"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMURUH DI PUNCAK HENING
Udara di area rehat Alun-alun Awan terasa lebih dingin setelah kabut Hutan Ilusi mulai memudar. Han Feng duduk sendirian di bawah bayang-bayang pohon Bodhi kuno yang akarnya mencengkeram tebing langit. Ia memejamkan mata, membiarkan satu tetes Cairan Embun Pagi pemberian Mu Rong meresap ke dalam nadinya. Rasa sejuk itu membantu menekan sisa-sisa energi petir ungu yang masih bergejolak liar setelah ia menghancurkan formasi ilusi tadi.
Di sekitarnya, pemandangan tampak kacau. Beberapa peserta yang baru saja keluar dari gerbang cahaya tampak berlutut sambil menangis histeris, terjebak dalam sisa-sisa trauma mereka. Ada pula yang saling hantam karena mengira rekan mereka adalah bagian dari ilusi.
"Dunia ini adalah penjara pikiran bagi mereka yang lemah," batin Han Feng.
Namun, ketenangannya mendadak terusik. Han Feng merasakan sebuah tekanan yang sangat tipis, setajam sehelai rambut namun memiliki berat laksana gunung. Ia membuka matanya dan melihat sosok yang baru saja keluar dari sisa-sisa kabut.
Seorang pemuda dengan pakaian compang-camping, jubahnya robek di sana-sini, dan sebuah kain hitam menutupi kedua matanya. Ia membawa sebuah pedang kayu tua yang tampak rapuh, terikat di punggungnya dengan tali rami sederhana. Namun, setiap langkah yang diambil pemuda buta ini tidak menimbulkan suara, seolah-olah ia berjalan di atas permukaan air yang tidak beriak.
Namanya adalah Jian Wu, sang pengembara buta.
Jian Wu berhenti tepat sepuluh langkah di depan Han Feng. Meski matanya tertutup, wajahnya menghadap langsung ke arah Han Feng.
"Naga di dalam tubuhmu sedang meronta, ingin membakar dunia dengan amarah," suara Jian Wu datar, namun bergema di telinga Han Feng seperti suara lonceng kuil yang jauh. "Tapi pedangku... hanya ingin mencari ketenangan di tengah badai ini."
Han Feng berdiri perlahan, tangannya secara refleks mencengkeram Sarung Pedang Kerak Bumi. "Ketenangan adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan pedang kayu, Jian Wu."
Tanpa ada aba-aba, tanpa ada wasit yang melihat, atmosfer di bawah pohon Bodhi itu mendadak membeku. Para peserta lain yang berada di dekat mereka merasa bulu kuduk mereka berdiri; mereka secara insting mundur menjauh, merasakan niat pedang yang begitu pekat hingga membuat kulit mereka perih.
Jian Wu bergerak lebih dulu. Gerakannya tidak cepat, namun sangat efisien. Pedang kayunya terayun dalam lintasan melengkung yang sempurna.
Sring!
Han Feng akhirnya menarik pedang tanpa namanya dari sarung bumi. Untuk pertama kalinya, pedang itu mengeluarkan raungan naga yang nyata saat esensi petir ungu menyelimuti bilahnya.
TANG!
Bentrokan antara pedang kayu dan logam itu menghasilkan ledakan udara yang menghancurkan meja-meja batu di sekitar mereka. Han Feng terkejut; pedang kayu Jian Wu tidak hancur. Sebaliknya, pedang itu dilapisi oleh aura transparan yang sangat padat—Sword Qi (Qi Pedang) tingkat tinggi yang telah mencapai tahap "Benda Menjadi Jiwa".
"Cukup bagus!" Han Feng mendengus. Ia melesat maju, mengaktifkan Langkah Kilat Surgawi.
Dalam sekejap, bayangan Han Feng memenuhi area rehat. Ia menyerang dari delapan arah sekaligus, setiap tebasan membawa kekuatan ribuan volt listrik yang mampu menghanguskan baja. Namun, Jian Wu hanya berdiri di tempatnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, lalu ke kanan, menangkis setiap tebasan dengan presisi yang mengerikan. Ia seolah-olah bisa "melihat" aliran udara dan niat membunuh Han Feng sebelum serangan itu diluncurkan.
"Kau terlalu bergantung pada kecepatan, Naga Kecil," ucap Jian Wu. Ia memutar pedang kayunya, menciptakan pusaran angin yang menghisap aura petir Han Feng.
Han Feng menggeram. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Kalau begitu, rasakan ini! Getaran Ketiga: Guncangan Naga Langit!"
Han Feng menusukkan pedangnya ke arah tanah tepat di bawah kaki Jian Wu. Resonansi energi bumi meledak ke atas, menciptakan pilar getaran yang mampu menghancurkan organ dalam dalam sekejap. Jian Wu melompat ke udara, namun Han Feng sudah menunggunya di sana.
Keduanya bertarung di udara, berpindah dari satu dahan pohon Bodhi ke dahan lainnya. Suara benturan senjata mereka terdengar seperti guntur yang bersahutan. Seratus jurus dilepaskan dalam waktu kurang dari dua menit. Daun-daun pohon Bodhi berguguran, hancur menjadi debu sebelum menyentuh tanah karena tekanan energi mereka.
Di sisi lain Alun-alun, pertarungan peserta lain masih berlangsung sengit untuk memperebutkan sisa tempat. Long Chen sedang membantai seorang jenius dari sekte kecil dengan cara yang kejam, mematahkan tulang lawannya satu per satu hanya untuk menunjukkan dominasinya. Ia ingin semua orang melihat kekuatannya, namun ia menyadari bahwa sebagian besar penonton justru sedang menoleh ke arah pohon Bodhi.
"Apa yang terjadi di sana?!" teriak salah satu pengawas.
Su Yan, yang sedang berdiri di tribun kehormatan, terpana. Matanya tidak bisa lepas dari pertarungan Han Feng dan Jian Wu. Ia melihat bagaimana sosok bertopi bambu itu—yang ia curigai sebagai Han Feng—bertarung dengan teknik yang begitu agung dan bebas. Tidak ada lagi jejak kelemahan. Yang ada hanyalah seorang pendekar yang mampu mengimbangi kejeniusan Jian Wu yang legendaris.
Siapa kau sebenarnya? batin Su Yan. Rasa kagumnya mulai bercampur dengan rasa takut yang amat sangat.
Pertarungan Han Feng dan Jian Wu berhenti secara serentak saat wasit utama, seorang penatua dari Sekte Langit Abadi, mendarat di antara mereka dengan wajah geram.
"Berhenti! Jika kalian ingin bertarung, simpan tenaga kalian untuk babak final!" teriak sang Penatua.
Jian Wu menyarungkan pedang kayunya dan membungkuk sedikit ke arah Han Feng. "Pertukaran yang menarik. Kau memiliki pedang yang haus, tapi hatimu masih mencari jalannya sendiri. Kita akan menyelesaikannya di puncak."
Han Feng menyarungkan kembali pedangnya ke dalam Sarung Kerak Bumi. Auranya yang tadinya meledak-ledak langsung menghilang, membuatnya kembali tampak seperti pemuda biasa. "Aku akan menunggumu di atas, Pendekar Buta."
Tak lama kemudian, Ye Chen berdiri di atas mimbar tinggi. Suaranya yang diperkuat oleh Qi bergema ke seluruh kota.
"Selamat bagi kalian yang tersisa. Tapi hari ini, hanya akan ada satu orang yang berdiri di puncak tertinggi! Babak final adalah: Pendakian Tangga Langit!"
Lengan bajunya melambai, dan sebuah gunung buatan raksasa yang melayang tinggi di atas awan muncul dari balik formasi kabut. Di lereng gunung itu, terdapat anak tangga batu yang menuju ke puncak yang diselimuti petir abadi.
"Tangga ini memiliki formasi gravitasi. Setiap langkah yang kalian ambil akan terasa sepuluh kali lebih berat. Dan ingat, serangan antar peserta diperbolehkan!" Ye Chen tersenyum tipis, sebuah senyum penuh tipu muslihat.
Secara rahasia, Ye Chen berbisik pada pengontrol formasi di bawah panggung, "Aktifkan mode Gravitasi Tingkat Dewa setelah mereka melewati anak tangga ke-500. Aku ingin melihat apakah naga dan pendekar buta ini benar-benar sekuat kelihatannya, atau hanya gertakan belaka."
Han Feng menatap ke arah puncak gunung itu. Ia melihat Long Chen yang menatapnya dengan niat membunuh yang membara, ia melihat Jian Wu yang mulai melangkah dengan tenang, dan ia merasakan tatapan Su Yan yang menusuk dari kejauhan.
"Beban gravitasi?" Han Feng tersenyum dingin. "Biarkan mereka menambah bebannya sebanyak yang mereka mau. Semakin besar tekanannya, semakin keras naga ini akan mengamuk."
Han Feng melompat menuju anak tangga pertama, memulai pendakian menuju takdirnya. Langkah pertamanya menghantam batu tangga dengan suara yang berat, menandakan bahwa pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di atas sana, petir abadi menanti untuk menjadi saksi siapa yang akan menjadi penguasa baru di Kota Seribu Awan.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