NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua

Tanya Andra sambil menatap ponsel miliknya yang tersimpan di atas meja nakas, kemudian kembali menatap Kanaya.

"Nggak penting aku tau dari mana. Jawab aja, sejak kapan kamu menikah sama perempuan itu?" Kanaya menjawab dengan suara tegas.

"Sayang, ayo kita duduk dulu. Kita bicarain ini baik-baik ya, aku-"

Andra menelan ludahnya saat ucapannya yang belum selesai itu terpotong tajam oleh suara Kanaya.

"Nggak usah banyak basa-basi, Mas. Jawab aja pertanyaanku langsung ke intinya, to the point. Sejak kapan kamu menikah sama dia?"

Andra terdiam, ia terlihat ingin menjawab tapi ragu dan takut.

Bibirnya beberapa kali terbuka tapi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya, pria itu terlihat seperti ikan megap-megap karena dilempar paksa keluar dari air.

Andra terdiam, ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang pelan nyaris seperti berbisik.

"Belum lama, baru beberapa bulan lalu. Sejak bulan Maret."

Kanaya mendengus, ia menatap langit-langit kamarnya berusaha menahan air mata yang terasa menusuk-nusuk ingin keluar.

Bukan, Kanaya menangis bukan karena sedih. Tapi

Karena dirinya marah.

Wanita itu sangat marah karena merasa dirinya dipermainkan dan diperlakukan seperti orang bodoh oleh suaminya sendiri.

"Kamu menikah sama dia sejak bulan Maret, tapi sejak kapan kalian mulai berhubungan? Nggak mungkin kamu baru kenal dan langsung menikah, kan?

Pasti sebelum itu kalian menjalin hubungan pacaran.

Jadi sejak kapan tepatnya kamu mengkhianati aku, Mas?"

Andra kembali terdiam, ia kembali menarik nafas panjang yang berat seolah dirinya lah yang kesakitan karena dikhianati.

"Aku nggak inget kapan tepatnya, tapi sejak tahun

lalu."

Andra akhirnya berterus terang. Pria itu sadar bahwa berbohong dalam keadaan seperti ini bukan lah pilihan yang tepat dan sudah terlalu terlambat.

Ia menatap Kanaya dengan pandangan memelas, sorot tenang sang istri kini berubah sinis dan tajam.

"Tega kamu, Mas. Siang malam aku di rumah mendo'akan kamu, kamu malah mengkhianati aku dari belakang." Andra mendekat hendak meraih lengan sang istri dan memeluknya erat, tapi jelas Kanaya tak sudi.

Wanita itu menghindar dan menjauh darinya, menciptakan jarak di antara mereka yang membuat Andra merasa panik dan juga takut.

"Aku minta maaf, Sayang. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa menerima

pernikahanku sama dia. Aku janji, cinta dan perasaan aku ke kamu nggak akan berubah sedikit pun meski sudah ada dia. Posisi kamu sebagai yang pertama nggak akan pernah tergantikan."

Kanaya kembali mendengus sinis, tertawa sinis seolah mengejek ucapan Andra.

Wanita itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir, semua kalimat yang terucap dari mulut sang suami seolah menyepelekan perasaan dirinya.

"Waw, kalimat kamu itu sangat menghibur dan menenangkan. Harus kah aku merasa tersanjung, Mas? Harus kah aku merasa tersipu karena kamu tetap menjadikan aku sebagai yang pertama meski jelas-jelas kamu berkhianat? Wah,...."

Kanaya tertawa maniak sebelum suara gelak itu menghilang dan berganti keheningan. Mereka berdua berdiri saling berhadapan, saling menatap dengan sorot mata yang berlawanan.

Andra menatapnya nanar, sedangkan Kanaya menatapnya sinis.

"Kumpulkan semua keluarga kamu, termasuk Ibu sama Ayah. Aku mau masalah ini dibicarakan di depan mereka semua." Tanpa menunggu jawaban sang suami, Kanaya berlalu pergi meninggalkannya sendirian.

Andra menghembuskan nafas panjang sambil meremas rambutnya frustasi, ia tak pernah berpikir kalau Kanaya pada akhirnya akan mengetahui tentang Nisrin-istri keduanya.

Dengan pikiran yang kalut, Andra memakai baju dan

Celananya kemudian berlalu mencari sang istri berharap wanita itu masih bisa diajak berbicara dengan tenang.

