NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 pintu tapi hati cuman 1

Punya 10 istri mungkin impian banyak pria. Apalagi, semuanya cantik. Berbakat. Terpelajar. Dari keluarga terpandang. Kalau dibawa kondangan, satu batalion bisa minder.

Tapi 10 istri juga \= 10 kepala, 10 maunya, 10 drama. Bingung cara nanganinnya. Salah senyum ke satu, yang sembilan ngambek massal. Salah masuk kamar, besoknya teh dikasih garam.

Chandra berdiri di tengah lorong. Lantai dua. Kayu jati. Lampu temaram. Di hadapannya, 10 pintu. Deret. Rapi. Setiap pintu ada nama ukirannya: _Ratna, Selir 2, Selir 3..._ sampe _Selir 9_. Dan di pojok paling ujung, pintu ke-10. Nggak ada ukiran. Catnya baru. Itu kamar Anna.

Sembilan pintu pertama: kewajiban. Politik. Janji. Tidur sama mereka \= aman. Nggak ada perang. Nggak ada bisik-bisik.

Tapi entah mengapa. Malam ini, mata Chandra nggak liat 9 pintu itu. Hatinya juga nggak nengok. Kompas di dadanya cuma nunjuk satu arah: pojok.

Kakinya gerak sendiri. Pelan. _Tap... tap... tap._ Ngelewatin pintu Ratna. Nggak nengok. Ngelewatin pintu Selir 4 yang tadi siang nyodorin kue. Nggak nengok.

Makin deket ke pintu ke-10, makin jelas suaranya. Dari celah bawah pintu.

Senandung kecil. Pelan. Lagu Nina Bobo. Terus disaut celotehan anak.

"Ibu, kalau bintang jatuh boleh minta apa aja?"

"Boleh, Sayang. Cikal mau minta apa?"

"Minta Paman Jahat nggak galak lagi. Biar bisa tidur bareng kita."

_Deg._

Langkah Chandra berhenti. Pas di depan pintu. Tangannya udah naik. Mau ketok. Mau dorong. Mau masuk.

Karena rasanya... kamar itu paling hangat. Paling aman. Nggak ada bau minyak tawon. Nggak ada bau ambisi. Adanya bau teh melati, bau buku, bau... rumah.

Otaknya udah ngebayangin: masuk, biarin Cikal protes “Paman Jahat!”, terus nyusup di antara mereka. Tidur bertiga. Satu selimut. Dia di pinggir, jaga. Anna di tengah, Cikal meluk. Nggak ngapa-ngapain. Cuma... ada. Napas bareng. Denger jantung bareng.

Surga. Itu surga versi Jendral yang 5 tahun tidurnya sama pistol di bawah bantal.

Tapi... tangannya turun lagi.

Otak Jendral ngerem. Kenceng.

_Sadar, Chandra. Sadar._

_Anna nggak cinta lo. Dari dulu. Dia bilang sendiri. Dia cuma mau jadi adikmu. Titik._

_Pantes aja dia milih tinggal di gubuk belakang rumah 5 tahun. Pantes aja dia nggak muncul ke permukaan. Nggak ngejar lo. Nggak rebut lo dari Ratna. Karena dia nggak mau lo._

_Kalau dia mau, udah dari dulu dia rebut. Anna abad 21 bisa ngebom kantor. Rebut laki satu mah gampang._

_Lo masuk sekarang, lo apa? Pengganggu. Lo nawarin diri ke orang yang nggak mau._

Gengsi. Harga diri. Dosa 5 tahun. Semua numpuk di tenggorokan.

Chandra mundur. Selangkah. Dua langkah. Punggungnya nyender ke dinding lorong. Dingin. Sama dinginnya kayak kenyataan.

Dia milih pergi dari lorong itu. Turun tangga. Jalan ke halaman belakang. Duduk di bangku batu, di bawah pohon mangga. Sendirian. Bengong. Napatin bintang.

Langit 80-an bersih. Bintang banyak. Tapi yang dia cari bukan bintang.

Dia cari jawaban.

---

_Tek._

Pundaknya ditepuk. Pelan. Nggak kayak tepukan prajurit. Nggak kayak tepukan Ratna yang selalu pake kuku.

"Jendral kenapa melamun di sini?" Bagas. Ajudan setianya. Udah ganti baju sipil. Bawa 2 gelas kopi item. Nodong satu ke Chandra. "Kopi, Jendral. Biar nggak kedinginan."

Chandra nerima. Nggak ngomong. Nyruput. Pahit. Cocok sama hatinya.

Bagas duduk. Di samping. Nggak terlalu deket, nggak terlalu jauh. Jaga adab. Tapi mulutnya nggak bisa dijaga.

"Jendral bingung mau pilih kamar yang mana?" tanyanya. Ngeledek. Sambil senyum. "Sepuluh pintu, Jendral. Surga dunia. Kok malah di luar? Nyamuk banyak."

Chandra keciduk. Banget. Tapi wibawa Jendral nggak boleh runtuh. Dia pasang muka datar. "Ngaco. Saya lagi... inspeksi keamanan. Malam-malam rawan maling."

"Siap, Jendral. Malingnya pasti incer hati Jendral," sahut Bagas. Nahan ketawa. "Soalnya dari tadi Jendral nggak ngelirik kamar lain. Ngeliriknya ke atas terus. Ke kamar... pojok."

