Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Membatu
Sinar matahari sore yang temaram masuk melalui jendela rumah sakit yang sempit, menciptakan garis-garis panjang yang melintang di atas ranjang tempat Nora berbaring. Ruangan itu sunyi, hanya detak jam dinding yang mengisi kehampaan, sampai suara langkah kaki yang berat dan tegas menggema di koridor luar. Nora mengenali langkah itu. Langkah yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar penuh antisipasi, namun kini hanya memberikan rasa mual yang hebat di ulu hatinya.
Pintu terbuka. Adrian Thorne melangkah masuk.
Pria itu masih tampak sesempurna biasanya dalam setelan jas gelap yang mahal, namun raut wajahnya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat: kegelisahan. Matanya langsung tertuju pada sosok Nora yang bersandar pada bantal, wajahnya yang membiru dan bibirnya yang pecah menjadi saksi bisu atas apa yang telah diperbuat oleh tangannya sendiri.
Adrian berjalan mendekat, gerakannya ragu-ragu. Ia mencoba meraih tangan Nora yang tergeletak lemas di atas selimut. "Nora..."
Sebelum jemari Adrian sempat menyentuh kulitnya, Nora menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah-olah kulit Adrian adalah bara api yang menyengat. Ia menjauhkan tubuhnya sedalam mungkin ke arah sisi ranjang yang lain, menatap Adrian dengan sepasang mata cokelat yang kini tidak lagi menyimpan binar cinta—hanya ada kekosongan yang membeku.
"Jangan. Sentuh. Aku," desis Nora. Suaranya serak, tajam, dan penuh racun.
Adrian tertegun. Ia menarik kembali tangannya dan berdiri kaku di samping ranjang. "Aku... aku datang untuk melihat keadaanmu. Theo memberi tahu rumah sakit mana yang menerimamu setelah aku memerintahkan mereka mencarimu di dermaga."
Nora tertawa hambar, sebuah suara parau yang terdengar menyakitkan bagi tenggorokannya yang luka. "Mencariku? Setelah kau membiarkanku membusuk di gudang itu? Setelah kau memerintahkan anjing-anjingmu untuk merobek wajahku?"
"Nora, dengarkan aku," Adrian menghela napas, mencoba mengatur suaranya agar tetap tenang. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membiarkan mereka bertindak sejauh itu. Perintahku hanya untuk memberimu pelajaran, bukan untuk menghancurkanmu seperti ini."
"Pelajaran?" Nora menoleh, menatap Adrian lurus ke dalam matanya. Di balik memar yang membiru, tatapan Nora begitu menusuk hingga Adrian harus menahan diri untuk tidak berpaling. "Pelajaran apa, Adrian? Pelajaran bahwa di matamu, aku hanyalah sampah yang bisa kau injak kapan pun kau mau? Pelajaran bahwa adikku yang manipulatif itu jauh lebih berharga daripada nyawaku?"
"Kau menyakitinya lebih dulu, Nora!" suara Adrian sedikit meninggi, dipicu oleh rasa bersalah yang mencoba ia tutupi dengan pembelaan diri. "Kau menamparnya di depanku. Kau tahu aku tidak bisa mentoleransi kekerasan terhadap Stella. Dia rapuh, dia—"
"Dia iblis!" potong Nora dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Adrian meremang. "Dan kau... kau adalah orang bodoh yang menjadi peliharannya. Kau melihat lukisan ibuku robek di tangannya, tapi kau memilih untuk menutup mata karena kau terlalu sibuk memuja bayangannya."
Adrian mengepalkan tangannya. "Aku akan mengganti lukisan itu. Aku akan membelikanmu koleksi seni yang lebih mahal, aku akan memesan gaun pengantin terbaik, aku akan—"
"Simpan semua sampahmu itu, Adrian," sela Nora dengan ketus. Ia membuang muka, menatap ke arah dinding yang kosong. "Kau pikir semua berlian dan perhiasan itu bisa menghapus rasa sakit di tubuhku? Kau pikir gaun pengantinmu bisa menutup luka di jiwaku?"
"Aku sudah meminta maaf!" bentak Adrian, frustrasinya memuncak. "Apa lagi yang kau inginkan? Aku suamimu dalam beberapa hari lagi. Kita bisa melupakan kejadian di gudang itu sebagai sebuah kekhilafan. Aku melakukan itu karena aku marah, karena aku peduli pada keluargamu!"
Nora tidak merespons. Keacuhannya jauh lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak histeris. Ia membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu, membiarkan Adrian berdiri di sana seperti orang bodoh yang menagih pengampunan yang tidak akan pernah datang.
Rasa benci di dalam dada Nora membuncah, terasa panas dan kental seperti lava yang siap meledak. Setiap kali ia melihat wajah Adrian, ia teringat pada sensasi dingin lantai gudang dan rasa sakit yang tak terlukiskan di bagian bawah perutnya—sakit yang ia simpan sendiri, rahasia berdarah yang tidak akan pernah ia bagikan kepada pria yang telah menghancurkannya.
Ia tidak akan memberi tahu Adrian tentang apa yang hilang darinya. Tidak sekarang. Adrian tidak layak mengetahui tentang kehilangan itu. Biarlah pria itu hidup dalam bayang-bayang kesalahannya tanpa pernah tahu bahwa ia baru saja membunuh darah dagingnya sendiri.
"Pergi," ujar Nora pelan.
"Nora, kita perlu bicara tentang pernikahan—"
"Pergi, Adrian. Sebelum aku memanggil keamanan untuk mengusirmu," Nora menoleh kembali, dan kali ini, ada kilatan kebencian yang begitu murni di matanya hingga Adrian terdiam seribu bahasa. "Jangan pernah berani muncul di depanku lagi jika kau masih ingin aku berjalan ke altar itu untuk menunaikan kesepakatan ayahku."
Adrian menatap Nora cukup lama, mencoba mencari celah di balik dinding es tersebut, namun ia tidak menemukan apa pun. Nora yang dulu lembut, Nora yang selalu menyambutnya dengan pelukan hangat, telah mati di gudang dermaga itu. Yang tersisa hanyalah cangkang indah yang dipenuhi oleh dendam.
"Baiklah," bisik Adrian akhirnya. "Beristirahatlah. Aku akan menjemputmu besok pagi untuk membawamu pulang ke mansion. Dokter bilang kau sudah bisa keluar."
Adrian berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan. Begitu pintu tertutup, Nora memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata tidak jatuh; ia telah bersumpah untuk tidak menangis lagi di depan atau karena pria itu. Tangannya secara tidak sadar merayap ke perutnya yang rata, mencengkeram kain seprai dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa benci itu kini menjadi satu-satunya kekuatannya. Setiap tarikan napasnya sekarang adalah persiapan untuk kehancuran Adrian Thorne. Ia akan kembali ke mansion itu, ia akan memakai topengnya kembali, namun bukan sebagai pengantin yang jatuh cinta, melainkan sebagai malaikat maut yang akan memastikan Adrian merasakan setiap inci penderitaan yang ia rasakan.
"Nikmati kemenanganmu untuk saat ini, Adrian," gumam Nora dalam kesunyian kamar rawatnya. "Karena saat aku selesai denganmu, kau akan berharap kau benar-benar membunuhku di gudang itu."
Di luar, langit sore berubah menjadi hitam pekat, seirama dengan kegelapan yang kini bersemayam secara permanen di hati Nora Leone. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, sang tameng tidak akan lagi melindungi sang tuan; ia akan menjadi senjata yang akan menusuk tepat di jantungnya.