NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Sesampainya di dalam kabin, suasana langsung berubah menjadi tenang dan jauh lebih sejuk dibandingkan di luar. Kapten Wang mempersilakan Shen Yu duduk di sebuah bangku kayu yang empuk di hadapannya.

Shen Yu duduk dengan sangat kaku. Punggungnya tegak lurus, tangannya saling bertaut di pangkuan, dan matanya menunduk memandangi lantai. Ia berusaha menampilkan citra pemuda desa yang pemalu, takut, dan kurang pandai bicara.

Di dekat pintu, Kakak Dong berdiri tegak berjaga, tidak ikut duduk, matanya menatap Shen Yu penuh harap.

Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Kapten Wang langsung membuka pembicaraan tanpa bertele-tele. Ia meletakkan kantung labu tadi di atas meja di antara mereka berdua.

"Anak muda, ceritalah sejujurnya," kata Kapten Wang dengan nada ramah namun mendesak."Air di dalam labu ini sungguh luar biasa. Rasanya manis, segar, dan bisa menghilangkan lelah seketika. Apakah kau masih memilikinya? Atau... bisakah kau mendapatkan lebih banyak lagi?"

Ini dia... pertanyaan yang sudah Shen Yu prediksi sejak lama.

Ia sudah menyiapkan skenarionya di kepala. Tidak mungkin ia bilang itu cuma minuman biasa dari toko. Ia harus membuat alasannya terdengar sulit dan berbahaya agar mereka tidak meminta-minta terus.

Shen Yu mengangkat wajahnya pelan, menampakkan ekspresi takut dan sedih.

"Maaf, Tuan Kapten..." jawabnya pelan dengan suara gemetar. "Air itu... memang sangat langka. Saya kebetulan saja bisa mengambil sedikit waktu itu."

"Oh? Kenapa bisa begitu?" tanya Kapten Wang penasaran.

Shen Yu menelan ludah, lalu mulai mengarang cerita dengan ekspresi serius.

"Karena... sumber air ajaib itu sekarang dijaga oleh Harimau Putih yang sangat ganas," bisiknya seolah menceritakan rahasia besar. "Saya hanya berani mengambil saat dia sedang tidur atau pergi berburu. Kalau ketahuan, pasti sudah hancur badan jadi daging. Jadi... stok yang saya bawa itu benar-benar sisa yang sedikit saja."

Wajah Kapten Wang berubah terkejut.

"Harimau Putih?!" serunya pelan. "Jadi itu sebabnya airnya memiliki tenaga yang luar biasa? Ternyata memang air dari tempat yang sulit didapat..."

Karena di zaman ini orang-orang sangat percaya pada hal-hal mistis dan makhluk gaib, alasan Shen Yu langsung diterima bulat-bulat!

Kakak Dong di pintu pun ikut ternganga. "Wah... pantas saja enak banget! Ternyata air yang berbahaya didapatkannya!"

Shen Yu dalam hati tertawa puas. Hehe, berhasil. Harimau? Mana ada. Yang ada cuma rak minuman di supermarket.

Shen Yu menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap, wajahnya dipenuhi ekspresi tulus dan sedikit sedih.

"Benar sekali..." sahutnya pelan. "Itu satu-satunya yang saya punya. Karena tidak membawa uang tunai, saya terpaksa menukarkannya untuk membayar ongkos perjalanan tadi."

Ia lalu menundukkan kepala sedikit, tampak sangat sopan dan meminta maaf.

"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak punya lagi sisanya. Kalau ada, pasti sudah saya berikan kepada Tuan Kapten sebagai tanda terima kasih. Tapi sungguh, barang itu sangat sulit didapatkan dan berbahaya kalau dipaksakan."

Kapten Wang mengusap jenggotnya pelan-pelan, matanya menyipit mencerna penjelasan Shen Yu.

Melihat pemuda ini berpakaian lusuh, bicaranya sopan dan terlihat jujur, serta ceritanya yang masuk akal ditambah dengan rasa minuman yang memang luar biasa, Kapten Wang sama sekali tidak merasa curiga. Justru ia merasa kasihan dan semakin yakin bahwa ini adalah barang langka.

"Jadi begitu..." gumam Kapten Wang. "Wajar saja kau hanya membawa sedikit. Mengambilnya saja butuh nyawa."

Ia lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Sudah, jangan minta maaf. Justru aku yang harusnya berterima kasih karena sudah mau menukarkannya. Aku baru tahu rasanya minuman seenak itu."

Kapten Wang lalu mengambil kantung labu itu, meneguknya lagi sedikit dengan wajah sangat puas, lalu menutupnya rapat-rapat seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.

"Karena kau sudah membayar lunas dan orangnya baik, benar jika kamu naik kapal ku kedepannya kamu tak perlu membayar lagi!" kata Kapten Wang tiba-tiba.

"Hah?" Shen Yu mengangkat wajah kaget.

Kapten Wang tertawa kecil. "Kau duduk saja di sana dengan tenang. Jangan khawatir, kapal ini aman sampai tujuan."

Shen Yu hampir tidak percaya. Gratis selamanya?!

