"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: DEWAN ULAR DAN STRATEGI CINTA
POV: DAMIAN XAVIER
Vipera Tower menjulang setinggi enam puluh lantai di jantung SCBD, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan dominasi klan Xavier atas ekonomi bayangan di negeri ini. Biasanya, saat aku melangkah masuk ke lobi utama, suasana akan berubah menjadi sunyi mencekam. Para staf akan menunduk dalam, takut menatap mata pria yang bisa melenyapkan karier—atau nyawa—mereka hanya dengan satu anggukan.
Namun pagi ini, atmosfernya berbeda. Bukan hanya karena aku datang dengan jas tiga lapis yang sangat rapi, tapi karena di kiri dan kananku, dua bocah berusia delapan tahun melangkah dengan ketenangan yang tidak wajar.
Leo mengenakan setelan jas mini berwarna abu-abu arang, tangannya terselip di saku celana, matanya yang dingin terus memindai setiap sudut lobi. Sementara Lea mengenakan gaun putih simpel dengan pita merah di rambutnya, ia memeluk boneka kelincinya, namun sorot matanya yang tajam seolah-olah sedang membedah setiap rahasia di balik senyum palsu para resepsionis.
"Tuan Damian," suara Marco berbisik dari belakang. "Dewan Lima sudah menunggu di lantai teratas. Mereka... mereka tidak senang dengan berita bahwa Anda membawa anak-anak ke pertemuan tertutup ini."
Aku berhenti tepat di depan lift eksekutif. "Mereka tidak senang? Katakan pada mereka, jika mereka ingin tetap memegang kursi di dewan, mereka harus belajar bahwa di keluarga Xavier, usia bukanlah variabel yang menentukan otoritas."
"Lobi ini memiliki delapan titik buta di area plafon, Papa," Leo tiba-tiba berucap, suaranya jernih dan berwibawa. "Dan petugas keamanan di meja depan itu... dia memiliki pisau lipat di balik kaos kakinya. Sangat amatir. Papa butuh protokol pembersihan staf dalam dua puluh empat jam."
Aku menoleh pada Leo, lalu melirik ke arah petugas keamanan yang dimaksud. Marco segera memberikan isyarat pada tim taktis untuk mengamankan petugas tersebut. Aku hanya bisa menghela napas. Belum sampai di kantor, Leo sudah melakukan pembersihan internal.
"Ayo, Kak. Papa sudah mulai berkeringat karena malu," canda Lea sambil menarik tanganku masuk ke lift.
“Dia bukan malu, Lea. Dia sedang mengalami disonansi kognitif antara bangga dan ngeri melihat efisiensi kita,” suara Leo berdesir di benakku—meski aku tahu itu hanya halusinasiku karena saking seringnya mereka bicara lewat tatapan mata.
Kami naik ke lantai enam puluh. Ruang rapat Dewan Lima adalah sebuah ruangan melingkar dengan dinding kaca antipeluru yang menyuguhkan pemandangan seluruh Jakarta. Di sana, lima pria tua yang merupakan jenderal-jenderal senior klan Vipera sudah duduk dengan wajah masam.
"Damian," ucap Tuan Haris, anggota dewan tertua. "Apa maksud semua ini? Kenapa ada anak kecil di ruang suci ini? Ini bukan taman kanak-kanak."
Aku menarik kursi utama, mendudukkan Leo di sisi kananku dan Lea di sisi kiriku. Aku menyandarkan punggung, membiarkan aura 'Vipera' dalam diriku meluap. "Tuan-tuan, perkenalkan. Ini adalah Leo dan Lea Xavier. Mulai hari ini, mereka adalah konsultan strategi dan intelijen pribadiku. Setiap keputusan besar Vipera akan melewati audit mereka."
