Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persekutuan di Balik Pintu Belakang
Suasana malam di Desa Sukamulya semakin larut. menyisakan kesunyian yang mencekam. Kabut menebal berarak, selayaknya bayangan-bayangan samar berjajar mengitari desa.
Di salah satu kamar di Balai pelatihan desa, Bagaskara sedang duduk bersandar di kursi kayu tua. Sebuah botol minuman keras murah berada di genggamannya. Tanpa ketahuan dan malam menyembunyikan sepenuhnya kelakuan Bagaskara.
Cairan bening itu sudah separuh habis. Membakar tenggorokannya dan membuat penglihatannya sedikit kabur. Membuat otaknya sedikit berfatamorgana.
Pikirannya sedang melayang pada rencana-rencana besar yang ia susun bersama orang-orang di kota. Sampai sebuah getaran di saku celananya membuyarkan lamunannya. Tanda sebuah pesan mendarat di ponselnya yang ia kantongi di saku celananya.
Sebuah pesan singkat masuk. Layar ponselnya yang terang benderang kontras dengan kegelapan ruangan. Jari-jemari Bagas cekatan mengusap layar ponsel.
“Bapak dan Ibuku sedang keluar kota, aku sendirian. Kemarilah sayang, lewat pintu belakang dan jangan ada yang tahu, cepat. Aku kangen bermesraan lagi sama kamu.”
Bagas melonjak kegirangan. Nama pengirimnya adalah Maya. Seketika wajah kusam dan merah berbau alkohol. Menjadi agak terang penuh gairah nafsu belaka. Bagas merasa akan ada sedikit semangat dengan menemui Maya.
Senyum licik tersungging di bibirnya yang hitam karena asap rokok. Rasa kantuk dan mabuk yang tadinya menyerang. Seketika sirna digantikan oleh gejolak hasrat yang liar.
Tanpa membuang waktu, Bagas menyambar jaketnya. Memastikan tidak ada penjaga Balai pelatihan desa yang melihatnya keluar. Ia melangkah cepat menyusuri bayang-bayang pohon jati.
Menuju sebuah rumah yang terletak agak terpencil di ujung desa. Rumah Maya, sosok yang selama ini berakting sebagai sahabat paling setia bagi Larasati.
Namun di kota dia adalah wanita licik yang setiap hari tertidur di ranjang Bagas. Bahkan setiap malam berada di pelukan lelaki hidung belang berbeda-beda. Hanya demi lembaran-lembaran uang kertas semata.
Pengkhianatan di Kamar yang Remang,
Sesampainya di halaman belakang rumah Maya. Bagas bergerak lincah seperti pencuri yang sudah hafal medan. Ia mendorong pintu kayu kecil yang memang sengaja tidak dikunci dan malam ini memang menunggu kedatangan Bagas.
Bunyi derit pintu yang halus tertutup kembali oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Tangan Bagas meraih selot di tepi pintu, lalu segera menguncinya kembali.
Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur berwarna merah redup, Maya sudah menunggu. Gadis itu tidak lagi tampak seperti sahabat baik yang tadi siang menangis haru melihat Laras siuman. Ia tampak berbeda. Lebih berani, lebih gelap, dan penuh gairah yang menuntut.
Tanpa banyak kata, Bagas menerjang. Sisa alkohol dalam darahnya membuat tindakannya menjadi lebih kasar dan tak terkendali. Di atas ranjang itu, di rumah di mana Laras sering datang untuk berbagi cerita.
Kedua manusia ini melakukan aktivitas layaknya pasangan suami istri yang sah. Mereka hanyut dalam nafsu yang mematikan. Melupakan moralitas dan norma desa yang selama ini mereka jadikan topeng.
Usia mereka memang tergolong masih muda. Namun kerakusan akan dunia dan gaya hidup kota. Telah menghanguskan nurani mereka. Bagi mereka, cinta hannyalah alat dan tubuh hannyalah komoditas semata dan uang adalah hasil dari dosa yang mereka anggap nikmat.
Percakapan Setan Setelah Badai,
Setelah keheningan kembali menguasai ruangan, Bagas dan Maya berbaring berdampingan di bawah selimut yang berantakan. Napas mereka masih teratur. Namun otak mereka sudah kembali bekerja menyusun bidak catur pengkhianatan.
Maya menyandarkan kepalanya di dada Bagas yang masih berkeringat. Jemarinya memainkan ujung selimut dengan malas. Matanya sayu kelelahan dari hitungan tujuh perbuatan nista yang baru saja terjadi.
"Jadi, bagaimana?" tanya Maya, suaranya terdengar dingin dan tajam.
"Bagaimana perkembangan rencana kita tentang menjebak si Kembang Desa itu dan orang tuanya yang kolot?"
Bagas tertawa semringah, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian malam, "Berhasil, Maya, semuanya berjalan sesuai naskah. Pak Tarno sudah menganggapku pahlawan besar. Dia bahkan sudah memberikan restunya untuk aku menikahi Laras secepat mungkin. Mereka benar-benar tertelan mentah-mentah oleh cerita bohongku soal preman sungai itu."
Maya tersenyum puas, sebuah seringai yang memperlihatkan sisi iblisnya, "Bagus. Aku sudah muak melihat wajah suci Laras yang selalu dipuji-puji satu desa. Dengan adanya Laras ikut kamu ke Jakarta nanti. Kita tidak akan lagi susah-susah menghadapi para juragan penagih utang itu."
Maya bangkit sedikit, menatap mata Bagas dengan serius, "Dengar, Bagas. Begitu sampai di kota, kita umpankan Laras untuk melayani para juragan itu. Kita biarkan mereka menikmati Kembang Sukamulya sepuasnya dan sebagai imbalannya. Kita minta mereka membebaskan semua utang-utang kita. Dia akan menjadi jaminan hidup kita di sana."
Bagas mengangguk perlahan. Meski ada sedikit keraguan yang melintas karena teringat kecantikan Laras. Namun, bayangan tumpukan uang dan kebebasan dari kejaran debt collector jauh lebih menggoda.
"Lalu soal uang saku?" tanya Bagas.
"Itu bagian yang paling mudah," jawab Maya sembari terkekeh.
"Sebelum berangkat, kita paksa Laras untuk meminta sejumlah uang yang banyak kepada bapaknya. Katakan itu untuk modal usahamu di Jakarta atau untuk biaya hidup kalian berdua di sana. Pak Tarno pasti akan menjual sawahnya. Demi kebahagiaan putri kesayangannya. Itu urusanmu untuk merayu dia, Bagas, jangan sampai gagal."
Bagas menghela napas panjang, memikirkan teknis kepindahan mereka, "Tapi ada satu masalah, Maya. Kalau benar Laras ikut bersamaku ke Jakarta sebagai istri sah di mata hukum. Kamu jadi tidak bisa tinggal serumah lagi denganku. Aku harus menjaga sandiwara ini di depan umum agar tidak ada yang curiga."
Maya tertawa meremehkan, ia mengusap pipi Bagas dengan lembut namun penuh dominasi, "Tak apa, sayang. Aku tidak butuh status istri sah yang membosankan itu. Biarkan Laras yang memikul beban itu. Kita bisa bertemu di pabrik setiap hari dan kalau kita butuh waktu berdua. Kita tinggal memesan hotel mewah dengan uang hasil menjual Laras. Bukankah itu jauh lebih menyenangkan?"
Bagas pun ikut tertawa, ia menarik Maya kembali ke dalam pelukannya. Di dalam kamar itu, dua jiwa yang sudah membusuk itu merayakan kemenangan mereka. Atas nasib seorang gadis polos yang saat ini mungkin sedang tertidur sembari mendoakan kebahagiaan mereka.
Mereka tidak menyadari bahwa di luar sana. Takdir sedang mempersiapkan kejutan lain. Mereka tidak tahu bahwa Rizki Pratama. Sang pewaris gurita bisnis yang sebenarnya.
Sudah berada di jalur yang sama. Pengkhianatan Maya dan Bagas memang terencana rapi. Namun mereka lupa bahwa setiap kejahatan selalu meninggalkan jejak dan bunga yang mereka injak-injak hari ini.
Mungkin akan tumbuh menjadi duri yang akan menusuk mereka di kemudian hari. Sebab bunga mawar yang indah, sudah pasti memiliki pelindung dari duri-duri tajam di batangnya.