Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 31
Masayu menikmati pizza itu, mulut mungilnya menggigit-gigit pizza itu membuat mulutnya penuh. Kemudian nyengir kepada Rana membuat anak itu terlihat menggemaskan.
Satu sisi, Laras terlihat canggung membuat Rana sesekali menatap dirinya.
"Oh iya, Mbak. Bagaimana kabar putra mbak?" tanya Rana seraya membersihkan pipi cabinya dengan tissue basah.
"Baik, sekarang dia udah sekolah juga." Jawab Laras.
"Syukurlah. Maaf, waktu itu aku belum sempat jenguk dia lagi." Ujar Rana dengan polos.
Laras menatap kedua bola mata Rana, tidak sedikitpun curiga tentang Rana. Laras menghela napas lalu membenarkan posisi duduknya, ia menyilangkan kaki.
"Oh iya, kalian... bagaimana bisa saling kenal?" tanya Laras santai.
Rana mengangkat wajahnya, lalu perempuan itu tersenyum seolah mengingat beberapa tahun lalu.
"Kami cuma kenal beberapa bulan saja waktu itu. Dan... akhirnya Mas Dipta datang melamarku. Satu bulan kemudian, kami menikah." Jawab Rana.
Laras mengangguk, ia meraih pizza dan menggigit kecil. Mengunyahnya dan menelan pizza itu.
"Lalu, bagaimana Mbak Laras bisa menjadi tutornya Mas Dipta sewaktu dia masih SMA?" tanya Rana mulai memancing.
Laras menatap Rana, dalam pikirannya Rana hanya wanita yang bersifat tenang.
Laras tersenyum, "aku...waktu itu kebetulan di kenalkan oleh temanku yang juga seorang guru les. Karena dia gak bisa lagi memberikan les karena cuti melahirkan, akhirnya aku datang...waktu itu aku masih baru masuk perkuliahan. Disitulah kami saling mengenal, Dipta orang yang cukup tertutup, namun semakin aku mengelnya...dia ternyata orang yang supel, ceria dan memiliki mimpi yang sama..."
Rana memotong ucapan Laras, "mimpi yang sama?"
Laras menggerakkan tangannya, "maksudnya... kepribadian kita hampir sama. Menyukai hal-hal yang ya... seperti photography, menulis jurnal, membaca buka sastra berjam-jam di toko buku."
Rana mendengarkan seksama. "Jadi...kamera yang waktu itu datang ke rumah itu...kamera dari mbak?"
Senyum Laras seketika menghilang, "i-itu...aku..."
Rana tertawa kecil. "Pantesan aja Mbak, suami aku...wah...kayanya aku harus mengenal Mas Dipta dari Mbak Laras ya. aku baru tahu kalau Mas Dipta menyukai hal-hal seperti itu. Mbak Laras tahu, waktu Mas Dipta membuka kotak itu, dua bola matanya benar-benar berbinar."
Laras diam memperhatikan Rana, aku kira dia akan tidak suka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore menjelang, Dipta menyetir mobilnya. Di sisinya Rana yang duduk memangku Masayu yang terlelap sembari memeluk boneka kelinci barunya.
"Oh iya Mas, Mbak Laras itu orangnya asyik ya. Bikin nyaman," ujar Rana tersenyum kecil.
Dipta melirik istrinya sekejap.
Hening sesaat.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya kalau dia bekerja di perusahaan kita?" tanya Dipta seolah membaca pikiran Rana.
Rana menoleh, lalu terkekeh kecil. "Maksud Mas? Bukan gitu...aku suka sama kepribadian dia, gitu aja. Lain kali aku akan ajak Mbak Laras buat jalan bareng."
"Mas sama Laras cuma teman lama, Ran. Kalau memang kamu gak suka sama Laras, Mas bisa kok mengeluarkan dia dari divisi itu." Ujar Dipta kembali.
"Kok Mas ngomongnya gitu?" tanya Rana tenang.
"Lisanmu memang berucap menyukainya. Tapi hatimu tidak, Ran." Jawab Dipta masih dengan nada biasa.
Rana melengos, wanita itu mengelus rambut putrinya yang bergerak karena merasa tidurnya terganggu.
"Terserah Mas mau bicara apa soal aku," cetus Rana dengan nada tak suka.
Dipta melirik istrinya yang terlihat tak suka dengan pembahasan dirinya dari mulutnya.
Tak terasa mereka sudah sampai di area perumahan hyarta residence. Dipta mengendarai mobilnya perlahan pelan, saat mobil terparkir di halaman rumah. Rana gegas keluar dari mobil dan meninggalkan Dipta yang menatapnya dari mobil.
Dipta membuka pintu mobil dan keluar, "selamat sore, Pak!" sapa satpam rumahnya ramah.
"Ya, sore." Jawab Dipta.
"Bundaaaaaa....."
Suara Alaric terdengar dari rumah ketika Rana baru saja membukakan pintu. Alaric berdiri di depannya dengan wajah ceria. Anak itu langsung memeluk kaki Rana.
"Mas Al udah mandi?" tanya Rana.
"Udah," jawab Alaric.
Dipta masuk, langsung menggendong Alaric dan membawanya ke ruang tengah. Duduk di sofa melepas lelahnya.
"Ayah, balusan di sekolah....Mas Al punya temen balu...namanya Raka, dia punya mainan balu...tapi...ada nama Mas Al di mainan itu." Curhat anak itu.
Dipta menelan ludahnya, ia teringat sore itu. ketika mereka tak sengaja bertemu. Dipta membawa mainan pesawat yang ia pesan langsung dengan meminta di tuliskan nama putranya disana. Namun, karena Raka- putra Laras melihat kotak mainan itu terus membuat Dipta merasa iba dan memberikan kotak mainan pesawat tersebut kepada Raka.
"Ayah, kenapa?" tanya Alaric seraya menatap ayahnya.
"Mungkin namanya sama, sama kamu Mas." Ujar Rana yang entah datang kapan.
Dipta menoleh ke arah istrinya. Perempuan itu duduk di sebelah suaminya.
"Tapi...nama lengkapnya sama kaya Mas Al." Ucap anak itu polos.
Rana menoleh ke arah suaminya yang tidak menjawab apa-apa.
"Ayah mandi dulu ya," sahut Dipta pada akhirnya.
Dipta menurunkan Alaric dari pangkuannya. Setelah Dipta pergi, Mbak Sari mendekati Rana dan Alaric.
"Bu, maaf. Barusan di sekolah...Mas Al di dorong sama anak baru itu, lengannya terluka." Ucap Mbak Sari takut.
Rana langsung memeriksa lengan Alaric. Anak itu memekik sakit kala lukanya tak sengaja tersentuh oleh ibunya.
"Aw! Bunda sakit..." ucap Alaric menahan pedih.
Rana melihat ada luka di sikut kiri putranya, luka itu cukup dalam. Alaric memperhatikan ibunya seksama.
"Mas Al ndak nangis, benelan...." ujar anak itu polos.
Rana menatap wajah putranya, "kok bisa sih, Mas Al dorong duluan temannya ya?" tanya Rana pelan.
Alaric menggelengkan kepalanya pelan, "Ndak. Raka yang dolong duluan Mas Al. Katanya Mas Al jangan pegang mainan pesawatnya."
"Nah, kalau gak di bolehin Mas Al jangan sentuh barang milik orang lain." Ucap Rana lembut.
"Tapi di mainan itu ada nama lengkap Mas Al." Bela anak itu.
"Nama Mas Al?" tanya Rana, alisnya mengerutkan.
Anak itu mengangguk, "iya. Alaric Pradipta Mahendra..."
kedua bola mata almond Rana membulat seketika. Pikirannya melayang pada satu nama.
Apa mungkin anak yang di maksud Alaric adalah anaknya Mbak Laras?
"Ya sudah. Mungkin namanya sama kaya Mas Al. Mas Al main dulu sama Mbak Sari ya, bunda mau mandi dulu." Ucap Rana pada akhirnya.
"Iya bunda." Jawab Alaric mengangguk.
...****************...
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, subscribe, follow juga ya☺️