NovelToon NovelToon
SATU ATAP DI BARAK MILITER

SATU ATAP DI BARAK MILITER

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.

Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra

Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN DIBALIK KEGELAPAN

Kegelapan di dalam gudang logistik itu terasa begitu padat, seolah-olah oksigen di sekitar mereka telah digantikan oleh aroma debu kayu tua, tumpukan kanvas tenda, dan wangi maskulin yang sangat spesifik dari seragam hijau yang dikenakan Ghazali. Lengan kokoh pria itu masih melingkar erat di pinggang Keyra, menahan beban tubuhnya agar tidak menghantam lantai semen yang dingin setelah insiden tersandung kardus tadi.

Jantung Keyra berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan irama yang liar di dalam dadanya. Ia yakin, dalam jarak sedekat ini, Ghazali bisa merasakan setiap detakan itu melalui telapak tangannya yang menempel di punggung Keyra. Dalam keheningan yang mencekam, hanya ada suara napas mereka yang bersahutan berat, tidak beraturan, dan penuh ketegangan yang sulit dijelaskan.

"Kapten... bisa lepaskan? Saya sudah stabil," bisik Keyra ragu. Suaranya sedikit bergetar, memecah kesunyian yang lembap.

Ghazali tidak langsung melepaskannya. Ia justru menarik tubuh Keyra sedikit lebih tegak, memastikan keseimbangan gadis itu benar-benar pulih sebelum perlahan memberikan ruang. "Listrik cadangan butuh waktu tiga menit untuk sinkronisasi. Jangan bergerak sembarangan atau kamu akan menabrak tumpukan besi di sudut sana. Aku tidak mau menambah daftar pasien di klinik besok pagi."

"Siap, Kapten Kaku," sahut Keyra pelan, mencoba mengembalikan keberaniannya yang sempat menciut. Ia merapikan jas snelli-nya yang sedikit berantakan, meski matanya masih berusaha beradaptasi dengan kegelapan total.

Mereka berdiri bersisian dalam sunyi yang panjang. Keyra memainkan ujung pulpennya, pikirannya melayang pada percakapan yang sempat ia dengar di klinik tadi siang antara Ghazali dan Bastian. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada kegelapan gudang tua ini. Ia merasa, momen ini di mana mereka tidak bisa saling melihat wajah dengan jelas adalah waktu yang paling tepat untuk bertanya.

"Kenapa pindah ke sini?" tanya Keyra tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" suara Ghazali terdengar datar, namun ada nada waspada yang sangat tipis di sana.

"Tadi siang... saya tidak sengaja mendengar pembicaraan dengan Bastian. Tentang meninggalkan bisnis keluarga Atharrazka, tentang pelarian ke markas terpencil ini, dan... kejadian lima tahun lalu," Keyra berucap dengan sangat hati-hati, memilih setiap kata agar tidak memicu kemarahan pria di sampingnya. "Apa itu alasan kenapa Kapten selalu memasang tembok tinggi untuk semua orang? Kenapa Kapten bersikap seolah-olah tidak punya perasaan?"

Keheningan yang mengikuti kalimat itu terasa jauh lebih dingin daripada udara malam. Keyra merutuki mulutnya yang terlalu jujur. Ia mengira Ghazali akan membentaknya, menyuruhnya diam, atau mungkin memberinya hukuman lari keliling lapangan sebagai sanksi karena terlalu ikut campur urusan pribadi atasan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

"Bastian terlalu banyak bicara," sahut Ghazali akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan bayang-bayang di sekitar mereka. Ada nada kepedihan yang sangat dalam, jenis luka yang sudah lama ia simpan sendirian. "Lima tahun lalu, aku kehilangan satu-satunya orang yang tidak setuju aku masuk militer. Adik perempuanku, Maya."

Keyra tersentak. Langkah kakinya refleks bergeser lebih dekat ke arah Ghazali tanpa ia sadari. "Maaf... saya benar-benar tidak tahu."

"Dia mengalami kecelakaan tragis saat aku sedang sibuk mengurus proyek besar perusahaan ayahku di luar negeri. Ayah ingin aku tetap di sana untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, sementara Maya... dia sedang berjuang sendirian di ruang operasi," Ghazali menjeda kalimatnya, napasnya terdengar sedikit berat seolah ada beban ribuan ton yang menindih dadanya selama bertahun-tahun. "Ayah melarangku pulang saat itu. Baginya, bisnis adalah segalanya. Dan ketika aku akhirnya mendarat di tanah air, yang kutemukan hanyalah gundukan tanah baru."

Keyra menelan ludah. Ia bisa merasakan emosi yang meluap dari pria di sampingnya. "Sejak hari itu, aku sadar. Uang, kekuasaan, dan nama besar keluarga tidak bisa menyelamatkan nyawa orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku berhenti dari semuanya. Aku membuang jas mahal itu dan memilih seragam ini agar aku bisa berada di garis depan. Aku ingin menyelamatkan orang lain yang mungkin sedang berada di titik kritis, agar mereka tidak perlu mengalami kehilangan yang sama sepertiku."

Keyra tertegun. Di balik sikap kaku, dingin, dan menyebalkan itu, ternyata ada jiwa yang sangat hancur namun mencoba bangkit dengan cara yang paling terhormat. Ia tidak lagi melihat Ghazali sebagai pria sombong yang hobi menghukum, melainkan seorang kakak yang sedang menebus rasa bersalahnya kepada dunia.

"Ghazali..." Keyra menyebut namanya tanpa jabatan untuk pertama kalinya. "Maya pasti sangat bangga melihatmu sekarang. Kamu bukan lari dari tanggung jawab keluarga, kamu justru sedang menjalankan tanggung jawab yang jauh lebih besar sebagai manusia. Dan markas ini... mungkin memang tempat di mana kamu seharusnya berada untuk menemukan kedamaianmu sendiri."

Tepat saat itu, lampu gudang berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala terang benderang, menyilaukan mata.

Ghazali segera memalingkan wajah, menghindari tatapan mata Keyra yang tampak tulus dan penuh pengertian. Ia kembali memasang topeng dinginnya secepat kilat, meskipun daun telinganya tampak sedikit memerah di bawah sorotan lampu neon yang pucat. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawa militernya yang sempat goyah.

"Waktu istirahat habis, Nona. Selesaikan pendataan logistikmu dalam sepuluh menit ke depan, lalu segera kembali ke paviliun. Ini perintah resmi," ucap Ghazali sembari melangkah pergi dengan langkah tegap yang kaku, tanpa menoleh lagi ke belakang.

Keyra menatap punggung lebar itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa haru, namun juga ada sedikit getaran aneh di hatinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tersenyum tipis, kali ini bukan senyum jahil untuk menggoda, melainkan senyum yang sarat akan rasa kagum yang mulai tumbuh diam-diam di antara tumpukan kardus logistik.

"Dasar kaku. Bilang saja terima kasih susah sekali," gumam Keyra sembari kembali mengambil papan jalan dan pulpennya. Ia mulai mencatat kembali stok beras dan obat-obatan dengan semangat yang baru, meskipun aroma maskulin Ghazali seolah masih tertinggal di indra penciumannya, menemaninya menyelesaikan tugas di gudang yang kini tak lagi terasa begitu menyeramkan.

***

1
Murni Asih
Ghazali... aku sebel sama kamu..!
Rika Pulungan
up
Murni Asih
tenang keyra.... saya temenin...saya jg sakit ati kamu di gituin sm kapten Ghazali ,
Murni Asih
biar cuma buat melindungi keyra atau kenyataan tp aku sebel bgt sm kapten Ghazali yg kaya gini...
Murni Asih
keyra tau klo sarah benci sm keyra
Murni Asih
keyra udh pasrah...
Murni Asih
lanjut ka
Murni Asih
pengorbanan kapten Ghazali dan Dokter Keyra
Murni Asih
minta maaf kapten Ghazali
Murni Asih
semoga otor melindungi kalian ber empat. 😭😭😭❤️❤️❤️
Murni Asih
msh perang aja.... 😭
Herfan Wahyudi
ceritanya sangat bagus...lanjut lagi ya kak🙏
Murni Asih
sampe di part ini , otor seneng bgt bikin orang jedak-jeduk....
Murni Asih
jgn smpe chip nya ketemu sm mereka
Murni Asih
lagi dan lagi lindungi mereka ber 4 ya kaka.... 💪
Murni Asih
Ghazali....
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....
Murni Asih
pinta ku selalu , tolong lindungi mereka ber 4 ya author
Rika Pulungan
crazy up
Murni Asih
baru bangun tidur , lngsng deg²an... author...tolong lindungi mereka ber 4
Murni Asih
ish... sempet² nya ngegombal dulu.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!