"Wah, terima kasih banyak, Tuan Kapten!" serunya spontan, lalu buru-buru membungkuk hormat. "Kebaikan Tuan pasti dibalas surga!"

Di dalam hati ia melompat kegirangan. Hoki banget jadi orang! Cuma modal cerita dapat perjalanan gratis selamanya! Kapten ini baik sekali.

Ternyata keberuntungan Shen Yu tidak berhenti di situ saja. Karena merasa berhutang budi dan sangat menghormati pemuda yang memiliki "air ajaib" tersebut, Kapten Wang bahkan memberikan fasilitas yang jauh lebih baik.

Shen Yu tidak perlu lagi duduk berdesakan dan kepanasan di dek luar. Ia diberikan sebuah kamar kecil yang nyaman di bagian dalam kapal, tepat di samping ruangan awak kapal.

Ruangan ini cukup sederhana namun sangat layak huni. Di sana sudah tersedia sebuah ranjang kayu kecil yang kokoh, sebuah meja kecil yang menempel di dinding, dan yang paling penting... pintu yang bisa dikunci!

"Ckckck... ini jauh lebih mewah daripada gubukku di Desa Mati," gumam Shen Yu takjub sambil menyentuh permukaan meja itu.

Sinar matahari sore masuk dengan lembut melalui jendela kecil di sisi dinding, menerangi ruangan dan membuatnya terasa hangat serta tidak pengap sama sekali.

Shen Yu menghela napas panjang sampai dadanya terasa lega. Beban di pundaknya seakan hilang begitu saja.

"Akhirnya... dapat tempat istirahat yang beneran enak," bisiknya puas.

Ia berjalan masuk, menutup pintu pelan-pelan, dan menguncinya dari dalam untuk keamanan.

Ia meletakkan keranjang bambunya di pojok ruangan yang agak gelap. Isinya sengaja ia biarkan terlihat biasa saja dan sedikit menyedihkan—hanya ada selimut tebal tapi lusuh yang terbuat dari kain goni tebal, serta beberapa barang kecil lainnya.

Tampak dari luar, dia benar-benar seperti pemuda miskin yang tidak punya apa-apa.

Tapi siapa sangka, di dalam tubuh pemuda sederhana ini tersimpan sebuah supermarket raksasa yang isinya melimpah ruah!

"Syukurlah... masalah selesai dengan mulus," Shen Yu tersenyum lebar sambil duduk di pinggiran ranjang. Ia melompat-lompat sedikit menguji empuknya. "Enak juga! Lumayanlah buat tidur nyenyak malam ini."

Sekarang dia benar-benar bisa bersantai menunggu kapal sampai ke Ibu Kota tanpa perlu waspada berlebihan.

Rasanya baru sebentar memejamkan mata, tapi sebenarnya Shen Yu sudah tertidur sangat pulas. Kebiasaan tidur di kasur empuk dan kelelahan berjalan kaki kemarin membuatnya benar-benar terlelap tanpa mimpi buruk.

Tok tok tok!

"Anak muda! Bangun! Waktunya makan malam!"

Suara ketukan pintu dan panggilan itu membangunkannya. Shen Yu mengucek matanya dengan bingung, masih setengah sadar.

"Hah? Eh... iya sebentar!"

Ia bangun dan membuka pintu. Di luar sudah ada petugas yang membawa nampan berisi makanan.

"Ini jatah makan mu, Tuan. Silakan dinikmati selagi hangat," kata petugas itu dengan ramah. Karena perintah Kapten Wang, semua orang kini memperlakukannya dengan sangat baik.

"Terimakasih," jawab Shen Yu sambil menerima mangkuk itu.

Isinya cukup lumayan: semangkuk nasi hangat, sepotong ikan asin goreng kering, dan sayur sup bening dengan sedikit potongan tahu. Walaupun sederhana, baunya harum dan rasanya pasti enak karena perutnya sudah kosong sejak tadi siang.

Shen Yu duduk di tepi ranjang, mulai menyantap makanannya dengan lahap.

"Enak juga masakan kapal ini," gumamnya dalam hati sambil mengunyah. "Tapi... agak hambar sih dikit. Kurang pedas atau manis."

Tanpa sadar, lidahnya sudah terbiasa dengan rasa bumbu instan dan makanan modern di Ruang Ajaibnya.

Ia menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, lalu menyeringai licik.

"Tapi tenang saja... aku punya rahasia."

Dengan gerakan cepat dan terbiasa, tangannya menyelinap ke arah Ruang Ajaib (seolah menyentuh saku bajunya), lalu mengeluarkan satu bungkus kecil saus sambal dan kecap manis yang ia siapkan sebelumnya.

Cess!

Ia menuangkan saus itu ke atas nasinya dan mengaduknya hingga berwarna kecokelatan dan terlihat menggoda.

"Nah, begini baru namanya makanan!" bisiknya senang.

Sekarang rasanya pas di lidah! Shen Yu pun kembali melahap makanannya dengan semangat baru, merasa sangat beruntung hidup di zaman kuno tapi tetap bisa menikmati rasa modern.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!