NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: LEMBAH API ABADI DAN PENYEMPURNAAN KEKUATAN

Hari-hari berikutnya dihabiskan Chen Si dengan latihan keras dan mendalam di tempat paling sakral di wilayah Istana Dewa Api: Lembah Api Abadi.

Lembah ini terletak jauh di dalam kedalaman rangkaian gunung berapi, tersembunyi di balik formasi pelindung tingkat tinggi yang hanya bisa dibuka oleh pemimpin klan. Begitu masuk ke dalam, suhu udara langsung melonjak naik berkali-kali lipat. Di sini, energi api bukan sekadar panas biasa, melainkan Api Bumi Purba yang bercampur dengan sisa-sisa energi naga purba yang tertinggal sejak terbentuknya Langit Kedua. Energi ini begitu pekat hingga berwujud cairan merah keemasan yang mengalir di sepanjang dasar lembah, membentuk sungai-sungai energi yang bergolak.

Bagi orang biasa atau bahkan kultivator tingkat tinggi lainnya, tempat ini adalah neraka hidup. Hanya dengan berdiri di sini saja, tubuh mereka akan terbakar habis dan abu. Namun, bagi Chen Si yang memiliki Darah Naga Murni, tempat ini adalah surga latihan terbaik yang pernah ada. Tubuhnya secara alami beresonansi dengan energi di sini, darahnya mendidih dengan gembira, dan setiap inci kulitnya menyerap kekayaan energi itu dengan sangat cepat dan efisien.

Di pinggir sungai energi itu, Chen Si duduk bersila diam. Di depannya terbentang gulungan perkamen emas berisi Sembilan Teknik Agung Klan Naga. Teknik-teknik ini adalah puncak dari seluruh pengetahuan klan, teknik yang menggabungkan kekuatan fisik, energi, jiwa, dan hukum alam menjadi satu kesatuan yang tak tertandingi.

Teknik pertama: Teknik Tubuh Naga – Tak Tertandingi. Teknik ini mengajarkan cara memadatkan energi ke dalam setiap sel tubuh, menjadikan tubuh sekeras logam tertempa namun selentur air, kebal terhadap hampir semua serangan fisik dan elemen.

Teknik kedua: Teknik Napas Naga – Penyerapan Langit. Cara bernapas dan menyerap energi yang jauh lebih cepat dan murni dibandingkan teknik biasa, memungkinkan pemiliknya bertempur berhari-hari tanpa kehabisan tenaga.

Dan terus naik hingga teknik kesembilan, teknik yang paling dahsyat dan sulit dipahami: Teknik Jiwa Naga – Penguasa Hukum. Teknik ini berkaitan langsung dengan Hukum Asal Mula, memungkinkan penggunanya memanipulasi energi di sekitarnya, memurnikan apa saja yang ada, dan menekan makhluk hidup lain hanya dengan keberadaan semata.

Selama tiga bulan penuh, Chen Si tidak keluar dari lembah ini. Ia membenamkan dirinya sepenuhnya dalam latihan, tidur hanya sebentar, dan menyerap energi tanpa henti. Suara raungan naga sering terdengar bergema dari kedalaman lembah, menggetarkan seluruh wilayah Selatan. Cahaya emas menyala terang di sana siang malam, menjadi penanda bahwa kekuatan pemimpin mereka sedang tumbuh melesat.

Selama masa ini, tubuh Chen Si mengalami perubahan besar. Daging, darah, tulang, dan sumsum tulangnya dimurnikan berulang kali oleh energi api dan darah naga yang semakin kuat. Fondasi kultivasinya yang tadinya sudah sangat kokoh, kini menjadi seperti batu berlian yang tak tergoyahkan. Tingkat kekuatannya perlahan namun pasti bergerak naik dari puncak Penguasa Langit Puncak, melintasi ambang batas yang selama ini menjadi dinding tak tertembus bagi ribuan kultivator, hingga akhirnya mendarat kokoh di Alam Dewa Tingkat Awal.

