Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Terpicu!
Kondisi jalanan komplek itu sangat kacau, beberapa kendaraan rusak tergeletak ditinggalkan pemiliknya. Gumpalan-gumpalan aneh berserakan di aspal yang kasar, memancarkan cahaya kehijauan yang aneh.
'Itu Apa cok?'
Rifana menyaksikan kekacauan di luar rumahnya, gumpalan bercahaya aneh itu berdenyut lemah seakan hidup.
Jejak seretan berdarah juga tersisa di berbagai tempat, jalanan itu nampak bersih tanpa mayat.
Adegan ini tentunya aneh di matanya, terakhir kali saat dia mengintip ke luar di malam sebelumnya. Ada beberapa mayat tikus dan tetangganya yang tergeletak di sepanjang jalan.
'Uh.. jangan-jangan' Rifana mengamati sekali lagi, tebakannya cukup logis untuk saat ini.
Jejak seretan darah itu memang memiliki kesamaan, meskipun dalam ingatannya beberapa hewan mutan juga mati di luar sana namun semua mayat itu hilang dalam semalam.
Semua jejak itu terbentang melewati jalanan komplek yang panjang. Rifana tak bisa melihat lebih jauh dari itu, kecuali dia memberanikan diri untuk pergi keluar.
Komplek perumaha yang kacau itu kini sunyi tanpa suara, bahkan Rifana dapat mendengar detak jantungnya sendiri.
'Dengan adanya jejak jejak itu, hanya ada satu kemungkinan' Rifana mencoba menyimpulkan sesuatu dengan penemuannya, dia turun dari bata memikirkan sesuatu.
Saat bermain game, apa yang terjadi jika mob mob kecil tiba tiba hilang? Tentunya makhluk yang lebih kuat memangsa mereka! Apalagi dalam skenario kiamat sepert ini Rifana pikir itu pasti sangat mungkin terjadi.
Dia menggenggam pisau di tangan kirinya, melangkah perlahan menuju gerbang rumahnya. Dengan suara klik, kunci gerbang dibuka.
Gerbang ditarik terbuka, Rifana mengintip ke luar memastikan keadaan sebelum menginjakan kakinya di luar.
'Kayanya monster itu pada kabur kemarin' Komplek perumahan itu terlalu sunyi sekarang, rumah rumah telah berantakan di sekitarnya.
Rifana berdiri di tengah jalan, dia berjongkok untuk melihat jejak itu lebih dekat.
Cipratan merah telah mengering sejak lama, garis garis merah ditarik menjauh ke arah yang sama 'Sesuatu' Pasti menyeretnya kesana.
Pandangannya terkunci ke arah semua darah itu 'Timur' Semua mayat itu pasti diseret kesana oleh sesuatu, mungkin untuk dimangsa atau.. Rifana tak berani Memikirkannya lebih jauh sampai suara robotik bergena di kepalanya.
Bzt..
[Misi pertama terpicu!]
Panel sistem putih muncul dari udara tipis, sepertinya tindakan Rifana telah memicu beberapa mekanisme sistem yang belum ditemukannya.
Panel itu menurunkan sederet kata 'Misi! ' melihat kata itu tertera di panel sistem Dia penasaran 'Misi macam apa yang gua dapet?'
Dia mengamati panel itu berkedip dan berubah.
[Misi : Jejak darah dari timur sedang berlangsung!]
[Silahkan buka panel misi untuk informasi lebih lanjut]
'Jadi darah ini pemicunya!' Rifana dengan seksama melihat kebawah, melihat ini mungkin misi lain akan terpicu di masa depan jika Dia berinteraksi dengan sesuatu.
Dia dengan cepat membuka panel sistem dan memilih fitur misi, dengan layar yang berkedip instruksi misi itu kini terlihat jelas dihadapannya.
[Misi]
[Berlangsung saat ini : Jejak darah dari timur]
[Deskripsi: Puluhan jejak seretan darah muncul dalam semalam, tempat ini sekarang ditinggalkan oleh makhluk makhluk lemah. Apa yang terjadi?]
[Tujuan: Cari tau sumber jejak itu]
Benar saja, misi itu mengarahkan Rifana pergi ke timur untuk menyelidiki asal usulnya, itu mungkin akan berbahaya.
'Hadiah? Apa ga ada hadiah?' Di deskripsi misi, tak disebutkan sekalipun tentang hadiah. Ini membuat Rifana sedikit kesal 'Apa gua disuruh pertaruhin nyawa tanpa dapet imbalan apapun? Lu gila sih' Dia juga masih kesal dengan penilaian sistem sebelumnya.
Sebelumnya, dia disebut sebagai Bajingan yang sedikit beruntung oleh sistem. Entah apa arti tersembunyi dibaliknya namun Rifana yakin, meskipun dia tak begitu baik dia juga tak begitu banyak berbuat hal aneh samapi bisa disebut bajingan.
Apakah sistem ini dikendalikan sesuatu?
Yah lupakanlah, Rifana mengabaikan gumpalan hijau yang berdenyut di tanah. Benda itu tampak berbahaya, dia tak ingin mengambil risiko untuk menyentuh benda seperti itu secara sembarangan.
Dia kemudian kembali menelusuri rumah rumah milik tetangganya, pergi ke samping dia melihat mobil truk yang terguling di tanah, jalan di sekitarnya lebih kacau daripada sebelumnya.
Pecahan kaca berserakan dimana-mana, menyisakan jejak pertarungan seseorang.
Pecahan pecahan kaca itu pastinya hasil dari ledakan molotov yang dilemparkan orang itu, meskipun pada akhirnya dia dikeroyok sampai mati, Rifana sedikit memuji keberaniannya untuk menantang begitu banyak makhluk mutasi.
Sisa robekan kain juga tergeletak di aspal, nasib buruk sepertinya tak terhindarkan untuk pria itu. Namun setidaknya dia melawan di saat saat terakhirnya.
Pada akhirnya Rifana memasuki setiap rumah di sekitarnya, tak ada satupun tanda kehidupan di setiap tempat. Sepertinya makhluk kolosal itu mengusir sebagian besar monster yang ada di lingkungan ini.
Rifana tak buru buru untuk menjalankan misi yang diterimanya, dia memprioritaskan kelangsungan hidupnya untuk saat ini.
Dia menggeledah setiap rumah, mengambil makanan dan benda benda berguna yang bisa digunakannya nanti.
'Yah ini kejahatan, tapi dunia udah kiamat. Siapa juga yang peduli'
Rifana bolak balik keluar rumah membawa persediaan dan menyimpannya di rumahnya sendiri, dia tak menyisakan apapun.
Makanan dan bahan pokok tentunya tak terlewat, perkakas seperti linggis, tang, obeng dan semacamnya juga dibawanya.
Siapa yang tau apa yang dibutuhkannya nanti.
Dan setelah jam jam melelahkan, dia hampir mengosongkan barang penting dari tujuh rumah di sekitarnya.
Dengan adanya tembok tinggi di rumahnya, dia setidaknya akan bisa beraktifitas tanpa terlihat oleh makhluk mutan kecil. Kecuali Rifana membuat keributan mutan itu sepertinya tak akan berinisiatif untuk melompat masuk.
Yah perlindungan itu hanya berlaku untuk makhluk mutan kecil seperti tikus yang mati di halamannya, Rifana terlalu sibuk memindahkan barang sampai lupa membuang mayat itu.
Semua usahanya ini akan menjadi debu jika makhluk kolosal lain lewat dan tidak sengaja menginjaknya.
'Lebih baik daripada nggak' Dan setelah kotak terakhir disimpan, dia duduk di halaman rumahnya.
Istirahat singkat untuk ini.
Menatap ke langit Rifana masih sedikit meringding tiap kali menatapnya, pemandangan di langit yang terpecah sangat indah dan menyeramkan pada saat yang sama.
Cahaya yang merembes dari celah memberikan penerangan kecil yang membantunya melihat selama ini, meskipun tidak secerah matahari cahaya itu sudah cukup untuk menerangi jalan di depannya.
'Ha...' Rifana berdiri dan merenggangkan tubuhnya, dia beralih dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.
Banyak kotak kardus kini tersusun di ruang tamunya, beberapa baring juga tergeletak berantakan di lantai.
Dia membuka salah satu kardus yang ditandainya.
Ini merupakan barang yang didapatnya dari rumah ke tiga, terletak dua unit disamping rumahnya.
Seingat Rifana rumah itu milik seorang penjual daging, jadi dia menggeledah rumah itu dan menemukan benda ini.
Tangannya membuka kotak kardus mengekspos isinya yang tercampur.
'Ini dia..'
Rifana meraih sesuatu dari dalam kotak.
Bilah perak tajam memantulkan cahaya retakan dari luar, menunjukan tingkat ketajamannya yang tinggi.
Sebuah golok tajam.
Setelah mengamankan persediaan ini sudah saatnya untuk Rifana melanjutkan hal yang dia tunda.
Dengan golok tajam dan beberapa persediaan, dia berjalan ke luar dari rumah.
Inilah saatnya untuk melakukan misinya.
'Ayo pergi ke timur! '