NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Gilang duduk di ruang tunggu bersama Wildan dan Sekar. Bocah itu tampak lemas, bibirnya masih pecah dan luka sariawannya makin terlihat jelas.

“Masih sakit?” tanya Gilang.

Wildan menggeleng pelan. “Udah nggak, Kak. Dikit aja.”

Sekar menatap jam dinding. “Dokternya bilang hasilnya keluar sore ini.”

Gilang hanya mengangguk. Ia tak banyak bicara sejak tadi. Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan terus berputar—kenapa Wildan sering sakit, kenapa sariawan bisa separah itu.

Sekitar dua jam kemudian, seorang perawat memanggil namanya.

“Pak Gilang, boleh ke ruang dokter sekarang? Hasilnya sudah keluar.”

Sekar refleks menatap kakaknya. Gilang menarik napas, menepuk bahu Wildan sebentar.

“Kamu tunggu sama Kak Sekar dulu, ya.”

Ia berdiri dan berjalan menuju ruang dokter dengan langkah berat.

Gilang Menatap hasil laboratorium di tangannya. Suasana ruang itu terasa hening, hanya terdengar bunyi halus pendingin ruangan.

“Pak Gilang,” ujar dokter perlahan, matanya bergeser dari berkas ke wajah Gilang. “Saya mau pastikan dulu beberapa hal sebelum kita bahas hasilnya.”

Gilang mengangguk pelan, mencoba tenang. “Iya, Dok.”

“Adik Pak Gilang, Wildan… apakah pernah menjalani transfusi darah sebelumnya?”

Pertanyaan itu membuat Gilang mengernyit. “Nggak pernah, Dok. Seingat saya, Wildan belum pernah dirawat sampai butuh transfusi.”

Dokter menatapnya lama, lalu menunduk menulis sesuatu di kertas. “Baik. Karena… hasil ini menunjukkan sesuatu yang perlu kita bicarakan lebih serius.”

Gilang mencondongkan tubuh, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Maksud Dokter apa?”

Dokter mengangkat pandangannya lagi, wajahnya serius tapi lembut. “Nanti saya jelaskan dengan detail, tapi sebelumnya… saya perlu tahu juga, bagaimana kondisi kesehatan Ibu Wildan akhir-akhir ini?”

Gilang menatap dokter tanpa suara. Ada perasaan eg-degan yang sangat kuat didadanya.

Gilang mengusap wajahnya lelah. “Ibu saya… sakit kanker limfoma, Dok. Udah dua tahun rutin kemoterapi di rumah sakit. Tapi selama ini nggak pernah dibilang apa-apa soal penyakit lain.”

Dokter menatapnya dalam, suaranya tenang tapi tegas. “Saya mengerti. Tapi hasil Wildan menunjukkan adanya infeksi yang… tidak mungkin muncul begitu saja, apalagi kalau tidak ada riwayat transfusi darah.”

Gilang menegakkan tubuh, matanya tajam menatap dokter. “Maksud Dokter… penyakit apa?”

Dokter menunduk sebentar sebelum menjawab pelan, “Infeksi HIV, Pak. Dan kalau dilihat dari polanya… kemungkinan besar, Wildan tertular sejak lahir.”

Gilang terpaku beberapa detik. Suara dokter terasa menggema di kepalanya, tapi maknanya terputsr diotaknya—tak bisa benar-benar ia cerna.

“Maaf, Dok… apa tadi?” suaranya nyaris tak keluar.

Dokter menatapnya dengan tatapan hati-hati. “Saya tahu ini sulit diterima, tapi hasilnya sudah kami periksa dua kali. Dan keduanya menunjukkan hal yang sama.”

Gilang menggeleng pelan, lalu cepat—semakin cepat, seolah mencoba menepis kenyataan. “Nggak mungkin… nggak mungkin, Dok. Anak sekecil itu?” napasnya mulai berat. “Dokter becandanya keterlaluan, masa anak sembilan tahun kena HIV?”

Ia berdiri tiba-tiba, kursi di belakangnya bergeser keras menyentuh lantai. Tangannya mencengkeram meja, tapi tubuhnya seperti kehilangan tenaga. “Nggak mungkin, Dok. Tesnya salah. Harusnya salah!”

Dokter tetap duduk, menatapnya dengan empati yang dalam. “Saya berharap saya salah, Pak. Tapi hasil laboratorium ini jelas. Dan kami akan melakukan konfirmasi lanjutan supaya bapak yakin sendiri.”

Gilang melangkah mundur, matanya kosong. Ia memegangi kepalanya, seperti berusaha mengusir sesuatu yang tak masuk akal dari pikirannya. “Nggak… Wildan anak kecil. Dia nggak pernah transfusi, nggak pernah… ini pasti ada yang salah. Dokter jangan main-main soal beginian!”

Suaranya pecah di akhir kalimat. Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit, terlalu menakutkan untuk mendengar hal itu.

Gilang berusaha menarik napas, tapi dadanya sesak. Ia menatap dokter dengan pandangan yang campur aduk antara marah, takut, dan bingung.

“Ibu saya memang sakit, Dok,” katanya cepat, suaranya mulai meninggi. “Selama ini dia rutin kemoterapi di rumah sakit besar, semua hasilnya selalu dilaporkan ke saya—dan nggak pernah, nggak pernah sekalipun ada keterangan kalau beliau pengidap HIV.”

Dokter tetap tenang, menatap Gilang tanpa memotong.

“Jadi tolong jangan asal ngomong!” lanjut Gilang, langkahnya setengah maju. “Kalau adik saya… kalau adik saya bisa sampai begini, berarti alat tes di lab kalian yang rusak! Pasti ada kesalahan data, atau mungkin—” ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu menggeleng keras. “Nggak, nggak mungkin. Wildan cuma sariawan, cuma itu.”

Nada suaranya melemah di akhir kalimat. Tapi matanya masih menyala, menolak tunduk pada kenyataan yang baru saja diungkapkan.

Dokter meletakkan bolpoinnya pelan di atas meja. “Saya paham perasaan Bapak. Tapi alat tes kami sudah melalui prosedur standar. Kita akan ulang pemeriksaan kalau Bapak mau, tapi… tolong bersiap untuk semua kemungkinan.”

“Bersiap?” Gilang tertawa getir. “Saya nggak akan siap buat hal yang nggak nyata, Dok.”

Ia membalik badan, melangkah ke luar ruangan sebelum dokter sempat menahannya.

Langkahnya cepat, tapi matanya berkaca menahan kenyataan yang sulit diterima.

Gilang membuka pintu ruang dokter dengan hentakan keras. Suara stainless beradu menggema, membuat beberapa orang di koridor menoleh. Ia menggenggam tangan Wildan erat—samoau Wildan kesakitan.

“Yok, kita pulang,” katanya cepat, nadanya berat dan bergetar. “Rumah sakit ini rusak. Rusak semua!”

Wildan yang masih lemas hanya bisa menatap kakaknya dengan bingung, bibirnya yang penuh sariawan tampak perih setiap kali bergerak.

Sekar yang duduk di kursi tunggu langsung berdiri. “Kak? Kenapa? Hasilnya gimana?” tanyanya panik, langkahnya menyusul Gilang yang sudah berjalan cepat melewati lorong rumah sakit.

“Wildan dapat obat, kan? Kak?!” Sekar hampir berlari kecil, mencoba menyeimbangi langkah Gilang yang kaku dan penuh amarah.

Tapi Gilang tak menjawab. Tatapannya kosong, lurus ke depan. Rahangnya mengeras, wajahnya tegang seolah kalau ia membuka mulut sedikit saja, semua yang ia tahan bakal meledak.

Wildan terseret pelan di sisi kakaknya, berusaha mengimbangi langkah Gilang yang semakin cepat. “Kak… pelan… sakit,” bisiknya, menahan perih di sudut bibir yang pecah.

Namun Gilang hanya menatap ke depan, langkahnya tak berhenti. Seolah satu-satunya hal yang ia tahu saat itu hanyalah menjauh—meninggalkan rumah sakit, meninggalkan semua kata “hasil” dan “kemungkinan” yang barusan menghancurkan dunia kecilnya.

********

Begitu sampai di rumah, Gilang langsung membuka pintu dengan keras. Wildan yang masih lemas jalan tertatih ke kamarnya tanpa banyak bicara. Sekar menutup pintu pelan dan menatap Gilang bingung.

“kal, sebenernya dokter bilang apa?” tanyanya pelan.

Gilang duduk di kursi kecil ruang tamu, menatap kosong ke depan. Tangannya mengepal di lutut. Lama dia diam sebelum akhirnya bersuara.