Ruangan itu meledak dalam tawa sinis. Namun, tawa itu tidak bertahan lama.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Aku membiarkan mereka tertawa. Di medan perang, tawa musuh adalah musik pembuka bagi kekalahan mereka. Aku membuka tabletku, menghubungkannya ke proyektor raksasa di tengah ruangan tanpa izin siapa pun.
"Tuan Haris," ucapku datar, suaraku memotong tawa mereka seperti bilah belati. "Selama tiga kuartal terakhir, Papa mencatat kerugian sebesar 12% di sektor pengiriman logistik laut. Papa pikir itu karena gangguan cuaca. Tapi menurut analisis data yang kulakukan semalam, ada kebocoran dana sistematis ke rekening cangkang di Kepulauan Cayman."
Aku menekan satu tombol. Layar proyektor menampilkan diagram aliran dana yang sangat detail. Nama Haris muncul di puncak piramida tersebut.
Tawa Haris lenyap. Wajahnya berubah dari merah padam menjadi seputih kertas. "Ini... ini fitnah! Data itu pasti dimanipulasi!"
"Data tidak punya perasaan, Tuan Haris. Dia tidak bisa memfitnah," aku menatapnya dengan mata abu-abu gelapku. "Papa, menurut protokol militer yang kupelajari, seorang perwira yang mencuri dari gudang amunisi sendiri harus dieksekusi di depan barisan. Namun, karena aku anak yang baik, aku sarankan Papa hanya menyita seluruh asetnya dan membiarkannya menghabiskan masa pensiun di penjara bawah tanah."
Damian berdiri, auranya yang membunuh kini memenuhi ruangan. Para anggota dewan lainnya segera menunduk, tidak ada yang berani membela Haris. Mereka menyadari satu hal: mereka tidak sedang berhadapan dengan anak kecil. Mereka sedang berhadapan dengan hakim yang memiliki akses ke semua rahasia mereka.
"Lakukan, Marco," perintah Damian dingin.
Dua pengawal menyeret Haris keluar dari ruangan. Aku kembali fokus pada tabletku. "Selanjutnya, mari kita bicara tentang modernisasi infrastruktur. Papa, sistem komunikasi Vipera saat ini bisa ditembus oleh anak SMP yang tahu cara memakai VPN. Aku akan memasang protokol enkripsi baru malam ini."
Damian menatapku dengan binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. Ia baru saja menyadari bahwa dengan adanya aku dan Lea, klan Vipera bukan lagi sekadar organisasi kriminal. Kami sedang bertransformasi menjadi sebuah kekaisaran yang tak tertembus.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Sambil Leo mengurus masalah 'angka-angka membosankan' itu, aku memperhatikan empat anggota dewan yang tersisa. Mataku membedah setiap gerakan mikro di wajah mereka.
Tuan Baron (bukan musuh kami, tapi memiliki nama yang sama) sedang mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja—tanda kegelisahan yang tinggi. Tuan Surya sedang menelan ludah berkali-kali—dia punya rahasia yang ia takutkan akan dibongkar Leo. Namun, fokusku beralih pada Papa.
Papa tampak sangat lelah. Di balik wibawanya, ada kerinduan yang mendalam setiap kali ia melirik jam tangannya—pasti ia sedang memikirkan Mama di mansion.
“Kak, Papa sudah di ambang kejenuhan emosional. Kita harus segera menyelesaikan rapat ini agar dia bisa menjalankan 'Operasi Kencan' yang kita rancang,” ucapku lewat Shadow Talk.
“Satu menit lagi, Lea. Aku sedang mengirimkan virus 'penurut' ke ponsel para anggota dewan ini agar mereka tidak berani berpikir untuk berkhianat,” balas Leo tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Rapat akhirnya ditutup satu jam kemudian. Para petinggi mafia itu keluar dengan bahu merosot, seolah-olah mereka baru saja diinterogasi oleh iblis. Saat pintu tertutup, aku melompat dari kursi dan memeluk lengan Papa.
"Papa hebat sekali tadi!" seruku dengan nada imut yang paling maksimal. "Sekarang, karena Papa sudah menjadi raja yang menang, Papa harus menepati janji pada Lea."
Damian mengusap wajahnya, mencoba tersenyum. "Janji apa, Sayang?"
"Makan malam romantis dengan Mama malam ini di restoran rooftop yang sudah kupesan!" aku menarik tangan Papa. "Aku sudah menyiapkan jas untuk Papa dan gaun merah untuk Mama. Tidak boleh ada Marco, tidak boleh ada pistol, dan tidak boleh ada urusan mafia!"
Damian tertegun. "Lea, situasi masih belum stabil. Sisa-sisa anak buah Baron mungkin masih berkeliaran."
"Papa," Leo menyela sambil merapikan tabletnya. "Aku sudah menempatkan drone pengintai di radius lima kilometer dari restoran itu. Setiap pergerakan mencurigakan akan langsung kulumpuhkan dengan sistem jammer. Papa hanya perlu fokus pada variabel paling sulit dalam hidup Papa: membuat Mama tersenyum."
Damian menatap kami bergantian, lalu ia tertawa—tawa yang tulus. "Kalian benar-benar tidak memberiku pilihan, ya?"
"Checkmate, Papa," ucapku dan Leo serempak.
POV: QINANTI (Mama)
Aku berdiri di depan cermin besar di mansion, menatap bayanganku sendiri dengan rasa tidak percaya. Gaun sutra berwarna merah marun ini memeluk tubuhku dengan sempurna. Perhiasan berlian yang melingkar di leherku terasa dingin, namun hatiku terasa begitu hangat.
Lea yang memilihkan ini semua. Dia bilang, aku harus terlihat seperti 'Ratu' malam ini karena 'Raja' sedang ingin menyerah.
"Mama cantik sekali," suara Lea terdengar dari pintu. Dia masuk dengan gaun tidur merah mudanya, memegang boneka kelinci.
Aku berbalik dan memeluknya. "Lea, apa ini benar-benar ide Papamu?"
Lea mengangguk mantap, meskipun aku bisa melihat kilat kecil di matanya yang genius. "Papa bilang, dia sangat menyesal karena sudah membuat Mama lari selama sepuluh tahun. Dia ingin mulai memperbaiki semuanya malam ini."
Aku menarik napas panjang. Sejak kembali ke Jakarta, duniaku berubah menjadi sangat intens. Damian bukan lagi pria kasar yang dulu kukenal; dia tampak sedang berusaha keras untuk melunak, meski aku tahu itu semua karena pengaruh anak-anak kami.
Mobil SUV hitam Damian sudah menunggu di lobi. Saat aku turun, Damian berdiri di samping pintu mobil. Ia mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat sangat tampan sekaligus mengintimidasi. Namun, saat ia melihatku, matanya melembut.
"Kau terlihat menakjubkan, Qin," bisiknya sambil mengulurkan tangan.
Aku menyambut tangannya. "Terima kasih, Damian."
Kami melaju menuju restoran mewah di puncak gedung lain. Di dalam mobil, suasana sunyi namun tidak lagi menyesakkan. Ada ketegangan romantis yang sudah lama tidak kurasakan.
"Damian," panggilku pelan. "Leo dan Lea... mereka melakukan sesuatu di kantor tadi, kan?"
Damian terkekeh pelan. "Mereka baru saja melakukan kudeta intelektual pada dewan direksiku, Qin. Anak-anakmu... mereka benar-benar monster yang menggemaskan. Leo menangkap pengkhianat hanya dengan menatap layar komputer."
Aku tersenyum getir. "Aku takut mereka tumbuh terlalu cepat."
"Mungkin kita yang terlalu lambat untuk mengejar mereka," jawab Damian sambil menggenggam tanganku erat. "Tapi satu hal yang pasti, mereka melakukannya karena mereka ingin kita aman. Mereka ingin kita... menjadi utuh lagi."