Namun, kenaikan tingkat ini tidak sama dengan apa yang dialami orang lain. Bagi kebanyakan orang, mencapai Alam Dewa berarti membuka kunci kekuatan alam dan memiliki umur panjang ribuan tahun. Tapi bagi Chen Si, dengan Darah Naga Murni dan fondasi yang ditempa sejak lahir, ditambah pemurnian di Lembah Api Abadi, kekuatannya saat ini jauh melampaui standar biasa. Jika dibandingkan dengan Tetua Gu yang baru saja ia kalahkan dulu, atau bahkan Tetua Yan Zhong yang sudah ratusan tahun berada di tingkat ini, Chen Si kini setidaknya sepuluh kali lipat lebih kuat. Ia bisa dengan mudah mengalahkan Dewa Tingkat Awal biasa hanya dengan satu jentikan jari, dan bahkan bisa bertahan seimbang melawan musuh di tingkat Dewa Tengah.

Tidak hanya kekuatan dasar, penguasaan tekniknya juga mencapai tingkat yang menakjubkan. Sembilan Teknik Agung Klan Naga yang tertulis di gulungan emas itu, yang bagi orang lain butuh puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk memahami satu teknik saja, Chen Si berhasil menguasai semuanya dalam waktu hanya tiga bulan. Dan bukan sekadar menguasai, ia sudah membawanya ke tingkat penyempurnaan, di mana teknik itu menyatu sepenuhnya dengan gerakan alaminya, seolah itu adalah bagian dari dirinya sejak lahir.

Saat ia membuka mata setelah masa latihan itu, kilatan emas menyambar keluar secepat kilat, membelah sungai energi di depannya menjadi dua bagian. Aura yang ia pancarkan kini jauh lebih tenang, jauh lebih padat, dan jauh lebih mengintimidasi. Dulu, auranya seperti pedang terhunus yang tajam dan mencolok. Sekarang, auranya seperti gunung berapi raksasa yang diam, tenang di permukaan tapi menyimpan kekuatan yang bisa meledak dan menghancurkan segalanya kapan saja.

Chen Si berdiri perlahan. Gerakannya sederhana, namun setiap langkah yang ia ambil membuat tanah bergetar halus dan api di sekitarnya menunduk hormat seolah menghadapi tuannya sendiri. Ia mengangkat tangan, dan sepotong api murni seukuran kepalan tangan melayang ke telapak tangannya. Api itu berwarna emas cerah, panasnya tidak menyakitkan, tapi memancarkan tekanan yang membuat ruang di sekitarnya sedikit berkerut.

"Ini kekuatan sesungguhnya... Kekuatan yang mendekati Hukum Asal Mula," gumam Chen Si pelan, senyum puas mengembang di bibirnya. Ia merasa seolah selubung tebal telah terangkat dari matanya. Segala sesuatu di sekitarnya terlihat jauh lebih jelas, jauh lebih mendalam. Ia bisa melihat aliran energi di udara, bisa mendengar suara detak jantung makhluk hidup dari jarak ribuan meter, dan bisa merasakan setiap perubahan kecil dalam atmosfer.

Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar lembah. Yan Yue muncul di mulut gua, wajahnya terlihat cemas namun juga lega saat melihat Chen Si sudah berdiri dan tampak sehat sepenuhnya. Di belakangnya, Tetua Yan Zhong dan beberapa tetua inti lainnya juga hadir, mereka semua menatap Chen Si dengan mata terbelalak tak percaya. Mereka bisa melihat perubahan drastis pada pemuda itu. Chen Si yang sekarang, meski masih berwajah muda, memancarkan wibawa yang setara dengan leluhur klan mereka di masa jayanya.

"Tuan Muda..." sapa Tetua Yan Zhong dengan suara sedikit bergetar. "Kita merasakan gelombang kekuatan yang luar biasa dari dalam lembah ini. Kami khawatir ada hal buruk terjadi, tapi ternyata... ternyata kau telah menembus batas dan mencapai Alam Dewa. Dan bukan sekadar mencapai... kekuatanmu ini... luar biasa sekali."

