NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Rahasia di Balik Gaun Pengantin

​Kediaman Mahendra malam ini tidak lagi terasa seperti istana, melainkan sebuah mausoleum yang megah namun dingin. Hujan badai di luar sana seolah mencoba mencuci noda darah yang tertinggal di dermaga, namun ia tidak akan pernah bisa mencuci noda konspirasi yang kini melumuri dinding rumah ini.

​Aku melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan bahu yang masih diperban. Rasa perih dari sayatan scalpel Maia tadi masih berdenyut, namun itu tidak sebanding dengan hantaman informasi dari Komisaris Herman tentang status Maia sebagai calon nenek tiriku. Dunia ini terasa seperti hasil autopsi yang salah diagnosis; setiap lapis jaringan yang kubedah hanya menunjukkan kebusukan yang lebih dalam.

​Di sudut ruangan, gaun pengantin berekor panjang yang kupakai pada malam pertama itu masih tergantung di mannequin sutra. Para pelayan belum sempat menyimpannya ke dalam kotak penyimpanan vakum. Gaun itu berdiri kaku di sana, putih pucat di bawah temaram lampu, tampak seperti hantu seorang wanita yang cintanya mati sebelum sempat mekar.

​Klik.

​Suara pintu yang dikunci dari dalam membuatku tersentak. Aku berbalik dan mendapati Ghazali berdiri di sana. Ia sudah membersihkan luka lebam di wajahnya, namun matanya masih menyimpan badai yang belum reda. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, mengekspos garis leher yang tegang.

​"Kenapa kau tidak di rumah sakit menemani Adrian?" tanyanya. Suaranya tidak lagi sekaku biasanya, namun tetap mengandung bariton yang mengintimidasi.

​"Adrian sudah stabil. Dia di bawah penjagaan ketat kepolisian," jawabku sembari berjalan menuju meja rias, mencoba melepaskan anting-antingku dengan tangan yang sedikit bergetar. "Lagipula, kau bilang ada yang harus kita bicarakan secara pribadi, bukan? Tentang kartu memori... dan kode brankas itu."

​Ghazali melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di belakangku, menatap refleksiku di cermin. Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah yang nyata di matanya, sebuah emosi yang biasanya ia anggap sebagai kelemahan bagi seorang Jaksa Penuntut Umum.

​"Kode itu..." Ghazali menarik napas panjang, "...adalah tanggal kematian Kakek."

​Aku tertegun. Jemariku berhenti di cuping telinga. "Kau bilang itu kode tanggal lahirku."

​"Aku berbohong di dalam mobil tadi," Ghazali mengakuinya dengan nada datar yang menyakitkan. "Aku tidak ingin kau tahu bahwa seluruh obsesiku terhadap kasus ini berakar pada rasa bersalahku atas kematian Kakek. Tanggal lahirmu dan tanggal kematian Kakek hanya selisih satu hari. Aku pikir... kau tidak akan menyadarinya."

​Aku memutar tubuhku, menghadapnya langsung. "Jadi, selama ini kau menganggapku sebagai pengingat kematian Kakek? Apakah itu sebabnya kau begitu membenciku? Karena setiap kali kau melihatku, kau teringat pada hari di mana kakekmu menghembuskan napas terakhirnya?"

​Ghazali tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju gaun pengantin yang tergantung di sana. Ia menyentuh bahan brokat halus itu dengan ujung jarinya.

​"Kau tahu siapa yang memesan gaun ini, Keana?"

​"Nyonya Ratna?" tebakku hambar.

​"Bukan. Kakek yang memesannya, enam bulan sebelum dia meninggal. Dia sendiri yang mendesain beberapa detailnya," Ghazali menarik napas tajam. "Dia bilang, gaun ini adalah 'asuransi' bagimu jika suatu saat keluarga Mahendra berbalik menyerangmu."

​Aku mengernyitkan dahi. "Asuransi? Ini hanya kain dan benang, Ghazali. Bagaimana mungkin gaun ini melindungiku dari kekuasaan ibumu atau intrik hukummu?"

​Ghazali menoleh padaku, matanya berkilat misterius. "Kakek tahu Maia bukan pengacara biasa. Kakek tahu Maia mencoba meracuni pikirannya untuk mengubah wasiat. Dan Kakek juga tahu bahwa aku... aku terlalu bodoh karena sempat mencintai wanita itu."

​Ghazali mengambil sebuah gunting kecil dari laci meja riasku. Tanpa peringatan, ia mendekati gaun itu dan mulai menyayat bagian dalam korsetnya.

​"Ghazali! Apa yang kau lakukan? Itu gaun mahal!" teriakku, mencoba menahan tangannya.

​"Diam dan lihat, Keana!" perintahnya tegas.

​Suara robekan kain sutra yang halus memenuhi ruangan. Ghazali merobek lapisan pelapis di bagian dada kiri gaun tersebut. Dari balik jahitan yang sangat rapi dan tersembunyi, ia menarik keluar sebuah amplop plastik kecil yang sangat tipis.

