Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan Rahasia di Kamar Sempit
Vittorio Genovese tahu bahwa kemauan sekeras baja tidak akan berarti apa-apa jika pedang yang memegangnya rapuh dan berkarat. Tubuh Arjuna adalah pedang itu—tipis, kurang nutrisi, dan mudah patah. Meskipun insting mafianya mampu melumpuhkan preman kampus, Vittorio sadar bahwa lawan yang sebenarnya, mereka yang memiliki inisial "H.S." atau para pembunuh bayaran dari Roma, tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan teknik bela diri dasar dan gertakan.
Malam itu, setelah Karin kembali ke kamarnya, Vittorio mengunci pintu. Ia menarik meja belajar kayu yang beratnya tidak seberapa itu untuk mengganjal pintu. Di tempat sekecil ini, privasi adalah kemewahan, dan suara sekecil apa pun bisa menjadi konsumsi ghibah Mbak Yanti di pagi hari.
"Tiga bulan," bisik Vittorio pada kegelapan. "Aku harus mengubah raga ini menjadi senjata mematikan dalam tiga bulan."
Ia memulai dengan pemanasan statis. Ruang geraknya hanya sekitar satu setengah meter persegi di samping kasur. Jika ia merentangkan tangan, ujung jarinya akan menyentuh lemari pakaian, dan tumitnya akan menyenggol tumpukan buku hukum. Namun, bagi seorang pria yang pernah mendekam di penjara isolasi bawah tanah di Sisilia selama enam bulan, ruang sempit bukanlah hambatan—itu adalah guru terbaik untuk efisiensi gerakan.
Vittorio mulai melakukan push-up dengan ujung jari. Pada hitungan kesepuluh, tubuh Arjuna mulai bergetar hebat. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Paru-parunya yang tidak terbiasa dengan aktivitas berat seolah menciut.
"Jangan menyerah, kau sampah!" geram Vittorio pada dirinya sendiri. "Jika kau tidak bisa menahan beban tubuhmu sendiri, bagaimana kau akan menahan beban mahkota kekuasaan?"
Ia terus memaksa. Setiap kali tangannya gemetar, ia membayangkan wajah Rico yang tertawa, wajah pria misterius bernama H.S., dan luka-luka sundutan rokok di punggungnya. Kemarahan adalah bahan bakar terbaik untuk transformasi fisik. Setelah mencapai hitungan kelima puluh, ia terjatuh dengan napas tersenggal, namun ia tidak berhenti. Ia langsung beralih ke posisi plank, mengunci otot perutnya yang masih lembek.
Sambil menahan posisi itu, Vittorio melatih matanya. Ia menatap satu titik di dinding yang berjamur, melatih fokus agar tidak berkedip selama mungkin. Dalam dunia mafia, mata adalah alat deteksi kebohongan dan ancaman tercepat. Ia harus bisa membaca pergerakan debu di udara, perubahan bayangan di bawah pintu, dan getaran pada lantai.
Sret... sret...
Tiba-tiba, Vittorio mendengar suara gesekan halus dari luar jendela. Jendela kamar kostnya tidak memiliki teralis, hanya sebuah kaca nako yang salah satu bilahnya sudah hilang. Dengan gerakan yang sangat halus, Vittorio melepaskan posisi plank-nya dan merangkak di lantai seperti seekor macan tutul yang sedang mengintai.
Ia meraih sebuah pulpen besi dari meja—senjata darurat yang selalu ia siapkan. Matanya menatap tajam ke arah jendela. Sebuah bayangan hitam melintas.
Vittorio melompat dengan ledakan tenaga yang mengejutkan, tangannya menyambar bagian belakang leher bayangan itu melalui celah kaca nako.
"A-AMPUN! JUNA! INI GUE! GUE!"
Suara melengking itu membuat Vittorio segera melepaskan cengkeramannya. Itu Karin. Gadis itu sedang berdiri di atas ember terbalik di koridor luar, mencoba mengintip lewat celah jendela.
