Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10:Pusaka Kedaton Majapahit
Setelah gema doa di Pesantren Al-Huda mereda dan musuh-musuh tersingkir, Nyai Gayatri Sekar Arum berdiri di tengah halaman. Angin malam yang tadinya berbau mistis, mendadak berubah menjadi harum bunga melati yang sangat kental.
"Anak-anakku, Arjuna Hidayat... Faris Arjuna... sudah saatnya kalian tahu di mana tempat kalian yang sebenarnya. Ayo ikut Simbok pulang," ucap Nyai Gayatri dengan nada yang penuh wibawa.
Faris mengerutkan dahi. "Lho, Mbok? Pulang ke mana lagi? Bukannya rumah kita ya yang kecil di belakang pesantren ini?"
Arjuna Hidayat hanya tersenyum tipis, seolah sudah tahu rahasia besar ibunya. "Ikuti saja, Dikmas. Kamu akan melihat sisi Sidoarjo yang tidak pernah ada di peta dunia."
Mereka berjalan menuju sebuah area hutan jati tua di pinggiran Gedangan yang selama ini dikenal angker dan tak bisa dimasuki sembarang orang. Begitu Nyai Gayatri menyentuh sebuah pohon beringin kembar, udara di depan mereka seolah bergetar dan terbuka seperti tirai gaib.
"Waduh Mas Jono! Itu pintunya kok kayak kebuka sendiri?!" seru Brewok yang ikut membuntuti dari belakang sambil mengucek-ucek mata.
Di depan mereka, kini berdiri sebuah istana megah dengan arsitektur bata merah khas Majapahit. Gapura-gapura tinggi menjulang, kolam teratai yang jernih, dan lampu-lampu obor yang menyala otomatis menyambut kedatangan mereka.
Begitu pintu gerbang utama terbuka, sepuluh dayang cantik mengenakan kemben jarik berwarna emas keluar dan langsung bersujud di hadapan Nyai Gayatri.
"Selamat datang kembali, Gusti Nyai Gayatri," ucap sepuluh dayang itu serentak dengan suara yang merdu.
Faris Arjuna langsung melongo. Mulutnya hampir tidak bisa tertutup melihat kemewahan di depannya. "Mbok... ini rumah kita? Kita ini sebenarnya orang kaya atau gimana, Mbok? Kok ada dayangnya sepuluh begini? Berarti selama ini Faris jadi preman terminal itu cuma akting, Mbok?"
Nyai Gayatri tertawa kecil melihat ekspresi putra bungsunya. "Iki omahmu sing asli, Le. Iki dudu soal bondo dunyo, tapi amanah leluhur sing kudu dijogo. Sepuluh dayang iki dudu sembarang pelayan, mereka iki penjaga gerbang sing nunggu keturunane Raja Majapahit balik." (Ini rumahmu yang asli, Nak. Ini bukan soal harta dunia, tapi amanah leluhur yang harus dijaga. Sepuluh dayang ini bukan sembarang pelayan, mereka ini penjaga gerbang yang menunggu keturunannya Raja Majapahit kembali).
Brewok langsung merapikan rambutnya yang berantakan menggunakan air kolam. "Mas Jono, kalau dayangnya ada sepuluh, berarti saya boleh minta nomor WhatsApp-nya satu nggak ya? Siapa tahu nasib sikat WC saya berubah jadi nasib pangeran di sini."
Jono menampol dahi Brewok. "Nomor WhatsApp gundulmu! Ini dayang gaib, Brewok! Salah-salah kamu malah dijadikan tumbal kalau macem-macem!"
Faris melangkah masuk ke dalam aula istana yang beralaskan marmer kuno. Di tengah ruangan, terdapat dua singgasana kayu jati dengan ukiran naga yang melambangkan kekuatan langit dan bumi.
"Duduklah, Arjuna Hidayat sebagai Paku Bumi, dan Faris Arjuna sebagai Panglima Perang. Di istana ini, kalian akan mendapatkan kekuatan yang sebenarnya untuk menghadapi badai yang lebih besar," tegas Nyai Gayatri.
Faris duduk di kursinya, merasakan energi yang luar biasa mengalir dari dasar lantai istana itu. Ia sadar, hidupnya sebagai berandal terminal kini benar-benar telah berakhir, dan tugasnya sebagai ksatria Majapahit baru saja dimulai
Faris Arjuna masih mengelus sandaran kursi singgasana yang terasa dingin namun bergetar hebat saat disentuh. Ia menatap ke langit-langit aula yang dihiasi relief emas murni. Di sampingnya, Arjuna Hidayat duduk dengan tenang, matanya terpejam seolah sedang berkomunikasi dengan energi bangunan tua ini.
"Mbok, niki saestu nggih? Kulo mboten ngimpi?" (Bu, ini beneran ya? Saya nggak mimpi?) tanya Faris sambil mencubit pipinya sendiri.
Nyai Gayatri Sekar Arum tersenyum anggun. Beliau memberi isyarat kepada salah satu dayang yang membawa nampan perak berisi sebuah keris kecil berbalut kain sutra kuning.
"Iki dudu mimpi, Le. Iki warisane Eyangmu sing kudu tak serahne nang kowe. Jenenge Keris Kyai Jalak Suro. Iki pasangane Tasbih sing tak kekne mau," (Ini bukan mimpi, Nak. Ini warisan Kakekmu yang harus kuserahkan padamu. Namanya Keris Kyai Jalak Suro. Ini pasangan Tasbih yang kukasihkan tadi) ucap Nyai Gayatri.
Faris menerima keris itu. Begitu digenggam, hawa panas menjalar ke lengannya, seolah ada singa yang sedang mengaum di dalam darahnya.
Sementara itu, di sudut aula, Brewok sedang sibuk merapikan kumisnya di depan sebuah cermin besar berbahan perunggu. Ia mencoba mendekati salah satu dayang yang sedang berdiri mematung memegang obor.
"Ngapunten, Mbak Dayang... jenenge sinten? Sampun gadah pacar nopo mboten?" (Maaf, Mbak Dayang... namanya siapa? Sudah punya pacar apa belum?) bisik Brewok sambil pasang aksi sok keren.
Dayang itu tidak menjawab, hanya matanya yang mendadak berubah menjadi biru terang sebentar, membuat Brewok langsung loncat ke belakang Jono.
"Aduh Mas Jono! Dayange dudu menungso biasa! Matane iso nyorot koyo lampu beko!" (Aduh Mas Jono! Dayangnya bukan manusia biasa! Matanya bisa menyorot seperti lampu beko!) teriak Brewok ketakutan.
Jono hanya menepuk jidatnya. "Wis tak kanda'i, Brewok! Iki dayang piningit. Fokus wae njogo keamanan, ojo malah njogo jodoh!" (Sudah kubilang, Brewok! Ini dayang pilihan. Fokus saja jaga keamanan, jangan malah jaga jodoh!).
Nyai Gayatri kemudian berdiri dan mengajak mereka menuju sebuah balkon yang menghadap ke arah lembah gaib. Dari sana, terlihat ribuan cahaya kecil yang terbang di antara pepohonan jati.
"Arjuna Hidayat, tugasmu menjaga ketenangan batin Sidoarjo. Dan kamu, Faris Arjuna, dengan keris ini, kamu adalah perisai fisik bagi siapa saja yang terzalimi. Sepuluh dayang ini akan membantumu berlatih menguasai ilmu Bayangan Majapahit," perintah Nyai Gayatri.
Faris menatap keris di tangannya, lalu menatap sepuluh dayang yang kini berdiri melingkarinya. Ia tahu, mulai malam ini, latihan fisiknya di terminal tidak ada apa-apanya dibanding latihan tingkat tinggi di dalam istana gaib ini.
"Nggih, Mbok. Kulo siap. Anggep wae terminale pindah nang kene, tapi musuhe dudu preman maneh, tapi demit soko gunung!" (Iya, Bu. Saya siap. Anggap saja terminalnya pindah ke sini, tapi musuhnya bukan preman lagi, tapi setan dari gunung!) ucap Faris semangat.
Arjuna Hidayat membuka matanya, menatap adiknya dengan bangga. "Ingat Dikmas, semakin tinggi kekuatanmu, semakin tunduk sujudmu