Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Ayah Ibu
Setelah sampai di kediaman Klan Liu, Liu Bei segera mengajak Lin Feng ke kamar mandi utama untuk membersihkan diri. Hong Jie melakukan hal yang sama, menggandeng Ji Lianyue ke kamar mandi khusus wanita. Liu Jia dan para tetua lainnya juga berpisah menuju kamar mandi masing masing. Semua orang butuh membersihkan darah dan kotoran yang menempel setelah pertarungan panjang semalaman.
Lin Han membawa Liu Mei ke kamar mereka. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Liu Mei masih dalam gendongannya, tubuhnya lemas dan hampir tidak bertenaga. Lin Han berjalan langsung menuju kamar mandi di dalam kamar mereka dan meletakkan Liu Mei di pinggir bak mandi kayu yang sudah diisi air hangat. Pelayan pasti sudah menyiapkannya sebelum mereka pulang.
"Kita mandi bersama. Aku bantu kau membersihkan punggung." Ucap Lin Han datar.
"Aku bisa sendiri." Jawab Liu Mei, suaranya pelan tapi keras kepala.
Lin Han tidak memedulikan protes itu. Tangannya sudah bergerak melepaskan pakaian Liu Mei yang berlumuran darah ungu dan merah. Kain demi kain ia lepaskan dengan gerakan yang efisien dan tanpa keraguan.
Liu Mei memekik lembut, tangannya refleks mendorong bahu Lin Han.
"Kau berani?!"
Lin Han terus melepaskan pakaiannya tanpa berhenti.
"Kau kelelahan. Berhentilah melawan dan malu malu. Kita sudah melihat seluruh tubuh masing-masing."
Kalimat itu membuat Liu Mei membeku. Wajahnya memanas, tapi ia tidak bisa membantah. Memang benar, kemarin suaminya sudah memandikannya, melihat dan membersihkan semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.
Liu Mei sekarang telanjang sepenuhnya. Satu tangannya menutupi dada, satu tangannya lagi menutupi bagian bawahnya. Kepalanya menunduk, tidak sanggup menatap suaminya.
Lin Han mengambil gayung kayu dan menyendok air hangat dari bak. Ia menuangkannya perlahan ke punggung Liu Mei. Air hangat itu mengalir di kulit putih istrinya, membawa serta sisa sisa darah yang mulai mengering. Ia mengambil kain dan mulai menggosok punggung Liu Mei dengan lembut.
"Besok... jika kita bertarung melawan iblis lagi... jangan terlalu boros menggunakan energi spiritual."
Liu Mei mendongak sedikit. "Apa kau mau mengajariku?"
Lin Han menggelengkan kepalanya. "Tidak... aku hanya mengingatkan saja, tidak ada maksud lain."
Liu Mei mendengus pelan dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Padahal saat Kota Bilou diserang, dia juga kembali dalam keadaan lemas. Sok sekali memberi nasihat."
Lin Han hanya menggelengkan kepalanya mendengar gumaman itu. Ia tidak membalas. Tangannya terus bekerja, membersihkan punggung, lalu bahu, lalu lengan Liu Mei. Setelah bagian belakang selesai, ia berbalik dan mulai membersihkan bagian depan, dengan hati hati. Liu Mei semakin menunduk, tapi ia tidak melawan lagi.
Waktu berlalu hingga akhirnya mereka berdua selesai mandi. Lin Han membantu Liu Mei mengenakan pakaian bersih, lalu membimbingnya kembali ke kamar dan mendudukkannya di kursi.
Setelah itu Lin Han keluar kamar dan kembali sekitar satu jam kemudian dengan nampan berisi makanan.
Lin Han duduk di depan Liu Mei. Ia mengambil sendok berisi sup dan mengarahkannya ke mulut istrinya. Liu Mei membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan itu. Sementara Liu Mei mengunyah, Lin Han menyuapi dirinya sendiri. Begitu seterusnya. Satu suapan untuk Liu Mei, satu suapan untuk dirinya sendiri.
