Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #09
"seperti itu? Maksud mu? Kau mencoba untuk menghina nya?" Kata Zehan menatap Miko dengan tatapan tak bisa di jelaskan seperti apa itu.
"Tanggapan macam apa itu? Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, kenapa kau begitu sensitif? Maksud ku sayang sekali gadis cantik seperti dia mengalami kecelakaan dan membuat nya jadi seperti itu," ucap Miko menysun kembali kata-kata nya jadi lebih jelas.
"Bodoh," ucap Zehan yang kemudian melangkah pergi dari hadapan Miko.
"Ada apa dengan manusia itu?" ucap Miko menatap kepergian sahabat nya sambil meneguk segelas wine.
Sementara itu di sisi lain ...
"Bagaimana jalan-jalan nya? Apakah kau senang? Mana barang yang ingin kau beli?" ucap Arman kepada putri semata wayangnya saat Viola dan Pandu kembali ke mansion.
"Papa kenapa masih duduk di sana dan menonton televisi? Sudah jam istirahat," ucap Viola menepis pertanyaan sang papa dan memilih untuk memperhatikan kesehatan papa nya.
"Papa tau kau peduli dengan ku, tapi papa sendiri menunggu mu kembali, karena itu duduk di sini sambil menonton televisi," sambung Arman.
"Ohh, begitu," jawab Viola.
"Kau belum menjawab pertanyaan papa," lanjut Arman.
Viola terdiam dan menoleh ke arah Pandu yang saat ini ada di belakang nya sambil memegang pegangan kursi roda Viola dari belakang.
"Ingat, lima puluh juta," bisik Pandu ke telinga sang adik.
"Sangat seru pa, aku sampai lupa berbelanja, besok saja, aku akan minta Sekar menemani ku," ucap Viola sambil tersenyum.
"Hmm, baik lah, kalau begitu, Pandu bawah adik mu beristirahat di kamar," ucap papa Arman dengan hati tenang.
"Oke pa," jawab Pandu bergegas.
"Daa papa," kata Viola sambil melambaikan tangan nya.
"Daaa," ucap Arman membalas.
"Ya tuhan, terima kasih engkau telah menjawab doa ku selama ini, akhirnya putri kecilku yang ceria kembali ke pelukan kami semua, meskipun dengan cara seperti ini, aku tetap sangat bahagia, aku akan menjaga nya dengan lebih ketat mula sekarang, dia harus mendapatkan pasangan yang setara dengan dirinya yang istimewa. Istri ku, maafkan atas kelalaian ku selama ini, aku hampir kehilangan putri kita satu-satunya," batin papa Arman dia memejamkan matanya, menempelkan kedua tangan di dada sambil membayangkan wajah mendiang sang istri.
Sementara itu di kamar Viola.
"Istirahat dengan baik," kata Pandu setelah membantu sang adik naik ke atas ranjang dan menyelimuti nya dengan selimut tebal.
Viola tidak menjawab, dia mengambil ponselnya dan kemudian menyerahkan kepada sang kakak.
"Lima puluh juta nya belum di transfer, aku tahun kalau aku tidak bisa memejamkan mata ku," kata Viola sambil tersenyum kecil.
"Parasit kecil benar-benar menagih ku," kesal Pandu.
"Itulah yang kau janjikan, jika tidak aku akan mengadu kepada papa, kalau kau membawa ku ke bar dan aku tidak senang," ancam Viola kepada sang kakak.
"Menyebalkan, kau kah yang sengaja ingin ikut," omel Pandu lagi.
"Kak, kau tidak mungkin mengingkari janji mu di mobil tadi kan? Kau bilang aku harus mengatakan kalau aku senang kepada papa, dan kau akan memberikan aku uang saku," ucap Viola tak peduli.
"Baik-baik," jawab Pandu yang kemudian langsung mengambil ponselnya lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening sang adik, sebagai mana yang telah dia janjikan.
"Yey, terima kasih kak," jawab Viola yang kemudian menerima ponselnya kembali dari sang kakak dan tersenyum bahagia.
"Jangan boros," kata Pandu lagi.
