Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Disappointed
Lova berhasil menghentikan tangisnya. Lumayan melelahkan juga melepaskan oksitosin dan opioid endogen, tapi setidaknya kini dadanya sudah tak terlalu sesak, hatinya mulai nyaman.
Alika memandangnya penuh tatapan iba, ada usapan yang ia berikan di punggung Lova yang masih setia menunduk, "ngerti kan sekarang Va, kalo aku bilang dia ngga pantes dikejar, ya berarti emang ngga pantes...kamu tuh terlalu baik buat cowok angkuh kaya Afnan."
Lova mengangguk, mengangkat wajahnya yang semula tenggelam demi bisa menatap Alika dengan mata sembabnya, "gue menyedihkan ya, Ka?"
"Banget." Alika tertawa disusul tawa Lova.
"Aaaa, Al..." ia merengek berusaha menyeka wajahnya.
"Keep strong ya. Padahal tadinya kalo ngga sadar juga, mau kucolok matamu pake garpu." Ucap Alika.
//
"Guys, disuruh ke lapang dulu...ada pengumuman dari pak kepala!" lirih Eza yang baru kembali masuk selepas kepergiannya ke ruang guru mengantar bu Pri sang guru mata pelajaran bersama setumpuk buku catatan anak-anak kelasnya dan langsung dihadiahi sorakan teman sekelasnya.
"Baru juga mau nafas, Za...doyan banget sih ngerjain orang!" Keluh Lova menggerutu, bibirnya cemberut manyun persis moncong kereta api. Tangannya masih memegang cermin kecil yang ia keluarkan dari saku seragam demi melihat wajah menyedihkannya yang baru saja menghentikan tangisan 30 menitnya itu.
"Disuruh kepala sekolah sama guru-guru neng Lovaaaaa, bukan aku yang nyuruh..." Ulang Eza menekan setiap kata-katanya.
"Emang dari tadi ngga nafas, Va? Sini aku bantu kasih nafas buatan, aku tiup!" itu Kiki yang bicara dari arah belakang.
Ea...ea...ea!
Gelak tawa tercipta. Bahkan pukulan bertalu-talu di bangku oleh Emir dan Fatan semakin membuatnya semarak.
Suthhhh! "woyyy! Berisikk ih, kaya di panggung aja!" seru Amara.
"Balon kaliii lo tiup ah!" desis Alika ikut tersenyum.
"Paling kalo ngga ngumumin sumbangan mau bagi-bagi tablet tambah da rah.." Hana berkata seraya menggidikan bahunya.
"Ya ngga apa-apa Han, biar nyamuk pada gemuk kalo nanti gigit."
"Dih, Lo ternak nyamuk?"
Lova sudah bisa tertawa renyah lagi, meski kemudian tawa itu seketika terhenti bersamaan dengan ayunan langkah sosok dari balik punggung Eza yang saat ini tengah berdiri di depan pintu kelas terbuka---mereka hanya melintas saja, tapi sinyalnya masih kuat menangkap radar Afnan diantara mereka yang juga hendak ke lapangan.
Pemuda coklat susu, manis nan tampan dengan kerah seragam yang keluar dari leher sweater rajut navynya itu.
Tatapan keduanya sempat bertemu, meski kemudian Afnan membuang mukanya, jujur saja...bayangan kejadian kemarin di depan masjid An-nur yang cukup mencabik-cabik harga diri Lova tak sedikitpun memupuskan harapannya pada Afnan yang sudah mengakar, masih ada kata maaf untuk cowok itu, memang Lova sudah tak memiliki harga mungkin khusus untuk Afnan.
Dan mungkin saja akan kembali memunculkan tangkai barunya, sebab Afnan adalah cinta pertama Lova yang akan sulit ia lupakan hanya dalam waktu sehari.
"Va, ayok..." ajak Alika menyadarkan lamunannya dimana Afnan sudah tak disana.
Suara riuh di lapangan adalah buntut dari dikumpulkannya siswa-siswi selepas pelajaran berakhir itu, dan selain pengumuman mengenai agenda sekolah, pak Sapta selaku kepala sekolah juga menginfokan prestasi yang telah dicapai baru-baru ini.
Diraihnya piala umum oleh sekolah dalam ajang lomba MQ tingkat SMA se-kota. Dan dari sekian banyak anak didik yang dikirim, adalah nama Afnan Syauqi salah satu penyumbang piala sebagai hafiz favorit para juri.
Nama pemuda manis itu disebut, tepat di depan barisan siswa-siswi SMA Negri XX yang dikumpulkan di lapangan, sorak sorai dan tepukan bangga mengiringi majunya Afnan ke atas podium.
Bahkan bapak kepala sekolah memberikannya ruang dan kesempatan untuk memimpin do'a, ucapan syukur dan sepatah dua patah katanya.
Pandangan kagum masih terpancar dari Lova untuk Afnan, bahkan Alika langsung melirik Lova yang dapat ia tebak, saat ini temannya itu tengah ngiler liatin Afnan.
"Sutth, Va...jangan jerit-jerit berlebihan." Bisiknya seolah tau apa yang akan dilakukan Lova.
Lova segera menyadarkan dirinya, ia menggeleng dan tersenyum kecut kali ini, praktis saja Alika cukup dibuat aneh...padahal biasanya temannya ini akan berseru heboh persis fans fanatik idola. Bahkan mungkin teriakannya melebihi suporter bola.
"Engga lah."
"Lah, aneh? Sadar sekarang, Va?" antusias Alika mencondongkan kepalanya hingga dagunya dapat ia taruh di pundak Lova.
"Engga Al, udah deh jangan aneh-aneh..." justru jawabannya membuat Alika syok lahir batin, dunia akhirat, tumben. Kerasukan apa nih si Lova?
Dan hal mengejutkan lainnya adalah, ketika bukan hanya nama Afnan saja yang disebut oleh kepala sekolah, ada siswi manis lainnya bernama Syara yang ikut dilafalkan dan naik ke atas podium. Ia tepat berdiri di samping Afnan, bahkan gadis berjilbab yang begitu feminim dan anggun itu sempat tersandung dan hampir jatuh, Afnan refleks menangkap kedua bahunya.
Kejadian itu praktis memancing riuh tinggi yang menyoraki keduanya.
Woahhhh
Cie...cieeee
Boom!
Lova seketika membatu di tempatnya, netranya dapat melihat dengan jelas bagaimana interaksi Afnan yang tersenyum pada Syara begitupun sebaliknya, lesung pipi Syara menunjukan jika ia begitu bahagia. Afnan....bahkan tak pernah melakukan hal yang sama padanya, jangankan menolongnya, untuk tersenyum saja seolah itu terlalu mahal untuk Lova. Namun Syara-----
"Va?" Alika menatap getir, kedua tangannya terulur mengusap-usap punggung Lova. Dimana hati Dealova kini sudah bergemuruh, berkecamuk.
*Pacaran bukan gayaku, Va*.
*Islam tidak mengenal berpacaran*.
*Saat ini aku hanya ingin memikirkan sekolah*.
*Berdekatan dengan lawan jenis mendekati kemaksiatan, zina mata, zina lainnya*.
*Dosa...dosa....dosa*.....
Tangannya mengepal, hatinya sudah mengutuk diri sendiri. Lova membuang muka ke samping. Tak ada lagi yang bisa ia katakan saat ini, bahkan belum tuntas pengumuman di atas sana, Afnan dan Syara belum selesai menerima penghargaannya dari pihak sekolah. Lova terlihat menembus barisan untuk kembali ke kelas, "munafik!" tatapnya penuh kebencian dengan mata yang telah berkaca-kaca ke arah podium.
Ia buang jauh-jauh *purnama dan mentarinya* saat ini juga.
"Va!"
Lova tak peduli namanya diteriaki oleh kawan-kawan untuk kembali. Pokoknya ia tak suka. Ia tetap berlari.
"Si Lova udah kebelet balik kaleee..."
"Balik juga, yukkk..."
Afnan jelas melihatnya, seseorang yang berlari dan menatapnya penuh permusuhan sekarang, ia cukup dibuat terkejut saat sorot mata lembut nan mempesona itu dikabuti amarah hingga membuatnya berdehem.
Lova benar-benar berlari sekarang, tak terasa air matanya menetes, sakit sesakit-sakitnya.
"Munafik!"
"Bilang ngga mau pacaran, ngga kenal yang namanya pacaran, tapi genit juga liat cewek!"
"Bilang aja ngga suka gue, gitu aja gampang! Ngga perlu sadis pake bawa-bawa islam segala! Dia pikir gue murtad gitu!" Lova menyeka wajahnya yang sudah penuh air mata. Ditolak Afnan berkali-kali dengan dinginnya ia terima, tapi saat Afnan mengatakan yang menurut Lova sebuah kemunafikan, ia membencinya. Lova menggendong tasnya dan berlari menuju gerbang sekolah.
Lantas ia menyetop angkutan kota, entah akan membawanya kemana. Yang jelas ia hanya mau pergi dulu saja dari sini.
Dalam kekalutan dan kekecewaannya, Lova memilih menghentikan angkutan itu untuk menepi saat melintasi gerai es krim ternama di pinggir jalan.
Sepertinya es krim akan sedikit membantu. Sepertinya saat ini, makanan favoritnya itu yang bisa menemaninya meratapi kepedihan.
Didorongnya pintu kaca gerai setelah ia membayar ongkos angkutan, beberapa pengunjung lain nampak menikmati dan memilih.
Ada ibu-ibu bersama anaknya, ada pula pelajar sepertinya, tukang ojek online, dan beberapa lainnya.
Lova ikut mengantre, tanpa harus memilih-milih papan menu seperti yang lain. Lova akan memilih menu favoritnya di gerai ini, seperti biasa.
"Selamat siang, mau pesan yang ma----"
"Strawberry sundae." Potongnya malas menatap lurus.
"O..ohh, siap kak. Harganya---"
Tanpa basa-basi, Lova bahkan langsung menaruh selembar uang biru miliknya dari saku di atas meja.
Setelah mendapatkan pesanannya, Lova memilih menghabiskan itu di tempat saja seraya merasakan AC disini demi mendinginkan kepalanya.
Namun diantara tangisnya yang meratapi perasaan dan sisa harga diri, ponselnya justru bergetar menggelepar tak tertolong di dalam saku.
Lova menyeka air mata di wajah yang telah banjir kembali, tak peduli rasa malu dan tatapan pengunjung lain, lalu merogoh ponsel dari saku, ia melirik dengan pandangan yang buram karena air mata.
...Ustadz Afif memanggil......
Keadaan tak bisa lebih buruk lagi saat ini, disaat semesta tak mendukung hatinya, pangeran kegelapan malah ikut-ikutan datang. Iya pangeran kegelapan berkedok ustadz versi Lova!
"Ihhh, ni orang ngga tau aku lagi sedih, terpuruk, down gitu! Ngga bisa ya ngajinya libur dulu barang setaun!" umpatnya misuh-misuh, kalo bisa akan ia borong stok cabe...biar omongannya makin pedes!
Namun tak urung Lova mengangkat panggilan guru mengajinya itu.
"Assalam----"
"Assalamu'alaikum. Kamu dimana, saya orang sibuk, orangtua kamu minta saya ngajarin kamu buat ngaji. Jangan mempersulit saya! Saya sudah nunggu di rumah lama, 5 menit! Hanya 5 menit, kalau tidak segera pulang, maka silahkan pilih guru mengaji lain, wassalam!"
Afif mematikan panggilannya, dan Lova segera menghapus air matanya dan membereskan sisa-sisa es krim yang bahkan masih banyak namun ia tinggalkan begitu saja.
"Celaka." ujar Lova begitu tergesa, sepertinya dedemit kalah menakutkannya ketimbang ustadz satu itu di mata Lova.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny