“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tetes air mata
Dua keping perunggu. Itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu mantou utuh di kedai. Tapi bagi Lu Ming, itu adalah seluruh dunia. Ia mengangguk cepat, menerima kepingan logam dingin yang kusam itu dengan tangan gemetar.
Ia segera berlari menuju kedai pinggir jalan yang menjual bubur tawar panas. Dengan dua keping perunggu itu, ia mendapatkan satu mangkuk kecil bubur encer yang mengepulkan uap.
Lu Ming duduk di pojokan gelap yang luput dari pandangan orang-orang. Ia memegang mangkuk tanah liat itu dengan kedua tangan yang penuh luka goresan duri. Saat sesendok bubur panas masuk ke mulutnya, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya yang kaku.
Tetes... tetes...
Air mata jatuh tepat ke dalam mangkuk buburnya. Isak tangis yang selama ini ia pendam meledak di tengah sunyinya malam.
"Ibu... buburnya hangat..." gumamnya di sela-sela isak tangis yang menyesakkan dada.
Ia menangis bukan hanya karena rasa lapar yang akhirnya terobati, tapi karena ia merasa sangat kesepian di dunia yang begitu luas.
Ia meratapi betapa kerasnya ia harus bertaruh nyawa di hutan hanya untuk satu mangkuk bubur encer, sementara anak-anak lain mungkin sedang dipeluk orang tua mereka di depan perapian yang hangat saat ini.
Setiap suapan terasa asin karena bercampur dengan air matanya yang terus mengalir.
Ia makan perlahan, sangat perlahan, seolah jika ia menghabiskannya terlalu cepat, kehangatan itu akan hilang dan ia akan kembali menjadi bocah sampah yang tak diinginkan siapa pun.
Luka di kakinya masih mengeluarkan darah yang mengering di tanah, punggungnya perih luar biasa karena goresan duri hutan, namun perutnya yang hangat memberinya kekuatan kecil untuk kembali membohongi diri sendiri.
"Besok... aku akan ke hutan lagi," bisiknya sambil mengusap bibir dengan punggung tangan. "Aku akan menabung koin... agar saat Ibu datang nanti, aku bisa membelikan Ibu makanan yang paling enak."
Malam itu, di bawah rembulan yang pucat dan acuh tak acuh, Lu Ming kembali tidur bersandarkan tembok dingin.
Perutnya tidak lagi sakit, namun hatinya masih tersayat, merindukan dekapan yang kian hari kian terasa seperti mimpi yang mustahil untuk digapai kembali.
Tiga ratus enam puluh lima hari telah berlalu sejak debu langkah ibunya menghilang di balik gerbang Kota Azure.
Lu Ming bukan lagi bocah kecil yang menangis tersedu-sedu saat tangannya digigit anjing.
Tubuhnya kini lebih tinggi, meski tulang rusuknya terlihat jelas menonjol di balik jubah dekil yang sudah kekecilan.
Wajahnya yang dulu bulat kini tirus dan tajam, dengan sorot mata yang menyimpan ketabahan yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak berusia enam tahun.
Setahun hidup di jalanan telah mengajarinya arti dari setiap butir nasi.
Baginya, makanan bukan lagi sekadar penghilang lapar, melainkan sebuah kemewahan suci.
Setiap kali ia mendapatkan sepotong roti keras atau sisa sup encer, ia akan mengunyahnya hingga halus, menutup mata, dan bersyukur seolah itu adalah santapan terakhirnya di dunia ini.
Di bawah bantal batunya yang tersembunyi di sudut tembok gerbang, terdapat sebuah kantong kain kecil yang hitam karena kotoran.
Di dalamnya, ada tumpukan keping perunggu yang ia kumpulkan dengan darah dan keringat selama setahun.
Ia tidak pernah menggunakannya untuk membeli baju hangat atau sepatu baru, meski musim dingin nyaris merenggut nyawanya berkali-kali.
"Ini untuk Ibu," bisiknya setiap malam, sambil mengelus kepingan logam yang dingin itu. "Nanti kalau Ibu datang, aku akan membelikan Ibu jubah sutra yang paling indah agar Ibu tidak kedinginan lagi."
Keyakinannya tidak goyah. Meski orang-orang pasar sering mencemoohnya sebagai 'Si Gila Kecil Penunggu Gerbang', Lu Ming justru semakin yakin. Baginya, setiap matahari terbit adalah satu langkah lebih dekat menuju kepulangan ibunya.
Kehidupan keras Lu Ming sedikit berubah saat ia bertemu dengan Paman Han.
Paman Han adalah seorang kultivator tua yang gagal.
Ia hanya berada di tingkat pertama Pengerasan Dasar, level paling rendah yang sering dianggap sampah oleh para ahli pedang sekte besar.
Ia bekerja sebagai penjaga gudang gandum yang sering mabuk-mabukan dan memiliki mulut yang sangat tajam.
"Oi, bocah dekil! Berhenti menatap gudang ini atau aku akan menendang pantatmu sampai ke sekte seberang!" teriak Paman Han suatu sore, sambil mengayunkan botol arak murahnya.