​Tanganku menutup mulut secara refleks. Jadi, selama ini... rahasia itu ada di dalam gaun yang kupakai saat aku menangis karena penolakannya di malam pertama? Aku membawa kebenaran itu di atas kulitku, namun aku terlalu buta oleh rasa sakit hati untuk menyadarinya.

​"Apa itu?" suaraku nyaris berupa bisikan.

​Ghazali membuka amplop plastik itu. Di dalamnya terdapat selembar kertas tua dan sebuah kunci perak kecil dengan ukiran logo firma hukum yang sudah bangkrut sepuluh tahun lalu.

​"Ini adalah surat pernyataan asli dari dokter pribadi Kakek sebelum dia diganti oleh tim medis pilihan ibuku," Ghazali membaca kertas itu dengan rahang yang semakin mengeras. "Kakek tidak meninggal karena serangan jantung alami, Keana. Dia diracun secara perlahan menggunakan dosis mikro Digitalis yang dicampurkan ke dalam tehnya setiap sore."

​Darahku mendadak membeku. Sebagai dokter forensik, aku tahu persis bagaimana Digitalis bekerja. Jika diberikan dalam dosis kecil secara terus-menerus, ia akan menyebabkan gagal jantung yang tampak sangat alami, bahkan bagi dokter umum sekalipun.

​"Siapa..." lidahku terasa kelu, "...siapa yang melakukannya?"

​Ghazali menatapku dengan tatapan yang menghancurkan hatiku. "Kertas ini ditandatangani oleh saksi yang melihat Maia Anindita masuk ke kamar Kakek setiap sore. Dan saksi itu adalah... Bramasta Putra. Staf ahliku yang kau bedah kemarin."

​"Jadi, Bram dibunuh karena dia memegang rahasia ini?" aku merosot duduk di tepi ranjang. "Dan lidahnya dipotong karena dia ingin bicara padamu?"

​"Benar," Ghazali meremas kertas itu. "Dan kunci perak ini... ini adalah kunci ke kotak deposit di Bank Swiss yang berisi bukti aliran dana dari perusahaan cangkang milik ibuku ke rekening pribadi Maia. Ibuku tidak hanya merestui hubungan kami dulu, Keana. Ibuku yang membayar Maia untuk menyingkirkan Kakek agar dia bisa mengambil alih kendali yayasan Mahendra."

​Keheningan yang mematikan turun menyelimuti kami. Aku merasa seolah-olah ruangan ini mendadak kehilangan oksigen. Suamiku baru saja mengungkapkan bahwa ibunya sendiri adalah otak di balik pembunuhan kakeknya, dan mantan kekasihnya adalah eksekutornya.

​"Lalu kenapa kau menikahiku?" tanyaku dengan suara bergetar. "Jika kau tahu semuanya seseram ini, kenapa kau menyeretku masuk ke dalam neraka ini?"

​Ghazali berjalan mendekat. Ia berlutut di depanku, posisi yang sangat tidak lazim bagi seorang pria sehebat dirinya. Ia menggenggam kedua tanganku yang dingin.

​"Karena wasiat Kakek mengatakan bahwa aku hanya bisa mendapatkan akses ke bukti-bukti ini jika aku menikah denganmu. Kakek tahu kau adalah dokter forensik paling jujur. Dia tahu hanya kau yang bisa memvalidasi bukti medis ini jika suatu saat kasus ini dibuka kembali." Ghazali menunduk, menyandarkan dahinya di atas genggaman tangan kami. "Aku menikahimu untuk melindungimu, Keana. Dan untuk menggunakanmu sebagai tameng terakhirku."

​"Gunakan aku?" Aku menarik tanganku dengan kasar. "Jadi, pengakuan cintamu di dermaga tadi... itu juga hanya bagian dari strategi?"

​Ghazali mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena penderitaan yang tertahan selama bertahun-tahun. "Di dermaga tadi, aku bicara sebagai Ghazali yang tidak punya apa-apa lagi. Di sini, aku bicara sebagai seorang Mahendra yang harus menyelesaikan tugasnya."

​"Kau bajingan, Ghazali," bisikku, air mata mulai mengalir deras. "Kau membiarkanku merasa tidak diinginkan. Kau membiarkanku merasa menjijikkan karena bau formalin ini. Kau membiarkan ibumu menghinaku di meja makan setiap hari, padahal kau tahu dia adalah seorang pembunuh!"

​"Aku melakukannya agar mereka tidak curiga!" teriak Ghazali, suaranya pecah. "Jika aku menunjukkan perhatian padamu, Ibu akan segera menyadari bahwa kau adalah ancaman. Aku harus membuatmu terlihat seperti istri buangan yang tidak berharga agar kau tetap hidup, Keana!"

