Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOLONG
ANDRA
Badanku malam ini panas tinggi. Untuk pertolongan pertama, Armila mengompres dahiku, juga memberikan tablet paracetamol. Aku biasa menggunakan obat ini bila demam menyerang. Kalau tak sembuh dalam tiga hari barulah pergi ke dokter.
Semalaman aku merasa tubuh ini menggigil. Tidur tak lelap Sebentar-sebentar bangun dengan kondisi terkaget-kaget. Untunglah Armila terjaga hingga ia sigap memberi bantuan jika suaminya memerlukan sesuatu.
"Tidurlah, nanti kamu sakit. Aku sudah mendingan!"
Setelah yakin aku membaik, Armila merebahkan diri di sampingku. Dalam hitungan menit, napasnya sudah teratur. Ia pasti sangat lelah begadang teratur. Ia pasti sangat lelah begadang mengurusiku. Belum lagi kalau bayi kami bangun, haruslah disusui dan ditidurkan lagi.
Paginya badanku membaik, tak lagi panas, tapi masih lemas. Mau tak mau harus istirahat jadi tak bisa pergi kerja.
Meski Armila tak bicara, ia melayaniku dengan baik. Pagi-pagi sudah disiapkan sarapan dan vitamin herbal yang selalu distok. Juga menyiapkan pakaian ganti.
"Aku mau lihat Affan!"
Armila bergegas memenuhi permintaan. Bayi kami yang baru berusia lima bulan disimpan di pangkuan. Tanpa berkata apapun, wanita itu pergi lagi.
Biasanya ia akan duduk di sisiku, lalu bersama mencandai si kecil. Sekarang, aku hanya bisa menerima kenyataan menyedihkan. Kebiasaan itu mungkin hanya kenangan.
Jangankan duduk di sisiku untuk bercanda, bicara saja tidak. Bahkan, memandang pun enggan. Saat ini, Armila hanya menjalankan kewajiban melayani kebutuhan suaminya saja.
Sementara sikap hangat dan cinta sudah disimpan di balik luka.
Aku paham kini, luka yang tertoreh dalam hatinya amatlah dalam. Entah bagaimana cara menyembuhkannya. Bahkan, aku telah kehilangan akal untuk bisa menggali caranya
Untuk menetralisir hati yang sedih ini, aku bermain bersama bayi mungil saja. Ia mengerjapkan mata bulat yang membuatku sangat gemas. Tangannya bergerak-gerak meraih bibir dan hidungku. Ketika kumasukkan jari ke mulut, Affan tertawa.
Berlama-lama bercanda dengannya membuatku mulai menyadari satu hal. Sesungguhnya hidupku sempurna.
Punya istri cantik dan baik, anak lucu, tak kekurangan harta pula. Namun, jeratan napsu telah membawaku pada penghancuran kesempurnaan itu sendiri.
Istri yang selalu ceria berubah menjadi salju. Tak ada lagi kerling manja atau peluk hangatnya. Sikap yang senantiasa menenangkan hidupku kini berganti menjadi tikaman batin di tiap detik hidup ini.
Armila tengah membalas dendam dengan cara paling menyakitkan. Diabaikan saat kita ada didekatnya itu pedih jendral.
Setelah anak ini ngantuk aku menyerahkan pada ibunya kembali.
Aku pun ingin istirahat lagi agar badan cepat pulih. 2
*
Dari pagi hingga siang suasana di rumah ini diliputi kedamaian. Jikapun ada rengekan Attan, Armila dapat dengan cepat menghentikannya. Aku benar-benar bisa istirahat dengan baik.
Tapi, jelamg sore, kiriman pesan dan telpon dari Resti tak kunjung berhenti. Karena kesal, kutolak dan blokir saja nomornya. Bikin pusing saja perempuan itu.
Dipikir, aku bingung pada diri sendiri. Kenapa bisa tergoda oleh rayuannya. Padahal kemolekan yang ada pada diri Resti, juga ada pada Armila.
Armila tergolong wanita yang pandai merawat diri. Ia selalu bersih dan wangi saat aku di rumah.. Pakaiannya juga menarik selalu, seksi dan menggoda.
Tapi, ya dasar napsu, ada saja celah tersesatnya. Ditambah bujukan setan, lengkap sudah ketersesatan itu.
Selepas sholat magrib, aku bermaksud istirahat kembali. Rupanya keinginan itu harus ditunda sebab dari arah depan terdengar suara ribut-ribut.
Karena penasaran, aku memaksakan diri keluar kamar. Dan, dadaku seperti dihajar berkali-kali saat suara Resti menggema
"Maasss, kenapa gak bilang kalau sakit. Untung aku nelpon kantor, jadi tahu kalau kamu gak masuk!"
Ya, Allah, huru-hara apalagi yang akan terjadi kali ini. Mengapa aku lupa menelpon sekertaris agar tak menginformasikan sakit pada Resti.
Saking kerasnya Resti menabrakkan tubuh aku hampir terjengkang. Lemasnya tenaga membuatku tak mampu menahan wanita ini.
"Mana yang sakit, Mas. Sini biar aku obat!"
Resti menarikku menuju sofa. Ia lalu mengeluarkan kata-kata yang membuat telingaku berdenging.
"Mas sudah baikan, besok juga kerja lagi. Kamu pulang saja, ya!"
"Mas ini gimana, Aku jauh-jauh datang ke sini buat rawat kamu. Aku juga mau nginep biar malam ini bisa nemenin, Mas. Armila harus mengijinkan sebab aku juga istrimu yang berhak merawat suami sakit! Dia gak boleh egois ingin menguasai suami sendiri!"
"Kalau kamu mau bawa mas Andra, bawa saja aku gak keberatan. Tapi coba tanya, mas Andranya mau gak?"
Armila berdiri di seberang sofa. Ia menyedekapkan tangannya di dada. Seolah-olah pernyataan itu sedang menantang Resti.
"Mas, pulang, yuk. Aku akan rawat kamu lebih dari Armila!"
Jujur, aku lebih senang dan tenang di sini. Terbayang kalau di rumah Resti. Bukannya sembuh, malah akan makin parah. Bisa-bisa masuk IGD.
"Ini sudah malam. Mas gak kuat perginya!"
"Yaudah kalau gitu aku yang nginep. Ayo, Mas kita ke kamar. Oh, ya Armila di mana kamarnya. Malam ini kamu istirahat saja. Biar aku yang jaga mas Andra, lagian kamu punya bayi. Nah, ' kan aku ini baik, makanya kamu jangan judes sama aku!"
Aku melihat raut wajah Armila tetap datar. Ia seolah tak terusik dengan sikap menyebalkan Resti. Namun, aku tahu dadanya pasti sedang menahan gejolak amarah. Ini sangat berbahaya.
Bisa-bisa emosinya makin tak bisa dikendalikan lagi.
"Kamu pulang saja. Besok mas pulang. Tolong, jangan bikin huru-hara lagi. Apa kamu mau bikin mas jantungan?"
"Gak mau, aku gak mau pulang, aku mau merawat mas titik! Ayo kita ke mau merawat mas titik! Ayo kita ke
kamar. Mas harus banyak istirahat! Oh, ya Armila, siapkan makan malam, aku tadi tak sempat makan saking panik dengar mas Andra sakit!"
Kulihat sorot mata Armila menajam. Ia menghentakkan kaki sebelum pergi dari ruangan ini.
Gawat, bisa perang dunia sepuluh ini. Sebelum pergi ke kamar, aku sempat menoleh keluar. Di sana ada mang Dadang yang tengah mengedikkan bahu sambil mengangkat dua telapak tangan.
Mang, tolong, Mang. Please!