“Wildan… katanya positif HIV.”

Sekar terdiam, matanya melebar. “Apa?”

Gilang menunduk, nadanya berat. “Dokter udah tes dua kali. Hasilnya sama.”

Sekar menggeleng cepat. “Nggak mungkin, Kak. Wildan nggak pernah transfusi, nggak pernah apa-apa.”

Dari arah dapur terdengar suara roda berderit pelan. Ibu muncul dengan kursi rodanya, wajahnya masih basah oleh uap dapur.

“Wildan kenapa?” tanyanya cepat, suaranya bergetar tapi masih berusaha terdengar tenang. “Tadi katanya cuma sariawan, kok lama banget di rumah sakit?”

Gilang tetap diam, menatap sepatunya sendri. Rahangnya mengeras, matanya merah menahan sesuatu yang sulit diucapkan.

“Ibu nanya, Lang…” suara itu mulai panik sekarang. “Wildan kenapa?”

Sekar menelan ludah. Ia menatap kakaknya sebentar, tapi Gilang tak bergeming. Akhirnya, dengan suara lirih, ia menjawab, “Katanya… Wildan kena HIV, Bu.”

Semuaya langsung hening.

Ibu terdiam di tempat, kedua tangannya refleks menggenggam roda kursinya. “HIV?” gumamnya pelan, swperti berbisik.

Sekar menunduk, matanya mulai berkaca. Gilang masih tak bergerak, tapi napasnya tersengal.

Ibu akhirnya menutup mulutnya dengan tangan. Kursinya bergoyang pelan karena tubuhnya bergetar. “Enggak… enggak mungkin…” suaranya pecah di tengah napas yang berat.

Dia menatap Gilang, seolah berharap anaknya membantah. Tapi Gilang hanya menunduk lebih dalam.

Air mata ibu jatuh satu-satu. Tak ada suara tangis keras, hanya isak pelan dan wajah yang kehilangan arah.

“Anak sekecil itu…,” bisiknya lemah. “Kenapa harus dia…”

Gilang akhirnya berdiri. Kursinya berderit pelan, menimbulkan suara yang membuat Sekar menoleh. Tatapannya tertuju pada ibunya yang masih menunduk, bahunya bergetar.

“Bu,” suaranya serak tapi tegas, “kata dokter… kemungkinan Wildan tertular sejak dalam kandungan.”

Ia menatap ibunya tajam, napasnya mulai berat. “Apa Ibu nyembunyiin sesuatu dari kami?”

Ibu tak langsung menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan, matanya basah tapi pandangannya tak fokus.

“Bu, jawab!” suara Gilang meninggi, “Selama ini Ibu sakit apa?? Dokter bilang infeksi HIV bisa lama nggak ketahuan. Jadi, sebenarnya… Ibu tahu?”

Sekar menatap kakaknya cemas. “Kak, pelan-pelan…” bisiknya, tapi Gilang tak menggubris.

Ibu akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Suaranya pecah di antara isakan, “Maafkan ibu, nak... Maafkan ibu."

Tangisnya semakin dalam, tubuhnya bergetar hebat. Ia mencoba bicara lagi, tapi kata-katanya tak keluar, hanya tersendat di tenggorokan.

Gilang memandangi ibunya lama. Wajahnya campur aduk antara bingung, marah, dan takut. “Jadi bener?” tanyanya lirih, tapi Ibu sudah terisak tanpa mampu menjawab apa-apa.

“Ibu gak mau kalian khawatir…” suaranya parau, nyaris seperti bisikan. “Jadi ibu…”

Kalimat itu menggantung. Ibu menunduk, dadanya naik turun tak beraturan, air mata terus mengalir.

Gilang menatapnya tajam tapi suaranya bergetar. “Jadi Ibu nutupin semua?” katanya pelan tapi tegas. “Bu, apa yang Ibu tutup-tutupi selama ini malah berdampak buruk buat Wildan!”

Ibu terisak makin keras, tapi tetap tak bisa bicara. Tangannya menutupi wajah, bahunya bergetar hebat.

“Ibu pikir Ibu melindungi kami,” lanjut Gilang, suaranya mulai pecah, “tapi Wildan sekarang yang harus nanggung semuanya…”

Sekar berusaha mendekat, mencoba menenangkan keduanya. “Kak, udah…” katanya pelan. Tapi Gilang tak menjawab.

Ia menatap ibunya lama, napasnya berat. “Kalau Ibu bilang dari dulu, mungkin Wildan bisa ditangani lebih cepat,” ujarnya lirih. “Sekarang udah terlambat, Bu…”

Sekar menatap ibunya dengan hati-hati. Suaranya pelan, hampir tak terdengar.

“Bu… sejak kapan Ibu tahu kena virus itu?”

Ibu diam sejenak. Matanya kosong, lalu pelan-pelan ia menghela napas panjang. “Sejak… bapak kalian masih ada,” jawabnya lirih.

Gilang spontan mendongak, wajahnya langsung berubah tegang. “Apa?” suaranya meninggi. “Jadi Bapak yang—” napasnya terhenti sesaat, matanya membesar. “Bapak yang nularin penyakit itu ke Ibu dan Wildan?”

Ibu tak sanggup menatap anaknya. Air matanya jatuh lagi, tangan yang tadi menutupi wajahnya kini gemetar di pangkuan.

“Bu, jawab!” seru Gilang, suaranya pecah antara marah dan tak percaya. “Selama ini kita kira Bapak cuma sakit biasa! Luka, sariawan, semua dibilang karena kecapekan—tapi ternyata…”

Sekar buru-buru memegang lengan kakaknya. “Kak, tolong tenang dulu,” bisiknya cemas. Tapi Gilang menepis pelan, matanya tak lepas dari ibunya.

Ibu akhirnya bicara pelan, nyaris bergetar. “Ibu nggak tahu waktu itu, Lang… Ibu baru tahu setelah Bapak meninggal. Dokter yang kasih tahu, tapi Ibu… Ibu nggak punya hati buat ngasih tahu kalian. Ibu takut kalian benci Bapak…”

“Tanpa Ibu nutupin pun, kami udah benci sama Bapak, Bu!” suara Gilang meledak, keras dan parau. Matanya merah, dadanya naik turun cepat.

“Ibu liat kita sekarang!” lanjutnya dengan nada gemetar. “Kita menderita gara-gara dia! Hutang numpuk di mana-mana, rumah dijual, Ibu sakit, Wildan…” suaranya patah di tengah kalimat. Ia menatap lantai sesaat, lalu menatap ibunya lagi dengan rahang mengeras. “Dan sekarang… dia bahkan mewariskan penyakit dari hasil ‘jajan’nya ke anaknya sendiri!”

Sekar spontan menutup mulutnya, menahan tangis. “Kak Gilang, cukup…” ucapnya pelan, tapi Gilang tak berhenti.

“Ibu masih mau lindungin orang kayak gitu?” katanya tajam. “Dia udah nggak ada, Bu, tapi lihat apa yang dia tinggalin! Luka, utang, penyakit—semua ditanggung kita!”

Ibu mulai menangis makin keras. Tubuhnya sedikit membungkuk di kursi roda, suaranya serak di sela isakannya. “Ibu cuma nggak mau kalian kehilangan hormat ke Bapak kalian…”

“Terlambat, Bu,” potong Gilang dingin. “Dia sendiri yang nginjek-injek rasa hormat itu sejak lama.”

Sekar tak tahan lagi, air matanya jatuh. Ia berjongkok di samping ibunya, menggenggam tangan sang ibu yang gemetar. “Udah, Bu, udah…” bisiknya, tapi suasana rumah sudah berat dan panas.

Suasana di ruang tamu masih tegang. Gilang berdiri dengan wajah merah, Sekar di lantai menggenggam tangan ibu yang terus menangis di kursi rodanya.

Pintu depan terbuka pelan.

“Bu…?” suara pelan terdengar dari arah teras.

Mereka semua menoleh. Putri berdiri di sana dengan seragam SMP yang masih lengkap, tasnya masih di punggung. Ia memandangi pemandangan itu dengan bingung.

Putri melangkah pelan ke dalam. “Kenapa, Bu?” tanyanya hati-hati.

Tak ada yang menjawab. Gilang menatap ke arah lain, Sekar diam, dan ibunya hanya menunduk sambil mengusap air mata.

Putri akhirnya bicara lagi, suaranya bergetar. “Kalian kenapa sih?”

Ia menatap satu-satu, dan air matanya ikut jatuh tanpa tahu alasan pasti. Hanya tahu, ada sesuatu yang salah besar di rumah itu.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!