"Cukup untuk dua hari," kata Viola lagi.
Pandu yang mendengar itu terdiam, senyum terlukis di kedua sudut bibirnya.
"Dia memang adiku yang dulu," batin Pandu.
"Sudah tidur lah, aku keluar dulu," ucap Pandu berdiri dari duduknya dan kemudian meninggalkan kamar Viola.
Viola pun memejamkan mata nya dan kemudian tertidur lelap setelah sang kakak pergi.
Sementara itu di sisi lain ...
"Silahkan tuan muda," seseorang membuka pintu mobil untuk Zehan.
Zehan masuk ke dalam mobil tersebut.
Mobil itu pun meninggalkan bar dalam sekejap.
"Tuan muda, apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Erik kepada Zehan yang saat ini menatap luar jendela mobilnya dengan tatapan kosong.
Erik adalah sekertaris sekaligus asisten pribadi nya Zehan, dalam kata lain dia adalah tangan kanannya Zehan.
"Tidak ada," kata Zehan singkat.
Satu jam kemudian.
Mereka pun akhirnya tiba di mansion keluarga Wijaya.
"Tuan muda!" Panggil Erik saat Zehan hendak melangkah masuk ke dalam mansion.
Zehan menghentikan langkah nya dan kemudian berbalik.
"Aku hampir lupa, hal-hal yang kau minta aku menyelidiki, sudah ku dapatkan semuanya," kata Erik sedikit terengah-engah.
"Katakan dengan jelas," ucap Zehan sambil menatap wajah Erik dengan penuh rasa penasaran.
"Malam itu nona muda Viola, sebelum kecelakaan terjadi, dia menunggu tuanangan nya di depan kantor catatan sipil, ini sudah yang kelima kalinya dia di perlakukan seperti itu, tuanangan nya malah pergi mengurus mantan kekasih nya ayang sekarat di rumah sakit, hal ini selalu jadi alasan laki-laki bernama Liam itu untuk membatalkan pernikahan mereka," ucap Erik panjang lebar.
Zehan yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Lalu?" ucap Zehan ingin tau lebih lanjut.
"Karena kecelakaan tersebut nona muda Viola koma selama tujuh hari, dan setelah bangun dia di nyatakan lumpuh sementara, tak hanya itu dia juga kehilangan ingatan nya selama tiga tahun terakhir, menurut informasi yang ku dapat tuan muda Pandu dan papa nya sangat senang atas kejadian ini di karenakan dengan cara itulah mereka bisa melepaskan nona muda Viola dari Liam," lanjut Erik.
"Baiklah, kau boleh kembali sekarang," ucap Zehan yang kemudian masuk ke dalam mansion setelah menerima penjelasan panjang dari Erik.
"Baik tuan muda," jawab Erik yanag sudah terbiasa dengan sikap dingin nya Zehan.
Erik pun meninggalkan mansion tersebut dan kembali ke apartemen nya.
"Tuan muda Zehan benar-benar tidak bisa di tebak, padahal jelas-jelas malam itu dia yang pertama kali menyelamatkan nona muda Viola, tapi kenapa dia tidak bicara sedikit pun pada wanita itu saat mereka bertemu tadi? Dia bahkan tidak datang menjenguk saat nona muda Viola di rumah sakit, tapi begitu penasaran sampai-sampai meminta ku menyelidiki nya," ungkap Erik sambil mengemudi mobil.
Ya, pada malam kecelakaan tersebut, Zehan lah yang pertama kalinya menyelamatkan Viola.
Flashback on.
"Tuan muda, di depan tidak bisa lewat, sepertinya ada kecelakaan," ucap Erik sambil mengemudi mobil.
"Terobos saja, tidak ada jalan lain, aku harus pergi ke bandara sekarang," ucap Zehan kepada Erik.
"Tapi tuan muda," jawab Erik kebingungan.
"Tunggu lima menit lagi," sambungan Zehan sambil memainkan ponselnya.
"Baik tuan muda," ucap Erik patuh.
