NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Ada Satu Kebaikan Pun Yang tersisa

Kantong belanjaan berisi buah-buahan segar dan beberapa set pakaian tidur berbahan katun lembut terasa berat di tangan Nara, namun langkah kakinya terasa ringan saat ia memasuki lobi apartemen. Pikirannya dipenuhi oleh senyum Bu Rahayu yang ia bayangkan akan menyambutnya. Ia ingin memberi tahu ibunya bahwa pengobatan tahap selanjutnya sudah dibayar lunas, meski ia harus menelan kenyataan pahit bahwa "pembayaran" itu bukan sekadar angka, melainkan harga diri yang kian terkikis.

"Ibu? Nara pulang," panggilnya lembut saat pintu unit apartemen terbuka dengan suara pip yang pelan.

Hening.

Nara meletakkan belanjaannya di atas meja konter dapur yang dingin. Ia mengerutkan kening. Biasanya, suara televisi yang menyiarkan ceramah atau gumam rendah Suster Rahmi yang sedang membacakan buku untuk ibunya akan terdengar hingga ke lorong depan. Namun, unit apartemen itu terasa mati. Udara steril dari pendingin ruangan yang biasanya terasa nyaman, kini mendadak terasa menusuk kulitnya.

"Ibu? Suster Rahmi?" Nara berjalan menuju kamar utama.

Kamar itu kosong. Tempat tidurnya tertata rapi, terlalu rapi hingga menciptakan kesan bahwa tidak ada orang yang menempatinya selama beberapa jam terakhir. Nara beralih ke kamar mandi, lalu ke balkon. Nihil.

"Mungkin Suster Rahmi mengajak Ibu bersantai di taman bawah," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengusir kecemasan yang mulai merayap di tengkuknya.

Ia melirik jam di dinding. Pukul lima sore. Matahari sudah mulai turun. Harusnya mereka sudah kembali. Nara duduk di sofa ruang tengah, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba tidak beraturan. Matanya menyisir ruangan, dan saat itulah ia menyadarinya.

Di sudut ruangan, dekat vas bunga kristal yang mahal, kelopak bunga lili putih berserakan di atas lantai marmer. Sebagian tampak hancur seperti terinjak. Vasnya masih tegak, tapi susunan bunganya berantakan, seolah ada seseorang yang telah merenggutnya dengan kasar.

Nara berdiri, mendekati serpihan kelopak itu. Perasaannya mendadak tak enak. Lili itu adalah bunga kesukaan ibunya karena melambangkan kesucian. Melihatnya hancur berserakan di lantai terasa seperti sebuah pertanda buruk yang nyata.

"Enggak, Nara. Jangan berpikir macam-macam," bisiknya pada diri sendiri.

Satu jam berlalu. Kemudian dua jam. Gelap mulai merayap masuk melalui jendela-jendela besar apartemen yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Apartemen kecil tapi mewah ini, yang ia perjuangkan dengan keringat dan air mata di bawah kuasa Bagas, tiba-tiba terasa seperti penjara yang luas dan dingin.

Nara mengambil ponselnya. Jempolnya gemetar saat mengusap nama 'Bagas' di layar. Ia ingin meneleponnya, ingin mendengar suara pria itu yang tenang, ingin mengadu bahwa ibunya hilang. Namun, ia teringat pesan Bagas tadi siang, "Aku ada pertemuan krusial dengan jajaran direksi Prawijaya Group malam ini. Jangan hubungi aku kecuali darurat medis, Sayang."

Nara menurunkan ponselnya. Ia tidak ingin mengganggu Bagas. Bagas adalah pelindungnya, pria yang 28 tahun usianya namun memiliki beban dunia di pundaknya. Ia tidak ingin menjadi beban tambahan.

Akhirnya, dengan tangan yang kian dingin, ia mencari nomor Suster Rahmi.

Panggilan pertama, tidak diangkat. Hanya nada sambung yang panjang dan menyiksa.

Panggilan kedua, tetap sama.

Panggilan ketiga, dialihkan ke kotak suara.

Nara mulai panik. Ia berlari ke lemari pakaian ibunya. Kosong. Beberapa potong pakaian yang paling sering dipakai ibunya hilang. Kursi roda cadangan di sudut ruangan juga tidak ada.

Ia mencoba panggilan keempat. Kali ini, pada dering kelima, suara klik terdengar.

"Halo? Suster Rahmi? Suster di mana? Ibu di mana? Kenapa apartemen kosong?" cecar Nara tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk bernapas. Suaranya naik satu oktav, nyaris histeris.

Ada jeda panjang di seberang sana. Suara desis angin dan keramaian tipis yang sangat familiar di telinga Nara, suara knalpot motor yang cempreng dan teriakan anak-anak kecil, terdengar samar di latar belakang. Itu bukan suara lingkungan apartemen elit ini.

"Mbak Nara..." suara Suster Rahmi terdengar sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa dipaksakan. "Kami sudah tidak di apartemen."

"Lalu di mana? Rumah sakit? Apa Ibu drop lagi?"

"Kami di rumah, Mbak. Rumah lama Ibu."

Lidah Nara mendadak kelu. "Rumah... lama? Kenapa? Siapa yang membawa Ibu ke sana? Saya tidak memberi izin!"

"Ibu yang meminta, Mbak. Ibu bersikeras. Beliau... beliau sepertinya sudah tahu sesuatu."

Dunia Nara seolah runtuh seketika. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh. "Tahu? Tahu apa maksud Suster?"

"Mbak Nara lebih baik segera ke sini. Tapi saya mohon, siapkan hati Mbak. Ibu sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Beliau minta lampu depan dimatikan. Beliau ingin... kesunyian."

Klik. Sambungan diputus sepihak.

Nara berdiri mematung di tengah kemewahan apartemennya. Semua tas bermerek, sepatu mahal, dan botol-botol skincare premium yang berjejer di meja riasnya tiba-tiba tampak seperti sampah yang tidak berharga. Kebohongan yang ia susun dengan rapi, satu lapis demi satu lapis, ternyata telah terkelupas sebelum ia sempat memperbaikinya.

Tanpa sempat berganti pakaian, masih dengan terusan dress yang elegan namun terasa menyesakkan, Nara menyambar tas. Ia berlari keluar, mengabaikan sapaan ramah resepsionis di lobi, menyetop taksi.

Sepanjang perjalanan menuju daerah pinggiran kota yang padat, pikiran Nara berperang hebat. Siapa yang memberi tahu Ibu? Apakah Romi? Apakah lelaki gila itu berhasil menemukan tempat barunya lalu menemui Ibu saat dia tidak ada?

Pikirannya melayang pada kejadian penggerebekan malam itu. Wajah Romi yang memuakkan, amukan warga yang mendobrak pintu jati kesayangan ibunya hingga hancur, dan bagaimana ia harus memohon-mohon pada Bagas untuk datang menyelamatkannya di telepon. Lalu Bagas yang melunasi hutangnya kepada Romi. Ia pikir rahasia itu akan terkubur di gang sempit itu selamanya. Ia pikir uang Bagas bisa membeli kesunyian tetangga-tetangganya.

Ternyata ia salah. Kebenaran adalah seperti air, ia akan selalu menemukan celah terkecil untuk merembes keluar.

Saat mobil taksi memasuki mulut gang yang sempit, Nara harus memarkir kendaraannya jauh di depan karena jalanan itu hanya cukup untuk satu mobil. Ia turun dan berlari.

Napasnya tersengal, debu jalanan menempel di kulitnya yang biasanya terawat.

Dari kejauhan, ia melihat rumahnya. Rumah kecil itu tampak menyeramkan dalam kegelapan. Benar kata Suster Rahmi, tidak ada lampu yang menyala. Hanya cahaya temaram dari lampu jalan yang menyoroti pintu depan yang baru. Kayu mahoni yang mengkilap itu tampak seperti nisan di matanya, sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang telah mati di sana.

Beberapa tetangga yang masih duduk-duduk di depan warung melihatnya lewat. Nara bisa merasakan tatapan mereka yang menusuk, tawa sinis yang ditutup tangan, dan bisik-bisik yang terbang di udara.

"Itu dia, si penari sudah pulang."

"Lihat pakaiannya, hasil dari kerja keras malam-malam dan menggoda lelaki kaya?"

Nara menulikan telinga. Air mata mulai mengaburkan pandangannya tapi tak akan dia biarkan jatuh di depan orang-orang yang hanya bisa menghakimi tanpa tahu cerita dan alasan sebenarnya.

Ia sampai di depan pintu kayu itu dan berhenti sejenak. Tangannya terangkat, ragu untuk mengetuk. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia merasa kotor.

"Ibu..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Ia memutar kenop pintu. Tidak dikunci. Suster Rahmi sepertinya memang menunggunya. Saat pintu terbuka, bau pengap khas rumah yang lama ditinggalkan menyambutnya. Di sudut ruang tamu, di balik remang cahaya yang masuk dari celah jendela, ia melihat siluet Suster Rahmi yang berdiri menunduk di dekat pintu kamar.

"Di mana Ibu?" tanya Nara dengan suara bergetar.

Suster Rahmi hanya menunjuk ke arah kamar utama dengan dagunya.

"Ibu baru saja memejamkan mata, Mbak. Tapi saya rasa beliau tidak benar-benar tidur. Beliau tidak mau makan, tidak mau minum obat."

Nara melangkah perlahan menuju kamar itu. Setiap langkahnya terasa seperti mendaki gunung yang terjal. Ia mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka.