Lin Han melakukan ini bukan karena cinta. Bukan karena kasih sayang yang tiba tiba tumbuh. Tapi karena tugasnya sebagai suami. Juga karena Liu Mei kondisinya sangat lemah, hampir kehabisan energi spiritual total. Bisa tetap sadar dalam kondisi seperti itu sudah menandakan bahwa Liu Mei memiliki kemauan yang sangat kuat.
Lin Han tahu betul bagaimana cara bertarung istrinya. Liu Mei adalah tipe orang yang kalau menyerang, ia menyerang tanpa ampun dan tanpa perhitungan hemat energi. Ibarat untuk memukul seekor tikus, Liu Mei bisa melakukannya dengan melemparkan sebuah gunung. Ini buruk dari segi efisiensi, tapi juga mengerikan dari segi kekuatan.
Tok tok tok!
Terdengar ketukan di pintu.
"Masuklah. Tidak dikunci." Kata Lin Han sambil terus membereskan mangkuk mangkuk kosong di atas meja.
Pintu terbuka. Lin Feng dan Ji Lianyue masuk ke dalam kamar.
Liu Mei yang melihat mertuanya masuk langsung berdiri dari kursinya meskipun tubuhnya masih lemah.
Ia menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat.
"Ayah Mertua, Ibu Mertua. Menantu memberikan salam."
Lin Feng dan Ji Lianyue mengangguk dan tersenyum.
"Eh, duduklah, Nak. Tidak perlu begitu." Ucap Ji Lianyue dengan suara lembut.
Lin Han segera menyediakan dua kursi untuk ayah ibunya.
"Ayah, Ibu, duduklah."
Keduanya mengangguk dan duduk. Liu Mei juga kembali duduk di kursinya. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa teko teh dan cangkir cangkir. Pelayan itu juga mengambil nampan bekas makanan Lin Han dan Liu Mei, lalu keluar dengan sopan.
Lin Han menuangkan teh ke empat cangkir. Satu untuk ayahnya, satu untuk ibunya, satu untuk istrinya, dan satu untuk dirinya sendiri. Setelah itu ia duduk.
Lin Feng membuka percakapan. "Kami datang ke sini hanya untuk melihat anak anak kami."
Ji Lianyue melanjutkan. "Pernikahan kalian baru berlangsung beberapa hari yang lalu, dan kalian sudah harus ikut bertarung. Apakah kalian terganggu dengan keadaan ini?"
Liu Mei dan Lin Han terdiam sejenak. Mereka saling melirik sekilas, lalu Liu Mei menjawab.
"Kami baik baik saja, Ibu. Hal genting seperti ini... tidak mempengaruhi mekarnya bunga di hubungan kami."
Ji Lianyue tersenyum lebar. "Syukurlah. Itu melegakan."
Liu Mei mengepalkan tangannya di bawah meja. "Entah apa yang baru saja ku katakan. Pasti Lin Han akan berpikir aku menyukainya. Padahal aku hanya menjawab sebisanya."
Lin Feng kemudian berbicara lagi. "Oh iya. Ayah hampir lupa tentang ini."
Lin Han menoleh. "Apa itu, Ayah?"
Lin Feng menatap putranya dengan serius.
"Bagaimana bisa sumbatanmu hilang? Saudara Bei mengatakan sumbatanmu hilang tiba tiba dan tanpa sebab. Tapi Ayah ingin dengar langsung darimu."
Liu Mei langsung menundukkan kepalanya. Jari jemarinya saling meremas di bawah meja.
Lin Han melihat reaksi istrinya dari sudut matanya. Ia kemudian menatap ayahnya dan tersenyum tipis.
"Yang dikatakan Ayah Mertua benar. Pagi hari setelah menikah, badanku terasa pegal sekali. Aku cobalah untuk bermeditasi, sekadar merasakan kembali energi langit dan bumi. Tapi di situlah aku terkejut. Ternyata sumbatannya menghilang secara misterius."
Ji Lianyue dan Lin Feng tertegun mendengar penjelasan itu.
Ji Lianyue kemudian berbicara, nada suaranya penuh pertimbangan.
"Jujur saja, ini sedikit aneh. Tapi mengingat sumbatanmu tiga tahun lalu datang secara tiba tiba... mungkin menghilangnya seperti itu juga menjadi lebih masuk akal."