❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: EFEK MALAM YANG PANAS
Matahari pagi sudah meninggi, menyinari kamar kecil mereka dengan hangatnya.
Perlahan, Maheera membuka matanya. Namun, saat ia mencoba bergerak untuk bangun...
"Awwwww...!"
Tangisannya tertahan di tenggorokan. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam, pegal luar biasa, dan ada rasa ngilu yang sangat khas menjalar di bagian kewanitaannya.
Ia langsung meringis, wajah cantiknya mengerut menahan rasa sakit yang masih terasa sangat jelas itu.
"Ya Allah... sakit sekali..." gumamnya pelan dengan suara yang terdengar serak dan berat, khas habis beraktivitas berat semalaman.
Ia menoleh ke samping, melihat Aaryan yang masih tidur pulas dengan wajah damai dan senyum puas di bibirnya. Melihat wajah itu, ingatan tentang gairah malam tadi langsung membanjiri otaknya, membuat pipi Maheera memerah padam seketika.
"Dasar pria tak kenal lelah..." gerutunya dalam hati malu-malu. "Semalaman tidak berhenti... sampai aku rasanya mau pingsan."
Dengan susah payah, Maheera mencoba duduk di tepi kasur.
"Nnggghhh..." ia mendesis pelan, tangannya langsung memegang pinggang dan paha bagian dalamnya. Rasanya otot-otot di sana tegang sekali dan perih.
Ia mencoba berdiri tegak. Tapi baru melangkah satu langkah...
"Bruk!"
Kakinya lemas dan gemetar hebat. Ia hampir jatuh jika tidak cepat memegang tiang ranjang. Jalannya pun jadi terbata-bata, sedikit ngesot dan kakinya terbuka sedikit lebar karena rasa perih yang menyiksa jika dikatikan terlalu rapat.
"Aduh... aduh... gimana ini mau jalan ke kamar mandi..." Maheera panik sendiri, keringat dingin mulai keluar. Rasanya ia tidak sanggup berjalan jauh.
Suara gerakan dan erangan pelan itu akhirnya membangunkan Aaryan.
Pria itu menguap lebar, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat melihat pemandangan di hadapannya, mata Aaryan langsung terbelalak lebar dan ia langsung bangun duduk dengan sigap.
"Sayang?! Kenapa?! Kamu kenapa?!" tanya Aaryan panik, langsung melompat turun dari kasur dan menghampiri istrinya.
Ia langsung memeluk pinggang ramping itu untuk menopang tubuh mungil yang tampak gemetar itu.
"Lihat sendiri dong, Mas!" jawab Maheera kesal tapi manja, wajahnya memerah menahan malu dan sakit. "Kaki aku lemas sekali... dan di sini... di sini sakit sekali ngilunya!" tunjuknya pelan ke bagian bawah tubuhnya.
Mendengar itu, Aaryan langsung paham. Wajah gantengnya pun ikut memerah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum salah tingkah.
"Oh... hehehe... maaf ya, Sayang..." ucapnya tertawa kecil penuh rasa bersalah tapi bangga. "Kemarin malam kan aku lagi kangen banget sama kamu... jadi agak 'keras' sedikit ya kerjanya."
"Sedikit apanya! Bukan sedikit tapi setengah mati!" balas Maheera memukul pelan dada bidang itu. "Sekarang aku mau jalan aja susah, Mas! Kakinya gemetar terus! Jalannya jadi kayak bebek gini nih!"
Maheera mencoba melangkah lagi, dan benar saja, jalannya jadi pincang sedikit dan kakinya terbuka lebar karena takut bergesekan. Melihat tingkah lucu istrinya itu, Aaryan tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha! Lucu sekali jalanmu, Sayang! Gemes banget!"
"Masih bisa ketawa! Ini kan gara-gara Mas!" Maheera semakin kesal tapi tidak bisa marah lama-lama. "Aku mau ke kamar mandi tapi nggak sanggup jalan..."
Mendengar itu, Aaryan langsung berhenti tertawa. Dengan sigap dan gerakan cepat, ia langsung menggendong tubuh Maheera secara bridal style (gendongan silang).
"Yahhh! Mas ngapain sih! Taruh aku! Maluuu!" seru Maheera panik, kakinya bergerak-gerak manja.
"Udah diam aja! Suamimu ini masih kuat kok!" jawab Aaryan bangga sambil mendekap tubuh mungil itu erat-erat. "Karena kamu korban 'kekerasan' aku, jadi tugas aku sekarang melayanimu sampai sembuh. Mau ke mana pun, aku yang gendong!"
Aaryan pun berjalan membawa Maheera menuju kamar mandi kecil mereka. Di sepanjang jalan, Maheera hanya bisa membenamkan wajahnya ke dada suaminya, malu sekali tapi hatinya berbunga-bunga.
Sesampainya di kamar mandi, Aaryan tidak langsung meletakkan istrinya. Ia malah menempelkan tubuh mereka berhadapan, menatap mata istrinya dengan tatapan nakal dan penuh cinta.
"Masih sakit banget nggak, Sayang?" tanyanya pelan sambil mengusap paha putih mulus itu dengan lembut.
Maheera mengangguk cepat, matanya berbinar sedih. "Iyaaa... masih perih sekali..."
"Ya sudah... nanti aku pijitin pelan-pelan ya biar enakan. Dan maafkan aku ya sudah membuatmu begini..." Aaryan tersenyum menggoda, lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
"Tapi... jujur ya... kemarin malam aku sangat bahagia dan puas sekali sama kamu. Kamu hebat, Sayang. Kamu membuatku merasa jadi pria sejati."
"Aaaaah Mas ini bisa aja!!!" Maheera memukul pelan bahu pria itu, wajahnya semakin merah padam seperti kepiting rebus.
"Sudah sana mandi... nanti aku buatin air hangat biar ototmu rileks lagi. Hari ini kamu tidak boleh kerja berat apa pun. Hari ini kamu ratu, dan aku pelayanmu!" seru Aaryan sambil menurunkan istrinya dengan hati-hati, memastikan ia berdiri dengan stabil.
Pagi itu di rumah kecil itu terasa begitu hangat dan penuh canda tawa. Meskipun tubuh Maheera masih terasa lemas dan sakit, tapi rasa bahagia dan rasa dicintai itu jauh lebih besar.
Mereka membuktikan bahwa meski hidup sederhana, meski jauh dari kemewahan, kebahagiaan rumah tangga itu bisa tercipta dengan sangat indah dan manis.