Di atas ranjang tua yang berderit, Bu Rahayu berbaring memunggungi pintu. Tubuhnya yang kian kurus tampak rapuh di bawah selimut tipis. Tidak ada suara, hanya napas yang berat dan sesekali isakan kecil yang tertahan.

"Ibu... ini Nara," suara Nara pecah. Ia berlutut di samping ranjang, mencoba meraih tangan ibunya yang keriput.

Namun, sebelum jemari Nara sempat menyentuh kulit ibunya, Bu Rahayu menarik tangannya menjauh. Gerakan itu kecil, namun bagi Nara, itu lebih menyakitkan daripada tamparan di wajah.

"Pergilah, Nara," suara Bu Rahayu terdengar sangat jauh, sangat dingin. "Bawa kembali semua kemewahan yang kamu berikan pada Ibu. Ibu tidak butuh jantung yang berdetak karena uang haram. Ibu lebih memilih mati dengan harga diri daripada hidup karena anakku menjadi pemuas mata dan nafsu laki-laki."

Nara terjatuh terduduk di lantai yang dingin.

"Bu... Nara melakukan ini untuk pengobatan Ibu. Nara tidak punya pilihan lain. Ayah sudah pergi meninggalkan kita sejak Nara kecil, kita tidak punya siapa-siapa..."

"Jangan bawa-bawa ayahmu!" suara Bu Rahayu meninggi, ia berbalik dan menatap Nara dengan mata yang memerah karena amarah dan kekecewaan yang mendalam. "Ayahmu memang pergi, tapi dia tidak pernah mengajari anaknya untuk menjual diri! Kamu bilang kamu bekerja di kantoran, Nara. Kamu bilang kamu sukses karena prestasi. Ternyata semua itu palsu. Pintu rumah ini... penggerebekan itu... Romi... siapa lagi, Nara? Berapa banyak pria yang sudah memberimu uang?"

Nara terisak hebat, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai.

"Maafkan Nara, Bu... Maafkan Nara..."

"Maaf tidak bisa memperbaiki pintu yang sudah didobrak warga, Nara. Maaf tidak bisa menghapus ludah tetangga yang mengenai wajahku tadi sore." Bu Rahayu kembali membuang muka. "Mulai malam ini, jangan panggil aku Ibu lagi sampai kamu bisa membersihkan dirimu dari kotoran itu. Tidurlah di ruang tamu atau di mana saja, tapi jangan di dekatku. Aku tidak mengenali wanita yang berdiri di depanku sekarang."

Nara merasa jantungnya seperti diremas. Ia ingin menjelaskan tentang Bagas, tentang bagaimana Bagas mencintainya dan berjanji akan menikahinya. Tapi ia tahu, di mata ibunya, statusnya sebagai "pacar simpanan" lelaki yang sudah punya calon istri atau "penari" tetaplah sama. Di rumah kecil yang jujur ini, semua kemewahan yang dibawa Nara hanyalah noda yang mencemari kesucian masa lalu mereka.

Malam itu, di bawah atap rumah yang dulu penuh tawa, Nara meringkuk di lantai ruang tamu yang keras. Di luar, gang sempit itu tetap sunyi, namun di dalam dadanya, sebuah badai baru saja meluluhlantakkan segalanya, menyisakan puing-puing penyesalan yang tak mungkin lagi disatukan. Ia telah memberikan segalanya untuk menyelamatkan nyawa ibunya, namun dalam prosesnya, ia justru kehilangan alasan mengapa nyawa itu harus diselamatkan.

1
deeRa
Bacanya aku berkaca-kaca ini, Tegar ya Nara 🥺
susilawatiAce
baca novel. ini tegang
deeRa
This story is very sufficient to describe the simplicity of love, Gak sengaja baca Seruni akhirnya baca yang lain juga karya Kak Lemari kertas ini.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊
deeRa
Lagi boleh gak? 👀👉👈
Lemari Kertas: maleman ya 😄
total 1 replies
susilawatiAce
ceritanya menarik
deeRa
Setelah ini sepertinya aku juga jatuh suka sama Nara setelah Seruni😍😍
Lilla Ummaya
Lanjutt
Mira Hastati
bagus
stnk
bagus ceritanya...dari awal udah bikin emosi...
Afternoon Honey
semakin seru jalan ceritanya
Sri Astuti
seru
Putri dewi Mulya Syania
lanjut Thor seru bangett
Afternoon Honey
makin tegang dan seru jalan ceritanya
susilawatiAce
bakalan rumit nih kisah vinya bagas dan nara
Afternoon Honey
tetap menyimak cerita bersambung ini
susilawatiAce
sebentat Nara akan jadi milik mi bagas
Lemari Kertas
udah up ya guys masih nunggu review
susilawatiAce
Hasrat mengalahkan logika
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor..😍
Meiny Gunawan
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!