​"Kau pikir hidup dalam penghinaan itu lebih baik daripada mati?" aku bangkit berdiri, menjauh darinya. "Kau menghancurkan martabatku, Ghazali! Kau membuatku merasa menjadi 'alamat yang salah' bagi cinta siapa pun!"

​"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" Ghazali ikut berdiri, suaranya beradu dengan suara guntur di luar. "Apakah kau ingin aku meminta maaf karena telah menyelamatkan nyawamu dengan cara yang paling kejam? Apakah kau ingin aku mencintaimu di tengah tumpukan bangkai rahasia keluargaku?"

​"Aku ingin kejujuran!" teriakku. "Aku lebih suka mati di atas meja otopsiku sendiri dengan kebenaran, daripada hidup di ranjang mewah ini dengan kebohongan!"

​Ghazali terdiam. Napasnya memburu. Tiba-tiba, ia melangkah maju dan meraup tengkukku dengan tangannya yang besar. Ia menciumku dengan cara yang brutal, penuh keputusasaan, dan rasa lapar yang terpendam. Itu bukan ciuman cinta yang manis seperti di novel romansa remaja. Itu adalah ciuman pertempuran—sebuah penyatuan dua jiwa yang sama-sama hancur dan penuh luka.

​Aku mencoba memberontak, memukul dadanya yang keras, namun ia tidak melepaskanku. Aroma wiski dan tembakaunya bercampur dengan air mataku yang asin. Lama-kelamaan, kekuatanku hilang. Aku mencengkeram kemejanya, membalas ciumannya dengan seluruh kemarahan dan rasa sakit yang kupendam sejak malam pertama.

​Saat ia akhirnya melepaskanku, napas kami saling berburu di udara yang dingin.

​"Mulai malam ini, tidak akan ada lagi sofa," bisik Ghazali tepat di depan bibirku. Suaranya serak dan gelap. "Tapi jangan harap ini akan menjadi lebih mudah. Kita berdua sudah masuk terlalu dalam. Dan besok pagi, aku akan menyerahkan ibuku sendiri ke jeruji besi menggunakan bukti yang kau temukan di dalam gaun itu."

​Aku menatap mata elangnya. "Kau akan menuntut ibumu sendiri?"

​"Aku adalah Jaksa Penuntut Umum, Keana. Dan di duniaku, keadilan tidak mengenal silsilah keluarga," ucapnya sembari merapikan rambutku yang berantakan. "Tapi setelah itu... karierku akan hancur. Nama Mahendra akan menjadi sampah. Apakah kau masih mau bersanding dengan pria yang tidak punya apa-apa lagi?"

​Aku tersenyum getir, menyeka sisa air mata di pipiku. "Aku seorang dokter forensik, Ghazali. Aku sudah biasa berurusan dengan sampah dan bau busuk. Selama kau tidak membohongiku lagi, aku tidak peduli seberapa hancur duniamu."

​Ghazali menarikku ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, ranjang raksasa di belakang kami tidak lagi terlihat seperti meja operasi yang dingin. Namun, saat aku menyandarkan kepala di dadanya, aku melihat ke arah pintu kamar yang tadi ia kunci.

​Di bawah celah pintu, aku melihat bayangan seseorang yang berdiri diam di luar. Bayangan yang mengenakan syal sutra yang sangat kukenal.

​Nyonya Ratna.

​Jantungku berdegup kencang. Dia mendengar semuanya. Dia tahu kami sudah memegang kuncinya.

​"Ghazali..." bisikku sembari mempererat pelukanku.

​"Aku tahu," sahut Ghazali rendah. Tangannya meraba pinggangnya, mencari sesuatu yang biasanya ia bawa—mungkin sebuah senjata atau alat komunikasi darurat. "Dia tidak akan membiarkan kita keluar dari kamar ini dalam keadaan bernapas besok pagi."

​Tiba-tiba, lampu di seluruh rumah padam. Keheningan yang mutlak dan mencekam kembali meraja, hanya diselingi suara detak jantung kami yang seirama dengan jarum jam kematian.

​Rahasia di balik gaun pengantin itu telah terungkap, namun ia justru menjadi lonceng kematian bagi kami berdua. Malam ini, ranjang kami benar-benar menjadi medan perang yang sesungguhnya. Bukan lagi soal cinta yang salah alamat, tapi soal siapa yang akan tetap bernapas saat matahari terbit nanti.

​"Pegang tanganku, Keana," perintah Ghazali di kegelapan. "Dan jangan lepaskan, apapun yang terjadi."

​Aku menggenggam tangannya erat-erat. Di tengah kegelapan ini, aroma formalin di kulitku mendadak hilang, berganti dengan aroma keberanian yang pekat. Aku adalah penerjemah bagi mereka yang sudah mati, dan malam ini, aku akan memastikan suaraku sendiri tidak akan pernah bisa dibungkam oleh siapapun.

​Bahkan oleh seorang Mahendra sekalipun.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!