NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Sepanjang Trotoar Kota dan Perbincangan Kala Senja

Trotoar kota Wonosari sore itu seakan menjadi permadani panjang yang dibentangkan khusus untuk menyambut langkah mereka. Udara petang perlahan mengusir sengatan terik matahari, menggantikannya dengan semilir angin yang membawa serta aroma tanah kering dan dedaunan mahoni. Jenawa Adraw berjalan di sisi luar trotoar, membiarkan tubuh tegapnya menjadi barikade alami antara Sinaca Tina dan lalu lalang kendaraan bermotor di jalan raya.

Langkah keduanya tak diburu oleh waktu. Ritmenya konstan dan teramat santai, sangat bertolak belakang dengan derap langkah seorang panglima yang biasanya melangkah dengan dada membusung dan rahang mengeras. Hari ini, sang panglima menjelma menjadi seorang pemuda biasa yang tengah menikmati kemewahan sebuah perjalanan pulang.

"Langkahmu teramat pelan, Jenawa," tegur Sinaca memecah keheningan yang sejak tadi membentang. Gadis itu menoleh sekilas, menyembunyikan senyum simpulnya di balik buku-buku yang ia dekap. "Apakah fisikmu mulai memprotes karena tak terbiasa menempuh jarak sejauh ini tanpa bantuan mesin kendaraan?"

Jenawa terkekeh pelan, tawa renyahnya mengudara, mengalahkan suara klakson dari sebuah angkutan kota yang melintas lambat.

"Fisikku masih sanggup untuk diajak berlari mengelilingi alun-alun kota ini tiga putaran penuh, Sinaca," jawab Jenawa seraya memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku celana. "Namun, untuk apa aku mempercepat langkahku? Berjalan terburu-buru hanya akan memangkas waktuku bersamamu sore ini. Aku sengaja mengulur waktu, membiarkan mentari turun perlahan agar bayang-bayang kita bisa berjalan beriringan lebih lama."

Mendengar rayuan yang diselubungi oleh kelugasan bahasa baku tersebut, Sinaca menggelengkan kepalanya pelan. Rona tipis di pipinya adalah sebuah respons alamiah yang tak lagi bisa ia cegah setiap kali pemuda ini bersuara.

"Kau dan kiasan lebaymu itu seakan tak bisa dipisahkan," balas Sinaca. "Namun aku harus mengakui, menyusuri jalanan kota dengan berjalan kaki memberikan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Biasanya, dari balik kaca angkutan kota atau saat dibonceng olehmu, pemandangan ini hanya berlalu seperti kilatan cahaya."

Jenawa mengangguk setuju. Pandangannya menyapu deretan bangunan tua peninggalan masa lampau yang masih berdiri kokoh di sepanjang jalan utama kota. Gedung-gedung bergaya lawas dengan cat putih yang mulai memudar, tiang-tiang besar yang menjulang, serta atap-atap limasan yang menyimpan jejak peradaban dan sisa-sisa keagungan masa lalu.

"Kau benar. Kadang, kita terlalu terburu-buru mengejar tuju hingga lupa untuk meresapi apa yang ada di sekeliling kita," ucap Jenawa dengan nada yang mendadak lebih kontemplatif. Pemuda itu menatap sebuah bangunan kantor pos tua di seberang jalan. "Gedung-gedung tua itu, misalnya. Mereka telah berdiri di sana selama puluhan tahun, menjadi saksi bisu atas segala perubahan. Mereka melihat bagaimana jalanan ini bertransisi dari masa ke masa."

Sinaca sedikit memelankan langkahnya. Ia menatap Jenawa dengan saksama. Ada kedalaman di sepasang mata kelam pemuda itu yang jarang sekali diperlihatkan kepada dunia. Jenawa Adraw bukanlah sekadar pemuda berandalan yang mengandalkan otot; di balik jaket almamater dan reputasinya di jalanan, terdapat sebuah pemikiran yang luas dan ketertarikan pada hal-hal yang sarat akan nilai historis.

"Kau mengamati gedung tua itu dengan pandangan yang teramat lekat, Jenawa. Apakah kau menyukai sejarah?" selidik Sinaca, membiarkan rasa penasarannya mengambil alih.

Jenawa menoleh, membalas tatapan gadis itu dengan seulas senyum tipis. "Aku mulai menyukainya. Terutama ketika aku menyadari bahwa setiap tempat, setiap sudut kota ini, memiliki ceritanya sendiri. Mempelajari masa lalu membuatku sadar bahwa tak ada kejayaan yang abadi jika hanya dibangun di atas kekerasan. Dan aku rasa..." Jenawa menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Sinaca, "aku lebih memilih untuk membangun sebuah kisah yang damai di masa kini, daripada sekadar menjadi catatan kelam di masa depan."

Kata-kata itu meluncur dengan teramat tulus. Sinaca terdiam. Hatinya kembali dihangatkan oleh kesungguhan yang terpancar dari sosok Jenawa. Tak ada lagi bayang-bayang Agam, tak ada lagi noda darah di atas saputangan. Sore ini, di bawah langit Wonosari yang perlahan menguning, masa lalu yang kelam itu terasa telah benar-benar tertinggal di belakang.

Mereka kembali melanjutkan langkah dalam keheningan yang nyaman, diiringi oleh desir daun-daun kering yang tersapu angin. Hingga akhirnya, ujung jalan raya mulai memperlihatkan gerbang perumahan tempat Sinaca tinggal.

Pohon tanjung yang setia merindangi sudut pekarangan rumah Sinaca menyambut kedatangan mereka. Sinaca membalikkan badan di depan pagar besi bercat putih gading miliknya. Cahaya keemasan dari mentari senja yang hendak tenggelam menyorot wajah pemuda di hadapannya, membuat rahang tegas Jenawa terlihat kian menawan.

"Kita telah sampai di garis akhir perjalanan pejalan kaki kita, Jenawa," ucap Sinaca lembut. "Terima kasih karena telah sudi membuang waktumu untuk berjalan kaki di sisiku."

"Tak ada detik yang terbuang sia-sia jika itu dihabiskan bersamamu, Nona," Jenawa membungkukkan badannya sedikit, memancarkan pesona yang membuat jantung Sinaca kembali berdetak di luar ritme wajarnya. Pemuda itu kemudian kembali menegakkan tubuhnya. "Esok pagi, izinkan aku menjemputmu kembali. Tentu saja, dengan kuda besiku, agar Nona tak terlambat menyongsong bel masuk."

Sinaca tersenyum, mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan. "Pastikan mesin motormu tak mengaum terlalu keras hingga membangunkan tetanggaku. Hati-hati di jalan pulang, Jenawa. Dan... selamat beristirahat."

"Selamat sore, Sinaca."

Jenawa berdiri mematung di bawah rimbunnya pohon tanjung, memastikan Sinaca telah melangkah masuk dan mengunci pintunya dengan aman. Setelah siluet gadis itu menghilang di balik pintu kayu rumahnya, Jenawa perlahan membalikkan badan.

Perjalanan pulang seorang diri dengan berjalan kaki mungkin akan terasa meletihkan bagi sebagian orang, namun tidak bagi Jenawa. Saat ia mulai melangkah menyusuri trotoar yang mulai temaram, dadanya dipenuhi oleh sebentuk kemenangan yang hakiki. Ia tak membawa pulang piala maupun rampasan perang; ia hanya membawa sepotong senyum dan sebuah janji untuk hari esok yang jauh lebih damai.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!