"Karin?" Vittorio membuka jendela dengan gusar. "Apa yang kau lakukan? Aku hampir saja menusuk tenggorokanmu!"
Karin turun dari ember dengan wajah pucat, tangannya memegangi lehernya yang memerah. "Gila lu ya! Tangan lu kayak tang besi! Gue cuma... gue cuma penasaran. Gue denger suara ngos-ngosan berat dari kamar lu. Gue kira lu lagi nonton yang aneh-aneh atau lagi sesak napas!"
Vittorio menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Aku sedang latihan. Jangan pernah mengintipku lagi jika kau masih ingin melihat matahari besok."
Karin, yang rasa takutnya cepat sekali berganti dengan rasa penasaran, justru malah menjinjitkan kaki untuk melihat ke dalam kamar. "Latihan apa? Kok nggak ada suara musiknya? Biasanya orang kalau work out kan dengerin lagu jedag-jedug."
"Latihanku tidak butuh musik, Karin. Sekarang pergilah tidur," ucap Vittorio sambil hendak menutup jendela.
"Bentar, bentar!" Karin menahan kaca nako itu. Ia menyodorkan sebuah kantong plastik hitam. "Nih. Gue tadi lewat tukang sate. Gue beliin lu sate ayam, tapi gue minta dagingnya doang, nggak pake kulit, nggak pake lemak. Buat protein lu, kan kata lu butuh itu?"
Vittorio terdiam. Ia melihat kantong plastik itu, lalu menatap wajah Karin yang terlihat lelah namun tetap berusaha tersenyum. Gadis ini baru saja pulang dari kerja sambilan sebagai pelayan kafe, dan hal pertama yang ia pikirkan adalah kebutuhan protein "alien"-nya.
Vittorio menerima plastik itu. "Terima kasih. Sekarang, benar-benar tidurlah. Kau terlihat seperti zombi daster."
"Dih, zombi cantik begini! Dadah, Juna si Otot Kawat!" Karin melenggang pergi menuju kamarnya sambil bersenandung kecil.
Vittorio kembali ke dalam. Ia memakan sate ayam itu dengan lahap. Rasa daging bakar yang gurih memberikan energi instan yang ia butuhkan. Sambil makan, ia mulai menyusun rencana pelatihan tahap dua: Pemetaan Psikologis.
Ia mengambil buku hukum Arjuna dan mulai menulis di margin halaman yang kosong. Ia membagi targetnya menjadi tiga lingkaran.
Lingkaran Luar (Pion): Rico, Satya (Ketua BEM), dan Pak Broto. Mereka adalah gangguan yang harus dibersihkan agar ia bisa bergerak bebas di kampus.
Lingkaran Tengah (Penghubung): Wanita berambut pendek di kantin dan organisasi dari Italia. Mereka adalah ancaman yang harus ia pelajari motifnya.
3.Lingkaran Dalam (Inti): H.S. Sosok yang memegang kunci masa lalu Arjuna dan alasan di balik keberadaan pelacak di tubuhnya.
Vittorio menyadari satu hal penting: Arjuna adalah seorang mahasiswa hukum. Itu adalah samaran yang sempurna. Di Italia, ia menguasai duni bawah dengan kekerasan, namun ia tahu bahwa di negara ini, hukum adalah senjata yang jauh lebih tajam jika kau tahu cara memainkannya.
"Aku akan menghancurkan H.S. bukan hanya dengan tinjuku, tapi dengan sistem yang dia agungkan," gumam Vittorio.
Setelah makan, ia melanjutkan latihannya. Kali ini bukan fisik, melainkan Teknik Kontrol Saraf. Ia duduk bersila di tengah ruangan, mematikan lampu, dan membiarkan dirinya berada dalam kegelapan total. Ia melatih napasnya agar sangat lambat, menurunkan detak jantungnya hingga level minimal—sebuah teknik yang ia pelajari dari seorang biksu di pegunungan Alpen yang pernah ia selamatkan dari kejaran pembunuh bayaran.
Dalam keadaan meditasi ini, memori Arjuna mengalir lebih jernih. Ia melihat sebuah memori baru: Arjuna kecil sedang bersembunyi di dalam lemari, melihat ibunya menangis sambil memegang sebuah kalung emas berbentuk medali kecil.
"Ingat Arjuna... jika terjadi sesuatu, cari orang yang memiliki tanda yang sama dengan medali ini. Hanya dia yang bisa menolongmu dari ayahmu."
Vittorio membuka matanya. Medali? Di mana medali itu sekarang? Ia segera menggeledah tas ransel Arjuna yang robek, laci meja yang macet, hingga ke bawah kasur yang berdebu.
Di dalam sebuah lubang kecil di pinggiran kasur yang sengaja disilet, Vittorio menemukan sesuatu. Sebuah medali emas kecil yang sudah kusam. Di atasnya terukir sebuah lambang: Seekor Serigala yang Terlilit Rantai.
Jantung Vittorio berdegup kencang. Lambang itu... ia mengenalnya. Itu bukan lambang dari Indonesia. Itu adalah lambang keluarga Lupi di Mare—salah satu faksi tertua dalam sindikat mafia Italia yang bermarkas di pelabuhan Genoa.
"Bagaimana mungkin ibu Arjuna memiliki hubungan dengan Lupi di Mare?" Vittorio bertanya-tanya. "Lupi di Mare adalah musuh bebuyutan keluarga Genovese di Italia. Jadi... tubuh yang aku tempati sekarang sebenarnya adalah darah dari musuhku?"
Vittorio tertawa dingin, sebuah tawa yang menggema di kamar sempit itu. Ironi ini sungguh luar biasa. Sang Raja Genovese kini terjebak dalam tubuh seorang pemuda yang memiliki darah musuhnya, di sebuah negara yang ribuan mil jauhnya dari rumah.
"Takdir benar-benar punya selera humor yang bajingan," ucap Vittorio sambil menggenggam medali itu erat-hidup.
Pelatihan malam itu berubah dari sekadar penguatan fisik menjadi persiapan untuk konspirasi global. Vittorio kini tahu bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan pengusaha konstruksi lokal, tapi ia mungkin terlibat dalam perang dingin antar keluarga mafia yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.
Ia berdiri dan mendekati cermin. Ia menatap wajah Arjuna—wajah yang kini tampak lebih tegas, lebih dewasa, dan lebih berbahaya.
"H.S. adalah orang yang berafiliasi dengan Lupi di Mare. Itu sebabnya mereka bisa melacak keberadaanku," Vittorio menyimpulkan. "Dan jika mereka tahu siapa aku yang sebenarnya, mereka tidak akan hanya mengirim preman. Mereka akan mengirim tentara."
Ia kembali ke posisi push-up. Kali ini, ia melakukannya dengan satu tangan.
"Ayo, raga lemah," desisnya. "Kita punya keluarga mafia untuk dihancurkan dan seorang gadis semprul untuk dilindungi. Jangan berani-berani kau menyerah sekarang."
Di luar, hujan mulai turun, membasahi atap seng kost-an dan meredam suara latihan Vittorio. Di dalam kamar sempit itu, sebuah monster sedang ditempa. Bukan lagi seorang mahasiswa hukum yang cupu, melainkan seorang hibrida mematikan: otak jenius mafia Italia dengan tubuh yang dipenuhi dendam kesumat dari darah yang terbuang.
Pagi akan segera tiba, dan Universitas Global tidak akan tahu apa yang menghantam mereka saat "Arjuna" melangkah masuk ke gerbang kampus esok hari. Bukan dengan kacamata retak, tapi dengan rahasia emas di saku celananya dan kekuatan serigala yang mulai bangun di dalam dadanya.
"Juna! Jangan lupa matiin lampu kalau udah selesai berantem sama hantunya!" teriak Karin dari sebelah, yang tampaknya masih belum tidur.
Vittorio hanya bisa tersenyum tipis. "Satu hari nanti, Karin... kau akan tahu bahwa hantu yang aku lawan jauh lebih nyata dari alienmu."
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