Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan De La Vega
Malam itu, kediaman De la Vega bermandikan cahaya lampu gantung kristal yang megah, namun atmosfer di dalamnya lebih mirip dengan ruang interogasi daripada ruang perjamuan. Don Marco De la Vega telah melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh siapa pun di Aethelion, ia mengundang musuh bebuyutannya, Perdana Menteri Elian Theron Valerius, untuk makan malam pribadi dengan alasan "rekonsiliasi demi stabilitas pasar".
Lyra berdiri di puncak tangga besar, mengenakan gaun sutra hitam yang melekat sempurna, memberikan kesan misterius sekaligus tangguh. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya tetap sedingin es. Ia tahu ini adalah jebakan. Ayahnya tidak mencari perdamaian, ia mencari retakan dalam sandiwara mereka.
Kedatangan sang Singa
Sebuah limusin hitam berhenti di depan pintu utama. Elian keluar dengan setelan tuksedo yang sangat rapi. Ia melangkah masuk dengan kepercayaan diri seorang pria yang tahu bahwa ia sedang berjalan ke dalam sarang musuh, namun tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
"Perdana Menteri Valerius," sapa Don Marco, berdiri di aula utama dengan tangan terbuka, sebuah gestur keramahan yang terasa sangat palsu. "Terima kasih telah memenuhi undangan mendadak ini."
"Tuan De la Vega," balas Elian dengan suara baritonnya yang tenang. "Dalam politik, tidak ada musuh yang abadi, hanya kepentingan yang abadi. Jika Anda ingin bicara tentang stabilitas, saya adalah orang pertama yang akan mendengarkan."
Pandangan Elian beralih ke Lyra yang sedang menuruni tangga. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Tidak ada binar cinta, tidak ada kehangatan, hanya tatapan tajam dua rival yang saling menilai. Elian mengangguk singkat, sebuah gestur formalitas yang sangat kaku, tepat seperti yang diharapkan Don Marco.
Ketegangan di Meja Makan
Perjamuan berlangsung di ruang makan formal yang diterangi lilin. Pelayan menyajikan hidangan dengan keheningan yang mencekam. Don Marco memimpin percakapan dengan kepiawaian seorang veteran.
"Aku sangat terkesan dengan audit pajakmu, Elian," ujar Don Marco sambil menyesap anggur merahnya. "Sangat agresif. Sangat detail. Hampir seolah-olah kau tahu persis ke mana harus mencari di dalam ribuan server kami."
Elian memotong dagingnya dengan tenang. "Itu adalah tugas intelijen keuangan saya, Marco. Kami hanya mengikuti jejak digital yang ada. De la Vega adalah perusahaan besar, wajar jika ada debu di sudut-sudut yang jarang dibersihkan."
Lyra menimpali dengan nada sinis yang tajam. "Sayangnya, audit Anda hanya membuang-buang waktu staf saya, Tuan Valerius. Jika Anda ingin mencari debu, cobalah periksa kabinet Anda sendiri yang baru saja kehilangan seorang Sekretaris."
Don Marco memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Ia mencari mikro ekspresi, getaran suara, atau kontak mata yang terlalu lama. Namun, Lyra dan Elian adalah aktor yang luar biasa. Mereka saling menyerang secara verbal dengan kebencian yang tampak sangat autentik.
Jebakan sang Patriark
"Bicara tentang Mateo Valerius," sela Don Marco, suaranya tiba-tiba merendah. "Penyelidikku menemukan sesuatu yang menarik di Sektor 4, dekat gudang tua tempat Mateo ditangkap. Ada saksi yang melihat seorang wanita dengan postur yang sangat mirip dengan putriku turun dari mobil hitam tanpa plat nomor beberapa jam sebelum penggerebekan."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Lyra merasakan darahnya mendingin, namun ia tidak meletakkan garpunya.
"Saksi?" Lyra tertawa pendek, nada suaranya penuh penghinaan. "Ayah, di Sektor 4, saksi bisa dibeli dengan harga satu botol wiski murah. Jika postur tubuh adalah buktimu, maka setengah dari model di Aethelion adalah tersangka."
Don Marco beralih ke Elian. "Dan kau, Elian. Kau berada di sana secara pribadi, bukan? Untuk memastikan sepupumu tidak bicara terlalu banyak?"
Elian meletakkan alat makannya dan menatap Don Marco secara langsung. "Saya berada di markas komando militer malam itu, Marco. Log kehadiran saya terdaftar secara resmi dan bisa diperiksa oleh komisi parlemen mana pun. Jika penyelidik Anda menemukan hal lain, saya sarankan Anda memecatnya karena memberikan informasi sampah."
Don Marco tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah pemutar audio kecil dan meletakkannya di atas meja. "Mungkin. Tapi bagaimana dengan frekuensi radio ini? Penyelidikku berhasil menangkap sisa-sisa transmisi yang terenkripsi antara frekuensi radio pemerintah dan satu titik di dalam rumah ini dua hari yang lalu."
Lyra tahu ini adalah gertakan. Ia telah menghapus log-nya. Namun, tekanan psikologis itu sangat nyata.
Serangan Balik
"Cukup, Ayah," Lyra berdiri, suaranya bergetar karena "kemarahan" yang dibuat-buat. "Jika Ayah mengundang tamu ke rumah ini hanya untuk menuduh putrimu sendiri melakukan konspirasi dengan rival politik, maka Ayah sudah kehilangan akal sehat. Ini memalukan."
Elian ikut berdiri, menyesuaikan kancing jasnya. "Saya setuju dengan Nona De la Vega. Saya datang ke sini untuk bicara bisnis, bukan untuk menjadi subjek dari paranoid keluarga Anda. Terima kasih untuk makan malamnya, Marco. Tapi sepertinya kita tidak punya hal lain untuk dibicarakan."
Elian berbalik dan melangkah keluar dengan martabat yang tak tergoyahkan. Lyra menatap ayahnya dengan pandangan penuh kekecewaan sebelum mengikuti Elian keluar, seolah-olah ingin memastikan "musuhnya" benar-benar pergi dari properti mereka.
Pertemuan Singkat di Kegelapan
Di teras depan yang gelap, jauh dari jangkauan mikrofon ruang makan namun masih dalam pengawasan kamera pengawas, Lyra menghentikan Elian. Secara visual, mereka tampak seperti sedang berdebat sengit. Lyra menunjuk-nunjuk dada Elian dengan emosi, sementara Elian menepis tangannya dengan kasar.
Namun, di balik gerakan agresif itu, suara mereka hanya berupa bisikan yang tertutup oleh suara air mancur.
"Dia punya transmisi radio, Elian. Bagaimana mungkin?" bisik Lyra cepat.
"Itu rekaman lama yang dimanipulasi," balas Elian, suaranya hampir tak terdengar. "Dia memancing kita untuk panik. Jangan jatuh ke dalamnya. Fokus pada dewan direksi besok pagi. Gunakan data korupsi yang kau temukan. Kita harus menyingkirkannya dari kursi pimpinan sebelum dia mendapatkan bukti asli."
"Aku akan melakukannya," ujar Lyra, matanya berkilat penuh tekad.
Secara tiba-tiba, Elian merenggut pergelangan tangan Lyra, menariknya mendekat seolah-olah ingin mengintimidasi. Di mata kamera pengawas, ini terlihat seperti ancaman fisik. Namun, bagi Lyra, ia merasakan tekanan hangat dari tangan Elian yang memberinya kekuatan.
"Hancurkan dia, Lyra," bisik Elian. "Demi kita."
Elian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, masuk ke dalam mobilnya, dan melesat pergi. Lyra berdiri di sana, mengatur napasnya yang memburu, lalu berbalik masuk ke dalam rumah untuk menghadapi ayahnya sekali lagi.
Malam itu, jamuan De La Vega berakhir tanpa ada darah yang tumpah, namun garis perang telah ditarik dengan jelas. Don Marco berdiri di jendela lantai atas, memperhatikan mobil Elian menghilang. Ia tahu mereka bersandiwara. Dan ia tahu, cara terbaik untuk menghancurkan aliansi seperti itu bukanlah dengan bukti, melainkan dengan menciptakan pengkhianatan di antara mereka sendiri.
lanjutkan kak