NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan dari Malam Berdarah

...Chapter 7...

Kembali ke tenda mereka, Ling Xu duduk di depan Huan Zheng dengan wajah pucat pasi, peta di tangannya gemetar. 

“Kita pergi besok malam,” ucapnya, suaranya tidak meninggalkan ruang untuk bantahan. 

Huan Zheng yang masih berbaring malas mendadak duduk, alisnya naik karena ia belum pernah melihat Ling Xu setakut ini. 

“Ada apa?” tanyanya, nada malasnya berubah menjadi setengah waspada. 

Ling Xu menceritakan semuanya—Paviliun Kitab, catatan-catatan tua, gadis-gadis dengan gelang batu giok, dan apa yang ia lihat di balik tirai tenda utama. 

“Dia tidak ingin meminangku, Huan Zheng. Dia tidak ingin belajar herbal dariku. Dia ingin... merampas Lintang Kemahaesaan mereka yang berhasil memperoleh pencerahan,” ucap Ling Xu, matanya menatap kosong ke dinding tenda, “lalu mencuci otak mereka. Menjadikan mereka budak seks yang patuh. Puluhan. Mungkin sudah hampir seratus.” 

Hhhh!!

Langit malam di atas Perkemahan Xuelan terasa seperti beludru yang direntangkan di atas peti mati—hitam, dingin, dan tanpa satu pun bintang yang berani berkedip. 

Ling Xu merangkak di antara bayangan tenda-tenda besar, telapak tangannya yang dingin menekan tanah yang lembap oleh embun, sementara di belakangnya Huan Zheng melangkah dengan malas yang dibuat-buat, mulutnya menguap lebar seolah baru bangun tidur padahal jantungnya berdetak seperti genderang perang. 

"Kau yakin ini celah yang kau maksud?" bisik Huan Zheng, nada malasnya masih melekat meski matanya sudah menyapu sekeliling dengan waspada. 

Ling Xu tidak menjawab—ia hanya menunjuk ke arah barat laut, di mana pagar energi yang biasanya berdenyut biru kini tampak redup, seperti luka yang mulai mengering, dan di sana, di sela dua tiang kayu yang sudah lapuk, ada celah selebar tubuh seorang gadis kurus. 

"Penjaga berganti dalam empat puluh hitungan," ucap Ling Xu akhirnya, suaranya setipis rambut.

“Kita harus—" 

Tapi kata-katanya terputus ketika di kejauhan, sesosok bayangan bersulur emas muncul dari balik tenda utama, diikuti oleh puluhan lentera yang menyala seperti mata-mata merah di tengah kegelapan. 

"Nona Ling Xu," panggil suara itu—suara Pangeran Whou Ming, yang tetap lembut, tetap hangat, tapi kali ini terasa seperti belati yang digosokkan perlahan ke tulang belakang. 

"Bukankah sudah kubilang, malam terlalu dingin untuk berjalan-jalan?"

Whou Ming melangkah maju dengan senyum yang tidak sampai ke matanya—senyum seorang anak laki-laki yang dulu, di usia lima tahun, bersembunyi di balik tirai sutra sambil menutup telinga, tapi tetap mendengar. 

Mendengar teriakan ibunya, Si Yuehua, yang berubah dari amarah menjadi jeritan, dari jeritan menjadi isak tangis, dan dari isak tangis menjadi sunyi yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. 

Ia masih ingat bagaimana para pembunuh bayaran—yang katanya disewa ayahnya, Whou Tianming, untuk menangkap ibunya karena tuduhan khianat—justru membunuh ayahnya terlebih dahulu, lalu memperkosa ibunya bergiliran di atas lantai batu dingin yang berlumuran darah, sementara ia, Whou Ming, hanya bisa menggigit bibir bawahnya hingga berdarah sambil didorong oleh pelayan tua ke lorong rahasia di balik dapur. 

"Jangan lihat, Tuan Muda," bisik pelayan itu, tapi Whou Ming sudah melihat—melihat mata ibunya yang sekarat, melihat empat bayangan laki-laki yang bergerak naik turun seperti binatang, dan yang paling membekas di memori balitanya.

Tawa mereka. 

Tawa yang terbahak-bahak, riang, seolah apa yang mereka lakukan adalah tontonan yang lucu. 

"Kalian pikir aku tidak tahu?" ucap Whou Ming sekarang, suaranya masih lembut tapi tangannya sudah terangkat, dan di ujung jari-jarinya, Qi berdenyut ungu tua seperti racun yang mengalir di darahnya. 

Puluhan anak buahnya mulai membentuk lingkaran di sekeliling Ling Xu dan Huan Zheng, bukan lingkaran penangkapan—melainkan lingkaran yang lebih mengerikan.

Lingkaran yang rapat, tanpa celah, seperti dinding daging dan besi yang dirancang untuk tidak membiarkan siapa pun keluar hidup-hidup. 

