Bunga adalah gadis yang di juluki si Bodoh, ia di paksa nikah dengan seorang lelaki pilihan papanya yaitu Muis yang dimana sahabat masa kecilnya.
Hari-hari pernikahan mereka di lalui, Muis mengira gadis itu beneran bodoh dan seperti kekanak-kanakan namun di balik itu Bunga tidak seperti yang di duga. Ia menikah dengan Muis karena ia ingin membalas dendam kepada keluarganya itu,
— Stupid Wife —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Mengambil Hak Milik
" Jadi kapan, mas mau alihkan rumah ini jadi milik mas? " Tanya Raya saat ketiga nya sedang sarapan,
" Nanti kita perlu tanda tangannya Bunga"
" Hm, lebih cepat lebih baik pa Areta mau banget rumah ini cepat-cepat milik kita!. Sama sawah yang di rumah neneknya Bunga sama semua mobil itu " Kata Areta kaka tiri Bunga ia tersenyum penuh arti, membayangkan hari-harinya yang selalu terjamin dengan adanya barang-barang mewah dan uang kiriman mamanya Bunga.
" Ya, hari ini papa urus! " Sahut Raihan
" ngga sabar deh, bagus deh tuh si beban pergi dari rumah ini. Jadinya beras utuh makanan lainnya utuh! " Celetuk Raya dengan suara penuh kebahagiaan seolah semua bebannya musnah, padahal uang untuk belanja bulanan itu dari mamanya Bunga yang memang kerja dan memiliki perusahaan sendiri.
" Tuan nyonya " Panggil Bi Uli membuat semua yang di meja makan, menoleh ke wanita paruh baya tersebut
" Ada apa? " Tanya Raya dengan nada tidak suka karena ia paling tidak suka di ganggu oleh siapapun saat sedang makan,
" Itu nyah ada non Bunga sama den Muis " Bi Uli memberitahu, membuat senyuman terbit di bibir Raihan ia beranjak dari duduknya
" Papa mau kemana? " Tanya Raya
" Mau nyamperin Bunga " Kata Raihan lalu berlalu begitu saja di temani bi Uli, keduanya berjalan ke arah ruang tengah dimana ada menantu dan anaknya itu.
Muis segera mencium punggung tangan mertuanya itu, begitupun Bunga yap tadinya Bunga akan pergi dengan Cindy namun tetiba Cindy ada urusan mengharuskan dirinya pergi dengan Dante.
" Bagaimana Bunga ngga menyusahkan mu kan Muis? " Tanya Raihan membuat Muis tersenyum lalu menggeleng kan kepalanya
" Ngga pa dia anak yang baik! " Sahut Muis sembari mengusap kepala Bunga,
" Pa, aku kesini mau ambil baju-baju aku.. Aku ke kamar dulu ya! " Kata Bunga lalu berjalan dengan langkah yang penuh ceria, seolah-olah kalau dirinya tidak punya akal sehat.
Membuat Raihan tersenyum penuh arti, " 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵𝘱𝘶𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘮𝘶!... 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶! " Batin Raihan
Bunga menghentikan langkahnya, saat ia melewati ruang kerja Raihan ia menoleh sekeliling seolah takut ada seseorang yang tetiba melihat aksinya itu. Bunga menghela napas kasar
" 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢?.. 𝘏𝘮𝘮 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩! " Batin Bunga
Krekk!,
Bunga tersenyum lebar ia bergegas masuk ke dalam Ruangan bercat abu-abu tersebut, matanya menajam kala melihat sebuah brankas yang begitu besar sekali.
" Ini pasti uang yang dimana dari. Mama seharusnya jadi milik ku " Kata Bunga sembari mencoba membuka brankas tersebut. Ia berkerut dahi saat ia sudah beberapa kali mencoba namun brankas tersebut tidak bisa kebuka,
" Hmm, mungkin ulang tahunnya Areta "
Tring!
Bunga tersenyum penuh kemenangan, ia terbelalak pupilnya kala melihat tumpukan uang dan mas batangan serta berkas-berkas penting termasuk sertifikat rumah tersebut.
" Katanya sekarang harga mas turun drastis, kalau aku bawa emas sia-sia, mending bawa duitnya terus taruh di kartu ATM aku " Kata Bunga tangannya bergerak cepat memasukan lima tumpukan Uang berwarna merah tersebut ke ranselnya, untung ia membawa Ransel
Tidak lupa ia membawa Sertifikat, ia memasukan ke dalam ranselnya lalu ia mengambil Beberapa mas " Aku ambil aja deh, daripada di Hambur-hamburkan! " Kata Bunga ia berubah pikiran akhirnya mengambil lima batang emas dan dua gepok uang lagi,
Selepas itu ia segera menutup Ranselnya, ia harap ia bisa keluar dengan mulus. Ia membuka pintu tersebut kepalanya memutar kanan-kiri memperhatikan ada orang yang lewat atau tidak untung saja tidak ada,
Ia bergegas menutup pintu dan bergegas pergi dari sana. Ia terbelalak kala membuka pintu kamarnya sang kaka tiri sedang duduk di kasurnya yang tipis itu sebenarnya Bunga ada kamar sendiri namun kamarnya diambil alih oleh Areta
" Katanya mau bawa baju, kenapa daritadi gue disini lo ngga ada kemana dulu lo? " Tanya Areta matanya memicing penuh kecurigaan. Bunga bergegas mengambil dua cookies yang ia sempat ambil saat lewat di dapur tadi,
" Ambil Cookies dulu !, kaka mau? " Bunga menyodorkan cookies tersebut membuat Areta tertawa, ia merampas Cookies tersebut lalu ia menjatuhkanya ke lantai dengan sengaja ia menginjak cookies tersebut
" Gue heran ya apa yang ka Muis banggakan dari istrinya yang bodoh!, " Hardik Areta
" Kaka kenapa sih? " Tanya Bunga dengan suara polos
" Lo bodoh!, sini gue jedotin biar tambah bodoh terus gila! " Tawa Areta membuat Bunga terdiam
Ia mendorong tubuh Bunga membuat Bunga terhuyung ke atas pembaringan yang tipis tersebut. " Ka apa salah Bunga? " Pekik Bunga
" Bocah bodoh! " Hardik nya
" PAPA, BANG MUIS ! " pekik Bunga
Kala tangan Areta melayang di udara, dan akan mendarat di pipi gadis tersebut tetiba sebuah tangan kekar menghentikan tamparan tersebut Areta menoleh ke arah tersebut.
" Jangan pernah kamu sakiti istri saya! " Kata Muis dengan suara dingin
" Ka Muis aku cuman mau, nampar nyamuk doang ngga — niat nampar Bunga! " Kilah Areta ketakutan, apalagi tangannya di remas oleh lelaki tersebut
"Abang, ka Areta sengaja mau nampar Bunga karena Bunga ngga kasih Banyak cookies untuk dia ! " Kata Bunga polos membuat Tatapan tajam Muis menguliti gadis tersebut.
" Ngga ka! "
" Sayang, kamu ngga apa-apa? " Tanya Muis
" Hmm... Tapi cookies aku! " Bunga menjuntaikan bibir nya gemas sekali, " Nanti kita beli oke! " Kata Muis ia menghampas kasar Tangan Areta
Membuat Areta meruntukinya dalam hati, tetiba tatapan tajam Muis bertemu dengan manik Areta
" Kamu menyumpahi saya? " Tanya Muis dingin
" Ngga ka mana mungkin aku berani! " Sahut Areta tergagap-gagap
" Awas kamu, ayo sayang! " Dengan lembut Muis menuntun Bunga keluar dari kamar tersebut. Di bawah tatapan kebencian Areta
" Gue bakal balas dendam!! " Kata Areta penuh kemarahan