"Sayang, please kita bicarain dulu baik-baik. Jangan melibatkan orang lain apalagi-"

"Aku udah telfon semua keluarga kamu, aku tau kamu nggak bakalan mau telfon mereka buat ke rumah ini.

Mereka datang ke sini sebentar lagi." Kanaya memotong dengan suara dingin yang tenang.

Tatapannya lurus ke depan, enggan melihat wajah sang suami.

***

"Ada apa, Naya? Kenapa tiba-tiba telfon terus nyuruh ke sini mendadak? Apa ada masalah?" Kanaya menatap Samirah, ibu mertuanya dengan sorot mata yang tidak terbaca.

"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama Ibu dan Ayah. Penting. Silahkan duduk dulu,..." Jawab Kanaya dengan suara tenang sambil menunjuk sopan soffa di hadapannya.

Meskipun bingung dan tak mengerti, Samira tetap duduk menuruti permintaan Kanaya.

Ia menatap wajah putra dan menantunya bergantian, Samira jelas bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres di antara mereka berdua.

Wajah Andra yang tegang dan tak henti-hentinya susah payah menelan ludah semakin menegaskan bahwa keadaan mereka memang sedang tidak baik-baik saja.

"Ada apa, Nak?" Kali ini Daris, ayah mertuanya yang

bertanya.

Pria itu juga bisa merasakan atmosfer yang tidak nyaman di rumah ini.

"Sebelumnya aku minta maaf karena mendadak menghubungi Ayah dan Ibu tanpa kejelasan dan meminta kalian cepat-cepat ke sini. Tapi ada hal yang sangat penting yang perlu aku bicarakan, ini tentang Mas Andra."

Samira dan Daris sontak menatap putranya, kedua mata mereka memicing penuh selidik sebelum kembali menatap Kanaya yang masih memasang wajah tenang tak terbaca.

"Kenapa sama Andra, Nak? Dia bikin masalah?" Tanya Daris, pandangannya bergantian menatap wajah Andra dan Kanaya.

"Mas Andra,.... Mas Andra sudah menikah lagi. Tanpa sepengetahun aku dan pernikahan kedua dia sudah berlangsung cukup lama." Ucap Kanaya berterus terang.

Ia memperhatikan raut wajah ibu dan ayah mertuanya, berpikir kalau mereka akan sama terkejutnya dengan dirinya saat mengetahui masalah ini.

Tapi tidak.

Ibu dan ayah mertuanya itu tampak tenang dan tak terkejut sama sekali seolah mereka sudah mengetahui semuanya.

"Mas Andra menikah lagi, dia punya istri kedua tanpa sepengetahuan aku." Kanaya mengulang kalimatnya kembali, berpikir kalau ibu dan ayah mertuanya tidak mendengar dengan baik apa yang ia ucapkan sebelumnya.

Ia menatap wajah Samira dan Daris bergantian lekat-lekat, tapi ekspresi keduanya tidak berubah sama sekali.

"Ibu sama Ayah denger yang aku bilang, kan?"

Kanaya tanpa sadar menahan nafasnya saat Samira dan Daris menganggukan kepala, tapi raut wajahnya masih persis sama.

"Ibu sama Ayah udah tau?" Kanaya akhirnya menyimpulkan ketenangan kedua mertuanya.

"Kalian tau dan membiarkan Mas Andra melakukan ini?" Kanaya bertanya tak habis pikir, suaranya memelan parau.

Gemuruh di dadanya yang sempat padam kini kembali berkobar, jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Kedua matanya kembali terasa panas, air mata menggenang dan siap untuk tumpah. Ia tidak hanya dikhianati oleh Andra, tapi juga oleh kedua orangtua pria itu yang ia sayangi seperti orangtua kandungnya sendiri.

Terdengar helaan nafas panjang dari Samira sebelum akhirnya wanita itu membuka mulut dan mengucapkan kalimat yang membuat hati Kanaya terluka semakin dalam.

"Ibu sama Ayah sudah tau karena memang kami lah yang mengizinkan Andra untuk menikah lagi. Kami juga yang memilihkan istri keduanya. Perempuan itu adalah perempuan pilihan kami."

Kanaya menatap Samira tak percaya, penglihatannya terasa semakin buram karena air mata yang semakin menggenang.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!