Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Pria tadi berjalan mendekat. Penampilanya formal, mengenakan kemeja biru langit di gulung batas siku, celana licin dengan sepatu hitam mengkilat. Sikap maskulinnya membuat Alena semakin mengerutkan dahi penuh tanya.
"Benar ini kediaman Juragan Dewan?"
Alena mengangguk. "Benar, tapi Juragan sedang tidak ada di rumah."
Pria tadi sedikit berpikir. Tapi di kiranya bukan masalah besar, lalu kembali berkata, "Anda Istrinya? Jika iya, ada yang ingin saya bicarakan masalah bisnis."
Perasaan Alena sudah mulai tak enak. Dengan perasaan ragu, ia mempersilahkan pria asing tadi untuk masuk.
Dan kebetulan, di dalam Bu Sarah sedang menimang Delan di ruang tamu. Melihat menantunya masuk dengan seorang pria asing, lantas tatapan Bu Sarah seolah tengah bertanya.
Alena juga tidak terlalu paham. Pria tadi membuka suara. "Ada yang ingin saya bicarakan mengenai permasalahan bisnis dengan Juragan Dewan."
"Saya Ibunya, silahkan duduk!" persilah Bu Sarah. Dari belakang Bik Laras datang menggantikan gendongan Delan dan membawanya masuk.
Alena sudah kembali lagi membawakan secangkir teh hangat sebagai jamuan tamunya. "Silahkan di minum, hanya sekedar air."
"Terimakasih," jawab pria tadi singkat. Setelah menarik napas panjang, pria tadi mulai membuka suara. "Sebelumnya saya memohon maaf. Kedatangan saya hanya ingin menanyakan, perihal dana tanam saham saya senilai 10 Milyar kepada Juragan Dewan 2 tahun lalu."
Deg!
Bu Sarah dan Alena saling tatap sejenak. Matanya terbuka sedikit lebar, fakta barusan membuat hati kedua wanita itu terasa sesak.
"10 Milyar?" Alena mengulangi kalimat itu.
Pria tadi mengangguk pasti. "Benar. Saya punya semua bukti. Dari penandatanganan di atas matrei, kehadiran Juragan bersama tangan kanannya. Semua sudah saya abadikan."
"Maaf sebelumnya, nama kamu siapa, Nak?" Bu Sarah memegang dadanya yang mendadak terdetak tak beraturan.
"Panggil saja Danu, Bu!" jawabnya. "Sudah satu tahun ini saya mencoba menghubungi Juragan Dewan, tapi tangan kanannya selalu bilang jika Juragan sedang di luar kota. Dan dana sebanyak itu, sampai saat ini tidak ada keuntungan kepada pabrik saya."
Alena sudah ketar ketir. "Maaf, saya menyela. Bukanya semua prosedur sudah Anda dan Mas Dewan setujui sebelumnya?"
"Jika sesuai surat perjanjian, keuntungan yang saya dapat seharusnya setelah 6 bulan kontrak kerja di tanda tangani. Tapi hingga kini, pabrik saya tidak mendapatkan apa-apa dari jalinan kerja sama itu. Ini sama saja seperti saya memberikan uang 10 Milyar tadi secara cuma-cuma. Jika dalam kurun 1 bulan terakhir ini dana pabrik tidak kembali, maka saya akan menyita semua aset penting, termasuk pabrik Juragan!" jelasnya.
Tubuh Bu Sarah seketika melemah. Dadanya berdekat tak dapat ia kontrol. Ucapan pria tadi membuat pikiranya mengikat, hingga tubuhnya luruh terasa lemas.
"Bu... Ya Allah....." Alena tersentak. Wajahnya sangat cemas.
Pria bemama Danu itu juga tak kalah panik. Bu Sarah sampai tak sadarkan diri.
"Siapapun Anda, tolong bawa mertua saya ke rumah sakit. Gara-gara Anda mertua saya jadi pingsan," kesal Alena.
Masalah seakan datang secara beruntun akhir-akhir ini. Semua itu meledak dalam kepalanya. Apalagi di tambah mertuanya saat ini sakit.
Juragan Danu bukan orang yang lari dari tanggung jawab. Ia bersedia membawa Bu Sarah ke rumah sakit bersama Alena. Sepanjang perjalanan itu, Alena berusaha menghubungi Dewan, namun tak sekalipun panggilan suaminya terjawab.
Biar bagaimana pun, suaminya itu harus tahu jika Ibunya di larikan ke rumah sakit.
*
Drttt!!!
"Mbak Alena? Ngapain dia telfon Mas Dewan? Jangan-jangan Mbak Alena mau bujuk Mas Dewan supaya kembali ke rumah dan tinggalin aku, gitu? Nggak-nggak! Biarin aja deh," dengan teganya, Tiyas malah menyeret tombol merah itu.
Wanita muda itu berjalan menuju depan, Iparnya baru saja menyelesaikan pembayaran rumah yang mereka tinggali saat ini.
"Sudah selesai, Mas?" Tiyas berhenti di samping sofa, melihat Pegawai Perumahan baru saja pergi.
"Sudah, Tiyas!" Dewan bangkit. "Tapi sepertinya saya tidak bisa tinggal sama kamu di sini, Tiyas!"
Tiyas menegakan wajahnya merasa tak terima. "Apa maksud kamu, Mas? Kamu mau kembali ke rumah itu setelah Mbak Alena mengusir kita?"
Dewan memijat pangkal hidungnya. Napasnya berhembus lirih. Semenjak perselingkuhannya dengan Tiyas terbongkar, pikiran Dewan menjadi tak karuan.
"Mas... Aku udah lama nunggu kamu! Jalinan kita juga tidak ada keterpaksaan. Kita saling suka! Rumah sudah kita dapat, aku minta sama Mas Dewan buat segera nikahin aku!" Sergah Tiyas.
Dewan menatap dengan sorot mata tajam. Ia tak menyangka Iparnya itu akan meminta tanggung jawab darinya.
"Sampai kapan pun saya tidak akan menikahimu, Tiyas! Saya ini masih suami sahnya kakak kamu! Lagian... Selama ini saya juga sudah memenuhi semua kebutuhan kamu. Saya rasa itu cukup untuk kamu diam!" Balas telak Dewan.
Tiyas semakin meradang. Matanya terbuka lebih lebar, bahkan wajah bersihnya sampai memerah.
"Mas... Ini nggak adil sekali sama aku! Lalu... Bagaimana jika aku sampai hamil anak kamu? Gimana masa depan dia, Mas?" Beberapa hari sering mual, Tiyas rasa memang dirinya saat ini tengah mengandung buah cinta dari iparnya.
Hahhh!!!
Dewan mendesah kasar, lalu melenggang keluar rumah begitu saja. Sore ini ia ingin bertemu dengan putranya, dan meminta maaf kepada sang Istri atas kekeliruan yang dirinya buat selama ini.
Mobil Xpander itu melesat keluar dari kebupaten Gunung Kidul, menuju desa Wonosari, dimana kediaman anak Istrinya berada.
Sebelum masuk, Dewan agak mengernyit. Gerbang rumahnya terbuka begitu saja. Hari ini gudang di sebelah juga sepi. Karena memang belum ada panen hasil bumi miliknya.
Dewan bergegas masuk. Suara tangisan putranya pecah menyambut kedatangannya. "Delan?" Perasaan Dewan sudah tak enak. Ia segera masuk ke ruang tengah, dan membuat Bik Laras dan Mbok Minah tersentak.
"Juragan? Anda pulang?"
"Mbok... Dimana Istri saya? Kenapa Delan sampai nangis seperti ini?" Dewan mengambil alih bayinya, dan ia timang-timang dengan gerakan kaku.
Mbok Minah membuka suara, "Non Alena membawa Ibu ke rumah sakit, Den! Siang tadi Ibu datang ke sini. Tapi setelah tadi ada tamu, Ibu langsung nggak sadar. Terus di bawa Mbak Alena sama Tamunya tadi ke rumah sakit."
Dewan mengernyit. "Siapa, Mbok?"
"Saya juga nggak tahu, Juragan! Tapi intinya, Ibu kaget dan langsung nggak sadar," timpalnya lagi.
Dalam dekapan Ayahnya, Delan sama sekali tak rewel. Tangisanya berhenti, isakannya mulai berkurang. "Delan... Maafkan Ayah. Maaf jika Ayah belum bisa jadi sosok siaga buat kamu."
Puas menatap wajah damai Putranya, Dewan meninggalkan kecupan lembut pada kepala Delan, lalu segera menyerahkan kepada Bik Laras lagi.
"Bik, saya titip putra saya dulu. Saya mau susulin Istri saya ke rumah sakit," pamitnya.
Namun ketika Dewan hendak merogoh sakunya, ia baru sadar rupanya gawai itu masih tertinggal di perumahannya dengan Tiyas.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa