepastian.

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih kuat, “Kalau begitu, Divisi Pedang Petir… akan berpartisipasi.”

Aura di sekitarnya seolah ikut menguat.

“Kami akan mengirim perwakilan untuk mengikuti turnamen itu,” tambahnya, tanpa ragu sedikit pun.

Xiao Yan langsung menunduk hormat, sikapnya kembali formal sebagai utusan. “Baik,” jawabnya singkat namun tegas.

Ia mengangkat kepala sedikit, lalu melanjutkan, “Akan saya sampaikan bahwa Divisi Pedang Petir akan ikut serta dalam Turnamen Tujuh Divisi.”

Meng Wu mengangguk kecil sebagai tanda bahwa keputusan telah dibuat.

Jubahnya dan sedikit menunduk sebagai tanda hormat. “Kalau begitu, saya permisi dulu,” ucapnya dengan sopan. Ia lalu menambahkan dengan nada yang lebih ringan, “Saya menantikan kehadiran Divisi Pedang Petir di turnamen nanti.”

Suasana sempat hening sejenak, seolah perpisahan itu hanya formalitas.

Namun sebelum benar-benar pergi, Xiao Yan berhenti.

Ia menoleh ke arah Long Chen.

“Long Chen,” panggilnya, nada suaranya tidak lagi sekaku sebelumnya.

Tatapannya sedikit melembut, disertai senyum ringan. “Semoga sukses di turnamen nanti… jika kau terpilih,” lanjutnya.

Ia kemudian menambahkan, seolah sengaja memberi kabar yang sudah lama dinantikan, “Ye Fan dan Han Li juga kemungkinan besar akan ikut.”

Mata Long Chen seketika berubah, terkejut sesaat sebelum perlahan mulai berbinar.

Xiao Yan tersenyum tipis melihat reaksi itu. “Sepertinya… kita akan segera berkumpul lagi seperti dulu,” katanya pelan.

Angin berhembus melewati mereka, dan untuk pertama kalinya sejak lama, kenangan lama terasa begitu dekat. Long Chen tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya, yang perlahan terpancar jelas dari raut wajahnya.

Xiao Yan yang sudah bersiap untuk pergi tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mei Ling yang duduk di kursi roda di samping Long Chen. Sikapnya langsung berubah lebih sopan.

Ia sedikit menunduk. “Semoga cepat sembuh,” ucapnya dengan tulus.

Ia kemudian menatap Mei Ling dengan lebih serius, seolah memastikan. “Kalau tidak salah… Anda adalah Senior Mei Ling, bukan?” lanjutnya. “Saya pernah mendengar bahwa Anda dulu adalah salah satu murid paling berbakat di Divisi Pedang Petir.”

Nada suaranya tetap tenang, namun penuh penghormatan. “Senang bisa berkenalan dengan Anda,” katanya.

Ia kemudian memperkenalkan diri dengan lebih santai. “Perkenalkan, nama saya Xiao Yan. Teman lama Long Chen… dan bisa dibilang juga rivalnya,” tambahnya dengan senyum tipis.

Mei Ling membalas dengan senyum lembut, matanya hangat. “Aku juga sudah sering mendengar tentangmu dari Long Chen,” jawabnya pelan.

Xiao Yan sedikit terkejut, lalu tersenyum ringan. “Begitu ya… berarti namaku sudah cukup terkenal,” ucapnya setengah bercanda.

Suasana menjadi sedikit lebih ringan.

Ia kemudian melangkah mundur satu langkah. “Kalau begitu… aku benar-benar harus pergi sekarang,” katanya.

Long Chen mengangguk pelan, masih menatapnya. “Hati-hati di jalan, Xiao Yan,” ucapnya.

Xiao Yan mengangkat tangannya sedikit sebagai tanda perpisahan, lalu berbalik.

Xiao Yan mengeluarkan pedangnya dengan satu gerakan halus, bilahnya berkilat di bawah cahaya sore yang mulai meredup. Tanpa ragu, ia melompat ringan ke atasnya dan berdiri tegak di atas bilah itu, tubuhnya seimbang sempurna seolah telah menyatu dengan pedang tersebut.

Angin di sekitarnya mulai berputar mengikuti aliran qi yang ia lepaskan.

Ia sempat melirik ke bawah, ke arah Long Chen dan yang lainnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Jangan sampai terlambat, Long Chen,” ucapnya ringan, nadanya santai namun penuh tantangan. “Aku akan menunggumu di turnamen.”

Long Chen tersenyum balik, tatapannya tidak kalah tajam. “Tenang saja,” jawabnya mantap. “Sampai ketemu lagi di Turnamen… aku tidak akan mengecewakanmu.”

Xiao Yan terkekeh pelan, jelas menikmati semangat itu. “Kita lihat saja nanti,” katanya singkat.

Angin berdesir pelan di antara batang-batang bambu ungu yang menjulang tinggi, suaranya berirama lembut namun membawa suasana yang berbeda dari sebelumnya, seolah alam sendiri menyadari bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi. Langit perlahan berubah dari jingga ke keunguan gelap, cahaya matahari menghilang sedikit demi sedikit, digantikan oleh bayangan malam yang mulai turun.

Di halaman rumah yang sunyi itu, Long Chen masih berdiri memandang ke arah langit tempat Xiao Yan menghilang, tatapannya dalam dan tidak lagi sekadar penuh emosi pertemuan, melainkan dipenuhi tekad yang perlahan mengeras. Di sampingnya, Mei Ling terdiam di kursi rodanya, angin sore menggerakkan rambutnya dengan lembut, sementara di dalam matanya tersimpan kekhawatiran yang tidak ia ucapkan. Meng Wu berdiri dengan tangan di belakang punggung, wajahnya tenang namun pikirannya jelas sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar.

Pertemuan yang barusan terjadi bukan sekadar reuni antara teman lama, melainkan sinyal.

Sinyal bahwa roda dunia kultivasi mulai bergerak lebih cepat.

Turnamen Tujuh Divisi.

Sebuah ajang yang mempertemukan para jenius dari berbagai divisi, tempat di mana kekuatan, bakat, dan tekad akan diuji tanpa ampun, dan hanya mereka yang benar-benar layak yang akan berdiri di puncak. Bagi sebagian orang, itu adalah kesempatan untuk membuktikan diri, bagi yang lain, itu adalah jalan menuju masa depan yang lebih luas, bahkan kebebasan untuk melangkah keluar dari batas sekte.

End Chapter 22

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!