Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Seperti "Barang"
"Mbak Zahra, tim dari Bapak sudah datang."
Zahra membuka mata. Jam delapan pagi. Mbak Reni berdiri di depan pintu kamarnya dengan ekspresi yang sopan dan sedikit tidak enak hati mungkin karena merasa mengganggu, mungkin karena tau situasinya awkward.
"Tim stylist sama MUA-nya, Mbak. Sudah ada di bawah."
Zahra duduk perlahan. Rambutnya berantakan, matanya masih berat, dan otak yang baru setengah jalan boot.
"Oh. Iya. Gala dinner malam ini."
"Bilang gue turun sebentar lagi, Mbak."
"Sebentar" versi Zahra ternyata dua puluh menit karena dia sempat bengong di depan cermin selama lima menit penuh, mandi, dan ganti baju dua kali sebelum akhirnya memutuskan kaos putih dan celana jeans sudah cukup untuk ketemu tim yang akan ngubah penampilannya nanti malam anyway.
Di ruang tamu bawah, ada dua orang menunggu.
Perempuan pertama stylist, kelihatan dari cara dia berdiri dan menatap Zahra dari ujung kepala ke bawah dengan ekspresi profesional yang tidak bisa dibantah. Namanya Kak Dira. Tangannya memegang tablet yang layarnya penuh referensi outfit.
Perempuan kedua MUA. Lebih muda, lebih ramah, senyumnya genuine. Namanya Feli.
Di sudut ruangan ada rak baju portable yang sudah penuh dengan pilihan gaun malam. Semuanya gelaphitam, navy, burgundy sesuai instruksi Rafandra.
Zahra menatap rak itu. Lalu menatap Kak Dira. Lalu menatap rak itu lagi.
"Ini semua..." Zahra menghitung. "Dua belas gaun?"
"Empat belas, Mbak." Kak Dira membuka tabletnya. "Bapak minta beberapa pilihan supaya Mbak Zahra bisa memilih sendiri."
Zahra diam sebentar.
'Supaya Mbak Zahra bisa memilih sendiri.'
Rafandra memang minta tim ini dikirim tanpa tanya Zahra dulu, tapi dia rupanya menyampaikan sesuatu ke timnya. Sesuatu yang berkaitan dengan percakapan semalam. Zahra tidak tahu harus merasa apa dengan itu.
Dua jam berikutnya dihabiskan dengan mencoba gaun satu per satu, mendengarkan penjelasan Kak Dira soal potongan mana yang paling sesuai untuk acara malam ini, dan sesekali berdebat dengan sopan soal pilihan.
Zahra jatuh hati pada gaun nomor sembilan hitam, potongan sederhana tapi elegan, dengan detail kecil di bagian bahu yang membuatnya kelihatan seperti punya karakter.
Kak Dira merekomendasikan gaun nomor tiga lebih statement, lebih "wife of CEO."
"Gue lebih suka yang ini," kata Zahra, tegas tapi tidak kasar.
Kak Dira menatapnya sebentar. Lalu mengangguk. "Pilihan Mbak bagus. Potongannya bersih."
Feli yang dari tadi diam menimpali dengan antusias: "Cocok banget sama kulitnya, Mbak!"
Zahra tersenyum ke Feli. Genuine, karena Feli memang menyenangkan.
.
.
.
Rafandra pulang jam lima sore lebih awal dari biasanya. Zahra sedang di kamarnya, rambutnya sudah di-set oleh Feli, makeupnya sudah selesai tapi dia belum pakai gaun. Masih duduk di tepi kasur dengan dressing gown tipis, scroll HP, menunggu waktu yang lebih masuk akal untuk berpakaian.
Ketukan di pintu. "Masuk."
Rafandra membuka pintu dan berhenti di ambangnya. Matanya memindai Zahra sebentar. Makeup-nya, rambutnya yang disanggul longgar dengan beberapa helai dibiarkan jatuh, dressing gown yang jelas bukan pakaian untuk dilihat orang.
Zahra langsung berdiri. "Gue kira Om belum pulang—"
"Tidak apa." Rafandra masuk beberapa langkah, menyerahkan sesuatu kotak panjang berwarna hitam dengan pita emas. "Untuk malam ini."
Zahra menatap kotak itu.
"Apa ini?"
"Buka."
Zahra mengambil kotak itu, membuka pitanya, mengangkat tutupnya. Kalung. Emas putih, rantai tipis, dengan liontin kecil berbentuk sesuatu yang Zahra tidak langsung kenali tapi cantik dengan cara yang tidak berteriak, tidak berlebihan.
Tepat seperti selera Zahra. Zahra menatap kalung itu lama. Lalu menatap Rafandra.
"Om..." Zahra tidak tau mau bilang apa.
"Kamu pilih gaun yang sederhana," kata Rafandra. Datar seperti menyampaikan fakta logistik. "Aksesori yang terlalu besar akan membunuh pilihanmu. Ini lebih sesuai."
"Dia tau gue pilih gaun yang mana."
"Berarti Kak Dira laporan ke dia." Zahra menutup kotak itu pelan. Menarik napas satu kali.
"Makasih, Om." Dia meletakkan kotak di meja rias. "Tapi lain kali nggak perlu."
Rafandra mengernyit tipis. "Kenapa?"
"Karena gue nggak mau, nanti kebiasaan." Zahra menatapnya langsung. "Dibeliin ini itu, dikirimin tim, diaturin penampilan. Itu bukan... bukan gue, Om. Gue nggak mau jadi sesuatu yang di-dress up terus dibawa ke acara buat ditampilin."
Hening.
Rafandra menatapnya dengan ekspresi yang untuk pertama kali Zahra tidak bisa baca sama sekali. Bukan datar. Bukan dingin. Sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Kamu berfikir seperti itu sama apa yang telah aku lakukan?" tanyanya akhirnya. Suaranya pelan. Tapi ada sesuatu di baliknya.
"Gue nggak tau, Om." Jujur.
"Gue belum cukup kenal Om untuk tau niatnya apa. Yang gue tau... gue nggak mau jadi pajangan."
Kata-kata itu menggantung di antara mereka.
"Kamu bukan pajangan," katanya akhirnya. Pelan. Tapi dengan bobot yang beda dari kata-katanya yang lain.
"Buktiin," kata Zahra. Keluar begitu saja sebelum bisa ditahan.
"Bersiaplah. Kita berangkat jam tujuh." Dia berbalik ke pintu.
"Om."
Rafandra berhenti.
"Kalungnya gue pakai." Zahra mengambil kotak itu lagi dari meja rias. "Tapi bukan karena disuruh. Karena gue mau."
Rafandra tidak berbalik. Tapi bahunya yang selalu lurus dan terkontrol sedikit bergerak. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
"Sampai jumpa di bawah jam tujuh," katanya. Lalu melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya.
Zahra berdiri sendirian di kamarnya, memegang kotak hitam itu di kedua tangan. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak normal.
Bukan karena kalung ini. Bukan karena acaranya malam ini. Tapi karena pria itu yang selalu punya kontrol atas segalanya tadi sempat kehilangan sedikit kendalinya.*
Dan entah kenapa, Zahra merasa itu lebih berbahaya dari semua hal lain yang sudah dia hadapi sejak pernikahan ini dimulai.
.
.
.
Jam tujuh kurang lima, Zahra turun ke bawah. Gaun hitam, kalung emas putih di leher, rambut disanggul longgar, heels yang tidak terlalu tinggi karena Zahra tidak mau menyiksa dirinya sendiri untuk alasan estetika.
Rafandra sudah ada di foyer, setelan hitam, kemeja putih di dalam, tanpa dasi. Rapi dengan cara yang tidak berusaha terlalu keras. Dia menoleh waktu Zahra turun tangga.
Matanya bergerak sekilas dari atas ke bawah, cepat, profesional lalu kembali ke depan..Tapi di detik terakhir sebelum berpaling, Zahra melihat sesuatu di mata itu.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Sudah," jawab Zahra.
Mereka keluar bersama.
Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan menuju venue, Zahra menatap jendela dan memikirkan satu hal yang tidak bisa dia singkirkan dari kepalanya:
'Tadi, waktu Rafandra menatap gue turun tangga itu tatapan apa?'
'Gue nggak mau tau jawabannya.'
'Tapi gue juga nggak bisa berhenti penasaran.'
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