"Kalian pikir aku akan membiarkan incaranku kabur begitu saja, seperti ayahku dulu membiarkan ibuku?" 

Tidak ada lagi kata-kata setelah itu. 

Yang ada hanya desingan pedang roh yang melesat dari puluhan arah, suara jubah yang terkoyak angin, dan gemuruh Qi yang saling bertabrakan di udara malam seperti ombak yang menghantam karang. 

Ling Xu melompat ke belakang, menghindari serangan pertama Whou Ming—sebuah tebasan energi ungu yang membelah tanah bekas tempatnya berdiri menjadi jurang kecil berasap. 

"Huan Zheng!" pekiknya sambil menangkis serangan susulan dengan belati kayu yang tiba-tiba berubah keras seperti batu.

"Hadapi yang lain! Aku urus pangeran gila ini!" 

Huan Zheng, yang sejak tadi hanya berdiri dengan tangan di saku, mengangkat bahu malas lalu berjalan—bukan berlari, berjalan—ke arah kerumunan bawahan Whou Ming yang mulai mengepungnya dari segala sisi. 

Dari antara kerumunan itu, melangkah maju dua sosok yang paling mencolok.

Pertama, So Weihao, pemuda berusia empat puluh tahun dengan rambut magenta berkilap yang tergerai indah di bahu, mengenakan jubah sutra berwarna merah muda pucat dengan sulur-sulur bunga peony, wajahnya yang mirip perempuan itu tersenyum tipis sambil mengibaskan pisau lipat dari balik lengan bajunya. 

"Akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan salah satu umat manusia," ucap So Weihao, suaranya lembut dan sedikit melengking.

“Kelihatannya kau hebat. Tapi melihatmu sekarang... kau tampak seperti anjing kelelahan yang baru saja dimuntahkan oleh laut." 

Di sampingnya, Xing Haoran—pria renta berusia enam puluh delapan tahun lebih—hanya diam, bersandar pada tongkat kuningnya yang diukir naga-naga kecil, rambut kebiruan pudarnya berkibar tipis ditiup angin malam, dan matanya yang keriput menatap Huan Zheng tanpa ekspresi, seperti seorang kakek yang sedang mengamati cucu nakal yang tidak layak diberi perhatian.

Huan Zheng tidak menjawab So Weihao. 

Ia bahkan tidak melirik. 

Yang ia lakukan hanyalah duduk—benar-benar duduk di tanah yang kasar dan dingin, bersandar pada sebongkah batu kecil, lalu menguap lebar sambil menggaruk perutnya yang tidak gatal.

"Kau—!" 

So Weihao mendengus kesal, lalu melesat maju dengan pisau lipatnya yang menyala merah jingga, diikuti oleh puluhan bawahan Whou Ming yang mengeluarkan senjata masing-masing—pedang, tombak, rantai, bahkan sendok besi—semuanya berdenyut Qi tingkat Lintang Bawah Keempat dan Kelima. 

Mereka menyerbu Huan Zheng seperti kawanan tawon yang mengejar madu, tapi anehnya, setiap kali mereka mendekati radius tiga meter dari pria malas itu, tubuh mereka terpental. 

Bukan oleh tameng, bukan oleh sihir, melainkan oleh sesuatu yang tidak terlihat—sebuah medan Qi yang berputar lambat di sekitar Huan Zheng, seperti pusaran air raksasa yang tidak terlihat tapi terasa oleh tulang. 

So Weihao, dengan tingkat Lintang Umum Keenam yang seharusnya jauh di atas Huan Zheng yang kini hanya berada di Pondasi Lintang Bawah, mencoba menusuk dari atas—tapi begitu pisau lipatnya menyentuh radius itu, tangannya terpelintir sendiri, persendiannya berbunyi krekek-krekek seperti sedang digenggam oleh tangan tak kasat mata. 

"Apa—apa ini?!" teriaknya, wajahnya yang cantik mendadak pucat, sementara Xing Haoran dari kejauhan hanya menggeleng pelan, tongkat kuningnya bergetar halus karena ia mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.

Huan Zheng, meski hanya memiliki sisa Lintang Bawah, masih menyimpan pengalaman seorang Roda Kultivasi—pengalaman mengendalikan Qi tingkat langit, pengalaman membaca gerakan musuh sebelum musuh itu sendiri berpikir, dan yang paling mengerikan, pengalaman dalam menyembunyikan kekuatan asli. 

Sementara itu, di sisi lain medan pertempuran, Ling Xu dan Whou Ming bertarung dengan sengitnya—Whou Ming dengan tingkat Lintang Bawah Ketiga, dua tingkat di atas Ling Xu, menekan habis-habisan dengan serangan-serangan ungu yang deras seperti hujan badai, sementara Ling Xu hanya bisa bertahan, berguling, menangkis, dan kadang membalas dengan lemparan jarum beracun yang selalu meleset karena Whou Ming sudah terlalu berpengalaman menghadapi racun. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!