Chen Si menoleh dan mengangguk hormat. "Terima kasih, Tetua. Berkat warisan leluhur dan energi tempat ini, aku berhasil memperkuat diri. Sekarang, aku rasa aku sudah cukup siap untuk menghadapi apa pun yang datang."

Wajah Tetua Yan Zhong berubah menjadi serius. Ia mengangguk. "Kau bicara tepat sasaran, Tuan Muda. Justru itulah alasan kami datang menjemputmu. Selama kau berlatih di sini, situasi di luar sudah berubah drastis. Berita tentang kedatanganmu dan keberadaan kami sudah sampai ke pusat Gereja Cahaya di Langit Kedua. Mereka tidak diam saja."

Yan Yue maju selangkah, melanjutkan penjelasan dengan nada tegang. "Gereja Cahaya telah mengerahkan pasukan besar. Mereka menggabungkan kekuatan dari Sekte Awan Gelap, Sekte Pedang Suci, dan sekutu-sekutu lainnya. Total pasukan mereka berjumlah lebih dari seratus ribu orang, termasuk sepuluh tetua tingkat Dewa dan tiga orang Pemimpin Wilayah yang kekuatannya setara Dewa Tengah. Saat ini, pasukan gabungan itu sudah bergerak keluar dari wilayah Barat, dan sedang bergerak cepat menuju ke selatan. Mereka berniat mengepung dan meratakan Istana Dewa Api kami sampai ke tanah dasar, untuk menangkapmu dan memusnahkan sisa keturunan Naga selamanya."

Chen Si mendengarkan laporan itu dengan tenang, tidak ada sedikitpun rasa takut atau khawatir di wajahnya. Justru, matanya berkilat penuh semangat bertempur.

"Seratus ribu orang... Tiga Dewa Tengah... Kedengarannya cukup menarik," komentar Chen Si santai. Ia berjalan melewati mereka, menuju keluar lembah. "Pasukan musuh sudah berjalan sejauh mana? Dan kapan mereka akan sampai di sini?"

"Mereka bergerak cepat. Diperkirakan lusa sore mereka akan sampai di perbatasan wilayah Selatan kita," jawab Tetua Yan Zhong sambil berjalan di samping Chen Si. "Kami sudah mengerahkan seluruh pasukan kita, mengaktifkan formasi pelindung, dan bersiap untuk perang habis-habisan. Tapi harus kuakui... kekuatan musuh jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang kami duga sebelumnya. Ini adalah ujian terberat dalam sejarah keberadaan kami di Langit Kedua."

Chen Si berhenti melangkah, menatap Tetua Yan Zhong dengan tatapan tajam dan penuh keyakinan.

"Tetua, dengar aku. Ini bukan ujian bagi kita. Ini adalah kesempatan emas yang dikirimkan langsung oleh takdir," kata Chen Si dengan suara tegas. "Selama ribuan tahun, kita bersembunyi, menahan diri, dan membiarkan mereka berkuasa semena-mena. Sekarang, mereka datang sendiri ke depan pintu rumah kita dengan membawa seluruh kekuatan mereka. Kita tidak hanya akan bertahan... Kita akan menghancurkan mereka sepenuhnya di sini. Kita akan membuat kuburan massal di perbatasan selatan ini, dan mengirimkan pesan keras ke seluruh penjuru Langit Kedua: Bahwa Klan Naga telah bangkit kembali, dan Gereja Cahaya bukan lagi penguasa tunggal di sini."

Keberanian dan keyakinan yang memancar dari Chen Si menular ke semua orang di sana. Kekhawatiran di hati para tetua perlahan hilang, digantikan oleh api semangat juang yang berkobar kembali. Mereka menatap pemuda di depan mereka, pemuda yang belum lama ini masih terlihat seperti anak muda yang butuh bimbingan, namun kini telah berubah menjadi pemimpin yang gagah berani dan penuh strategi.!

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!