Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Bayangan yang Tak Terlihat
Langit pagi di atas Akademi Kerajaan Averion tampak suram.
Awan tipis menggantung rendah, menutupi cahaya matahari seperti tirai kelabu yang tidak ingin tersingkap sepenuhnya. Cahaya yang masuk ke dalam halaman akademi menjadi redup, dingin, dan tidak membawa kehangatan seperti biasanya.
Hari itu terasa… berbeda.
Bukan karena suasana.
Tapi karena sesuatu yang tidak terlihat.
Sakura berjalan pelan menyusuri koridor utama akademi.
Langkahnya tidak terburu-buru, tapi juga tidak ringan.
Ada sesuatu yang terasa aneh sejak ia bangun pagi.
Bukan rasa sakit yang jelas.
Bukan kelelahan.
Tapi seperti ada sesuatu di dalam dirinya… yang “bergerak” secara perlahan.
“…Noctyra.”
Nama itu muncul lagi di pikirannya.
Namun tidak ada jawaban.
Tidak ada getaran.
Hanya kesunyian yang lebih dalam dari sebelumnya.
Seolah sesuatu di dalam dirinya sedang tidur… atau menahan diri.
Sakura berhenti di persimpangan lorong.
Para murid lain melewatinya tanpa peduli.
Beberapa tertawa.
Beberapa berbicara tentang pelajaran.
Namun tidak satu pun dari mereka benar-benar melihatnya.
Seolah Sakura hanya bagian dari latar belakang akademi ini.
Namun kali ini
ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Di sisi kanan koridor…
ada lorong yang tidak biasa.
Lebih gelap dari sekitarnya.
Lebih sunyi.
Dan anehnya
cahaya di sekelilingnya tampak “menghindar”.
Seperti lorong itu menolak untuk diterangi.
Sakura menatapnya lama.
“…apa ini?”
Bisiknya pelan.
Tanpa sadar, kakinya bergerak.
Langkah pertama.
Udara berubah dingin.
Langkah kedua.
Suara langkah murid lain menjauh.
Langkah ketiga.
Dunia di sekitarnya terasa lebih sempit.
Namun Sakura berhenti di batas lorong.
Ia tidak masuk.
Hanya berdiri di mulutnya.
Dan di saat itu
ia merasakannya.
Sebuah tarikan.
Bukan fisik.
Bukan suara.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Seperti ada ruang kosong di dalam dirinya…
yang tiba-tiba “terjawab” oleh sesuatu dari dalam lorong itu.
Dadanya terasa berat.
Bukan sakit.
Tapi tekanan yang tidak bisa dijelaskan.
“…ini apa?”
Sakura menatap kegelapan di depan.
Namun tidak ada yang terlihat.
Hanya lorong panjang yang sunyi.
Namun justru dari kesunyian itu
tarikan itu semakin jelas.
Seolah sesuatu di dalam lorong…
tidak memanggil tubuhnya.
Tapi memanggil sesuatu yang tidak ia mengerti di dalam dirinya sendiri.
Sakura mundur setengah langkah.
Dan saat itu
tarikan itu melemah.
Ia terdiam lama.
“…ini bukan lorong biasa.”
Bisiknya pelan.
Namun sebelum ia pergi
angin di dalam lorong itu bergerak sangat halus.
Tidak seperti angin alami.
Lebih seperti “resonansi” yang tidak seharusnya ada.
Sakura menoleh sekali lagi.
Hening.
Kosong.
Namun perasaan itu masih tertinggal.
Seperti gema yang belum selesai.
“Sedang apa kau di sana?”
Suara guru penjaga terdengar dari belakang.
Tegas.
Memecah suasana.
Sakura tersentak.
“Maaf… saya hanya lewat.”
Guru itu menatapnya tajam.
“Lorong itu terlarang. Jangan pernah mendekat lagi.”
Sakura mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia berbalik dan pergi.
Namun langkahnya kali ini berbeda.
Lebih berat di pikiran.
Karena untuk pertama kalinya
ia menyadari sesuatu.
Lorong itu tidak kosong.
Dan jauh di dalamnya…
ada sesuatu yang “hidup”.
🌑 Legenda Lorong Segel Averion
Malam hari, di perpustakaan akademi
seorang murid senior berbisik kepada yang lain.
Sakura tidak jauh dari mereka, namun ia tidak ikut berbicara.
Hanya mendengar.
“Aku dengar tentang lorong itu…”
kata salah satu murid pelan.
Yang lain langsung menoleh.
“Lorong terlarang itu?”
Murid itu mengangguk.
“Ya. Konon… itu bukan sekadar lorong.”
Suasana langsung sedikit menegang.
“Dulu, sebelum Akademi Kerajaan Averion berdiri…”
lanjutnya pelan.
“…tempat ini adalah medan perang.”
Beberapa murid terdiam.
“Dan di bawah akademi ini…”
suaranya diturunkan.
“…tersegel sesuatu yang bahkan para dewa tidak ingin dunia mengetahuinya.”
Sakura yang diam di kejauhan sedikit menegang.
“Katanya,” lanjut murid itu,
“ribuan tahun lalu, ada entitas yang hampir menelan seluruh dunia.”
“Bukan manusia.”
“Bukan monster biasa.”
“Bukan juga iblis seperti yang ada di cerita rakyat.”
Ia menelan ludah.
“Makhluk itu… disebut sebagai ‘Makhluk gelap yang Memakan Cahaya’.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Dan untuk menghentikannya…”
“…para dewa dan dewi terdahulu turun langsung ke dunia.”
Salah satu murid berbisik.
“Dewa…?”
“Ya.”
Jawabannya tegas.
“Mereka tidak bisa membunuhnya.”
“Jadi mereka menyegelnya.”
“Dengan apa?”
“Dengan sebuah ‘ruang yang tidak boleh disentuh’.”
Murid itu menatap ke arah gelap jendela.
“Dan lorong itu… adalah pintu ke segel tersebut.”
Sakura yang mendengar dari kejauhan terdiam.
Lorong itu…
bukan hanya tempat terlarang.
Tapi pintu.
Pintu menuju sesuatu yang bahkan dewa tidak bisa menghapus.
Di dalam dadanya
tarikan itu muncul lagi.
Lebih halus.
Lebih dalam.
Seolah cerita itu… beresonansi dengan sesuatu di dalam dirinya.
“…Noctyra.”
Bisik itu kembali muncul.
Namun kali ini
lebih jelas.
Bukan suara.
Tapi “kesadaran”.
Sakura mengepalkan tangannya.
“…apa hubungannya aku dengan itu?”
Tidak ada jawaban.
Namun untuk sesaat
ia merasa seperti lorong itu…
“mengenalnya”.
Malam semakin larut.
Asrama mulai sunyi.
Namun Sakura tidak bisa tidur.
Di luar jendela—
angin bergerak pelan.
Arah angin itu…
mengarah ke lorong terlarang.
Sakura duduk diam.
Menatap tangannya.
“…aku hanya merasa tertarik.”
Bisiknya pelan.
“…itu saja.”
Namun jauh di dalam dirinya—
sesuatu tidak setuju.
Dan di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun—
di balik lorong itu—
sesuatu yang tersegel ribuan tahun lalu…
bergetar sangat pelan.
Seolah…
telah menemukan sesuatu yang selama ini ia tunggu.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
Terima kasih🥰🥰🥰