NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Sementara itu, di anak tangga batu pualam yang menghubungkan puncak gunung dengan area gubuk tersebut, sekelompok murid elit sekte dalam sedang berjalan tergesa-gesa. Mereka adalah murid-murid inti kebanggaan sekte yang diperintahkan untuk mencari keberadaan Kepala Sekte dan para tetua yang menghilang secara misterius sejak malam tadi.

Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda tampan bernama Chen Feng, murid jenius yang memegang pedang giok putih bersinar di tangan kanannya dengan gagah. Jubah sutra biru mudanya berkibar elegan tertiup angin gunung, wajahnya memancarkan aura arogansi dan kepercayaan diri yang sangat tinggi layaknya seorang pangeran bangsawan.

"Pasti ada iblis tingkat raja yang berani menyusup dan menyekap guru kita di gunung belakang ini," ucap Chen Feng dengan nada penuh keyakinan di depan adik-adik seperguruannya. Dia menghunus pedang gioknya sedikit, memancarkan niat membunuh yang dingin untuk menunjukkan keberaniannya sebagai calon penerus Kepala Sekte di masa depan.

Para murid elit lainnya mengangguk setuju dengan tatapan penuh kekaguman, tangan mereka dengan sigap mencengkeram gagang senjata masing-masing untuk berjaga-jaga dari serangan gaib. Mereka melangkah melewati pepohonan pinus dengan formasi tempur yang sangat rapat, siap untuk menghadapi monster mengerikan apa pun yang bersembunyi di balik kabut.

Namun, begitu mereka melewati tikungan terakhir dan tiba di area halaman gubuk reyot tersebut, langkah mereka terhenti secara serempak layaknya patung batu pualam. Mulut para murid jenius itu terbuka lebar, mata mereka membelalak ngeri melihat pemandangan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan dalam mimpi terburuk sekalipun.

Di depan mata mereka, Kepala Sekte Zhao Wuji yang sangat mereka agungkan sedang jongkok di atas lumpur, tangannya kotor mencabuti rumput berduri dengan susah payah. Jubah emasnya yang melambangkan kekuasaan mutlak kini dipenuhi noda tanah merah dan keringat bau yang sangat merusak citra dewa yang selama ini dia bangun.

Di sudut lain, Tetua Lin sedang mengepel lantai beranda gubuk menggunakan kain lap kotor, wajahnya yang penuh wibawa kini terlihat sangat memelas dan kelelahan. Puluhan tetua ranah Inti Emas lainnya juga sedang sibuk membersihkan selokan kecil di samping gubuk dengan tangan kosong layaknya sekumpulan budak rendahan yang dihukum.

"G-Guru? Apa yang sedang Guru lakukan di tempat kumuh ini?" panggil Chen Feng dengan suara bergetar parah, pedang gioknya hampir saja terlepas dari genggaman tangannya yang mendadak lemas. Dia melangkah maju dengan ragu-ragu, tidak percaya bahwa pria tua berlumuran lumpur itu adalah guru agung yang selalu mengajarinya tentang harga diri seorang kultivator elit.

Mendengar suara panggilan murid kebanggaannya, Kepala Sekte Zhao Wuji langsung mendongakkan kepalanya dengan gerakan panik yang sangat kentara. Wajah pria paruh baya itu seketika memerah padam karena rasa malu yang luar biasa, harga dirinya di depan para murid kini benar-benar hancur tidak tersisa sedikit pun.

Dia buru-buru melepaskan rumput liar di tangannya, mencoba berdiri tegak namun tertahan oleh rasa sakit dari korset baja yang menyiksa perut buncitnya secara brutal. "B-bocah tengik, siapa yang menyuruhmu datang ke sini tanpa izin?!" bentak Kepala Sekte dengan suara melengking tinggi untuk menutupi kegugupannya yang memalukan.

Suara keributan di halaman itu akhirnya membuat Anjing Petir Ekor Tiga yang sedang tidur siang di dekat jendela terbangun dengan perasaan sangat kesal. Monster raksasa penjaga peternakan itu langsung bangkit berdiri, bulu hitamnya berdiri tegak memancarkan kilatan petir biru yang menyambar-nyambar dengan ganas ke udara siang yang terik.

Hewan buas itu mengaum keras ke arah kelompok murid elit tersebut, memamerkan deretan taring tajamnya yang masih menyelipkan sisa daging ayam panggang tadi malam. Hembusan angin panas yang keluar dari mulut anjing itu membuat Chen Feng dan rekan-rekannya terlempar mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi yang kehilangan darah.

Keributan yang semakin bising itu pada akhirnya kembali mengganggu waktu tidur siang Li Zhen yang sangat berharga di atas kasur bulu angsanya. Pemuda kurus itu bangkit dari ranjangnya dengan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun, urat di dahinya menonjol keluar karena kesabaran fana-nya sudah benar-benar habis terbakar.

Li Zhen melangkah keluar dari gubuk dengan langkah cepat, wajahnya ditekuk sangat masam memancarkan aura membunuh yang jauh lebih menakutkan daripada anjing petir di sebelahnya. Dia berkacak pinggang di ambang pintu yang belum selesai diperbaiki, menatap tajam ke arah kelompok murid elit berbaju sutra biru yang sedang gemetar ketakutan di ujung halaman.

"Siapa kumpulan anak-anak manja yang berani berteriak-teriak di halamanku saat jam tidur siang ini?!" bentak Li Zhen dengan suara yang menggetarkan seluruh halaman berlumpur tersebut. Dia mengarahkan jari telunjuknya yang kurus tepat ke hidung Chen Feng yang mancung, membuat pemuda jenius itu langsung menelan ludah dengan susah payah menahan teror gaib.

Chen Feng mencoba memberanikan diri, mengangkat pedang gioknya dengan tangan yang bergetar hebat untuk menunjuk balik ke arah pemuda gembel di depannya. "S-siapa kau, iblis kotor? Mantra hitam apa yang kau gunakan untuk mencuci otak guru-guru agung kami hingga menjadi budak rendahanmu?!" teriak Chen Feng sok berani dan menantang maut.

Mendengar muridnya memaki sosok yang dia yakini sebagai alkemis dewa pendendam, Kepala Sekte Zhao Wuji hampir saja pingsan karena ketakutan yang meremas jantungnya dengan kuat. Dia langsung menjatuhkan dirinya ke atas tanah berlumpur, bersujud ke arah Li Zhen dengan gerakan sangat cepat dan memohon ampun dengan suara yang terdengar serak.

"Senior Agung, mohon ampuni kelancangan murid bodoh ini, dia benar-benar tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan eksistensi setingkat dewa abadi!" ratap Kepala Sekte dengan sangat memelas dan menyedihkan. Tindakan merendahkan diri dari pemimpin tertinggi sekte itu langsung menghancurkan sisa-sisa kewarasan para murid elit yang menyaksikan adegan surealis tersebut tanpa bisa berkedip.

Sistem Pembicara Sampah Surgawi di dalam kepala Li Zhen langsung berdenting dengan sangat nyaring, merespons rasa tidak aman dan kesombongan palsu yang terdeteksi dari para murid jenius itu. Layar merah menyala muncul secara massal di atas kepala kelompok pemuda berseragam biru muda itu, menampilkan aib paling menjijikkan mereka yang siap untuk dikuliti hidup-hidup oleh lidah tajam Li Zhen.

Senyum iblis andalan Li Zhen kembali mengembang dengan sempurna, dia mengabaikan Kepala Sekte yang sedang bersujud dan melangkah santai mendekati Chen Feng yang masih memegang pedangnya. Matanya menyipit tajam, membaca tulisan bercahaya di layar sistem dengan perasaan sangat gembira layaknya anak kecil psikopat yang baru saja menemukan mainan baru untuk dirusak.

"Jadi kau adalah murid jenius kebanggaan utama dari sekte besar ini, ya?" ejek Li Zhen dengan suara rendah yang mengintimidasi dan merusak mental lawan. "Murid jenius yang diam-diam mencuri celana dalam sutra milik kakak seperguruan wanitanya dan menyembunyikannya di bawah bantal tidurnya setiap malam untuk dicium?"

Wajah tampan Chen Feng yang tadinya pucat pasi seketika berubah menjadi sepucat mayat yang sudah dikubur selama tiga hari berturut-turut di dalam peti mati beku. Pedang giok kebanggaannya jatuh terlepas dari genggaman tangannya yang kehilangan tenaga, membentur batu pualam dengan bunyi dentingan keras yang memecah keheningan menegangkan di halaman tersebut.

Para murid lain di belakangnya langsung menoleh ke arah Chen Feng dengan pandangan jijik tingkat dewa dan rasa tidak percaya yang sangat kental mendominasi udara. Rahasia mesum paling gelap dari sang idola sekte kini terbongkar tanpa sisa di depan para tetua terhormat dan teman-teman seperjuangannya sendiri secara sangat brutal dan tanpa ampun.

Dao Heart Chen Feng hancur lebur berkeping-keping seperti kaca tipis yang dihantam palu godam raksasa, energi spiritual di dalam jalur meridiannya langsung memberontak liar merobek organ dalamnya. Pemuda jenius itu memuntahkan seteguk darah segar yang mengotori jubah biru mudanya, lalu jatuh berlutut memegangi kepalanya sambil menangis meraung-raung seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya.

[Ding! Target Chen Feng mengalami kehancuran mental permanen dan degradasi moral stadium akhir. Mendapatkan +15.000 Poin Sampah.]

Li Zhen tertawa terbahak-bahak melihat reaksi yang sangat memuaskan tersebut, dia memutar tubuhnya untuk menatap sisa murid elit yang kini saling berpelukan erat karena ketakutan luar biasa. "Dan untuk kalian semua, jika kalian tidak ingin rahasia memalukan kalian kubongkar di sini, lebih baik kalian bergabung dengan guru kalian untuk membersihkan selokan busuk itu sekarang juga!" ancamnya tanpa memberikan jalan keluar.

Tanpa berpikir dua kali atau menunggu aba-aba dari siapa pun, kelompok pemuda dan pemudi bangsawan itu langsung menjatuhkan senjata mewah mereka ke tanah dengan gerakan super panik. Mereka berlari tergopoh-gopoh menuju selokan berlumpur di samping gubuk, langsung menceburkan diri dan mengais sampah menggunakan tangan kosong mereka yang halus dan selama ini sangat terawat.

Li Zhen mengangguk puas melihat tambahan tenaga kerja paksa gratisan yang baru saja dia rekrut dengan metode pemerasan emosional tingkat tinggi ini. Dia melangkah kembali ke dalam gubuk reyotnya, menyilangkan tangan di belakang kepala dengan perasaan sangat bahagia karena otoritas absolut yang kini dia genggam erat.

Benua Awan Surgawi memang tempat yang kejam bagi mereka yang lemah secara fisik dan tidak memiliki bakat sihir sama sekali sejak dilahirkan. Namun, bagi seorang pemuda yang dianugerahi mulut paling berbisa dan sistem penelanjang aib mutlak, dunia ini hanyalah taman bermain besar yang dipenuhi oleh badut-badut konyol berseragam sutra mahal.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!