Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Nama Baru
Pagi itu datang dengan rasa yang lebih tajam dari biasanya, bukan karena perubahan yang terlihat di sekitar, melainkan karena sesuatu yang diam-diam menekan dari dalam. Kampus tetap berjalan seperti rutinitas yang sudah terbentuk lama, lorong dipenuhi langkah kaki yang saling bersahutan, suara obrolan terdengar dari berbagai arah, dan kelas dimulai tanpa keterlambatan. Tidak ada yang tampak berbeda di permukaan, semua orang bergerak seperti hari-hari sebelumnya, seolah tidak ada hal baru yang terjadi.
Namun bagi Airel Virellia, suasana yang sama itu justru terasa lebih berat untuk dijalani. Pikirannya tidak lagi mengikuti ritme yang biasa, melainkan tertarik kembali ke satu titik yang tidak bisa ia abaikan. Halte itu, sosok yang berjalan melewatinya, dan tatapan yang sempat bertahan lebih lama dari yang seharusnya terus muncul tanpa jeda.
Ia duduk di kursinya seperti biasa, membuka buku dan memposisikannya dengan rapi di atas meja. Tangannya mulai menulis, mencatat beberapa poin dari penjelasan dosen, bahkan sesekali mengangguk seolah benar-benar memahami apa yang dibahas. Dari luar, tidak ada yang janggal, semuanya tampak seperti kebiasaan yang sudah ia lakukan berkali-kali.
Namun di dalam, pikirannya tidak pernah benar-benar tinggal.
Setiap beberapa menit, fokusnya terlepas begitu saja, kembali pada bayangan yang sama tanpa bisa dicegah. Wajah itu muncul lagi, jelas, tidak lagi samar seperti sebelumnya, dan perasaan yang menyertainya datang tanpa permisi. Bersamaan dengan itu, satu pertanyaan terus mengikutinya, tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya sulit berpikir jernih.
Siapa dia?
Airel menghela napas pelan, menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ujung pena tertahan di atas kertas, sementara matanya menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia mencoba mengalihkan pikirannya kembali ke pelajaran, mencoba memaksa dirinya fokus, tetapi tidak ada yang benar-benar berhasil menahan pikirannya di tempat.
“Rel.”
Suara itu memotong alurnya.
Airel menoleh, sedikit terlambat, seperti baru kembali dari tempat yang jauh. Kalista sudah menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya santai, ada sedikit keraguan di sana, seperti seseorang yang sudah cukup yakin dengan apa yang ia lihat.
“Kamu masih kepikiran, ya?” tanyanya pelan.
Airel tidak langsung menjawab, tetapi ia juga tidak menyangkal. Cara ia mengalihkan pandangan sudah cukup untuk memberi jawaban tanpa kata. Kalista menghela napas kecil, lalu bersandar, seolah sudah menduga reaksi itu sejak awal.
“Aku sempat nanya ke anak-anak jurusan sebelah,” katanya setelah beberapa detik.
Airel kembali menoleh, kali ini lebih cepat, ada sedikit perubahan di sorot matanya. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan mulai muncul ke permukaan.
“Kenapa?” tanyanya.
Kalista mengangkat bahu ringan, tetapi nada suaranya tidak sepenuhnya santai. “Soalnya aku kayak pernah lihat dia juga, jadi aku coba tanya saja.”
Airel tidak menyela, hanya menunggu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas.
“Dan ternyata,” lanjut Kalista setelah jeda singkat, “dia bukan orang baru di kampus.”
Airel mengernyit pelan, mencoba mencerna kalimat itu. Informasi itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa penting.
“Bukan?” ulangnya.
Kalista menggeleng. “Enggak. Dia memang jarang kelihatan di area kita, tapi ada di gedung sebelah. Anak-anak sana tahu dia.”
Airel diam, pikirannya mulai bergerak, menyusun sesuatu yang belum jelas bentuknya. Ia tidak tahu kenapa hal itu terasa penting, tetapi ada bagian dalam dirinya yang merespons lebih dari yang seharusnya.
“Namanya siapa?” tanyanya akhirnya.
Kalista menatapnya sebentar, lalu menjawab tanpa ragu.
“Zevarion Hale.”
Nama itu jatuh dengan jelas, tanpa penekanan, tanpa dramatisasi. Namun dampaknya tidak sederhana.
Di dalam diri Airel, sesuatu terasa berhenti sejenak.
Seperti ada bagian yang menunggu reaksi tertentu, menunggu ingatan yang muncul, atau perasaan yang langsung tersambung. Namun yang datang justru kosong, tidak ada apa-apa selain sunyi yang tiba-tiba terasa lebih luas.
Zevarion Hale.
Airel mengulang nama itu di dalam kepala, perlahan, mencoba menangkap sesuatu yang mungkin terlewat. Ia berharap ada potongan ingatan yang muncul, sekecil apa pun, tetapi tidak ada yang datang.
Nama itu asing.
Sepenuhnya.
Ia menunduk sedikit, tangannya kembali ke buku, tetapi matanya tidak benar-benar membaca apa yang ada di sana. Tulisan di halaman itu terasa jauh, seperti tidak memiliki makna.
“Itu namanya?” gumamnya pelan.
Kalista mengangguk. “Iya. Kenapa?”
Airel tidak menjawab segera, karena ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Yang ia rasakan bukan kejelasan, melainkan kebingungan yang semakin dalam.
Ia mencoba mengingat masa kecilnya, potongan-potongan yang tidak pernah utuh, suara yang samar, dan janji yang masih ia pegang sampai sekarang. Semua itu pernah ia ulang berkali-kali dalam pikirannya, tetapi tidak ada satu pun yang menyebut nama itu.
Zevarion Hale.
Nama itu tidak pernah ada dalam ingatan yang ia simpan.
Airel menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Itu bukan nama yang aku kenal,” katanya akhirnya.
Kalista sedikit mengernyit. “Maksudnya?”
Airel menggeleng kecil. “Enggak tahu.”
Ia menatap ke depan lagi, pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang terasa semakin rumit. Jika pria itu memang orang yang sama dengan yang ia tunggu, seharusnya ada sesuatu yang cocok, sesuatu yang bisa ia kenali dengan jelas.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Jika dia memang orang yang sama, kenapa namanya berbeda?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa bisa ia tahan. Ia mencoba mencari jawaban, tetapi tidak ada yang benar-benar masuk akal.
Kalista memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Rel… kamu yakin ini orang yang sama?”
Airel terdiam, pertanyaan itu tidak bisa ia jawab dengan cepat seperti sebelumnya. Kata iya yang dulu terasa mudah kini tidak lagi sekuat itu.
Ia menunduk lagi, menggenggam ujung bukunya sedikit lebih erat. Pikirannya mencoba menyusun ulang semuanya, perasaan yang ia rasakan, tatapan yang mereka bagi, dan momen yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Semua itu nyata.
Namun kenyataan yang sekarang ia tahu justru tidak sejalan.
Zevarion Hale bukan nama dari masa lalunya, bukan nama yang pernah ia tunggu, dan bukan nama yang pernah ia simpan dalam ingatan.
Airel memejamkan mata sejenak, pikirannya terasa penuh.
Jika itu bukan dia, kenapa rasanya seperti itu.
Dan jika itu memang dia, kenapa semuanya tidak cocok.
Dua kemungkinan itu berdiri berseberangan, dan tidak ada satu pun yang bisa ia pilih dengan yakin.
Kelas berlanjut seperti biasa, tetapi Airel tidak benar-benar mengikuti sampai akhir. Waktu terasa berjalan lebih cepat, atau mungkin justru lebih lambat, sulit untuk ia pastikan. Yang jelas, pikirannya tidak pernah benar-benar kembali.
Sore datang tanpa banyak peringatan, dan seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya membawa dirinya ke halte itu lagi. Namun kali ini, ia tidak hanya membawa harapan.
Ia juga membawa pertanyaan.
Bangku di ujung halte masih kosong seperti biasa, jalan di depannya tetap ramai dengan orang yang datang dan pergi tanpa tujuan yang sama. Tidak ada yang berubah di luar, tetapi di dalam dirinya, semuanya terasa berbeda.
Airel duduk perlahan, tangannya langsung bergerak melihat jam.
17.43.
Ia menatap angka itu beberapa detik, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Nama itu kembali muncul, berulang, seolah menuntut untuk dipahami.
Zevarion Hale.
Airel mengangkat wajahnya, menatap jalan di depannya. Orang-orang berjalan seperti biasa, beberapa wajah terlihat asing, beberapa bahkan tidak ia perhatikan. Namun setiap kali ada sosok yang mendekat, jantungnya tetap bereaksi, berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Harapan itu masih ada.
Namun sekarang bercampur dengan sesuatu yang lain.
Keraguan.
Bagaimana kalau dia memang bukan orang yang sama.
Pertanyaan itu datang lagi, kali ini lebih sulit untuk diabaikan. Airel menggenggam tasnya pelan, napasnya terasa sedikit lebih berat. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin ini hanya kebetulan, bahwa ia hanya melihat sesuatu yang ingin ia lihat.
Namun perasaan itu tidak sepenuhnya mengikuti logika.
Setiap kali ia mengingat tatapan itu, sesuatu di dalam dirinya tetap bereaksi, seolah ada bagian yang mengenali meski pikirannya tidak.
Airel menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.
“Kenapa…” bisiknya pelan.
Ia tidak melanjutkan kalimat itu, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menyusunnya. Terlalu banyak hal yang tidak cocok, tetapi terlalu banyak juga yang terasa benar.
Ia mengangkat wajahnya lagi, menatap jalan yang mulai sedikit lebih sepi. Waktu terus berjalan tanpa menunggu, namun jawabannya tidak kunjung datang.
Dan di antara semua itu, satu hal menjadi semakin jelas.
Ini bukan lagi hanya tentang seseorang dari masa lalu.
Ini tentang seseorang yang berdiri di masa sekarang.
Dengan nama yang berbeda.
Dengan identitas yang tidak cocok.
Namun membawa perasaan yang sama.
Airel menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya tetap tertuju ke depan, menunggu seperti biasa, tetapi dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya menunggu kehadiran.
Melainkan juga jawaban.
Tentang siapa sebenarnya Zevarion Hale.
Dan kenapa, di balik nama yang terasa asing itu, ada sesuatu dalam dirinya yang tetap tidak bisa menganggapnya benar-benar asing.