Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Gerbang Langit dan Dunia Dewa
Cahaya emas yang menyilaukan perlahan memudar. Arkan Wijaya membuka matanya, merasakan angin yang jauh lebih kaya akan Qi menampar wajahnya. Ia masih menggenggam tangan Sela erat, tubuh kekarnya berdiri tegap di tengah hamparan padang rumput emas yang tak berujung. Di belakangnya, 500 elit Paviliun Naga Emas muncul satu per satu dari gerbang cahaya yang mulai menutup.
“Ini… bukan Nusantara lagi,” gumam Arkan, suaranya penuh kewaspadaan.
Langit di dunia baru ini berwarna biru keunguan dengan tiga matahari kecil yang beredar perlahan. Udara penuh dengan partikel Qi murni yang begitu kental hingga hampir terlihat. Di kejauhan, gunung-gunung terapung melayang di langit, istana-istana kristal menggantung di awan, dan burung roh raksasa dengan sayap api terbang bebas.
Sela menarik napas dalam, matanya membelalak kagum sekaligus waspada. “Qi di sini… seratus kali lebih murni. Tubuhku terasa ringan sekali.”
Juanda Hartono dan para elder juga terkejut. Salah satu elder berkata gemetar, “Raja, ini… Dunia Dewa yang disebutkan dalam legenda kuno. Alam Tengah — ZhongTian Realm.”
Arkan mengangguk. Warisan dari cincin Naga Emas kini mengalir lebih deras di benaknya. “Benar. Nusantara hanyalah Dunia Bawah. Di sini, kekuasaan ditentukan oleh kekuatan absolut. Sekte-sekte kuno, Klan Dewa, dan Kerajaan Abadi menguasai segalanya.”
Belum sempat mereka beradaptasi, suara tawa sinis terdengar dari kejauhan. Sebuah kelompok kultivator berpakaian mewah mendekat dengan cepat menggunakan pedang terbang. Mereka berjumlah sekitar 30 orang, dipimpin seorang pemuda tampan berjubah biru dengan aura Nascent Soul Tingkat 5.
“Pendatang baru dari Dunia Bawah?” tanya pemuda itu sambil tersenyum merendahkan. “Biasanya kalian muncul di Zona Pinggiran. Berani sekali mendarat di Padang Emas milik Klan Langit Biru. Serahkan semua harta kalian dan wanita-wanita cantik itu, maka aku biarkan kalian menjadi budak.”
Aura Arkan meledak. Nascent Soul Tingkat 3 awal-nya (setelah breakthrough di tenda) membuat pemuda itu mundur dua langkah tanpa sadar.
“Budak?” Arkan tersenyum dingin. “Kau yang akan jadi anjing penjaga Paviliun Naga Emas.”
Tanpa banyak kata, Arkan melesat maju. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan emas. Pedang Raja Naga terhunus. Satu tebasan sederhana — Naga Muda Mengaum — sudah cukup untuk memotong pedang spiritual pemuda itu menjadi dua dan membuatnya terpental jauh sambil muntah darah.
Para pengawalnya langsung menyerbu. Pertempuran kecil meledak di Padang Emas. Arkan tidak menggunakan kekuatan penuh, tapi setiap gerakannya tetap mematikan. Sela ikut bertarung di sisinya, teknik Jiwa Naga Bersatu membuat serangan mereka saling melengkapi sempurna. Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh kelompok Klan Langit Biru sudah berlutut atau pingsan.
Arkan menekan leher pemuda pemimpin itu dengan kaki. “Siapa namamu?”
“Zhao… Zhao Wuji… anak ketiga Klan Langit Biru,” jawab pemuda itu gemetar.
“Bagus. Kau akan jadi utusan pertama kita ke dunia ini,” kata Arkan sambil tersenyum dominan. “Katakan pada ayahmu — Paviliun Naga Emas telah datang. Kami bukan pendatang. Kami adalah penakluk.”
Ia melepaskan Zhao Wuji yang langsung melarikan diri dengan ketakutan.
Malam harinya, di perkemahan darurat yang dilindungi formasi besar, Arkan duduk di tenda utama bersama Sela. Gadis itu sedang membersihkan luka kecil di tubuh Arkan dengan kain basah, meski luka itu sudah hampir sembuh.
“Kamu terlalu dominan tadi,” kata Sela sambil tersenyum. “Tapi aku suka.”
Arkan menarik Sela ke pangkuannya. “Di dunia ini, kelemahan berarti kematian. Kita harus membangun nama secepat mungkin.”
Mereka berciuman, hasrat kembali menyala. Di tenda mewah itu, Arkan mencintai Sela dengan penuh gairah. Tubuh kekarnya menindih tubuh lembut Sela, gerakan mereka semakin selaras setelah banyak pertempuran bersama. Naga Qi mereka bercampur begitu kuat hingga tenda dipenuhi cahaya emas halus. Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 3 pertengahan, Sela ke Tingkat 2 pertengahan.
Keesokan paginya, Zhao Wuji kembali dengan ayahnya — Patriarch Zhao Tian, Nascent Soul Tingkat 8. Mereka datang dengan sikap hormat, membawa hadiah berupa batu spiritual tingkat tinggi dan peta wilayah.
“Raja Naga Arkan,” kata Patriarch Zhao dengan suara rendah. “Klan Langit Biru ingin menjalin persahabatan. Dunia Tengah sedang kacau. Sekte Iblis Darah dan Kekaisaran Naga Hitam Abadi sedang berebut wilayah. Kekuatan baru seperti kalian sangat dibutuhkan.”
Arkan tersenyum tipis. “Persahabatan? Atau kalian ingin menggunakan kami sebagai pedang?”
Patriarch Zhao tersenyum kaku. “Keduanya.”
Arkan tertawa. “Jujur. Aku suka itu. Baiklah. Kita buat perjanjian. Klan Langit Biru beri kami wilayah untuk mendirikan markas pertama. Sebagai balasannya, kami bantu kalian dalam pertempuran mendatang.”
Kesepakatan pun dibuat. Dalam waktu satu bulan, Paviliun Naga Emas mendirikan markas pertama di Dunia Tengah — Kota Naga Emas di tepi Padang Emas. Ribuan penduduk lokal dan kultivator liar berbondong-bondong bergabung setelah mendengar reputasi Arkan.
Suatu hari, saat Arkan sedang melatih pasukan, seorang wanita cantik berpakaian merah darah mendekat. Aura Nascent Soul Tingkat 6 memancar darinya. Ia adalah Putri Xue Mei dari Sekte Iblis Darah.
“Raja Naga yang terkenal,” katanya dengan suara menggoda. “Aku datang untuk mengajakmu bersekutu. Sekteku bisa memberimu segala kesenangan dan kekuasaan.”
Sela yang berdiri di samping Arkan langsung mengeluarkan aura dingin. “Dia sudah punya ratu.”
Arkan tertawa pelan, tangannya memeluk pinggang Sela posesif. “Terima kasih tawaranmu. Tapi Paviliun Naga Emas tidak butuh sekutu dari pihak kegelapan.”
Xue Mei tersenyum tipis sebelum pergi. “Kau akan menyesal menolakku, Raja Naga.”
Konflik baru mulai muncul. Sekte Iblis Darah mulai mengirim mata-mata dan pembunuh bayaran. Sementara Kekaisaran Naga Hitam Abadi — yang ternyata memiliki hubungan dengan Naga Hitam lama di Nusantara — mulai memperhatikan kehadiran Arkan.
Di malam yang tenang, Arkan dan Sela berdiri di puncak menara markas baru mereka.
“Dunia ini jauh lebih kejam,” kata Arkan. “Tapi juga penuh peluang. Aku akan menaklukkan alam ini… dan membawamu ke puncak tertinggi.”
Sela menyandarkan kepala di bahunya. “Aku percaya padamu. Selama kita bersama, tidak ada yang tak mungkin.”
Arkan mencium bibirnya dalam-dalam. Di kejauhan, badai politik dan pertempuran besar di Dunia Tengah mulai terbentuk.