NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lanjutan...

Pagi itu Kirana datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat kerja. Tapi karena dia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, cincin perak dengan goresan di dalamnya selalu muncul. Samar. Menggoda. Seperti benda itu sengaja bersembunyi di balik kelopak matanya.

Meja kerjanya berantakan. Tumpukan berkas, secangkir kopi yang sudah dingin sejak kemarin, dan satu lembar sticky note tempelan dari timnya: "Laporan Q3 deadline hari ini. Jangan lupa." Tulisan biasa. Tapi Kirana menatapnya lama, karena tulisan itu terasa asing. Bukan dari segi makna, tapi dari rasa. Seolah ada jeda antara matanya melihat dan otaknya memahami.

"Kirana? Lo nggak kenapa-napa?"

Suara Risa, teman satu tim, membuatnya tersadar. Kirana menggeleng cepat. Mungkin terlalu cepat.

"Kurang tidur aja," jawabnya. Suaranya terdengar datar. Bahkan di telinganya sendiri.

Wei mengernyit, tapi tidak memaksa. "Tim kita ada rapat jam sebelas nanti. Jangan keluar lagi ya, soalnya kamu kemarin sering ilang."

Kirana hanya mengangguk. Dia menyalakan laptop. Layar menyala. Inbox penuh. Tiga belas pesan belum dibaca. Tapi matanya tertarik ke sudut kanan bawah layar. Refleksi dirinya di sana. Wajahnya pucat. Dan di belakangnya... ada bayangan samar? Kirana menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dinding abu-abu kantor. Dan poster motivasi yang sudah luntur.

Dia menarik napas. Menghitung sampai lima. Lalu membuka file laporan Q3. Angka. Grafik. Diagram. Semuanya masuk akal. Semuanya terstruktur. Tapi semakin lama dia membaca, semakin terasa ada yang aneh. Bukan dari datanya, tapi dari perasaannya. Seperti sedang membaca sesuatu dalam bahasa asing yang dia pahami kata per kata, tapi tidak pernah bisa merasakan artinya.

Pergelangan tangannya berdenyut lagi. Sekali. Lalu berhenti.

Kirana menekannya dengan ibu jari. Keras.

"Jangan sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar.

Lalu dering telepon kantor memecah keheningan. Kirana mengangkat gagangnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Halo?"

"Kirana? Tolong ambil berkas di lantai tiga. Ruang arsip. Cepet ya, klien udah nunggu."

Perintah itu datang. Kirana berdiri. Langkahnya otomatis. Tapi begitu sampai di lorong menuju lift, dia berhenti. Karena di ujung lorong itu, aroma dupa. Tipis. Samar. Tapi pasti.

Dan Kirana tahu: dia tidak akan sampai ke ruang arsip.Lorong itu lebih panjang dari biasanya.

Bukan secara fisik—Kirana tahu betul panjangnya hanya belasan meter dari meja kerja ke lift. Tapi setiap langkah yang dia ambil terasa seperti ditarik mundur oleh sesuatu yang tak terlihat. Aroma dupa itu makin jelas. Hangat, sedikit manis, dengan sisa pahit yang menempel di tenggorokan.

Dia berhenti lagi.

Lampu neon di atas kepalanya berkedip sekali. Lalu stabil. Tapi cukup untuk membuat bayangan di ujung lorong tampak bergerak.

Bukan bergerak.

Bergeser.

Seperti ada sesuatu yang tadinya berdiri di sana, lalu mundur setengah langkah saat Kirana memperhatikannya.

“Kamu lihat itu juga?”

Suara itu bukan dari luar.

Itu dari dalam kepalanya.

Kirana menutup mata sejenak. Napasnya dia tarik dalam. Satu… dua… tiga… empat… lima.

Saat matanya terbuka lagi, lorong itu kosong.

Bersih. Terang. Normal.

Lift di ujung sana berdiri diam, pintunya tertutup rapat, indikator lantainya mati.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi bau dupa itu masih ada.

Kirana berjalan lagi. Lebih cepat kali ini. Tumit sepatunya memantul di lantai keramik, menciptakan gema yang terlalu nyaring untuk lorong sekecil ini.

Tok. Tok. Tok.

Setiap langkah seperti dijawab.

Tok. Tok.

Dia berhenti mendadak.

Gema itu tidak ikut berhenti.

Satu langkah tambahan terdengar.

Pelan.

Tepat di belakangnya.

Leher Kirana menegang. Ada dorongan kuat untuk menoleh, tapi tubuhnya seperti menolak. Seolah ada insting purba yang berbisik: kalau kamu melihatnya, itu jadi nyata.

Dan kalau itu nyata…

Pintu lift tiba-tiba berbunyi.

Ding.

Terbuka perlahan.

Kirana menoleh. Terlalu cepat. Terlalu panik.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di dalam lift.

Hanya cermin besar di dinding belakangnya.

Dan di cermin itu Kirana melihat dirinya sendiri.

Dan satu sosok lain berdiri tepat di belakangnya.

Kirana membeku.

Refleksi itu jelas. Tidak samar. Tidak kabur. Sosok itu tinggi, sedikit membungkuk, wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan, tapi bahunya… bahunya seperti terlalu sempit untuk tubuhnya sendiri.

Seperti tidak pas.

Seperti dipaksakan.

Napas Kirana tertahan. Dia ingin menoleh. Ingin memastikan. Tapi tubuhnya terkunci.

Refleksi itu bergerak lebih dulu.

Perlahan.

Kepalanya miring.

Seperti sedang memperhatikan Kirana.

Lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.

Sosok itu mengangkat tangannya.

Dan di jari manisnya… ada cincin perak.

Persis.

Dengan goresan halus di bagian dalam.

Pergelangan tangan Kirana berdenyut lagi. Kali ini lebih kuat. Lebih dalam. Seperti ada sesuatu yang mencoba keluar dari bawah kulitnya.

“Jangan lihat.”

Suara itu lagi.

Lebih dekat.

Lebih jelas.

Kirana tersentak. Refleksi di cermin kembali normal. Hanya dia sendiri. Tidak ada siapa-siapa.

Lift masih terbuka. Menunggu.

Seolah mengundangnya masuk.

Tapi Kirana mundur satu langkah.

Lalu dua.

Jantungnya berdetak terlalu keras, sampai terasa di tenggorokan. Dia menoleh ke lorong di belakangnya kosong. Sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Tapi perasaan diawasi itu tidak hilang.

Justru makin pekat.

Seperti udara yang menekan paru-parunya dari segala arah.

“Kirana.”

Kali ini bukan dari dalam kepala.

Suara itu datang dari lift.

Pelan.

Nyaris seperti bisikan.

Tapi jelas menyebut namanya.

Kirana menatap pintu lift. Tenggorokannya kering. Dia tahu dia seharusnya pergi. Kembali ke meja. Mengabaikan semua ini. Menganggap ini hanya efek kurang tidur.

Logis.

Masuk akal.

Aman.

Tapi kakinya tidak bergerak ke arah itu.

Sebaliknya, dia melangkah maju.

Satu langkah.

Masuk ke dalam lift.

Udara di dalamnya lebih dingin. Tidak seperti pendingin ruangan biasa. Ini dingin yang lembap. Seperti ruang yang jarang dibuka.

Pintu lift menutup di belakangnya dengan suara pelan.

Klik.

Kirana berdiri diam di depan panel tombol.

Lantai tiga.

Jari telunjuknya menggantung di udara.

Tapi sebelum dia sempat menekan

Tombol itu menyala sendiri.

Lift mulai bergerak.

Turun.

Bukan naik.

Angka di panel berubah.

5… 4… 3…

Lalu melewati 3.

2… 1…

Tidak berhenti.

Angka berikutnya muncul.

-1

Napas Kirana tercekat.

Gedung ini tidak punya basement.

Dia tahu itu.

Semua orang tahu itu.

Tapi lift terus bergerak.

-2

Lampu di dalam lift mulai meredup.

Aroma dupa memenuhi ruang sempit itu, lebih pekat dari sebelumnya. Hampir mencekik.

Pergelangan tangan Kirana terasa panas sekarang. Bukan sekadar denyut. Seperti terbakar dari dalam.

Dan di cermin lift

Refleksi itu muncul lagi.

Kali ini berdiri tepat di sampingnya.

Lebih dekat.

Terlalu dekat.

Dan perlahan… sosok itu menoleh ke arahnya.

“Kamu akhirnya turun juga.”

Lift berhenti.

Ding.

Pintu terbuka.

Dan yang menunggu di luar… bukan lantai mana pun yang pernah Kirana lihat.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!