NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan viona

Viona tersenyum manja dan mencium bibir Arka dengan penuh nafsu. Arka mencoba menghindar .

"Baby,kenapa sih kamu,aku kangen banget sama kamu lho ." Kembali viona memajukan dirinya .

"Viona,kamu jangan seperti itu ."

Arka mencoba menghindar dari ciuman Viona dengan memalingkan wajahnya ke samping. Bibir Viona hanya mendarat di pipinya. Wanita itu mengerutkan kening, tapi senyum manja cepat kembali menghiasi wajahnya.

“Kenapa sih, Baby? Kamu kok dingin banget malam ini?” tanya Viona sambil merapatkan tubuhnya lebih dekat. Gaun merah menyala itu semakin menempel di tubuh rampingnya yang terawat. Ia meletakkan gelas jus di meja, lalu kedua tangannya melingkar di leher Arka. “Aku kangen kamu. Sudah lama kita nggak… dekat.”

Arka merasa tubuhnya menegang. Ia meletakkan tangannya di pinggang Viona, tapi bukan untuk memeluk, melainkan untuk menjaga jarak. “Viona, kita belum menikah ,jangan melakukan seperti ini."

Arka mencoba menolah viona secara halus,namun Viona tidak mundur. Malah ia semakin agresif. Ia naik ke pangkuan Arka di sofa, gaunnya tersingkap sedikit hingga memperlihatkan paha mulusnya yang putih. “Baby,kita sudah dewasa,tidak ada masalah kalau kita saling melepas rindu,” bisiknya di telinga Arka dengan suara yang sengaja dibuat menggoda. Napasnya yang hangat menyapu daun telinga pria itu.

"Jangan ,viona ,aku nggak mau,aku sangat menghormati kamu,kamu jangan aneh -aneh ."Arka masih berusaha menghindar dan menolah .

“Baby,kita akan senang -senang dan aku bisa bikin kamu lupa segalanya.”

Tangan Viona turun ke dada Arka, membuka satu per satu kancing kemejanya dengan gerakan lambat dan menggoda. Ia menunduk, mencium leher Arka, lalu turun ke dada yang mulai terbuka,Arka merasa risih,dan berusaha menghindar

“Lihat nih, gaun ini aku beli di Milan. Bahannya tipis, mudah dilepas. Mau lihat lebih dalam?” Tanpa menunggu jawaban, Viona menarik tali gaun di bahunya. Kain merah itu meluncur turun perlahan, memperlihatkan bra hitam berenda yang hampir tidak menutupi gunung montoknya. Ia sengaja membusungkan dada, aset kewanitaannya yang selalu menjadi senjata utamanya kini terpampang jelas di depan mata Arka.

Arka memalingkan muka. Matanya tidak berani menatap langsung. “Viona, cukup. Aku nggak mood dengan semua ini .”

Viona tertawa kecil, tapi ada nada kesal yang terselip. Ia meraih tangan Arka dan meletakkannya di dada telanjangnya sendiri. “Sentuh aku, Baby. Rasakan. Ini semua buat kamu. Kita sudah bertunangan, lho. Kenapa kamu selalu seperti ini? Apakah kamu nggak menginginkannya ?"

"Viona,jangan lakukan seperti ini tidak pantas."

Arka menarik tangannya dengan cepat, seolah tersengat. Ia mendorong tubuh Viona pelan agar turun dari pangkuannya.

"Ayolah baby ,kita senang -senang lagian kita juga sudah bertunangan,jadi kamu jangan sok polos seperti ini ."

"Tidak viona ,jangan lakukan ,sebaiknya kamu pulang ,aku capek. aku butuh istirahat lagi pula,Kamu juga bilang besok ada meeting kan,kamu pasti butuh istirahat.”

Wajah Viona berubah. Senyum manjanya lenyap, digantikan ekspresi kesal yang

Arka menarik tangannya dengan cepat, seolah tersengat. Ia mendorong tubuh Viona pelan agar turun dari pangkuannya.

"Arka,kita sudah dewasa ,wajar kalau kita merasakannya ,Aku jamin kamu pasti akan ketagihan melakukannya ."

Viona bangkit berdiri, tapi bukan untuk menjauh. Malah ia melepas gaun sepenuhnya hingga hanya tersisa bra dan celana dalam hitam berenda. Tubuhnya yang indah dan terawat sempurna kini hampir telanjang di depan Arka. Ia berputar sekali, memperlihatkan punggungnya yang mulus dan bempernya yang kencang.

“Lihat aku, Arka! Apa kurangnya aku? Aku cantik, kaya, dan aku mencintaimu. Tapi kamu selalu menolak aku. Sudah berapa bulan kita bertunangan, tapi kamu belum pernah benar-benar menyentuh aku seperti suami istri!” Suaranya naik, campuran antara marah dan frustrasi. “Kamu laki-laki normal kan? Atau ada yang salah dengan kamu?”

Arka berdiri dari sofa, mengambil gaun Viona dari lantai dan menyodorkannya. “Pakai lagi, Viona. Aku hormati kamu sebagai tunanganku. Aku nggak mau kita lakukan ini sebelum waktunya.”

Viona menyambar gaun itu, tapi tidak langsung memakainya. Ia melemparnya ke samping sofa. “Hormati? Ini namanya menghina! Kamu pikir aku murahan? Aku tawarkan diri, kamu tolak mentah-mentah. Apa karena aku terlalu agresif? Atau … kamu sudah puas sama yang lain?”

Kata-kata terakhir itu menusuk Arka.walaupun ia orang metropolitan ,dia tidak akan mau melakukan itu dengan perempuan sembarangan,dan ia akan melakukannya sama istrinya nantinya. Arka teringat Cantika yang masih bersembunyi di kamar mandi. Hatinya semakin gelisah.

“Bukan begitu. Aku cuma ingin kita menikah dulu secara resmi. Aku nggak mau buru-buru.”

Viona mendekat lagi, tangannya merayap di dada Arka yang terbuka. “Menikah? Kita sudah bertunangan enam bulan. Berapa lama lagi? Aku butuh bukti bahwa kamu benar-benar menginginkan aku, Arka. Bukan cuma status.” Ia menekan tubuhnya ke tubuh Arka, pinggulnya bergesekan pelan dengan pinggul pria itu. Tangan Viona turun lebih rendah, menyentuh pinggang Arka, lalu berusaha membuka ikat pinggangnya. “Biarkan aku buktikan betapa aku mencintaimu. Malam ini saja …”

Arka menangkap kedua pergelangan tangan Viona dan menjauhkannya dengan tegas. “Cukup, Viona! Aku bilang tidak.” Suaranya tegas, dingin, tanpa kompromi.

Viona mundur selangkah. Matanya berkaca-kaca karena marah dan malu. “Kamu selalu begini! Dulu di awal-awal hubungan kita, kamu masih mau menciumku, memelukku. Sekarang? Kamu seperti patung es. Apa aku jelek? Apa tubuhku nggak cukup menggoda buat kamu?” Ia kembali memperlihatkan asetnya dengan sengaja membusungkan dada dan memutar tubuhnya. Bra hitam itu nyaris tidak menutupi apa pun. “Lihat ini! Semua laki-laki di luar sana pasti berebut untuk menyentuhku. Tapi kamu? Kamu bahkan nggak mau lihat!”

Arka menghela napas panjang. Ia meraih selimut tipis dari sofa dan menutupkan ke tubuh Viona. “Kamu cantik, Viona. Sangat cantik. Tapi aku nggak mau lakukan ini sekarang. Aku hormati kamu. Kalau kamu terus memaksa, aku akan antar kamu pulang sekarang.”

Viona melempar selimut itu ke lantai dengan kasar. Air matanya jatuh, tapi ia cepat menyeka dengan punggung tangan. “Hormati? Ini namanya penolakan! Aku merasa seperti perempuan murahan yang kamu tolak. Kamu tahu nggak rasanya? Aku yang selalu inisiatif, aku yang selalu merayu, tapi kamu selalu dingin. Apa kamu impoten? Atau kamu punya orang lain?”

Arka terdiam. Kata “orang lain” membuat dadanya sesak. Di kamar mandi, Cantika pasti mendengar semuanya. Ia bisa membayangkan betapa sakitnya hati Cantika sekarang. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu kesalahan kecil saja, semuanya akan hancur.

Viona melihat keraguan di mata Arka. Ia mengira itu kesempatan. Dengan gerakan cepat, ia melepas bra-nya. Dada polosnya yang indah kini sepenuhnya terpampang. Ia mendekat lagi, meraih tangan Arka dan menempelkannya ke dada polosnya.

“Rasakan, Arka. Ini milikmu. Aku milikmu. Jangan tolak aku lagi. Malam ini, buat aku milikmu sepenuhnya.”

Arka menarik tangannya dengan kasar. Wajahnya memerah karena marah dan tidak nyaman. “Viona, pakai bajumu sekarang! Aku nggak mau ulangi lagi. Kalau kamu nggak berhenti, aku panggil sopir antar kamu pulang.”

Viona berdiri telanjang dada di depan Arka, napasnya tersengal karena emosi. Kesalnya memuncak. “Kamu brengsek, Arka! Aku yang cantik, kaya, dari keluarga terpandang, kamu tolak seperti ini? Apa kamu pikir aku nggak punya harga diri? Aku sudah memperlihatkan semuanya, tapi kamu tetap seperti batu!”

Ia akhirnya memungut bra dan gaunnya dengan tangan gemetar. Sambil memakai kembali pakaiannya, Viona terus mengomel. “Aku capek, Arka. Capek jadi tunangan yang selalu ditolak. Kalau kamu terus begini, aku nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Mungkin aku harus cari laki-laki yang benar-benar menginginkan aku.”

Arka hanya diam, wajahnya tegang. Ia membantu Viona merapikan gaunnya, tapi tidak ada kelembutan di sana. Setelah Viona berpakaian lengkap, ia mengantarnya ke pintu depan.

Di depan pintu, Viona berbalik. Matanya masih basah. “Pikirkan lagi, Arka. Aku nggak akan selalu sabar seperti ini. Suatu hari nanti, aku bisa lelah dan pergi

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!