Chandra nyipitin mata. _Anjing. Ketauan._

Dia diem. Lama. Terus buang napas. Berat. "Bagas."

"Siap, Jendral."

"Apa pendapatmu tentang Cikal?" tanyanya. Pelan. Kayak takut didenger bintang. "Apa... apa dia anakku?"

Bagas kaget. Nggak nyangka Jendral nanya itu. Ke dia. Biasanya ke botol. "Eh... anu, Jendral..." Dia garuk kepala. Mikir. "Aku rasa... iya, Jendral. Dia anakmu."

"Alasannya?" Chandra nengok. Mata elangnya nyala. Butuh validasi. Butuh harapan.

"Inget nggak, Jendral? Waktu di gubuk, pas kita grebek. Cikal ditanya umur berapa," Bagas mulai sok detektif. "Dia jawab: '4 tahun 2 bulan'. Spontan. Nggak mikir. Anak kecil nggak bisa bohong, Jendral. Apalagi soal umur. Itu insting."

Padahal Bagas nggak tau Chandra sama Anna malam pertamanya kapan. Nggak tau Anna “kebakar” 5 tahun lalu itu pas hamil berapa bulan. Dia cuma nebak. Tapi nebaknya... masuk akal.

Chandra melamun. Ngitung di kepala. _5 tahun lalu... 9 bulan... 4 tahun 2 bulan..._ Tanggalnya... masuk. Pas. Banget.

Ada harapan. Kecil. Kayak kunang-kunang. Tapi di hati yang gelap, kunang-kunang itu terang banget.

"Jendral," Bagas lanjut. Bisik-bisik. "Aku denger di kota sebelah, ada dokter baru. Hebat. Dari Batavia. Dia bisa... tes darah. 2 orang. Buat mastiin mereka saudara apa enggak. Akurat katanya. Namanya... tes... apa ya... pokoknya canggih."

Mata Chandra langsung nyala. Bukan nyala marah. Nyala orang nemu oase. "Benarkah?"

"Benar, Jendral! Banyak bangsawan pake. Buat warisan."

"Coba panggil dia," perintah Chandra. Tegas. Nggak pake mikir. "Besok. Nggak. Malam ini juga boleh. Bayar berapa aja."

"Siap, Jendral!" Bagas berdiri, semangat. "Aku urus sekarang."

Bagas lari. Ninggalin Chandra sendirian lagi. Tapi sekarang bengongnya beda. Ada senyum. Tipis banget. Tipisnya kayak benang. Tapi ada.

_Kalau bener... kalau Cikal anakku... berarti Anna..._

Dia nggak lanjutin. Takut kecewa. Tapi jantungnya udah konser.

---

Yang nggak mereka sadari, di balik pintu kaca ruang tengah, satu siluet berdiri. Diam. Dari tadi.

Ratna.

Telinganya panas. Denger semua. Dari "Cikal anakmu?" sampe "panggil dokter tes darah".

Darahnya desir. Dingin. Terus panas. Tes darah \= mati. Kariernya sebagai "istri penyelamat" tamat. Harta Rangga nggak bakal ke dia. Chandra? Pasti buang dia.

_Tidak._

_Nggak boleh._

Tangannya ngepal. Kukunya nancep ke telapak. Berdarah. Tapi dia nggak peduli.

Otaknya muter. Cepet. Kotor. _Dokter. Dateng. Besok. Tes darah. Gagal._

_Harus digagalin._

_Gimana?_

_Dokternya dibunuh? Kelewat rame. Chandra curiga._

_Hasilnya dipalsu? Bisa. Suap. Tapi Chandra bukan bodoh. Dia cek ulang._

_Atau..._

Matanya nyalang. Ke arah kamar pojok. Kamar Anna.

_Orang yang dites jangan Cikal. Atau... darahnya jangan darah Cikal._

_Atau... Anna jangan ada di rumah pas dokter dateng._

Rencana. Rencana busuk mulai disusun. Malam ini juga.

Karena Ratna sadar. Perang rebut Chandra udah kalah. Perang rebut harta udah kalah.

Sekarang perangnya satu: perang eksistensi. Kalau tes darah keluar, dia bukan siapa-siapa. Cuma anak tiri. Cuma mantan.

Dan Ratna lebih baik mati daripada jadi bukan siapa-siapa.

Dia mundur dari pintu. Pelan. Senyum. Senyum Ratna versi asli. Nggak manis. Nggak manja. Licik. Mati.

Besok, dokter boleh dateng. Tapi dia pastiin, tes itu nggak bakal terjadi.

---

Di kamar pojok, Anna bersin. "Hachi!"

"Ibu masuk angin?" Cikal panik. Nyelimutin Anna.

"Enggak, Sayang," Anna ketawa. "Kayaknya ada yang lagi omongin Ibu. Jelek-jelek lagi."

Dia nggak tau, "yang omongin" lagi ngasah pisau. Di kamar sebelah.

Tapi Profesor udah siap. Dari dulu.

Tes darah? Boleh.

Tapi dia yang ambil sampelnya sendiri. Dia yang jaga tabungnya. Dia yang anter ke dokter.

Karena di papan catur ini, Ratu nggak pernah ninggalin Rajanya sendirian. Apalagi kalau Rajanya masih bodo.

Komen ya, thor. Kalo ada rezeki traktir author kopi + jamu kuat biar tahan begadang ngetik perang dokter vs dukun ☕🌿❤

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!