Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawaran
Cyrus kembali ke markas sebelum matahari pagi muncul. Ia mengecup kening Calypsa yang masih tertidur.
Sorenya, Cyrus menghubunginya.
Bukan melalui jalur operasional, bukan melalui Voss atau siapapun. Langsung ke ponselnya, melalui nomor yang tidak pernah ia gunakan untuk hal-hal yang terkait pekerjaan, dengan cara yang sangat tidak seperti Cyrus sehingga Calypsa memandangi nama yang tertera di layar ponselnya selama beberapa detik sebelum mengangkat.
"Bagaimana harimu?" ujar Cyrus, tanpa pembuka.
"Sedikit bosan." jawab Calypsa sambil tersenyum. Di luar jendela kontrakannya, Aethelgard sudah mulai memasuki senja. Semburat warna orange menghiasi langi Aethelgard saat itu.
"Ada yang perlu kita bicarakan." ujar Cyrus. Berhenti sejenak. "Bukan di Wraithgate."
Calypsa tidak tahu mengapa perbedaan itu terasa penting, tapi terasa. "Di mana?"
Cyrus menyebutkan nama tempat di distrik selatan, di tepi kanal besar yang mengaliri Aethelgard dari utara ke selatan. "Pukul tujuh. Kalau kamu mau."
Kalau kamu mau. Dua kata yang tidak biasanya ada dalam cara Cyrus menyampaikan apapun.
"Baik." jawab Calypsa.
Ia tiba tepat waktu dan menemukan Cyrus sudah ada di sana.
Pria itu berdiri di tepi kanal menghadap ke arah air yang mengalir tenang di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan. Ia mengenakan jaket yang lebih kasual dari apapun yang pernah Calypsa lihat ia kenakan, tanpa kemeja formal, tanpa konteks markas di sekelilingnya, dan dalam cahaya malam distrik selatan yang lebih hangat dari Wraithgate, ia terlihat seperti seseorang yang berbeda, atau mungkin seperti versi yang lebih lengkap dari seseorang yang sama.
Seseorang yang sedang berdiri di tepi kanal menunggu, bukan karena operasional mengharuskannya, tapi karena ia memilih untuk ada di sana.
Calypsa berdiri di sebelahnya.
Mereka tidak langsung berbicara. Membiarkan suara air yang mengalir di bawah mereka dan gerimis yang mulai turun lebih serius mengisi keheningan itu dengan caranya sendiri. Di sepanjang kanal, lampu-lampu jalan memantulkan cahayanya di permukaan air yang bergerak, membuat segalanya terlihat sedikit lebih lunak dari biasanya.
"Aku ke makam Apo di hari yang sama dengamu." ujar Cyrus akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya dalam udara malam yang lembab.
"Kamu melihatku?"
"Ya." ada jeda yang cukup panjang. "Dan aku lebih memilih untuk bertemu denganmu di kontrakan."
Calypsa menoleh ke arah Cyrus.
Pria itu masih menatap permukaan kanal, profil wajahnya dalam cahaya kekuningan itu menunjukkan sesuatu yang tidak selalu ia biarkan terlihat. Bukan kesedihan yang dramatis. Lebih seperti berat yang sudah sangat lama ia pikul dan sudah sangat terbiasa ia pikul sendirian.
"Kamu sering ke sana." ujar Calypsa pelan.
"Tidak sering." jawab Cyrus. "Tapi ada."
Calypsa menatap kembali ke permukaan kanal. Di sana, di antara pantulan-pantulan cahaya yang bergerak, ada sesuatu yang ingin sekali ia katakan tapi tidak tahu dari mana memulainya.
"Waktu saya di dalam ruangan itu." ujar Calypsa akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Tujuh jam. Saya mencoba berpikir logis tentang semua kemungkinan. Tentang drive, tentang jalur keluar, tentang bagaimana membuktikan bahwa bukan saya yang berkhianat." berhenti sejenak. "Tapi pikiran saya terus kembali ke satu hal yang sama."
Cyrus menoleh ke arahnya.
"Saya tidak tahu kamu ada di mana." lanjut Calypsa. "Dan saya tidak suka tidak tahu itu."
Keheningan di antara mereka terasa sangat penuh untuk beberapa saat.
"Aku juga tidak suka membiarkanmu di sana." ujar Cyrus akhirnya, dan cara kalimat itu keluar, bukan sebagai penjelasan taktis atau justifikasi operasional, tapi sebagai sesuatu yang sangat personal dan sangat langsung, membuat Calypsa merasakan sesuatu yang hangat di dadanya meski gerimis sudah mulai menyentuh bahunya.
"Tapi kamu tidak punya pilihan lain." ujar Calypsa.
"Tidak." konfirmasi Cyrus. "Dan aku tidak akan berpura-pura bahwa itu tidak membuatku..." ia berhenti, memilih kata berikutnya dengan cara yang menunjukkan bahwa kata itu tidak mudah ia temukan. "Tidak nyaman."
Calypsa hampir tersenyum. Tidak nyaman. Dari pria yang biasanya menggunakan kata-kata dengan presisi yang tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi, pilihan kata itu terasa seperti pengakuan yang jauh lebih besar dari yang permukaannya tampilkan.
"Penawaran untuk tetap di sini masih berlaku." ujar Cyrus, berpaling kembali ke kanal.
"Saya tahu." ujar Calypsa. "Saya sudah memikirkannya selama tiga hari."
"Dan?"
Calypsa menatap permukaan kanal yang bergerak. Cahaya lampu jalan memantul di sana, bergoyang, tidak pernah diam tapi tidak pernah benar-benar pergi.
"Saya akan tetap di sini." jawabnya akhirnya. "Tapi dengan syarat yang saya tentukan sendiri. Saya tetap bekerja dengan cara saya sendiri. Tidak ada yang bisa masuk ke sistem saya tanpa izin saya, termasuk kamu." ia menoleh ke arah Cyrus. "Saya bukan aset. Saya partner kerja...dan hidupmu."
"Disetujui." ujar Cyrus. "Tapi ada satu hal yang aku tambahkan dari sisiku."
"Apa."
Cyrus berbalik menghadapnya sepenuhnya, dan dalam cahaya kekuningan yang jatuh dari lampu jalan di sisi jembatan, Calypsa bisa melihat ekspresinya dengan sangat jelas. Tidak ada lapisan apapun di sana malam ini, tidak ada jarak yang profesional, tidak ada kalkulasi yang biasanya selalu bisa Calypsa rasakan di balik cara pria ini memandang segalanya.
Hanya Cyrus. Hanya ini.
"Apa yang terjadi semalam, akan selalu terulang di setiap malam." Cyrus menyeringai menatap Calypsa.
Calypsa menatapnya.
Pria yang tidak pernah memilih kata-kata yang berlebihan, yang tidak pernah menggunakan kalimat lebih panjang dari yang diperlukan, yang sudah selama berminggu-minggu berbicara dalam instruksi dan analisis dan pernyataan-pernyataan singkat yang tidak meninggalkan ambiguitas, sekarang berdiri di tepi kanal dalam gerimis Aethelgard dan mengatakan sesuatu yang mengandung banyak hal di balik kesederhanaannya.
"Itu kalimat yang sangat berani untuk seseorang yang biasanya sangat ekonomis dengan kata-katanya." ujar Calypsa.
"Aku sedang berlatih, sebagai partner hidupmu." jawab Cyrus, dan ada sesuatu di sudut bibirnya yang naik sangat tipis.
Calypsa menatapnya selama beberapa detik, membiarkan kata-kata itu benar-benar mendarat sebelum menjawab.
"Tidak ada lagi jarak yang tidak perlu." ucapnya pelan, mencoba kata-kata itu di mulutnya sendiri. "Baik."
Cyrus mengulurkan tangannya.
Bukan gestur yang dramatis. Hanya tangan yang terbuka, menunggu, di tengah gerimis yang semakin serius turun di atas distrik selatan Aethelgard. Calypsa menatap tangan itu sebentar, tangan yang sama yang pernah ia rasakan menggenggam jari-jarinya di bawah meja ruang kendali, yang menyentuh setiap lekuk tubuhnya tadi malam.
Ia meletakkan tangannya di sana.
Cyrus menggenggamnya dan mulai berjalan menyusuri tepi kanal, dan Calypsa berjalan di sisinya dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang sudah sangat lama menunggu untuk menjadi hal yang biasa.
Mereka berjalan dalam diam yang hangat, bahu mereka bersentuhan sesekali, langkah mereka menemukan ritme yang sama tanpa perlu kesepakatan. Di sepanjang kanal, Aethelgard malam itu terlihat berbeda dari biasanya, atau mungkin Calypsa yang melihatnya dengan cara yang berbeda, lampu-lampu yang sama dan air yang sama dan gedung-gedung tua yang sama, tapi semuanya terasa sedikit lebih ringan dari yang selalu ia ingat.
Di satu titik Cyrus berhenti.
Di bawah jembatan tua yang menaungi satu bagian kanal dari gerimis, ia berbalik menghadap Calypsa dan menatapnya dengan cara yang sudah sangat Calypsa kenal tapi tidak pernah kehilangan efeknya. Tangannya yang tidak menggenggam tangan Calypsa bergerak ke wajahnya, ibu jarinya menelusuri tulang pipinya dengan sangat pelan, membuang setetes gerimis yang hinggap di sana.
"Beberapa jam sangat lama." ujar Cyrus pelan, dan suaranya dalam ketenangan di bawah jembatan itu terdengar berbeda dari suaranya di ruang kendali, lebih dalam, lebih sunyi, lebih milik momen ini saja.
"Untuk seseorang yang tidak suka menunggu." ujar Calypsa.
"Aku tidak pernah bilang aku tidak suka menunggu."
"Tapi kamu sudah menghubungi dalam 10 jam."
Sudut bibir Cyrus naik, dan kali ini lebih dari setengah sentimeter, lebih dari yang biasanya ia izinkan. "Kamu sangat teliti."
"Itu pekerjaan saya." ujar Calypsa.
Cyrus menatapnya dari jarak yang sangat dekat, dan Calypsa bisa melihat di matanya sesuatu yang sudah lama ada di sana tapi baru malam ini benar-benar ia biarkan terlihat sepenuhnya, sesuatu yang hangat dan berat dan sangat tulus.
Ia mencium Calypsa di bawah jembatan tua itu, dalam gerimis yang mengetuk permukaan kanal di sekitar mereka, dengan cara yang tidak pernah ia lakukan di dalam markas atau di konteks apapun yang terkait pekerjaan. Ciuman yang lambat dan dalam dan terasa seperti sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan tapi tidak menemukan kata yang tepat sampai malam ini.
Calypsa melingkarkan satu tangannya di kerah jaketnya dan membalasnya, membiarkan suara air dan gerimis dan kota yang tidak pernah benar-benar tidur di sekelilingnya menjadi latar belakang dari sesuatu yang terasa sangat privat dan sangat milik mereka berdua saja.
Ketika mereka akhirnya terpisah, dahi mereka masih bersentuhan, napas mereka bercampur dalam udara dingin malam itu.
Kemudian, dengan keputusan yang Calypsa ambil sangat sadar dan tidak menyesalinya bahkan sedetik pun, ia menyandarkan kepalanya sebentar di dadanya, mendengarkan detak jantung di balik jaketnya yang tidak pernah setranang ekspresi wajah pria ini.
Cyrus meletakkan dagunya di atas kepalanya dan tidak bergerak.
Di luar naungan jembatan, gerimis Aethelgard berubah menjadi hujan yang lebih sungguhan, mengetuk permukaan kanal dengan ribuan suara kecil yang bercampur menjadi satu, dan tidak satu pun dari mereka bergerak untuk mencari tempat berteduh.
Mereka membiarkan hujan Aethelgard melakukan apa yang selalu ia lakukan, jatuh tanpa permisi di atas apapun yang ada di bawahnya, termasuk dua orang yang berdiri di tepi kanal dengan tangan yang masih saling menggenggam dan tidak ada tanda-tanda akan melepaskannya dalam waktu dekat.
"Kita perlu masuk." ujar Calypsa akhirnya, meski tidak bergerak dari tempatnya.
"Sebentar lagi." jawab Cyrus
Dan Calypsa memutuskan bahwa sebentar lagi adalah jawaban yang sangat memuaskan.