Erik yang penasaran mulai memperhatikan kerumunan tersebut, dia pun tanpa sengaja melihat sosok yang terbujur kaku di tengah-tengah hujan itu.
"Tuan muda, bukan kah itu?" ucap Erik menatap ke arah belakang tempat di mana Zehan duduk.
Namun dia tidak lagi melihat Zehan di sana melainkan berlari di tengah-tengah hujan menerobos keramaian, menghampiri sosok yang terbujur kaku tersebut.
"Sepertinya dia lebih dulu menyadari," kata Erik ikut turun.
"Astaga! Viola!" ucap Zehan yang kemudian menghampiri Viola dan segera memangku nya.
"Tuan muda, dia benar-benar nona Viola?" kata Erik kebingungan.
"Tunggu apa lagi!? Hubungi Pandu dan ambulance!" ucap Zehan sambil memangku Viola.
Erik pun segera bertindak setelah itu.
Kenapa Erik mengenali Viola? Bagian ini adalah rahasia nanti di bab-bab seterusnya kalian akan menemukan alasannya.
Flashback off.
Begitulah kejadian malam itu, sebelum datang nya Pandu, Zehan lah yang terlebih dahulu menemukan Viola.
Sementara itu di sisi lain ...
"Liam, kenapa kau terlihat sangat lesu?" sapa seorang teman yang saat itu bergabung bersama Liam di sebuah bar.
Liam yang pikiran nya mulai campur aduk sama sekali tidak menangapi hal tersebut.
"Ada apa dengan anak ini?" ucap teman-teman Liam kebingungan.
Tak lama pintu bar terbuka, terlihat Laura yang berjalan masuk ke dalam bar tersebut dan menghampiri Liam.
"Kak Liam, kau dan Viola masih bertengkar karena aku?" ucap Laura yang saat ini mengatur posisi duduk di samping Liam.
"Ya, dia tidak membalas pesanku sudah sebelas hari dan nomer telepon nya juga tidak aktif," kata Liam dengan tatapan kosong.
Seketika teman-teman nya tau penyebab Liam jadi seperti ini saat itu.
Hans yang juga berada di sana seketika mual dan ingin muntah melihat kejadian menjijikkan di depan mata nya itu.
"Kenapa? Dia sudah moveone dari mu? Aku kira kau kehilangan apa sampai jadi seperti itu," ucap teman-teman Liam yang lain nya kecuali Hans, dia berbeda.
"Sudah lah kak Liam, semua ini salah ku, aku janji akan membantu mu untuk memperbaiki hubungan kalian, jadi jangan terlalu ambil pusing, ingat kesehatan mu lebih penting dari itu," kata Laura belagak paling baik dan polos memperhatikan kesehatan Liam.
"Aishhh, Liam sudah lah, bukan kah selama ini kau memang menganggap Viola sebagai penganti Laura? Sekarang Laura sudah kembali, kenapa kau tidak melepaskan Viola dan kembali bersama Laura," oceh teman-teman Liam yang bodohnya sama seperti Liam.
"Aku dan Laura tidak punya hubungan apapun, aku hanya merawat nya karena dia sakit, siapa sangka Viola begitu tidak toleransi," kata Liam sambil memijat alis nya.
"Cih, toleransi? Lima kali menunggu dan kau bilang dia masih tidak punya toleransi? Liam, kau benar-benar bodoh, kalian semua di sini juga sama bodohnya seperti dia, tapi ucapan kau tadi benar, sebaiknya memang Liam hanya cocok dengan Laura, wanita sakit-sakitan ini," ucap Hans melepaskan gelasnya dan kemudian berlalu pergi dari ruangan bar tersebut.
Semua mata tertuju ke arah Hans, mereka pertama kali nya melihat Hans bicara dengan tatapan benci seperti itu kepada Liam, dia bahkan membela Viola.
"Hey apa maksud mu! Hans!" teriak teman-teman yang lainnya namun tidak di gubris oleh Hans.
"Sekelompok sampah," ucap Hans yang kemudian meninggalkan bar.
Sementara itu Liam yang sudah setengah mabuk terus meminum minuman nya tampa henti.
****
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin