ig: @namemonarch
Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.
"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."
Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Poin Pertama
Sinar matahari pagi mulai menghangatkan udara dingin di Desa Kayu Hitam. Ye Chen melangkah keluar dari gudang kayu dengan postur yang jauh lebih tegap dari hari sebelumnya. Pakaiannya masih kotor dan compang-camping, namun aura kelemahan fananya telah lenyap tak berbekas.
Ia menghampiri Paman Tua Zhao yang sedang duduk di teras sambil mengisap pipa tembakaunya. Paman Zhao melirik pemuda itu sekilas, lalu melemparkan sepotong roti gandum keras yang biasa ia makan. Ye Chen menangkapnya dengan refleks yang sangat akurat, bahkan tanpa perlu melihat arah lemparan tersebut.
Sebagai gantinya, Ye Chen mengambil kapak berkarat yang tergeletak di dekat tumpukan gelondongan kayu besar. "Paman Zhao, biarkan aku membelah kayu-kayu ini sebagai ganti sepotong roti dan tumpangan semalam," ucapnya tenang.
Paman Zhao hanya mendengus pelan sambil menghembuskan asap. "Kayu pohon besi itu sangat keras, Nak. Hati-hati, jangan sampai kapakku patah atau tulang punggungmu yang remuk saat mencobanya."
Ye Chen tidak membalas. Ia menatap gelondongan kayu keras itu dan memanggil sistem di dalam benaknya. "Sistem, aktifkan Modul Optimalisasi Jalur. Cari titik terlemah dari struktur serat kayu di depanku ini."
[Modul aktif. Memindai kepadatan objek...]
[Titik lemah struktural ditemukan. Menampilkan jaring panduan presisi di garis pandang pengguna.]
Sebuah garis holografik tipis berwarna merah muncul, membelah tepat di tengah visual kayu tersebut. Ye Chen mengangkat kapak berkarat itu. Dengan kekuatan fisiknya yang kini mencapai 1.000 jin, ia tahu ia harus menahan diri.
Jika ia menggunakan seluruh kekuatannya, kapak rapuh itu pasti akan hancur berkeping-keping akibat pantulan energi. Dengan kalkulasi presisi, ia hanya menggunakan sepuluh persen tenaganya dan mengayunkan kapak tepat pada garis merah sistem.
*Trak!*
Hanya dengan satu ayunan ringan tanpa suara paksaan, gelondongan kayu raksasa itu terbelah menjadi dua bagian sempurna. Potongannya sangat mulus, seolah dipotong oleh bilah pedang tajam seorang master, bukan kapak berkarat.
Pipa tembakau di mulut Paman Zhao hampir terjatuh ke tanah. Mata pria tua itu membelalak melihat efisiensi tenaga yang sangat tidak masuk akal dari pemuda kurus di hadapannya.
"Astaga... Nak Chen, bagaimana kau melakukannya?" seru Paman Zhao dengan suara bergetar karena terkejut. "Bahkan penebang kayu paling berpengalaman di desa ini butuh puluhan ayunan kasar untuk membelah satu gelondong!"
Ye Chen menoleh dan tersenyum tipis. "Hanya masalah mengetahui di mana titik rapuh kayu itu berada, Paman. Tenaga yang besar tidak akan berguna jika salah sasaran."
Paman Zhao menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kau sungguh penuh kejutan. Lanjutkan, kau boleh tinggal di gudang itu selama yang kau mau jika hasil kerjamu sehebat ini."
Dalam waktu kurang dari setengah jam, tumpukan kayu yang biasanya butuh waktu dua hari untuk diselesaikan telah terbelah rapi. Ye Chen sama sekali tidak mengeluarkan setetes keringat pun. Napasnya tetap teratur dan konstan berkat Seni Pernapasan Bintang Hampa.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ye Chen pamit sebentar untuk berkeliling desa. Ia tidak berniat untuk sekadar bersantai. Tujuannya adalah mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai interaksi sosial dan topografi penduduk pinggiran.
Saat berjalan mendekati batas desa, ia melihat Nenek Li tampak kebingungan di dekat kebunnya. Wajah keriputnya menyiratkan kepanikan sambil memegang sebatang tongkat bambu.
"Ada yang bisa ku bantu, Nenek Li?" sapa Ye Chen dengan nada sopan.
Nenek Li menoleh, matanya tampak berkaca-kaca. "Oh, Nak Chen. Tiga ekor ayam betinaku kabur entah ke mana ke arah semak-semak itu. Kalau sampai dimakan binatang buas, aku tidak punya telur lagi untuk dijual minggu ini."
Ye Chen mengangguk memahami urgensi situasi tersebut. "Biar aku yang mencarinya, Nenek. Tunggu saja di sini."
Ia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menguji fitur lain. Ia segera mengaktifkan peninjauan radar dari sistemnya.
[Meninjau radius 50 meter... Tiga tanda kehidupan kecil terdeteksi di semak berduri arah jam dua.]
Dengan langkah santai dan tanpa ragu, Ye Chen memasuki semak-semak tersebut. Ia kembali beberapa saat kemudian dengan tiga ekor ayam yang meronta di tangannya, aman tanpa luka sedikit pun.
"Astaga, terima kasih banyak, Nak Chen! Dewa pasti memberkatimu," ucap Nenek Li penuh syukur sambil mengambil ayam-ayamnya. Ia lalu merogoh kantong celemeknya yang lusuh dan menyodorkan dua buah ubi manis rebus. "Ambillah ini. Hanya ini yang bisa nenek berikan untuk anak muda sebaik dirimu."
"Terima kasih, Nenek Li. Ini sudah lebih dari cukup bagiku," jawab Ye Chen menerima ubi itu dengan anggukan hormat.
Saat tidak ada yang melihat, ia langsung menyimpannya ke dalam Ruang Penyimpanan Sistem dengan sekelebat pikiran. Interaksi sosial ini membuktikan teorinya: mendapatkan kepercayaan warga fana sangatlah mudah jika ia memiliki alat analisis yang tepat dan sikap yang terukur.
Menjelang siang, insting analis Ye Chen menuntutnya untuk melakukan eksperimen yang lebih berisiko dan bernilai tinggi. Ia harus menguji sistem ekonomi dan transaksi dari Modul Toko Sistem yang saat ini saldonya masih kosong.
Tanpa memberitahu siapa pun, Ye Chen berjalan menyusuri jalan setapak menuju area pinggiran Hutan Kabut Purba. Ia tidak masuk terlalu dalam untuk menghindari monster tingkat tinggi yang masih di luar batas logikanya saat ini.
"Sistem, ubah mode pemindaian menjadi mode pencarian sumber daya. Fokuskan pada benda bernilai Poin Kenaikan." Ye Chen memberi perintah sambil bersembunyi dengan tenang di atas dahan pohon yang rindang.
[Mengubah parameter pemindaian... Memindai radius 100 meter...]
[Objek ditemukan: Bunga Darah Besi (Herbal Fana Usia 10 Tahun). Estimasi nilai: 5 Poin Kenaikan.]
[Peringatan: Objek dijaga oleh Babi Hutan Taring Batu (Binatang Buas Tingkat 1 Tahap Menengah).]
Mata Ye Chen langsung tertuju pada seekor babi hutan berukuran sebesar anak sapi yang sedang tertidur di dekat sebuah bunga merah. Binatang itu memiliki kulit tebal yang tampak mengeras layaknya susunan batu kerikil pelindung.
Binatang Buas Tingkat 1 Tahap Menengah secara teoritis memiliki kekuatan sekitar 1.500 jin. Secara hitungan matematika dasar, kekuatan fisik Ye Chen yang hanya 1.000 jin murni berada di bawah monster buas tersebut.
Namun, Ye Chen bukanlah petarung bodoh yang mengandalkan adu tenaga atau insting barbar. "Sistem, jalankan Optimalisasi Jalur untuk taktik pembunuhan satu serangan. Gunakan senjata Belati Malam Tanpa Suara."
[Kalkulasi pertarungan dimulai...]
[Titik buta target terdeteksi: 45 derajat dari arah belakang. Titik lemah anatomis: Celah lunak di bawah pangkal telinga kanan.]
[Tingkat Keberhasilan: 92% jika dieksekusi dengan kecepatan penuh sebelum target menyadari ancaman.]
Ye Chen segera mengeluarkan Belati Malam Tanpa Suara dari Ruang Penyimpanan Sistemnya. Bilah hitam legam itu sama sekali tidak memantulkan cahaya matahari yang menembus dahan. Senjata ini benar-benar alat pembunuh yang sempurna.
Ia melompat turun dari dahan dengan gerakan yang seringan bulu kucing. Ye Chen secara pasif menggunakan teknik pernapasannya untuk meredam suara detak jantung dan langkah kakinya di atas dedaunan kering.
Begitu jaraknya tersisa dua meter, Ye Chen mengerahkan seluruh daya ledak 1.000 jin ke kedua kakinya dan melesat maju. Dalam sekejap mata, ia sudah berada tepat di titik buta sang babi hutan raksasa itu.
Tangannya mengayunkan belati hitam pekat itu tepat ke celah lunak di bawah telinga target sesuai koordinat holografik dari sistem.
*Cras!*
Belati itu menembus daging keras dan memutus urat saraf utama tanpa hambatan berarti.
Babi Hutan Taring Batu itu terbelalak, matanya dipenuhi syok. Binatang itu hanya sempat mengejang sesaat sebelum ambruk secara brutal ke tanah tanpa sempat mengeluarkan satu pun suara lengkingan peringatan.
Ye Chen menarik belatinya dengan gerakan tenang dan terkontrol. Darah binatang itu sama sekali tidak menempel pada bilah hitam senjatanya. Itu adalah eksekusi mati yang sangat dingin, presisi, dan dihitung murni dengan logika matematis.
Ia kemudian melangkah mendekati Bunga Darah Besi yang tumbuh di balik batu berlumut dan menyentuh kelopaknya.
"Sistem, konversikan herbal fana ini beserta bangkai Babi Hutan Taring Batu ini menjadi Poin Kenaikan sekarang."
[Memproses konversi sumber daya material...]
[Bunga Darah Besi (5 Poin) + Bangkai Babi Hutan Taring Batu (10 Poin) diterima.]
[Selamat! Anda mendapatkan total 15 Poin Kenaikan. Saldo saat ini: 15 Poin.]
Bangkai besar dan bunga merah di hadapannya seketika menguap menjadi partikel cahaya digital dan ditarik masuk ke dalam sistem. Ye Chen tersenyum tipis. Itu adalah sebuah senyuman kepuasan dari seorang analis data yang berhasil memvalidasi teorinya di lapangan.
Kini ia tahu persis bagaimana cara kerja rantai makanan dan ekonomi mutlak di dunia ini. Kekuatan digunakan untuk merampas sumber daya alam, dan sumber daya dikonversi menjadi fondasi kekuatan baru melalui sistem miliknya.
Siklus ini sangat brutal, sangat transparan, dan sangat mudah dieksploitasi oleh seseorang yang tidak memiliki beban moral fana. Ye Chen membersihkan sisa jejak pertarungannya dan memutuskan untuk segera kembali ke Desa Kayu Hitam sebelum senja benar-benar turun.
Ia masih butuh beberapa hari lagi untuk mengumpulkan lebih banyak poin dan memperkuat batas ketahanan tubuhnya.
ada usul tidak jelas