NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Sisa Kehangatan yang Menakutkan

Detak jantung Matteo terasa nyata di punggung tangan Chae-young yang masih bersandar di dada pria itu. Pelukan itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara tumpukan koper di ruang tamu. Chae-young, yang tadinya hancur, perlahan menarik napas dalam. Aroma sandalwood dari tubuh Matteo seolah menarik paksa sebuah fragmen memori yang sangat tipis di kepalanya—memori tentang sebuah pelukan yang sama hangatnya di tengah kegelapan kamar hotel lima tahun lalu.

Cepat-cepat Chae-young mendorong bahu Matteo. Ia melangkah mundur dengan wajah yang seketika merona merah, antara malu dan marah pada dirinya sendiri karena sempat merasa nyaman di dekapan pria asing ini.

"Cukup," bisik Chae-young. Ia merapikan rambut bronte waves-nya yang berantakan dengan gerakan gugup. "Tindakan Anda tadi, itu tidak seharusnya terjadi, Tuan Matteo."

Matteo berdiri mematung, tangannya masih terasa hangat bekas mendekap tubuh mungil Chae-young. Ia menatap Chae-young yang kini menghindari tatapannya. "Chae-young-ah, aku hanya ingin kau tenang."

"Tenang?" Chae-young tertawa getir, matanya menatap tajam ke arah Matteo. "Bagaimana saya bisa tenang ketika seorang pria yang baru saya temui beberapa hari lalu tiba-tiba datang dan mengklaim sebagai ayah dari anak-anak saya? Anda bilang Anda ingat malam itu, tapi saya tidak!"

Langkah Chae-young mendekat ke arah meja makan, ia mencengkeram pinggiran kursi. "Ingatan saya tentang malam itu hanya rasa sakit dan kegelapan. Saya bahkan tidak yakin apakah pria itu benar-benar Anda. Bagaimana kalau Anda hanya pria lain yang kebetulan melihat kemiripan mata ini dan mencoba memanfaatkan kelemahan saya?"

Matteo mengernyit, rahangnya mengeras. "Kau pikir aku serendah itu? Mencari keuntungan dari seorang ibu tunggal?"

"Saya tidak tahu siapa Anda, Tuan Matteo!" suara Chae-young meninggi. "Bagi saya, Anda hanyalah pemilik perusahaan besar yang sombong. Saya tidak tahu asal-usul Anda, keluarga Anda, atau apa motif Anda sebenarnya. Bagaimana jika setelah ini Anda bosan dan meninggalkan kami lagi? Atau lebih buruk, bagaimana jika Anda membawa anak-anak saya ke tempat yang tidak bisa saya jangkau?"

Matteo terdiam. Ia ingin sekali mengatakan bahwa keluarganya—ibunya, kakaknya, bahkan saudara kembarnya—saat ini sedang menunggunya di sebuah rumah mewah tak jauh dari sini. Namun, melihat ketakutan di mata Chae-young, ia sadar bahwa menceritakan tentang klan Smith sekarang hanya akan membuat wanita itu langsung mengunci pintu dan menghilang selamanya.

"Aku tidak akan pergi," ucap Matteo mantap. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu atau anak-anak pergi dariku. Termasuk dirimu sendiri."

Chae-young memalingkan wajah. "Silahkan keluar, Tuan Matteo. Ini sudah sangat larut. Saya perlu istirahat, dan anak-anak juga harus tidur."

Matteo melihat ke arah ambang pintu kamar, di mana Chan-yeol dan Chae-rin masih memperhatikan mereka. Chae-rin tampak mengantuk sambil memeluk kelincinya, sementara Chan-yeol tetap terjaga dengan tatapan cerdasnya.

"Baiklah," Matteo mengalah. Ia tidak ingin memaksakan kehadirannya lebih jauh malam ini. "Aku akan pergi. Tapi koper-koper itu, tolong bongkar kembali. Jangan pergi ke mana pun. Aku sudah menempatkan beberapa orang di sekitar apartemen ini. Bukan untuk mengurungmu, tapi untuk memastikan tidak ada orang jahat yang mendekat."

"Anda mengawasi saya?" tanya Chae-young tak percaya.

"Aku menjagamu," koreksi Matteo dingin. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berbalik. "Dan satu hal lagi, Chae-young-ah. Cobalah untuk mengingat. Aku yakin jauh di dalam sana, kau tahu bahwa akulah pria malam itu. Aroma vanillamu tidak pernah berubah."

Blam.

Pintu tertutup. Chae-young menyandarkan punggungnya di pintu, kakinya terasa lemas. Aroma vanilla? Bagaimana pria itu bisa tahu?

"Mommy..." panggil Chan-yeol pelan.

Chae-young menghampiri putranya dan berlutut. "Ya, Sayang?"

"Apa Daddy orang jahat?" tanya Chae-rin.

Chae-young terdiam lama. Ia mengusap pipi putri dan putranya yang sangat mirip dengan Matteo. "Masuklah kedalam kamar, waktunya tidur. Soal tadi, itu urusan orang dewasa. Ayo, masuk ke kamar kalian."

Sementara itu, Matteo kembali ke rumah mewahnya dengan pikiran yang masih tertinggal di apartemen Mapo. Ia masuk ke rumah lewat pintu samping, berusaha menghindari keluarganya. Namun, di ruang tengah, Mark ternyata masih terjaga. Ia duduk dengan segelas wiski di tangannya, menatap Matteo yang tampak berantakan.

"Urusan mendesak, huh?" tanya Mark dengan nada sarkastik. "Kau terlihat seperti baru saja habis berkelahi dengan perasaanmu sendiri, Matteo."

Matteo berhenti, menatap saudara kembarnya itu. "Itu bukan urusanmu, Mark."

"Akan jadi urusanku kalau Ibu mulai curiga," sahut Mark dingin. "Tadi dia terus bertanya soal anak yang mirip dengan Kendrick. Kau tahu kan Ibu kalau sudah penasaran bisa lebih berbahaya daripada audit pajak?"

Matteo tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah menuju kamarnya. Di dalam kegelapan kamar, ia berbaring sambil menatap langit-langit. Pikirannya melayang pada Chae-young. Wanita itu belum ingat, dan itu adalah masalah besar. Selama Chae-young belum ingat, dia akan selalu menganggap Matteo sebagai ancaman.

"Aku harus membuatmu ingat, Chae-young-ah," gumam Matteo. "Bukan dengan paksaan, tapi dengan cara yang membuatmu menyadari bahwa sejak malam itu, kau memang sudah menjadi milikku."

Di apartemen, Chae-young mencoba memejamkan mata, namun bayangan pelukan Matteo terus menghantuinya. Ia meraih bantalnya, mencoba mencari ketenangan, namun pikirannya terus bertanya-tanya: Siapa sebenarnya Matteo Adrian Reins Smith? Dan kenapa hatinya terasa sangat kacau hanya karena sebuah pelukan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!