Restoran itu kosong, rupanya Damian (atau Leo) sudah menyewa seluruh tempat. Meja kami berada di balkon terbuka dengan pemandangan lampu-lampu Jakarta yang seperti taburan bintang. Lilin-lilin kecil menyala, dan aroma mawar memenuhi udara.
Kami baru saja akan mulai menikmati hidangan pembuka ketika tiba-tiba, Lea berbicara di earpiece tersembunyi yang (ternyata) dipasangkan Leo di anting-antingku.
“Mama, Papa akan mulai bicara tentang masa lalu dalam tiga puluh detik. Jangan terlalu keras padanya. Dia sudah berlatih meminta maaf di depan cermin selama dua jam tadi sore,” suara Lea berbisik di telingaku.
Aku hampir tersedak air minum. Aku melirik Damian, yang tampak sedang menarik napas panjang dengan gelisah. Jadi, anak-anakku benar-benar mengendalikan kencan ini dari jarak jauh?
Damian berdeham. "Qinanti, aku tahu sepuluh tahun tidak bisa dihapus hanya dengan satu malam. Tapi aku ingin kau tahu... bahwa sejak kau pergi, aku tidak pernah benar-benar hidup. Aku hanya bertahan untuk menunggu variabel yang hilang itu kembali."
Aku menatap matanya. Di sana, aku tidak melihat Raja Mafia yang kejam. Aku melihat seorang pria yang sedang memohon untuk dimaafkan.
"Damian..."
Tiba-tiba, suara Leo terdengar di earpiece Damian—yang suaranya cukup keras untuk kudengar samar. “Papa, jangan terlalu puitis, itu terdengar cringe. Langsung saja ke poin inti: Papa mencintainya dan Papa akan berubah. Sekarang!”
Damian memejamkan mata sejenak, wajahnya memerah karena malu dievaluasi oleh anaknya sendiri. Ia kemudian menggenggam kedua tanganku di atas meja.
"Aku mencintaimu, Qinanti. Lebih dari kekuasaanku, lebih dari nyawaku. Aku ingin kita menjadi keluarga lagi. Bukan karena strategi Leo atau Lea, tapi karena aku... aku tidak bisa bernapas tanpamu."
Air mata mulai jatuh di pipiku. Untuk pertama kalinya, aku merasa Damian benar-benar jujur.
Namun, di tengah momen haru itu, sensor di tablet kecil yang kusembunyikan di tas (pemberian Leo) berbunyi bip merah. Ada gangguan di pintu masuk restoran.
“Papa, Mama, tetap tenang,” suara Leo berubah menjadi nada komando Marsekal. “Dua orang sisa klan Baron mencoba menyusup lewat lift servis. Jangan bergerak dari kursi. Marco sedang menanganinya dalam tiga... dua... satu.”
BUM! Suara benturan tumpul terdengar dari kejauhan, diikuti suara langkah kaki cepat yang menjauh.
Damian tetap tenang, ia bahkan tidak melepaskan tanganku. "Abaikan itu, Qin. Leo sudah mengurusnya. Fokuslah padaku."
Aku tertawa di tengah tangisku. Inilah hidupku sekarang. Makan malam romantis di bawah todongan senjata yang dijinakkan oleh anak-anakku sendiri.
"Kau benar, Damian," ucapku sambil menghapus air mata. "Kita adalah keluarga yang sangat aneh."
"Keluarga paling kuat di dunia," koreksi Damian sambil tersenyum miring.
Malam itu, di atas langit Jakarta, sebuah janji baru terucap. Sebuah dinasti baru sedang dibangun, bukan dengan darah, tapi dengan cinta yang dipandu oleh strategi paling brilian dari dua penguasa bayangan terkecil di dunia.
Checkmate, Papa. Kali ini, Damian Xavier benar-benar kalah—ia kalah oleh perasaannya sendiri, dan ia tidak pernah merasa sebahagia ini karena kekalahannya.