NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Bubur Ayam, Mata Panda, dan Siasat Pagi Buta

Dering alarm dari ponsel pintar di atas nakas memecah keheningan kamar megah itu tepat pada pukul lima pagi. Sebuah tangan dengan buku-buku jari yang sedikit lecet meraba-raba meja, mencari sumber suara bising itu lalu mematikannya dengan sekali tekan. Rama Arsya Anta mengerang pelan, menarik selimut tebalnya hingga sebatas dagu. Matanya terasa lengket, seperti dilem pakai Alteco. Tidur kurang dari empat jam setelah balapan maut melawan Tora di jalur pegunungan Bukit Selatan jelas bukan ide yang bagus untuk kesehatan fisik dan mentalnya.

Seluruh persendiannya protes. Punggungnya pegal, dan sisa memar di pinggangnya masih berdenyut. Biasanya, kalau habis balapan besar apalagi sampai taruhan nyawa begitu, Rama bakal bolos sekolah dengan alasan masuk angin. Ayahnya yang sibuk tidak akan terlalu curiga selama nilai laporannya tetap sempurna. Namun, pagi ini, ada dorongan aneh yang memaksanya menendang selimut dan menyeret kakinya menuju kamar mandi.

Di bawah guyuran shower air dingin, Rama menatap pantulan wajahnya di cermin. Kantung matanya menghitam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Sambil mengusap wajahnya yang basah, cowok itu merutuki dirinya sendiri. Sejak kapan seorang pemimpin The Ghost rela bangun pagi-pagi buta dengan mata sepet hanya karena diancam oleh seorang siswi pindahan cerewet?

"Cuma karena dia pegang rahasia gue. Iya, murni karena itu," gumam Rama mensugesti dirinya sendiri, menyangkal fakta bahwa semalam dia justru tersenyum saat membaca pesan ancaman dari Nayla.

Satu jam kemudian, transformasi sempurna itu selesai. Rambut klimis berbelah pinggir, kacamata minus berbingkai hitam, seragam putih abu-abu yang disetrika licin, dan aroma parfum musk maskulin yang tidak berlebihan. Si Anak Emas SMA Taruna Citra siap beraksi. Di meja makan, dia menyantap roti tawarnya dengan tenang, mengangguk patuh saat ayahnya menceramahi soal try out minggu depan, lalu pamit dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Skenario pagi yang berjalan mulus tanpa cacat.

"Pak Maman, nanti berhentinya jangan pas di depan gerbang sekolah ya. Di ujung gang pertigaan depan aja," instruksi Rama saat mobil sedannya mulai memasuki kawasan jalan raya Yogyakerto yang mulai padat merayap.

"Loh, tumben, Mas Rama? Biasanya kan langsung turun di drop zone VIP sekolah," tanya Pak Maman keheranan dari balik kemudi.

"Nggak apa-apa, Pak. Saya lagi pengin jalan kaki sedikit sambil menghirup udara pagi. Katanya bagus buat nambah konsentrasi belajar," alasan Rama dengan senyum sopan andalannya. Pak Maman hanya mengangguk-angguk kagum, merasa majikan mudanya ini memang kelewat rajin.

Begitu turun dari mobil yang berlalu pergi, Rama langsung membuang napas berat. Dia berjalan menuju sebuah gerobak kayu bercat biru yang mangkal di bawah pohon beringin. Gerobak Bubur Ayam Mang Ocid. Tempat ini terkenal enak, tapi antreannya selalu memancing emosi. Pagi ini saja, sudah ada gerombolan ibu-ibu berdaster yang habis belanja dari pasar dan bapak-bapak ojek pangkalan yang berkerumun di sana.

Rama menelan ludah. Harga dirinya sebagai bos geng yang biasa ditakuti preman aspal mendadak ciut saat harus berdesakan dengan ibu-ibu berdaster motif macan tutul yang ngotot minta kerupuknya dibanyakin.

"Permisi, Bu. Maaf, saya mau pesan," ucap Rama kaku, mencoba menyusup ke barisan depan.

"Antre dong, Dek! Mentang-mentang sekolah di tempat elit main serobot aja. Ibu dari tadi nungguin nih sate ususnya!" semprot seorang ibu-ibu dengan suara melengking.

Rama meringis, langsung mundur selangkah dan menunduk. "Eh, iya, Bu. Maaf. Silakan duluan."

Dalam hati, Rama mengumpat panjang pendek. Awas aja lo, cewek jilbab ungu rese. Kalau sampai ni bubur nggak lo makan habis, gue cekokin ke mulut lo pakai mangkoknya sekalian.

Setelah perjuangan melelahkan selama dua puluh menit, seplastik kresek putih berisi dua bungkus bubur ayam lengkap dengan sate telur puyuh dan usus akhirnya berpindah ke tangan Rama. Dia segera berjalan cepat menuju gerbang sekolah, berusaha menghindari tatapan aneh dari beberapa murid yang baru datang. Tentu saja aneh, Ketua Klub Sains yang biasanya menenteng buku tebal kini menenteng kresek bubur ayam berbau sedap.

Rama melirik jam tangannya. Pukul 06.30 WIB. Dia mempercepat langkahnya menuju gazebo di taman samping perpustakaan, tempat yang secara tidak resmi menjadi meeting point rahasia mereka. Dan benar saja, di sana Nayla sudah duduk santai. Cewek itu memakai jaket hoodie kebesaran menutupi seragamnya, earphone menyumpal telinga, dan kepalanya mengangguk-angguk kecil menikmati musik. Jilbab ungunya terlihat rapi, membingkai wajahnya yang bersih dan cerah di bawah sinar matahari pagi.

Melihat kedatangan Rama, Nayla melepas sebelah earphone-nya. Matanya langsung berbinar menatap kresek putih di tangan cowok itu.

"Wah, selamat pagi, Babu teladanku. Tepat waktu banget. Lo nggak nyelundupin racun tikus di buburnya, kan?" sapa Nayla dengan senyum jahil yang langsung membuat urat sabar Rama menipis.

Rama meletakkan kresek itu di atas meja kayu dengan kasar. "Nih. Makan. Kerupuk dipisah, nggak pakai seledri, sate usus dua, sate telur puyuh satu. Kuah kuningnya dibanyakin. Udah sesuai sama pesanan tuan putri."

Nayla terkekeh pelan, membuka bungkusan itu dengan semangat. "Bagus, bagus. Penilaian kinerja lo pagi ini A plus. Sini duduk, lo nggak beli buat lo sendiri?"

"Gue udah sarapan di rumah," ketus Rama, meski dia tetap menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Nayla. Dia menopang dagu, matanya yang lelah menatap gadis itu menyuapkan bubur ke mulutnya dengan lahap. Entah kenapa, melihat Nayla makan dengan wajah puas membuat rasa kesalnya karena berdebat dengan ibu-ibu di tukang bubur tadi sedikit menguap.

Nayla yang sedang mengunyah tiba-tiba berhenti. Matanya yang bulat menyipit, menatap lurus ke wajah Rama secara intens. Tatapan itu membuat Rama sedikit salah tingkah. Dia buru-buru membetulkan letak kacamatanya.

"Apa lo lihat-lihat?" sungut Rama defensif.

"Mata lo," tunjuk Nayla dengan ujung sendok plastiknya. "Hitam banget kayak panda kurang gizi. Lo habis ngapain semalam? Balapan lagi?"

Rama terkesiap tipis, namun dengan cepat menetralkan ekspresinya. "Ngaco. Gue belajar buat try out matematika. Kan elo sendiri semalam yang nanya-nanya rumus trigonometri. Gue harus mastiin ingatan gue tajam."

Nayla mendecih pelan, tersenyum miring. Dia menyodorkan ponselnya yang layarnya menyala ke hadapan Rama. Di layar itu, terpampang sebuah unggahan akun anonim di Instagram yang sering membahas gosip jalanan Yogyakerto. Fotonya blur, tapi jelas memperlihatkan dua motor yang saling beradu di sebuah tikungan curam di malam hari. Caption-nya berbunyi: Sang Hantu Wana Asri kembali membungkam Kobra di Tikungan Setan semalam. Takhta masih aman!

Darah Rama seakan berhenti mengalir. Dia menatap Nayla dengan rahang mengeras. "Lo... dari mana lo tahu akun-akun sampah kayak gini?"

"Yaelah, Ram. Gue ini mantan anak nakal yang diasingkan nyokapnya, ingat? Mencari info soal dunia malam di kota baru itu keahlian dasar gue," Nayla menarik kembali ponselnya, wajahnya kini berubah sedikit lebih serius. "Tikungan Setan Bukit Selatan itu terkenal makan korban, Ram. Teman gue di kota lama ada yang patah tulang belakang gara-gara jatuh di jalur model begitu."

Rama terdiam. Ada nada yang berbeda dari suara gadis itu. Bukan nada ejekan atau ancaman seperti biasanya, melainkan sesuatu yang... mirip dengan kekhawatiran?

"Gue hafal jalurnya. Nggak usah sok peduli," balas Rama datar, memalingkan wajahnya menatap rumput di sekitar gazebo.

"Dih, siapa yang peduli sama lo? Kegeeran banget," elak Nayla cepat, kembali menyuapkan buburnya, meski kali ini agak canggung. "Gue cuma nggak mau babu gue mati konyol sebelum masa kontraknya habis. Kalau lo mati, siapa yang mau gue suruh-suruh beli siomay Mang Udin pas jam istirahat?"

Rama menoleh kembali, menatap cewek di depannya itu lekat-lekat. Di balik kata-katanya yang pedas dan sikapnya yang seenaknya, Nayla adalah orang pertama yang memperlakukannya sebagai manusia biasa. Bukan sebagai pajangan piala yang harus selalu mengilap seperti kemauan ayahnya, dan bukan sebagai mesin tempur haus darah seperti ekspektasi anak-anak The Ghost. Di depan Nayla, Rama merasa dia bisa menjadi dirinya sendiri yang rapuh, lelah, dan penuh cacat.

"Thanks," gumam Rama sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.

Nayla menghentikan kunyahannya. "Hah? Lo ngomong apa? Suara lo kayak nyamuk kejepit."

"Nggak ada siaran ulang," dengus Rama, kembali memasang wajah menyebalkan. "Habisin buruan. Bel masuk lima menit lagi. Gue nggak mau reputasi gue hancur gara-gara ketahuan nongkrong sama anak baru yang makannya belepotan."

Nayla membelalakkan matanya, mengusap ujung bibirnya yang memang sedikit terkena noda kuah kuning. "Wah, lo bener-bener ya. Udah bagus gue kasih kesempatan duduk semeja sama cewek secantik gue."

Rama terkekeh pelan, sebuah tawa nyata yang lolos begitu saja tanpa bisa dia tahan. Tawa itu terdengar renyah dan tulus, membuat Nayla sejenak terpaku melihatnya. Baru kali ini gadis itu melihat sang Ketua Klub Sains tertawa lepas tanpa beban, bukan senyum kaku dan sopan yang biasa ia lemparkan kepada guru-guru di koridor.

Pagi itu, di bawah rindangnya pohon beringin sekolah, dengan aroma bubur ayam yang masih tersisa di udara, Rama menyadari satu hal yang mengerikan. Rem blong yang terjadi di aspal bypass malam itu ternyata bukan sekadar insiden fisik. Hatinya yang selama ini sedingin es, perlahan mulai kehilangan kendali, dan melaju kencang ke arah seorang gadis berjilbab ungu yang berisiknya minta ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!