Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komentar Jujur
Setelah malam "Satu Kotak Manis" di pinggir jalan, Arkan merasa seperti baru saja mendapatkan suntikan tenaga baru. Bab 16 yang sebelumnya macet total, akhirnya meluncur deras dari jemarinya. Ia menuliskan adegan pertengkaran Bima dan Raya dengan sangat emosional, memasukkan rasa sesak yang ia rasakan saat menahan pintu lift untuk Sia.
Keesokan paginya, Arkan menyerahkan tabletnya kepada Sia di kantor. Ia ingin Sia membaca hasil revisi total bab tersebut. Arkan merasa sangat percaya diri. Ia pikir, kali ini ia sudah benar-benar berhasil "menjadi manusia" dalam tulisannya.
Sia duduk di sofa pojok ruangan Arkan, menyesap kopinya, dan mulai membaca dalam diam. Arkan pura-pura sibuk memeriksa laporan bulanan, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Sia. Ia menunggu pujian, atau setidaknya senyuman puas.
Namun, semakin jauh Sia membaca, keningnya semakin berkerut. Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh jam bagi Arkan, Sia meletakkan tablet itu di meja dengan suara yang sedikit terlalu keras.
"Gimana?" tanya Arkan, berusaha terdengar santai meskipun jantungnya berdegup kencang.
Sia menghela napas panjang. Ia menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak... Bapak mau jawaban jujur atau jawaban yang bikin Bapak seneng?"
Senyum percaya diri Arkan perlahan luntur. "Jujur. Selalu jujur."
Sia memutar tubuhnya menghadap Arkan sepenuhnya. "Oke. Bagian pertengkarannya bagus. Beneran bagus. Saya bisa ngerasain marahnya Raya dan paniknya Bima. Tapi, Pak... adegan romantis setelah mereka baikan... itu bener-bener datar banget. Parah."
Wajah Arkan memerah. "Datar? Saya sudah menggunakan banyak kata sifat di sana. Saya bahkan menggambarkan suasana kamar dengan sangat detail."
"Nah, itu masalahnya!" potong Sia gemas. "Bapak fokus banget sama 'detail'. Bapak nulis suhu ruangan, jenis kain sprei, sampai posisi lampu tidur. Tapi Bapak lupa satu hal penting dalam novel spicy: ketegangannya! Sparks-nya nggak ada, Pak."
Arkan mengerutkan kening, harga dirinya sebagai penulis nomor satu di platform mulai terusik. "Maksud kamu?"
"Bima dan Raya itu ceritanya lagi kangen banget setelah hampir putus, kan? Tapi pas mereka akhirnya berduaan, Bapak malah bikin mereka ngobrol soal rencana masa depan yang sangat logis. Mana ada orang habis baikan setelah berantem hebat terus langsung diskusi soal pembagian aset?" Sia berdiri dan berjalan mendekati meja Arkan. "Adegan ini seharusnya terasa panas karena emosi, bukan karena deskripsi suhu ruangan yang Bapak tulis dua puluh empat derajat Celcius."
"Tapi itu realistis, Sia. Setelah konflik, orang butuh kepastian logis," bela Arkan.
Sia menepuk keningnya sendiri. "Pak Arkan sayang... ini fiksi! Orang baca Nightshade itu karena pengen ngerasain sensasi yang nggak mereka dapet di kehidupan nyata yang ngebosenin. Kalau mau yang logis, mereka mending baca buku ekonomi! Deskripsi Bapak di bagian itu bener-bener hambar. Kayak makan martabak semalam tapi nggak pakai mentega. Kering!"
Arkan terdiam. Kalimat "datar", "hambar", dan "kering" itu menghantam telaknya tepat di ulu hati. Ia adalah Nightshade. Penulis yang setiap babnya selalu ditunggu-tunggu karena kemampuannya membangun tensi. Tapi mendengar komentar pedas dari satu-satunya orang yang tahu rahasianya, Arkan merasa seperti amatir yang baru belajar mengetik.
"Jadi... menurut kamu saya gagal di bagian ini?" suara Arkan merendah, ada nada terluka di sana yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sia menyadari bahwa ia mungkin terlalu keras. Ia melihat bahu Arkan yang sedikit lunglai. "Bukan gagal, Pak. Cuma... kurang rasa. Bapak terlalu takut buat terlihat 'liar', makanya Bapak larinya ke hal-hal teknis lagi."
"Saya hanya mencoba menjaga kelas tulisan saya agar tidak terlihat murahan," sahut Arkan kaku.
"Romantis itu nggak harus murahan, Pak. Tapi harus jujur. Bapak tahu kenapa draf ini kerasa hambar?" Sia menatap mata Arkan dalam-dalam. "Karena Bapak sendiri belum pernah ngerasain gimana rasanya pengen banget menyentuh seseorang sampai tangan Bapak gemeteran. Bapak cuma nulis berdasarkan apa yang Bapak baca di buku, bukan dari apa yang Bapak rasain di sini," Sia menunjuk ke arah dada Arkan.
Hening sejenak. Arkan terpaku pada mata Sia. Kata-kata itu seolah menelanjangi ketidakmampuannya selama ini.
"Maaf kalau saya terlalu jujur," bisik Sia, mulai merasa tidak enak melihat Arkan yang hanya diam membatu. "Saya balik ke meja saya dulu ya, Pak. Ada jadwal rapat sama tim legal jam sebelas."
Sia berjalan keluar, meninggalkan Arkan sendirian di ruangannya yang luas dan sunyi. Arkan menatap tabletnya. Ia membaca ulang adegan yang ia banggakan tadi pagi. Benar kata Sia. Tulisan itu rapi, bahasanya sangat EYD, tapi... mati.
Harga diri Arkan benar-benar terluka. Tapi lebih dari itu, ia merasa frustrasi karena ia tahu Sia benar. Ia tidak tahu bagaimana cara menuliskan "keinginan" yang liar itu karena selama ini hidupnya selalu diatur oleh aturan dan jadwal.
Pukul dua siang, pintu ruangan Arkan kembali terbuka. Bukan Sia, melainkan Gibran yang masuk dengan gaya maskulinnya yang berwibawa.
"Kan, lo ada waktu? Gue mau bahas soal kontrak vendor di Surabaya," ujar Gibran sambil duduk. Ia melihat wajah Arkan yang tampak kusut. "Kenapa lo? Muka lo kayak belum bayar pajak setahun."
"Bukan apa-apa. Cuma... sedikit masalah pada salah satu proyek," jawab Arkan pendek.
Gibran terkekeh. "Proyek apa? Jangan bilang lo kaya adek gue yang kepikiran soal si Nightshade itu?"
Arkan menegang. "Kenapa harus?"
"Adek gue lagi ngamuk-ngamuk di grup keluarga. Katanya, bab terbaru yang ditunggu-tunggu beneran keluar, tapi isinya mengecewakan. Katanya penulisnya mendadak jadi kayak dosen sosiologi. Dialognya terlalu kaku," Gibran tertawa sambil menggelengkan kepala. "Gue bilang ke dia, mungkin penulisnya lagi kena burnout. Atau mungkin dia lagi butuh pacar biar otaknya nggak isinya instruksi melulu."
Arkan merasa dunianya runtuh. Jika pembaca setianya saja merasakannya, berarti komentar Sia tadi pagi bukan sekadar pedas, tapi fakta yang sangat pahit.
"Menurut lo, Gibran," Arkan memulai dengan suara ragu. "Apa yang harus dilakukan seseorang kalau dia merasa... kehilangan kemampuannya dalam melakukan sesuatu yang dia sukai?"
Gibran menatap Arkan dengan serius. "Dia harus berhenti mikir, Kan. Lo itu penyakitnya satu: kebanyakan mikir. Kalau lo mau ngelakuin sesuatu yang pakai perasaan, ya udah, lakuin aja. Jangan dianalisis dulu hasilnya. Hidup itu bukan spreadsheet Excel yang semuanya harus balance."
Gibran menepuk bahu Arkan lalu pergi karena ada panggilan masuk. Arkan terdiam. Jangan dianalisis. Jangan kebanyakan mikir.
Sore harinya, saat Sia sedang membereskan mejanya untuk pulang, Arkan berdiri di ambang pintu ruangannya. Ia sudah tidak memakai jas, kancing kemeja teratasnya terbuka, dan rambutnya sedikit berantakan karena terus-menerus ia usap dengan tangan.
"Sia," panggil Arkan.
Sia menoleh, sedikit kaget melihat penampilan bosnya yang tidak seperti biasanya. "Ya, Pak?"
"Saya mengakui. Tulisan saya tadi memang sampah," ucap Arkan tanpa basa-basi.
Sia tertegun. Ia tidak menyangka Arkan akan mengakui itu secara terbuka. "Pak, saya nggak bilang sampah, saya cuma bilang—"
"Tidak, kamu benar. Dan Gibran barusan bilang adiknya kecewa berat," Arkan mendekat ke arah meja Sia. "Saya sedang writer's block parah, Sia. Dan satu-satunya cara buat saya keluar dari sini adalah dengan bantuan kamu. Tapi kali ini, saya nggak mau cuma lewat teori atau makan martabak."
Sia mengerutkan kening. "Terus, Bapak mau gimana?"
Arkan menatap Sia dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. "Tolong temani saya riset lagi. Tapi kali ini, jangan kasih saya saran lewat kata-kata. Tunjukkan sama saya. Tunjukkan gimana rasanya emosi yang nggak 'datar' itu. Gimana caranya bikin seseorang merasa diinginkan tanpa harus pakai istilah teknis."
Sia menelan ludah. Suasana di lobi lantai 42 yang mulai gelap itu mendadak terasa sangat panas. Ia bisa melihat tekad, rasa frustrasi, dan sesuatu yang lain di mata Arkan. Sesuatu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh sang CEO.
"Bapak... serius?" bisik Sia.
"Sangat serius, Sia. Karena kalau saya gagal menulis bab ini dengan benar, saya merasa saya bukan cuma gagal sebagai penulis, tapi saya gagal menjadi manusia yang punya perasaan," jawab Arkan rendah.
Sia terdiam sejenak, menimbang-nimbang risiko yang ada. Tapi melihat sisi rapuh Arkan yang baru pertama kali muncul ini, ia tidak tega untuk menolak. "Oke. Tapi kalau nanti Bapak jadi baper, itu di luar tanggung jawab saya ya?"
Arkan tersenyum tipis—kali ini bukan senyum robot, tapi senyum seorang pria yang siap untuk keluar dari zona nyamannya. "Kita lihat saja nanti, Sia. Siapa yang akan baper duluan."
Malam itu, riset mereka berlanjut. Bukan di pinggir jalan, tapi di tempat yang lebih pribadi. Dan bagi Arkan, ini adalah awal dari runtuhnya tembok kaku yang selama ini ia bangun, demi menemukan suara aslinya sebagai seorang pria, bukan hanya sebagai seorang CEO atau seorang Nightshade.