NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Wabah Menjadi Senjata

...Chapter 25...

Di luar gua, ombak menghantam tebing dengan suara yang terdengar seperti amarah yang terpendam terlalu lama, dan Huan Zheng menggenggam lututnya lebih erat, karena untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa takut.

Bukan takut pada musuh yang bisa ia lihat, bukan takut pada kematian yang sudah ia hadapi ribuan kali, melainkan takut pada misteri yang berdiri tepat di sampingnya, tersenyum, dengan rambut putih yang bersinar di dalam gelap.

Di sisi lain gua, Ling Xu duduk diam dengan punggung menempel di dinding batu yang dingin, matanya menatap Huan Zheng yang tiba-tiba terdiam dengan pandangan kosong ke arah laut—dan di dalam benaknya sendiri, ia membiarkan suara batinnya bergumam, bukan dengan getaran yang gelisah seperti Huan Zheng, melainkan dengan nada yang tenang, yang hangat, seperti seseorang yang baru saja memenangkan pertarungan panjang melawan dirinya sendiri. 

"Aku sangat beruntung," gumamnya, dan untuk sesaat, ia merasakan denyut di dadanya—denyut dari delapan ratus ribu keping Lintang Kemanusiaan yang berputar pelan, dan di sela-sela denyut itu, ia bisa merasakan sesuatu yang lain: sisa-sisa daging wabah Kanker yang selama ini mengendap di kesadarannya, menumpuk seperti salju di musim dingin yang tidak pernah berakhir, diam, tidak bergerak, tidak terpakai, hanya menunggu. 

"Sejak awal—sejak pertama kali aku menerima Lintang Kemanusiaan yang masih utuh dari pria tua di dalam gua itu—sisa-sisa daging Kanker sudah ada di dalam kesadaranku. Bukan satu atau dua potong, melainkan bertumpuk-tumpuk. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, daging-daging itu terus bermunculan, seperti rumput liar yang tidak pernah bisa dicabut sampai ke akarnya." 

Ia tersenyum—senyum yang tidak lagi cerah seperti tadi, melainkan senyum yang lebih dalam, lebih kompleks, seperti orang yang baru sadar bahwa kutukan yang ia bawa selama ini ternyata bisa diubah menjadi senjata.

"Dan selama berbulan-bulan, aku hanya membiarkannya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan tumpukan daging yang terus membusuk di sudut kesadaranku itu. Aku tidak tahu apakah ia berbahaya, apakah ia berguna, atau apakah ia hanya sampah yang tidak bisa aku buang. Tapi kemudian—" 

Ia menghela napas, mengingat malam-malam panjang di kerajaan itu, di kota-kota darat, di tenda-tenda darurat tempat ia merawat para tentara yang sekarat. 

"... Kemudian aku mulai bereksperimen."

Dengan jari-jarinya yang dingin, Ling Xu menyentuh dadanya sendiri—tepat di tempat di mana delapan ratus ribu keping itu berdenyut—dan di dalam benaknya, ia melihat kembali semua percobaan yang ia lakukan dalam sunyi, di saat Huan Zheng terlelap mendengkur di atas gerobak sapi, di saat para pasiennya tertidur lelap setelah ia balut lukanya, di saat dunia sepi dan hanya ia sendiri yang terjaga. 

"Aku mencoba memanggilnya. Aku mencoba menyuruhnya bergerak. Aku mencoba membentuknya menjadi sesuatu—benang, cambuk, tameng, apa pun yang bisa membantu. Dan setiap kali aku gagal, setiap kali daging itu hanya berdenyut tanpa arah, setiap kali aku hampir menyerah dan membuang semuanya ke dalam lubang paling gelap di kesadaranku…." 

Ia menutup matanya, merasakan hangatnya denyut di dadanya, merasakan getaran dari sisa-sisa daging yang mulai bergerak.

Bukan dengan liar seperti di kedai arak, melainkan dengan teratur, dengan patuh, seperti anjing yang sudah dilatih dengan baik. 

"Aku terus mencoba. Sampai akhirnya, di kedai arak itu, ketika Huan Zheng hampir meledakkan dirinya sendiri, ketika tidak ada pilihan lain selain mati atau bertindak—aku berhasil. Aku berhasil memanggil seluruh tumpukan daging itu keluar dari kesadaranku. Aku berhasil mengubah tubuhku menjadi medium dari wabah Kanker. Aku berhasil meledakkannya—bukan untuk membunuh, melainkan untuk menyelamatkan." 

Ia membuka matanya, dan di hadapannya, Huan Zheng masih menatap laut dengan tatapan kosong, tidak tahu bahwa di dalam hati Ling Xu sedang berlangsung sebuah perayaan yang sunyi—perayaan seorang gadis yang selama ini hanya bisa menyembuhkan luka orang lain, yang selama ini hanya bisa membunuh musuh-musuhnya dengan tangan gemetar, yang selama ini hanya bisa berlari dan bersembunyi dan berharap, akhirnya menemukan bahwa kekuatan terbesarnya bukanlah terletak pada Lintang Kemanusiaan atau rambut putihnya atau dendam yang membara di dadanya, melainkan pada sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai kutukan, sebagai beban, sebagai sesuatu yang harus ia sembunyikan dari dunia—wabah Kanker yang sejak awal sudah menjadi bagian dari dirinya, yang sejak awal sudah menunggu untuk diakui, untuk diterima, untuk digunakan bukan sebagai alat pembunuh, melainkan sebagai tameng bagi orang-orang yang ia pilih untuk dilindungi. 

Langit di atas dunia yang dulu menjadi tempat persembunyian para Dewi itu tak pernah benar-benar bersih—selalu ada kabut tipis yang menggantung di ufuk timur seperti sisa-sisa duka yang tak mau menguap, dan di antara kabut itulah Ling Xu dan Huan Zheng melesat, dua bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk ditangkap mata awam, terlalu rendah untuk terdeteksi jaring-jaring Qi, terlalu hati-hati untuk disebut sebagai pelarian meskipun sejatinya itulah yang sedang mereka lakukan. 

Dua minggu telah berlalu sejak kehancuran Kota Naga Mutiara, dua minggu penuh pemulihan di dalam gua yang dingin dan sunyi, dan kini—dengan tubuh yang kembali bugar tanpa sisa pegal atau nyeri, dengan luka-luka yang sembuh total tanpa meninggalkan bekas—mereka terbang berdampingan melintasi gugusan awan yang menggumpal kelabu, sesekali saling melirik dengan tatapan yang tidak lagi penuh curiga seperti dulu, melainkan tatapan dua makhluk yang telah melewati api bersama dan tahu bahwa hanya satu sama lain yang bisa mereka andalkan di dunia yang tiba-tiba terasa lebih sempit dari sebelumnya. 

"Kau yakin dengan nama barumu?" tanya Huan Zheng, suaranya yang malas kini sedikit terselubung oleh kain hitam yang membalut setengah wajahnya—penyamaran sederhana namun efektif, karena yang paling dicari oleh para dewa di kota-kota udara bukanlah wajahnya, melainkan auranya yang dulu pernah mengguncang semesta. 

Ling Xu yang terbang di sampingnya dengan jubah biru tua yang tidak pernah ia kenakan sebelumnya—jubah hasil rampasan dari lemari besi kota laut sebelum hancur—mengangguk tipis, rambut putih bercorak warnanya kini tersembunyi di balik tudung tebal berlapis tiga, sehingga hanya ujung-ujungnya yang kadang terlihat saat angin terlalu berani menerbangkan kain penutup itu. 

"Lin Xue," jawabnya, nama yang ia pilih setelah bermalam-malam bergumul dengan kenangan—Lin dari hutan lebat tempat ia dulu bersembunyi sebagai anak-anak, Xue dari salju yang tak pernah jatuh di lembah kematian ibunya, dua suku kata yang terasa asing di lidahnya tetapi anehnya cocok seperti sarung tangan di tangan yang dingin. 

"Dan kau, Huan Zheng? Atau sebaiknya aku mulai memanggilmu dengan nama barumu mulai sekarang?"

"Zheng Huan," ucap pria itu dengan nada yang terdengar seperti sedang mencicipi buah asing untuk pertama kalinya—manis atau asam, ia belum bisa memutuskan—dan di sela-sela kata itu, Ling Xu bisa mendengar getaran kecil yang menandakan bahwa pria pemalas di sampingnya tidak sepenuhnya nyaman dengan identitas baru yang ia ciptakan sendiri, identitas yang hanya membalik urutan namanya tetapi sudah cukup untuk mengelabui para pemburu yang terlalu percaya diri. 

Sebab kabar tentang kehancuran Kota Naga Mutiara telah menyebar lebih cepat daripada wabah Kanker itu sendiri—dari dasar samudra ke puncak awan, dari kedai arak paling kumuh hingga istana-istana marmer di kota udara, semua orang berbisik tentang seorang dewi berambut putih yang melepaskan kutukan kuno, tentang seorang pria yang ternyata adalah salah satu dari tiga Roda Kultivasi yang selama ini dianggap telah lenyap, dan secara serempak—tanpa koordinasi, tanpa komando tunggal, hanya dengan naluri bertahan hidup yang sama—para dewa di wilayah mana pun, baik kota darat maupun kota udara, memasang target di atas kedua nama itu. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!